Menyekap Rasa
Romance
06 Dec 2025 18 Dec 2025

Menyekap Rasa

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (65).jfif

download (65).jfif

17 Dec 2025, 08:37

download (64).jfif

download (64).jfif

17 Dec 2025, 08:37

Aku duduk pada sebuah sofa single pada ruang tamu yang cukup luas ini, dengan suguhan secangkir teh yang asapnya masih mengepul juga setoples kue kering yang sengaja di buat oleh ibunda dari orang yang ku cintai, Roki.

Aku sudah disini terhitung sejak dua puluh menit yang lalu, tapi rasanya sudah seperti berabad-abad, pacarku tercinta itu sedang keluar sebentar mengantar berkas untuk ayahnya yang katanya tertinggal. Niat pacarku itu baik, ingin mengenalkan aku pada keluarganya dengan niat ingin serius padaku tentu saja aku senang tapi aku rasa aku yang terlalu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Oh ayolah, hubungan kami memang masih 9 bulan lamanya namun aku merasa sudah seperti bertahun-tahun dengannya. Sebenarnya aku juga sudah beberapa kali berkunjung kerumahnya. Namun suasana ini selalu saja ku benci.

Bagaimana tidak benci jika ketika kamu berkunjung ke rumah calon mertua tapi ada perempuan beratas namakan mantan pacar kekasihmu ada disana?

Bahkan ia sok asik sekali dengan calon mertuaku. Bolehkah aku marah? Ketika aku masih bertamu disini tapi mereka mengobrol dengan penuh keseruan canda tawa

"Di minum tehnya, Tasya" ucap ibunda Roki dengan lembut.

Bibirku yang telah ku poles dengan lipstik berwarna rose tersenyum sambil menjawab "Iya tante"

"Kuenya juga di makan, kemarin tante buat sama Caca itu" tambahnya lagi yang rasanya hatiku seperti di remas.

"Iya, Sya. Cobain deh enak." Caca selaku mantannya ikut menimpali dengan sok akrab.

Aku hanya mampu tersenyum seraya mengangguk canggung berada disini. Padahal kesini juga aku membawa oleh-oleh buatanku bernama puding tapi langsung dimasukkan kulkas.

Apakah kalian bisa membayangkannya?

Aku selalu merasa sakit hati jika berada di posisi ini. Aku juga sudah mulai berlapang dada saat ini. Karena mungkin memang mereka sedekat itu, Caca adalah anak dari teman bundanya Roki.

Bukan aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku mengenai mantan dan bundanya, tapi Roki selalu saja berhasil menenangkan hatiku dari kekalutan ini. Bahkan aku tidak tahu alasan mereka berpisah karena apa. Aku hanya meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.

Sambil memandang mereka, aku mulai menyesap tehku yang mungkin sudah hampir dingin.

"Seru banget ceritanya" ucap Roki saat telah tiba di rumah langsung mengecup keningku, yang ku yakini terlihat Caca sedikit memalingkan wajahnya tak ingin menatap kami.

Biarkan saja. Agar ia tahu, Roki mencintaiku. Boleh aku tertawa untuk sedikit menekan ketakutanku.

"Ini si Caca cerita kemarin dia ikut lomba masak lawannya ada yang salah gitu, mau masukin gula malah garam banyak pula." Jawab bundanya

Roki menatapku sekilas, kurasa ia mengerti perasaanku.

"Sudah mulai sore, Kita pulang saja ya. Biar bisa jalan-jalan bentar nanti." Ucap Roki padaku.

Belum sempat ku buka mulut menjawab bundanya langsung berkata "Antar Caca sekalian ya, Ki."

"Eh tidak usah. Aku pulang sendiri saja" jawab Caca

"Sudahlah Caca ikut Roki saja, sekalian" sahut bundanya lagi

"Tapi.." ucapan Roki terpotong

"Bolehkan, Sya? Jika sekalian bareng sama Caca." Ucap bunda Roki padaku

Memangnya aku memiliki jawaban apa lagi selain iya? Ku lihat juga Roki diam saja sambil menatapku. Dengan terpaksa aku menjawab "Iya boleh, tante"

Lalu segera aku berpamit pada orang tuanya dan mulai berlalu.

Roki membukakan pintu mobil untukku duduk di depan tapi dengan cepat Caca mendahuluiku dengan cepat di depan mengundang protes dari Roki.

"Kamu tahukan aku tidak suka duduk di belakang?" Ucap Caca

"Baiklah, kamu menyetir biar aku di belakang sama Tasya" balas Roki tak mau kalah. Aku terlalu lelah jika menghadapi mereka yang selalu seperti ini jika sudah bersama.

"Tapikan aku.."

"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku di belakang saja" ucapku mengalah, tidak ingin memperpanjang situasi. Lagipula kami hanya perlu mengantarkannya saja pulang setelah itu selesai.

Saat di jalan, Caca selalu mengajak Roki berbincang yang di balas Roki hanya deheman atau bahkan diam saja. Ku lihat Roki melirikku dari kaca depan, tanpa kata aku hanya memalingkan wajahku ke arah samping jendela mobil.

"Sayang.." ucap Roki padaku dengan tatapan masih pada kaca

Diluar dugaanku, Caca maupun aku, kami sama-sama menjawab "Iya" secara bersamaan. Aku berdecih, Caca langsung salah tingkah lalu berkata "Sorry.. aku lupa."

Apakah itu jawaban?

Ku lihat Roki memandangku dengan tatapan meminta maaf. Aku sudah tidak peduli.

Usai dengan mengantar Caca kerumahnya, ia sempat menawarkan kami untuk singgah yang langsung di tolak oleh Roki. Syukurlah, karena jika ia mau, aku akan langsung pulang naik apk online warna hijau itu.

Jangan berharap ada drama, begitu Caca turun akupun langsung pindah ke depan disamping pengemudi.

"Maaf yaa" ucap Roki padaku yang hanya ku balas deheman, memangnya aku harus jawab apa lagi

"Kamu tahukan.."

"Iya aku tahu, Caca sudah seperti anak bundamu, bukan? Atau juga seperti saudari untukmu" ku potong ucapannya dengan kalimat yang selalu ia katakan padaku.

"Sayang, kita makan di tempat lamongan yang pernah kamu tunjukin itu ya. Aku suka, sambalnya mantap sekali"

Ya aku tahu ia tidak ingin memperpanjangnya sehingga ia mengalihkan pembicaraan. Ku tarik nafas untuk menetralisir emosiku.

Kami memesan makanan, sesekali ia menyuapiku. Aku mengunyah makanan sambil memperhatikan wajahnya, sungguh aku mencintainya. Tak ada sedikitpun meragukan cintanya tapi kedatangan masa lalunya yang berturut-turut dalam hidupku yang menekanku untuk meragukan dia.

Aku ingat kala pertemuan awal dengannya, saat itu kami bertemu di toserba mengantri untuk membayar belanjaan tapi aku lupa membawa dompet, lebih tepatnya tertinggal di mobil mungkin karena usai membayar bensin sehingga lupa memasukkan kembali di tas. Sungguh memalukan, jumlah yang ku beli juga sekitar dua ratusan ribu.

Aku membalikkan badan, Roki yang di belakangku tersenyum lalu langsung membayarkan tagihanku.

"Sekalian sama yang ini, mbak" ucapnya

Suaranya yang maskulin juga aroma parfum menyeruak di hatiku membuatku terpesona. Usai membayar aku menunggunya dan berjalan keluar bersama.

"Terima kasih. Sebentar aku ambil uang dulu" ucapku

Tapi ia langsung dengan cepat menggeleng dan mengatakan "Kamu boleh membayarnya lain kali ketika kita bertemu lagi"

Aku mengerutkan keningku, kenapa harus bertemu lagi bukan? Ayolah kami tidak saling mengenal.

Ia menaikkan tangannya "Aku Roki"

Aku tersenyum membalasnya "Tasya"

Ia memberikan ponselnya, "Tuliskan nomor ponselmu aku akan menghubungimu untuk tagihan itu"

Aku tertawa sebelum menjawab "Kamu perayu ulung ternyata" tapi juga ku tuliskan nomorku disana.

Ia balas tertawa dan mengatakan "Aku akan menghubungimu nanti" ucapnya yang ku angguki dan aku masuk ke dalam mobilku.

Selang beberapa waktu tepatnya dua bulan kemudian dia menelponku untuk bertemu di suatu kafe, waktu yang cukup lama membuatku hampir lupa.

Bahkan ku tebak pertemuan kami saat itu, ketika ia sedang patah hati. Ia tidak mengatakan dengan jelas alasannya dan akupun juga tak ingin tahu. Namun dari sinilah kami mulai dekat hingga akhirnya menjalin hubungan.

Tunggu, apakah aku hanya pelarian?

Uhukk.. uhukk..

Aku tersedak akibat pikiranku, dengan cekatan dia mengambilkan minum untukku juga menepuk pelan punggungku sambil mengatakan "Sudah enakan?" Yang ku balas anggukan juga senyuman kecil.

Seusai makan kami berkeliling kota sebentar, tangannya tak lepas dari menggenggam tanganku.

Setelah itu ia mengantarkanku pulang, sebelum turun dari mobil ia menahanku dan berkata "Ku mohon bersabarlah.. Aku akan selalu menjaga jarak padanya. Kamu harus percaya bahwa aku mencintaimu, sangat." Ucapnya padaku.

Aku tersenyum, dia menarikku ke dalam pelukannya juga mengusap pelan punggungku. Menenangkanku.

Setelah itu aku turun, ia juga turun untuk pamit pada bundaku di dalam sebelum pulang.

"Roki" panggilku sebelum ia beranjak masuk mobil

Ia membalikkan badannya menatapku penuh tanya "Boleh aku tahu kenapa kalian berpisah?"

Ia mengerutkan keningnya penuh tanya. "Aku sudah pernah mengatakan alasannya, bukan?"

"Tidak cocok?" Aku menghela nafas "Bagaimana jika suatu saat kita tidak cocok? Kamu akan melepaskanku juga bukan"

Ia menggeleng cepat "Sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku pamit pulang dulu" balasnya lalu mengecup keningku pergi dengan rasa bingungku.

Selalu begini. Tidak tahu bagaimana ujungnya, rasanya hubunganku dengan Roki masih berjalan di tempat.

---

Jam telah menunjukkan angka 4 artinya aku bisa pulang setelah hampir seharian bekerja apalagi tidak ada kerjaan tambahan. Renal selaku teman kantor sekaligus teman yang baik untukku sedari aku kecil mengajakku pulang bersama.

Tentu saja aku tidak menolak, aku tidak menolak karena tadi pagi aku ke kantor di antar Roki sehingga tidak membawa kendaraan juga rumah kami yang searah.

Begitu aku masuk ke dalam mobilnya, Renal mulai menjalankannya perlahan.

"Makan dulu ya, Sya. Laper juga ni biar sampai rumah bisa langsung tidur"

"Boleh deh. Kamu gak bareng Ani btw"

Dia tertawa singkat "Kamu ngejek aku kan. Si Ani aja yang GR cuma di tolongin bayar tagihan di toserba karena dia lupa bawa dompet"

Aku tertawa singkat karena mengingatkanku kisahku dengan Roki.

"Halah.. kemarin juga pulang bareng" balasku

Dia makin tertawa keras "Dia ngekorin mulu, Sya. Kasian"

Dan ku balas tawa, Renal sudah sangat dekat dengannku. Jangan salah paham, kami hanya berteman yang kebetulan kami satu kantor juga.

"Nah kita makan disitu ya. Lagi Hits ini tempat. Biar cuma kaki lima tapi kualitas bintang lima" ucapnya yang membuatku tertawa

"Sudah kayak sales kamu, Ren"

Kamipun turun, ia memesankan makanan disini. Aku bahkan tidak boleh mengucapkan pesananku karena dia berkata aku tidak akan menyesal menikmati menu dia. Aku hanya mengucapkan minuman es teh manis sebagai pelengkap.

Tempat makan disini memang menarik, stand kaki lima berjejeran namun pemandangannya begitu asri karena terdapat taman-taman.

Pesananpun datang kami mulai menikmatinya perlahan. Mataku berbinar kala makanan yang berbahan dasar udang ini masuk ke dalam mulutku.

"Makasih Renal. Seriusan ini enak" ucapku tulus

"Benarkan?" Ucapnya yang langsung ku angguki semangat.

"Hubungan kamu sama Roki gimana?" Tanya Renal

Aku menghendikan bahu tidak tahu, kami memang masih tetap berkomunikasi tapi aku tidak tahu jika kedepannya bagaimana.

"Ayo.. kamu harus coba ini tau."

Tiba-tiba suara yang tak asing membuatku menoleh, terlihat disana ada Caca. Aku tidak peduli jika itu hanya Caca, tapi ia juga bersama dengan Roki.

Kami saling menatap, Roki langsung menghampiriku dengan sekilas mengecup keningku. Tentu saja Roki sudah mengenal Renal sehingga tak perlu ada drama berlebihan.

"Kenapa disini?" Tanyanya padaku setelah mendudukkan diri disampingku juga diikuti Caca di depanku bersebelahan dengan Renal

"Harusnya aku yang bertanya" tukasku karena tadi ia mengatakan tidak bisa menjemputku karena ada urusan.

"Bunda menyuruh Roki mengantarkanku, Sya. Lalu aku mengajak Roki singgah sebentar kesini" bukan Roki, tapi Caca yang menjawab.

Aku cukup menganggukkan kepalaku tanda aku sudah paham. Artinya, urusannya adalah mengantar Caca.

Ku suapkan Roki dengan potongan udang, aku tahu Roki belum pernah kesini, pesanan pilihan Renal memang terbaik. Namun saat Roki membuka mulutnya untuk menerima suapanku, tanganku langsung dipukul menjauh oleh Caca sehingga suapan tersebut terlempar jatuh ke bawah.

"Kamu gila ya, Sya! Roki alergi udang. Dia bisa mati karena sulit bernafas. Kamukan pacarnya, itu saja tidak tahu. Harusnya aku tidak pernah melepaskan Roki untukmu!" Teriak Caca padaku

Dia bilang apa? Tidak akan melepaskan Roki untukku.

Aku tidak salah dengarkan? Oh aku syok sekali.

Ku lihat, Caca meneliti kondisi Roki kemudian kembali menatapku dengan sorot mata yang benar-benar tidak bersahabat.

"Ca.."

"Diam kamu!" Potong Caca pada ucapan Roki

"Kamu tahu tidak? Roki itu pernah hampir mati karena udang. Sepertinya kamu bukan perempuan baik ya betapa tidak pedulinya kamu terhadap Roki. Itu yang kamu sebut dengan cinta?" Ucapnya padaku

Hah.. Dia sungguh keterlaluan.

Dengan segera aku meminum es teh manisku berharap dapat mendinginkan pikiran juga hatiku.

Aku berdecih sebelum menjawab "Sungguh mantan yang menyedihkan! Dulu Roki memang alergi tapi berkatku ia jadi tidak alergi lagi terhadap udang."

"Sayang, maaf ya"

"Dan lagi, jangan melepaskan Roki jika kamu masih mencintainya" ucapku pada Caca tanpa menghiraukan Roki.

Lalu aku menatap Roki dengan serius "Roki, sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan kita kalau kamu masih terjebak masa lalu kamu" Sudah cukup sudah, aku lelah.

"Ha? Yang, kamu becandakan? Gak. Aku gak mau"

"Renal, kamu uda selesaikan? Ayo. Aku tunggu di mobil"

Renal dengan cepat bangkit sebelum meminum es teh manisnya juga dengan cepat "Yauda aku bayar dulu" ucap pria itu kemudian.

Aku berjalan dengan cepat, kenapa rasanya sakit sekali Tuhan?

Apa begini rasanya jika berhubungan dengan orang yang belum move on dari masa lalunya.

"Sayang, ku mohon.. Jangan tinggalkan aku" tiba-tiba Roki sudah di sampingku sambil menarik tanganku

"Aku lelah, Roki. Aku sudah gak bisa sama kamu lagi, kamu bahkan belum move on dari masa lalu kamu"

"Kamu salah, Sayang. Aku cintanya sama kamu. Aku sudah move on dari masa lalu"

Aku menatapnya lamat "Roki, apakah aku cuma pelarianmu?" Tanyaku yang kini sudah penasaran akan hubungannya dengan mantannya.

"Demi Tuhan, sayang. Aku tidak pernah melakukan itu padamu. Tolong jangan tinggalkan aku"

"Jika begitu, nikahi aku" balasku dengan ide gila. Lagipula apa yang harus ditunggu bukan? Usia kami sudah dewasa juga kami yang saling mencintai.

Ia terdiam sejenak, "Sayang, aku sudah pernah mengatakannya, aku belum siap untuk ini. Masih ada beberapa yang harus ku selesaikan. Kamu tahukan?"

Ya aku tahu jelas, ia ingin aku menunggunya tapi ini semua mengusikku. Katakan saja, ia mencintaiku? Namun bagaimana jika waktulah yang menghianatiku.

Aku menggeleng "Lebih baik kamu selesaikan dulu dengannya. Aku juga harus berpikir untuk ini. Untuk kebaikan kita bersama" ucapku lalu memasuki mobil Renal.

Renal segera menyusul masuk ke kursi kemudi. Ia diam tak mengatakan apapun.

Dari kaca spion mobil Renal aku melihat Caca menghampiri Roki memegang lengannya yang disentak keras oleh Roki.

Tapi aku jadi tidak enak dengan Renal, pasti Renal masih lapar.

"Maaf ya karena aku jadi udahan makannya. Pasti gak kenyang"

Renal mengusap kepalaku lembut "Tidak apa, aku ngerti kok."

"Lain kali kita kesana lagi ya"

Renal hanya mengangguk sambil tersenyum, jeda beberapa saat ia mengatakan "Sya, apa kamu bahagia dengan Roki?"

Aku menatapnya, pandangannya hanya lurus pada jalanan.

"Sebenarnya aku bahagia tapi masa lalunya yang membuatku bimbang" jawabku jujur

Renal memegang sebelah tanganku "Kalau kamu tidak bahagia, bilang aku ya" jawab Roki yang ku dengan ambigu di telinga

Aku tak menjawab hanya sekedar membalas genggaman tangannya, ia cukup menguatkanku.

Begitu sampai di rumah, Renal menarikku ke pelukannya aku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba. Apa dia sedang patah hati?

"Kamu kenapa, Ren?" Tanyaku

"Biarin gini dulu. Sebentar saja"

Kemudian ia melepaskan pelukannya, dan menatap lekat mataku "Sya, kamu sayang tidak denganku?"

Aku tertawa "Kamu ngaco banget deh. Ya sayanglah. Kamu sudah ada dari dulu nemenin aku sampe sekarang cuma kamu yang tinggal disisiku"

Ia mengangguk "Aku tahu mungkin ini waktu yang tidak tepat. Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya, aku suka sama kamu, Sya. Bukan sekedar suka karena sahabat atau apapun tapi cinta."

Aku terdiam, kejutan apalagi ini Tuhan?

"Sejak kapan?" Hanya itu kalimat yang muncul di kepalaku

"Sejak dulu. Tapi lebih tepatnya aku yakin sejak SMA"

Aku memijit keningku, tidak percaya atas pernyataannya padaku "Kenapa kamu tidak pernah mengatakan itu, Ren?"

Aku menghela nafas "Kamu bahkan dengan sabar selalu dengerin curhatanku tentang mantanku" tambahku

"Aku terlalu takut kamu menolak dan menjauhiku, Sya."

"Ren, aku.."

Ia mengangguk "Aku ngerti, Sya. Ini bukan waktu yang tepat tapi ku mohon coba pikirkan. Kita sudah lama mengenal. Aku juga ingin langsung melamarmu nanti, jika kamu ingin"

Aku menggigit bibirku, dia dengan cepat mengecup sudut bibirku membuatku terkejut.

"Baiklah, Ren. Beri aku waktu. Apapun keputusanku nanti semoga kamu bisa menghargainya ya" tutupku lalu keluar dari mobilnya

Sebenarnya aku bingung, masalahku dengan Rokipun belum usai tapi Renal sudah mendesakku untuk urusan perasaannya padaku. Jujur, dulu aku menyukainya hanya ku kira ia menyukai wanita lain saat itu.

---

Beberapa hari ini Roki tak hentinya menghubungiku, aku berusaha menghindarinya bahkan saat ia mencoba untuk menemuiku di kantor.

Ku suapkan sesendok es krim ke mulutku, sensasi dingin dengan rasa coklat mengisi mulut juga tenggorokan.

Kira-kira Roki sedang apa ya? Apakah ia bersama Caca

"Sya.. Oh Tasya" ucap seorang disebelahku sambil mengibaskan tangannya "Ngelamun" tambahnya

"Eh, maaf, Ren. Aku tidak dengar. Apa tadi?" Tanyaku

Aku bahkan melupakan keberadaanku saat ini, tadi sepulang kantor Renal memang mengajakku untuk berjalan-jalan. Setidaknya aku bisa berpikir jernih katanya.

Aku menatap Renal, aku memang menyayanginya tapi untuk mencintainya, aku juga tidak tahu.

Aku berdiri ketika melihat Roki dengan Caca berjalan di mall yang sama denganku. Ku lihat langkah Roki malas-malasan dengan Caca yang semangat bercerita.

Aku tertawa miris dalam hati.

"Sya.." tegur Renal di sampingku sambil memegang tanganku

Sorry , Ren. Bisa kita pulang?" Meski ia terdiam sejenak, ia tetap mengangguki

Kami berjalan ke area parkir, saat memasuki mobil tanganku di cekal "Kita perlu bicara, Sya."

Aku menatap terlihat Roki yang menatapku penuh harap, di belakangnya ada Caca yang berdiri mematung menatap kami.

Ku alihkan tatapanku ke arah Renal, tampak ia memandangku lalu menganggukkan kepalanya "Aku tunggu di mobil ya"

Saat aku ingin menjawab namun suara Caca lebih dahulu terdengar "Roki, ayo cepat kita harus mencari cincin pertunangan kita."

Aku menatapnya tidak percaya, inikah akhirnya?

Ia menggeleng padaku "Sya, Kamu tahukan kalau aku menya.."

"Jadi kamu ingin bertunangan dengan Caca?" Potongku

"Sya, maaf. Semua keinginan orang tuaku. Tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu."

"Selama ini aku juga bingung, semua terasa salah dan sesak. Aku gak mungkin melawan bundaku. Tapi aku juga gak bisa tegas, itu sebabnya aku memintamu menungguku, Sya. Tapi tetap saja." tambahnya

"Ki, aku juga gak mungkin bilang batalin kalau itu permintaan bunda kamu. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita berdua"

"Aku sudah dewasa, aku juga ingin menentukan pilihanku. Dan itu kamu."

Aku menganggukkan kepalaku, benar memang "Roki, kamu sudah dewasa harusnya bisa menentukan pilihan untuk masa depanmu. Aku tahu, kamu harus patuh sama orang tuamu. Aku mengerti" Tak terasa air mataku menetes yang kuusap secara kasar "Harusnya dari dulu aku sadar jika hubungan ini gak akan berhasil."

Roki memeluk tubuhku sambil mengusap kepalaku "Maafin aku, Sya. Aku salah. Maafin aku yang gak bisa tegas. Aku sayang kamu tapi aku juga gak bisa bilang tidak sama bunda"

Aku menarik diri tertawa miris meski air mata masih perlahan mengalir "Pantas saja jika selalu menyinggung pernikahan kamu selalu mengalihkannya. Tidak sia-sia kita tidak berkomunikasi ya."

Ia memegang tanganku, kemudian aku mengangguk, "Tidak apa. Jangan merasa bersalah. Aku melepaskanmu Roki."

Lalu aku mendekat pada Caca yang masih melihat kami, "Maaf selama ini menjadi penghalang untuk kalian. Aku tahu, kamu sangat menyayanginya. Kapan pertunangannya?" Tanyaku

"Minggu depan"

Ku ulurkan tanganku padanya "Selamat atas pertunangan kalian."

Ia menatap sejenak tapi juga menyambutnya, "Terima kasih, Tasya."

Aku memasuki mobil Renal masih menahan tangis dan Renalpun langsung menjalankan mobilnya. Mendengarku yang mulai sesenggukan ia menghentikan mobilnya, menarikku ke dalam dekapannya.

Aku menangis sejadi-jadinya, aku pikir aku bisa dan aku kuat tapi kenapa ini terlalu menyakitkan?

Kurasakan tepukan pelan di bahuku "Tidak apa, menangislah. Besok semua akan berlalu"

Usai drama tangisku, kami langsung kembali. Aku masih diam saja begitupun Renal hingga tiba di rumah.

Renal ikut turun dari mobil mengantarkanku sampai depan pintu, aku menahan tangannya saat ia hendak kembali memasuki mobilnya

"Renal, aku sudah memikirkannya. Maaf aku tidak bisa menerimamu, mungkin saat ini atau entah sampai kapan. Maafkan aku, aku tidak ingin kamu merasa menjadi pelarianku atau apapun itu, aku hanya ingin menenangkan diriku setidaknya untuk saat ini"

"Sya.."

Aku menggeleng memotong ucapannya "Ku harap sampai kapanpun kita masih bisa berteman sama seperti ini. Tolong maafin aku" ucapku dengan memohon

"Sya, aku ngerti kok. Aku juga berpikir untuk tidak tiba-tiba menjalani hubungan kita. Kamu bisa memulihkan hatimu dulu, melihat kalian tadi, aku merasa kalian teramat saling mencintai"

Aku tidak tahu ingin berkata apa lagi, tapi terima kasih Tuhan telah mempertemukan aku dengan Renal.

"Terima kasih, Renal" ia mengangguk dan mengelus kepalaku dan pergi meninggalkanku dengan kesunyian ini.

Ya beginilah akhirnya mungkin, tidak tahu kedepannya apa. Dan mungkin begini lebih baik. Aku memang sangat mencintai Roki tapi juga menyayangi Renal.

Atau bisa saja Roki meninggalkan Caca dan kembali padaku atau bisa saja Renal memang jodohku. Biarlah, untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun.

Yang aku tahu kita semua berhak bahagia, meski itu akan tiba waktunya.

Terima kasih, Roki sudah hadir dihidupku semoga kita bisa bersama dikehidupan selanjutnya.

Terima kasih, Renal. Semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dariku.



End


Kembali ke Beranda