I'm Come back, guys. Adakah yang rindu. Semoga bisa menemani Saturday Night kalian yaaa
Semoga terhibur .
Happy Reading , guys
Rinai sudah reda berjatuhan membasuh bumi pertiwi walaupun tidak terlalu deras. Aku yang masih berdiri di pelataran kantor melipat tanganku berusaha menghalau hawa dingin yang menembus tulang.
Aku melihat jam yang bertengger di pergelangan tanganku menunggu seseorang yang berjanji akan menjemputku. Sudah pukul 8 malam, waktu yang cukup terlambat untuk kepulangan dari kantor. Hari ini lembur, ini semua ulah kepala divisiku yang seenak jidatnya mengatur karyawannya.
Mobil hitam terhenti tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pria yang ku cintai turun menghampiriku. Aku melambaikan tanganku, ia tersenyum menghangatkan sudut hatiku.
Ku lihat ia membuka jas kerjanya, memakaikan pada tubuh kurusku namun cukup berisi untuk seorang perempuan yang berusia 23 tahun dengan tinggi 157 cm.
Ini adalah hari pertamaku bekerja, dan benar sekali, di hari pertama bekerja aku sudah kena lembur oleh kepala divisiku. Uh rasanya aku ingin bercerita banyak bersama pria yang ku cintai ini, sudah seminggu kami tidak bertemu.
Pria itu berucap "Dingin ya, Lisa. Ayo pulang" ajaknya padaku sambil melingkarkan lengannya di bahuku, ah rasanya sungguh nyaman.
"Bagaimana hari pertama kerjanya?" tanyanya, namun belum sempat bibirku berucap ponsel di sakunya berdering.
Ia menghentikan langkahnya, tangannya masih merangkulku dengan sigap tangan satunya menjawab panggilan di ponselnya. Aku mengalihkan wajahku berpura tidak melihatnya.
"Baiklah, Amel" hanya itu suara yang sangat jelas ku tangkap di indera pendengaranku.
Ia melepaskan rangkulannya dan menatapku dengan tatapan memohon maaf, ya aku tahu jelas artinya apa.
Aku mengangguk "Pergilah.." ucapku
"Maafkan aku, Amel memintaku menjemputnya." balasnya, aku sudah paham itu dan ini bukanlah pertama kalinya untukku. Ku lihat ia mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu kembali berucap "Dengar, tunggu disini jangan kemanapun. Aku sudah memesankan taksi online untukmu. Mengerti?"
Aku mengangguk seraya tersenyum "Baiklah. Hati-hati" jawabku, ia mengacak singkat rambutku sebelum pergi meninggalkanku bersama sendu gelapnya malam.
Aku merapatkan jas yang tersampir di tubuhku dengan harum parfumnya terasa nyaman di penciumanku seraya menatap nanar punggungnya yang meninggalkanku dan hilang ketika ia memasuki mobilnya.
Ah bukan hanya rambutku yang di acak tapi hatiku juga terasa diacak-acak olehnya.
Bian Alprasesa. Seorang pria berusia 24 tahun, anak teman dekat ayahku. Pria yang sudah mengisi hatiku delapan tahun lamanya.
Sedari kecil kami memang selalu bersama, rumah yang berdekatan serta sekolah yang selalu bersama. Entahlah saat itu ia bagaikan sosok kakak lelaki bagiku hingga saat usiaku 15 tahun aku menyadari bahwa aku mencintainya, aku tidak memandangnya sebagai sosok kakak.
Dan tentu saja ia menganggapku hanya sosok adik kecilnya yang harus dijaga. Ia juga sudah terlalu sering bergonta-ganti pacar yang berujung aku ditinggalkan olehnya jika pacarnya memintanya bertemu.
Dan yang paling menyebalkan adalah pacarnya akan selalu mengadu padaku jika kak Bian menyakiti mereka. Hanya reaksi kata "Baiklah, nanti aku bicarakan pada Kak Bian" yang aku berikan pada mereka, karena hatiku sendiripun rasanya sakit.
Orang tua kami adalah orang yang terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabar pada anaknya, jika salah satu orang tua kami pulang maka mereka akan mengundang kami makan malam. Seperti malam itu tepatnya beberapa hari yang lalu saat aku makan malam di rumahnya bersama ayah dan juga ibunya, ia mengatakan hal yang membuat hatiku berkedut nyeri.
Saat makan malam sedang berlangsung kak Bian mengatakan bahwa ia akan melamar gadis bernama Amel, aku yang mendengarnya tersedak yang langsung diberikan segelas air oleh kak Bian.
Ayah dan ibunya juga terkejut bahkan beliau sempat mengatakan "Kenapa mendadak, Bi? Apa kau menghamilinya?" tapi kak Bian hanya menjawab "Tidak pa, aku tidak seberengsek itu. Amel menanyakan keseriusanku padanya" ucapnya padahal yang ku ketahui mereka baru berpacaran 3 bulan lamanya.
Namun tanpa berniat mendengar kelanjutannya, aku pergi meninggalkan makan malam itu memasuki kamar tamu yang biasa ku gunakan jika aku menginap di rumahnya kala orang tuaku tak di rumah. Aku hanya berkilah bahwa aku sedang tidak enak badan.
"Nona, benar atas nama Bian?" teriakan suara pria dari dalam mobil menarik lamunanku, sepertinya ini taksi online yang sudah dipesan kak Bian. Aku segera mengangguk dan melesak masuk ke dalam taksi.
Dan sepertinya aku harus secara benar-benar melupakan kak Bian.
Bukankah aku juga berhak untuk bahagia? Seperti yang dilakukan kak Bian pada Amel.
Lagipula seperti apa rasanya berpacaran? Hidup selama 23 tahun aku tidak pernah merasakan berpacaran.
Bukan karena aku jelek, mereka bilang aku cantik dan menarik hanya saja kak Bian selalu menghalangiku.
----
Sudah dua bulan lamanya aku aku berhasil menghindari kak Bian, aku selalu berusaha mencari alasan-alasan kecil untuk tidak terlalu dekat padanya. Seperti tadi pagi saat ia menjemputku berniat mengantarkanku ke kantor untuk bekerja belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun, klakson mobil berbunyi.
Kepala divisi bidang akunting, Jatmiko, ya kepala divisi yang di awal pertemuan kami ia sudah membuatku lembur entah bagaimana seiring berjalannya waktu kami menjadi dekat. Dan pagi ini ia datang menjemputku.
Ia memang kerap beberapa kali menjemput dan mengantarku bekerja, dimana ia selalu mengatakan bahwa "Kan searah".
Aku menghela nafas karena untuk kesekian kalinya aku bisa menghindari kak Bian, setidaknya aku ingin melupakannya juga dan menikah dengan orang yang mencintaiku.
"Kak, aku berangkat dengan pak Miko saja" ucapku pagi tadi dan ku lihat ia hanya mengangguk pasrah lalu mengusap lembut rambutku.
Saat ini aku sedang duduk di cafe yang tak jauh dari kantorku, duduk sambil menikmati dalgona coffe yang akhir-akhir ini sedang viral. Rasanya segar sekali cocok dengan cuaca yang panas ditambah aku yang sedang menahan rasa kantuk.
Aku tahu cara membuat dalgona coffe ini, membuatnya sangatlah mudah. Aku jadi ingin membuatkannya untuk kak Bian. Karena dari dulu semua percobaanku dia yang selalu mencobanya.
Ah shut up, Lisa! Harus Move on.
Tak lama seorang pria duduk di depanku sambil menyesap coffenya dengan berbalut kemeja biru muda, yang lengan kemejanya digulung hingga ke siku.
" Long time no see.. Remember, me?" ucapnya padaku, aku mengernyitkan seakan teringat siapa pria ini.
"Ra.. Radit, Right? " balasnya dengan antusias dan pria itu juga tersenyum.
Dia tertawa singkat lalu berujar "Apa kabar, Lis?"
"Ya beginilah, sehat. Kamu bagaimana?" tanyaku
" You look me, I'm fine. Btw , bodyguard kamu kemana?"
Aku mengernyit tak mengerti maksudnya, seakan mengerti Radit berucap "Bian, bagaimana sudah jadian?" tanyanya
Aku tertawa sebelum menjawab "Kak Bian menganggapku adiknya, begitu pula aku jadi mana mungkin kami memiliki hubungan lebih" walaupun sebenarnya aku ingin kak Bian memelukku lalu mengatakan bahwa ia mencintaiku.
"Tidak mungkin. Ia jelas mencintaimu, bahkan dulu aku pernah dilempar petasan olehnya" balasnya lagi sambil tertawa di ujung kalimatnya.
Aku sudah bilang bukan bahwa kak Bian selalu menghalangi pria yang dekat denganku.
Aku juga tertawa mengingat moment itu, saat itu aku dan Radit masih duduk di bangku kelas dua hanya beda kelas, aku di IPA dan Radit IPS. Ia selalu memiliki cara untuk mendekatiku dan kak Bian selalu memiliki cara untuk menyingkirkan pria yang selalu berusaha mendekatiku seperti melempar petasan ke Radit saat kami duduk berdua di taman, ia mengatakan bahwa ia takut aku disakiti tanpa pernah ia sadari aku sakit karenanya.
Aku menatap jam yang bertengger di pergelanganku, seperti jam makan siang akan berakhir dan dengan segera aku bangkit untuk pamit dari hadapannya karena akan melanjutkan pekerjaanku dengan sebelumnya ia meminta no ponselku.
---
Hari ini aku kembali lembur, aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Akupun bergegas segera membereskan berkas tiba-tiba ponselku berdering menampilkan nama kak Bian. Ada apa sih ia menghubungiku, tidakkah dia tahu aku sedang menjaga hatiku agar tidak terbawa perasaan padanya.
Ponsel berhenti berdering, beberapa menit kemudian kembali berdering dengan malas aku mengangkatnya namun bukan suara kak Bian melainkan suara pria lain.
Seorang bartender menelponku untuk menjemput kak Bian, ah kalau begini aku jadi khawatir padanya. Semabuk apa dia sekarang ini.
Dengan cepat aku memesan ojek online agar lebih cepat sampai. Sampai disana aku mulai masuk perlahan, yang mana aroma alkohol begitu menyengat sampai ke paru-paru. Sungguh baru kali ini aku masuk ke tempat seperti ini.
Membayangkan sajapun aku tidak pernah.
Aku menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari kak Bian, ah dia di depan meja Bartender. Aku melesat segera menghampirinya.
"Kak" ucapku padanya sambil menepuk bahunya
"Ah.. Sayangku" racaunya sambil berusaha memelukku.
"Ayo kita pulang" ucapku sambil berusaha memapahnya.
Uh sungguh dia itu berat, "Kak mana kunci mobilnya?" tanyaku lagi tapi dia hanya diam, apa segitu mabuknya.
Aku merogoh ke saku celananya, diluar dugaan ia malah berkata "Geli, honey. Sabar" lalu ia membantuku mengambilkan kunci mobilnya padaku.
Setelah memastikan ia duduk di kursi penumpang samping kemudi akupun memposisikan duduk di balik kemudi dan mulai mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.
Sampai di rumahnya aku kembali memapahnya menaiki kamarnya yang ada di lantai dua, oh sungguh perjalanan yang panjang dan menyusahkanku.
Begitu sampai di kamarnya, aku membaringkannya, membantunya membukakan sepatu juga kaos kakinya dan aku juga membantunya membukakan jas serta dasinya.
Aku berjongkok seraya menghela nafas lelah, sejenak memandang wajahnya yang sungguh tampan dan ku idamkan menjadi suamiku kelak meski aku sadar siapa aku.
Kembali menghela nafas, aku mulai bangkit dan pergi namun tangan kak Bian menarikku sehingga aku terjatuh di sampingnya, ia memelukku dengan erat.
"Sayang, aku rindu" gumamnya membuatku memutar bola mata, ia pikir aku Amel kali ya
"Kak, ini aku Lisa" balasku menyadarkannya, sesak juga dipeluk erat begini lalu ia membalikan tubuhnya menjadi di atasku sedangkan aku di bawahnya.
" I know ." balasnya yang membuatku bingung, apa efek alkohol begitu dahsyat yaa sampai ia jadi begitu.
"Kak.. Ay.." ucapanku terhenti kala bibirnya membungkamku, hanya sebatas kecupan. Ia melepaskannya lalu menatapku yang ku balas dengan tatapan tak percaya.
Bukan sadar, ia malah kembali mendekati wajahnya dan kembali menciumku kali ini ia melumatnya, entah setan dari mana ataupun apa aku tidak mengerti tapi aku juga membalas ciumannya.
Rasa yang tak pernah ku rasakan selama hidupku ini, dan akupun tak mengerti mengapa malam ini aku melakukan hubungan itu dengannya.
Aku tahu kak Bian mabuk sedangkan aku dalam keadaan sadar, logikaku menolak tapi reaksi tubuhku menginginkannya, hal yang seharusnya ku berikan pada suamiku. Rasanya aku menikmatinya meski aku tahu kak Bian dalam keadaan mabuk.
Dan aku menyukainya, ya ketika dia menyebutkan namaku di sela aktivitas kami yang terasa salah.
Aku mengerjabkan mataku, tangan kiriku berusaha menghalau cahaya mentari yang mengusik tidurku, entahlah mimpi tadi malam begitu terasa indah.
Mimpi yang begitu penuh hasrat menggebu dan menyenangkan, mimpi yang akan menjadi malam yang panjang untukku.
Perutku terasa berat seperti tertindih sesuatu, ku lihat ada tangan di bawah selimut memelukku dengan erat.
Oh Tuhan.. Apa yang terjadi? Bahkan aku tak mengenakan sehelai benangpun.
Ini bukanlah mimpi.
Aku menolehkan wajahku pada seoarang pria yang tak lain kak Bian, aku memiringkan tubuhku ke arahnya menatap wajahnya yang masih setia memejamkan matanya dengan ekspresi tak percayaku.
Apa yang sudah ku lakukan? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi dan sialnya semua terasa detail di ingatanku, bahkan kini air mataku mulai berkaca-kaca.
Biar bagaimanapun aku yang salah, aku dalam keadaan sadar.
Terasa ia memelukku semakin erat, merapatkan tubuhku ke dada bidangnya. Aku menangis sesengukan disana, aku bingung harus bagaimana. Bukankah ia akan segera melamar Amel? Demi Tuhan aku tak ingin menyakiti mereka meskipun aku mencintai pria ini.
Kak Bian mengelus suraiku sesekali mengecup puncak kepalaku lalu berkata " It's okay, dear" bukan menjawab aku semakin menangis.
"Kak bagaimana ini?" parauku
"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab, okay ?"
Sungguh aku menginginkan ia tapi bukan berarti aku harus menghancurkan istana Amel, kan?
Aku juga sangat menginginkan pria ini tapi juga dengan cintanya. Aku tak ingin memaksanya hanya karena rasa bersalahnya, karena di sini aku yang salah.
Perlahan aku menggeleng, kurasakan ia terkejut, aku melonggarkan pelukan kami lalu menatap manik matanya, yang mana menatap manik matanya saat ini entah kenapa ada ketulusan disana "Aku tidak ingin jika kakak menikahiku hanya karena rasa bersalah" ucapku perlahan
Ia menggeleng dengan tegas kemudian ia berkata "Tidak, apapun itu aku akan tetap menikahimu"
Andaikan ia mencintaiku, tapi bolehkah aku egois?
"Bagaimana dengan Amel?" balasku lagi yang sudah meninggikan satu oktaf suaraku padanya
Ia menghembuskan nafasnya, "Tenanglah.. Aku akan mengurusnya" jawabnya sambil mengusap pipiku "Tapi... boleh aku memintanya lagi?" tambahnya dengan ekspresi menjengkelkan.
Aku membelalakkan mata tak percaya pada kata yang di ucapkannya, aku masih mode marah ini..
"Kak!" pekikku kala ia menggigit leherku dan ia tertawa, namun selanjutnya aku bangkit ke kamar mandi dengan membelitkan selimut di tubuhku dan membuatnya kelimpungan untuk menutupi tubuhnya.
Rasakan itu.
Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu aku memang sudah menyandang status resmi menjadi istri sahnya. Tapi tidak dengan cintanya, ya bahkan di malam pernikahan itu ia menemui Amel hingga waktu tengah malam ia baru kembali ke kamar kami. Bahkan aku sudah berhenti bekerja karena permintaannya.
Meskipun saat ini hubungan kami seperti suami istri pada umumnya, seperti pagi ini aku memasangkan dasi untuknya.
"Baiklah aku pergi ke kantor dulu ya. Ada apapun kabarin aku, okay" ucapnya padaku lalu mengecup keningku, dan aku mengantarkannya sampai di pintu lalu menyalim tangannya. Sebelum masuk ke dalam mobilpun ia kembali mengecup kening dan mengelus perutku, entahlah.. Aku membiarkannya saja.
Aku berlari ke kamar mandi, sejak beberapa hari ini memang tubuhku terasa tidak enak bahkan perutku mual sekali. Aku memijat pelipisku, dan segera mencuci mukaku.
Kalian benar jika berfikir aku hamil, aku memang hamil itulah yang ku lihat di tespeck yang menunjukkan garis dua saat itu.
Namun kak Bian belum mengetahuinya, aku sempat ingin memberitahukannya sore itu namun melihatnya duduk berdua bersama Amel di teras itu, teras rumah kami seraya tertawa dengan menyesap teh ditemani brownis yang dibawa oleh Amel membuat hatiku sakit.
Apakah aku terlalu egois untuk memiliki kak Bian yang hatinya jelas untuk Amel?
Menunduk aku mengelus perutku yang belum terlihat "Sabar ya sayang, mama akan bertahan meskipun papamu mungkin tidak sayang padamu" ucapku berinteraksi padanya.
"Atau apa kita pergi saja dari papamu?" monologku lagi tapi aku menggeleng.
Tidak akan, tidak akan ku biarkan kamu hidup tanpa kasih sayang papamu nak.
Aku merebahkan kembali tubuhku namun aku bangkit kembali ketika muncul suatu keinginan di kepalaku. Nanti siang aku ingin mengantarkan makanan pada kak Bian di kantornya.
"Kamu sudah rindu dengan papamu ya, sayang. Padahal baru sebentar." ucapku sambil mengelus kembali perut rataku "Okay sayang. Kita beres-beres rumah lalu memasak untuk papa kamu ya" ucapku lagi.
Akupun mulai membereskan rumah, hingga aku memasuki ruang kerja kak Bian. Semenjak menikah aku tidak pernah masuk ke ruang ini memang, tapi rasanya tingkat keingintahuan ku sangat besar hari ini.
Aku sedikit membersihkan debu di raknya, merasa lelah aku duduk di kursi kebesarannya melihat bingkai kecil berisi pernikahan kami yang terpajang di meja sisi kanan. Garis bibirku melengkung menatap bingkai itu.
"Setidaknya ia ingat memiliki kita sayang" monologku lagi dengan mengusap perutku.
Iseng aku membuka laci mejanya, aku menemukan fotoku selfie dengan kak Bian memakai seragam SMA, foto kami duduk dengan pose kak Bian yang merangkulku dan kepala kami saling bertumpu.
Lagi, aku tersenyum mengingatnya. Dimana moment ini adalah saat kami bolos sekolah dan pergi ke kedai es krim karena hari itu aku marah padanya telah menjatuhkan bekal yang buat untuknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua sedangkan dia kelas tiga SMA.
Menghela nafas, aku memasukkan kembali foto itu namun belum dengan benar memasukkan foto itu, fotonya jatuh ke lantai.
Aku mengerjap, ternyata di balik foto itu terdapat tulisan tangan kak Bian. Aku segara mengambil dan membacanya namun aku kembali tersenyum, apa-apaan ini? Aku membacanya berulang kali seakan meyakinkan bahwa ini benar.
Apa maksudnya, aku tidak percaya namun aku sangat bahagia.
Melihatmu menatapku dengan sendu aku sadar bahwa aku begitu mencintaimu, Lisa. A l ways, forever and till the end.
Iseng, aku membuka bingkai foto pernikahan kami. Entahlah aku hanya penasaran, apakah isi bingkai dengan ukuran sekitar lima inci memiliki kata-kata.
Tertawa kecil, aku menemukan kata-kata itu lagi. Sekaligus tidak menyangka kalau kak Bian sedikit berlebihan.
I wish I was your mirror; I could look at you every morning.
Kemudian aku memperbaiki bingkai itu dan menatanya kembali.
"Papamu mencintai mama" aku kembali bermonolog. Aku melihat jam yang bertengger di dinding. Aku bangkit untuk segera bersiap.
Ah aku semakin semangat, masih dengan semangat aku memasukkan makanan yang telah ku masak ke dalam paper bag dan tak lupa memasukkan foto selfie kami ke dalam tasku.
Aku pergi ke kantornya dengan menggunakan taksi, sesampai di kantor beberapa karyawan menyapaku.
Saat aku tiba di depan ruangan kak Bian, Aryo selaku sekretaris kak Bian terlihat khawatir.
"Kenapa? Kak Bian di dalam kan" tanya padanya yang langsung di angguki dan di jawab "Benar, nona"
Aku langsung membuka pintu namun pemandangan di depanku saat membuka pintu membuatku ingin marah.
Terlihat tangan Amel di bahu kak Bian, ia yang melihatku karena ia menghadap pintu langsung menyentak tangan Amel.
"Sayang.." ucapnya dengan wajah panik aku masih diam menatap mereka, bahkan kak Bian mulai melangkah tapi aku menahannya dengan gerakan tangan untuk berhenti.
Ku lihat Amel mulai merangkulkan tangannya ke lengan kak Bian namun dengan cepat ditepis oleh pria itu. Aku masih diam menatap mereka, rasanya aku ingin lari dan menangis. Tapi itu tidak akan ku lakukan. Ya tentu saja, aku menjadi kuat setelah melihat foto kami dengan tulisannya.
"Lepas Amel, kau membuat istriku salah paham" bentak pria di depanku. Entahlah aku masih ingin menikmati wajah panik kak Bian, apakah ia masih mencintaiku seperti ucapannya di foto itu.
"Sayang.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan okay " ucapnya lagi, namun Amel masih terus menempel padanya. Aku sudah tidak tahan.
Dengan menghela nafas, aku melangkahkan kaki menuju ke suamiku menatapnya tajam lalu mengayunkan tanganku menamparnya. Bukan, aku tidak menampar kak Bian tetapi menampar Amel tentu saja. Enak saja ia mengganggu suamiku.
Amel tampah syok berbeda dengan ekspresi kak Bian yang terlihat... senang?
"Dengar. Dia itu sudah menjadi suamiku harusnya kamu sadar posisi kamu sekarang" ucapku pada Amel lalu aku bergelanyut manja di lengan suamiku dengan berkata "Sayang aku bawa makan siang"
Diluar dugaan kak Bian malah merangkulku dan mengecup pipiku dengan tersenyum senang "See.. Sekarang keluarlah. Aku ingin makan bersama istriku" ucap kak Bian pada Amel, dan Amel mendengkus lalu pergi.
Sepeninggalan Amel aku langsung menghempaskan tangannya dan duduk di sofa.
"Jelaskan!" ucapku dengan tegas padanya, ia menggaruk belakang kepalanya lalu mengikutiku.
Ia menunduk mengecup perutku "Mama kamu galak banget hari ini" gumamnya yang masih dapat ku dengar. Loh kok?
"Kak?"
"Kenapa? Kamu pikir aku tidak tahu."
"Tapi.."
"Aku melihat tespeckmu di laci namun aku menunggu kamu memberitahuku langsung" potongnya
Lalu aku mengeluarkan foto yang ku bawa ia terlihat salah tingkah melihat foto itu "Kenapa tidak beritahu kalau dari dulu mencintaiku" ucapku padanya
"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya dan ku balas dengan senyuman dan anggukan
"God.. Tahu begitu aku tidak menggunakan Amel untuk memancingmu" ucapnya lagi dengan menjambak rambutnya yang membuat aku mengernyit.
Ia memelukku dengan erat "Aku sungguh mencintaimu.." ucapnya lagi
"Halah.. Cinta tapi pacaran sama yang lain juga" balasku lagi padanya
Ia tidak menjawab namun mengurai pelukannya dan menunduk di depan perutku "Sayang, kamu harus jadi tim papa nanti ya" yang membuat hatiku merasa hangat.
Ah selama ini kami hanya gengsi. Tapi perkataan kak Bian selanjutnya membuatku terdiam, bahagia dan seketika menyerangnya.
"Okay, sekarang aku ingin jujur padamu. Aku sangat mencintaimu dan tak pernah menyesalinya. Dan....."
"Dan?" tanyaku
"Malam itu aku tidak benar-benar mabuk. Aku frustasi ingin memilikimu"
The End