Sagara ❤ Baby
Romance
14 Dec 2025 17 Dec 2025

Sagara ❤ Baby

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (52).jfif

download (52).jfif

17 Dec 2025, 07:16

download (51).jfif

download (51).jfif

17 Dec 2025, 07:16

download (55).jfif

download (55).jfif

17 Dec 2025, 07:18

download (54).jfif

download (54).jfif

17 Dec 2025, 07:18

"Baby, gak apa-apa nih gue pulang duluan?"

"Iya gak apa-apa, gue mau nunggu bis di halte."

"Oke deh kalo udah nyampe rumah lo telepon gue, dan kalo sampe malem lo belum dapat bis juga lo pesen taksi aja, oke?"

"Sip."

"Dah Baby..."

Rena pulang duluan karena di jemput Iras pacarnya, biasanya kita berdua akan menunggu bisnya barengan karena memang kita jalannya searah.

Sayangnya juga sore ini turun hujan yang cukup lebat membuat halte ini terlihat sepi, kelas sore, hujan lebat aku yakin akan cukup sulit untuk mendapatkan kendaraan pulang.

"Huft... Semoga saja masih ada bis lewat." Gumamku sangat pelan.

Dan sekarang aku benar-benar sendiri di halte ini, orang terakhir yang menunggu bersamaku memlilih menyebrang membelah hujan, dan sekarang sudah pukul 17.20, langit lebih gelap dari waktu biasanya, dan hujan semakin deras.

"Kamu sendirian?"

Aku sungguh kaget mendengar suara bariton itu mengudara dari belakangku.

"Maaf, saya mengagetkanmu yah?"

"I..iya Pak, maaf saya gak lihat Bapak."

Aku ingat dia adalah salah satu dosen di fakultasku, tapi kelasku tidak ada yang kebagian diajar olehnya.

"Teman kamu mana?"

"Dia sudah pulang duluan."

Meskipun aku heran kenapa Pak Sagara bisa tau kabiasaanku yang suka kemana-kemana berdua bareng Rena dan dia hanya membalasnya dengan anggukan.

"Keberatan kalau saya merokok?" Tanyanya seraya memperlihatkan bungkus rokok yang dia kleuarkan dari balik jaket.

"Tidak Pak, silahkan."

"Sagara saja."

"Ap...apa?"

"Panggil saya Sagara saja Baby, kita tidak sedang berada di kampus lagi pula saya bukan dosen kamu, secara teknis saya tidak mengajar kamu."

'Gusti, mana mungkin aku hanya memanggilnya Sagara saja, bisa di penggal ini leher kalau ada yang denger' Aku hanya diam saja tidak mengiyakan.

Dia mulai menghisap rokoknya, jujur aku kaget banget kalau dosen kesayangan mahasiswi ini ternyata merokok, dari selentingan yang ku dengar dia termasuk dosen yang ramah tapi juga misterius.

"Kamu mau menunggu disini sampai kapan, Baby? Biasanya kalau hujan begini agak susah dapat kendaraan, sebaiknya kamu pesan taksi atau mau saya antar?"

"Hah?"

"Mobil saya ada disana." Dia menunjuk bengkel dekat kampus, "Bannya bocor sedang di perbaiki, kalau sudah selesai saya bisa antar kamu."

Akhirnya karena sudah satu jam aku menunggu dan tak ada bis yang lewat aku mengikuti ajakan Pak Sagara hanya sampai bis yang biasa ku tumpangi terlihat, nantinya aku akan naik bis. Lagipula aku tak tau rumah Pak Sagara dimana, bisa saja berlawanan arah dengan rumahku.

Tapi baru sepuluh menit perjalanan mobil Pak Sagara menepi di sebuah restoran, restoran yang tentu saja harganya sangat jauh untuk kantong mahasiswi sepertiku.

"Saya lapar, kita makan dulu." Ucapnya ketika mesin mobil mati dan dia bergegas keluar.

"Tapi...pak..." Ucapku tertelan kembali.

'Ya ampun ini gue harus turun apa nunggu aja sih, atau gue keluar aja nyari taksi, kenapa gak dari tadi coba.'

Tapi Pak Sagara sudah membuka pintu mobil sebelahku dan menyuruhku keluar.

"Ayo, temani saya makan dulu."

Dengan terpaksa aku mengikutinya, aku tau ini restoran mahal, penampilanku yang sudah berantakan sangat kontradiksi sekali dengan tampilan restoran ini, penampilan Pak Sagara meskipun sudah seharian mengajar di kampus masih terlihat mempesona, tampan luar biasa. Kalau sudah seperti ini ingin rasanya aku menghilang atau mengecil jadi gantungan kunci mobil Pak Sagara, menyesal sudah menerima ajakannya harusnya ia pesan taksi saja walaupun harus memakai jatah jajan tiga hari.

"Kamu mau pesana apa Baby? Steak di restoran ini sangat enak, kamu mau mencobanya?"

"Tapi... tapi saya..."

'Duh ini di bayarin apa bayar sendiri'

"Tenang saja karena saya yang mengajak kamu jadi kamu saya traktir jika itu yang kamu khawatirkan."

Aku hanya tersenyum kaku. "Terimakasih pak."

Walaupun steak di restoran ini memang sangat enak tapi jujur aku tidak bisa menikmatinya, gugup di depan Pak Sagara, juga takut ada orang yang melihat kami, kenal Pak Sagara tentunya, bisa repot jadinya. Baru saja minggu kemarin ada mahasiswi yang nekat mendekati Pak Sagara dan akhirnya mendapatkan banyak cemoohan di kampusku, membuatnya langsung cuti kuliah.

Setalah selesai membayar aku yang mengatakan akan naik taksi saja sampai rumah malah tak digubris sama dosen di depanku ini.

"Udah malam, biar saya antar sampai rumah."

"Tapi pak... Saya semakin merepotkan bapak."

"Kamu bisa menggantinya lain waktu."

Dengan canggung dan kurang mengerti aku hanya mengatakan ia saja, agar percakapan kami cepat selesai, aku sangat gugup karena setiap kali berbicara dengan Pak Sagara, beliau selalu menatap mata lawan bicaranya, dan kali ini adalah aku.

Sebulan lebih berlalu sejak kejadian itu, aku tak pernah menceritakannya pada siapapun termasuk Rena, aku hanya tak ingin membuat kehebohan, dan sikap Pak Sagara pun biasa saja bahkan cenderung tak mengenaliku, jadi aku menganggap kejadian waktu itu hanya sekedar lewat saja walaupun aku masih bertanya-tanya kenapa Pak Sagara bisa tau namaku.

"Beb, nanti temenin gue ya mau ketemu sama Iras."

"Ko gue harus ikut, biasanyakan juga berdua?" Tanyaku pada Rena.

"Iras ulang tahun, nah dia mau rayain sama temen-temennya juga, makan-makan, gue kan belum kenal-kenal banget sama temen-temenya dia, jadi lo ikut ya temenin gue, mau ya... Pliss."

"Oke, tapi nanti anterin gue pulang."

"Beres!"

Acara surprise ulang tahunnya Iras lumayan rame dan seru, dan aku menyesal kenapa gak membeli kado terlebih dahulu, aku jadi gak enak hati.

"Santai aja Beb, gue bukan anak kecil yang akan nangis kalo gak di kasih kado." Kelakarnya saat aku minta maaf.

"Ren gue ke toilet dulu, kalo mau pulang tungguin gue, perut gue mules." Bisiku pada Rena.

"Ya kali gue tinggalin lo, sana gih buruan."

Aku cukup lama di toilet karena perutku benar-benar gak enak, dan betapa kagetnya aku saat keluar dan berpapasan dengan Pak Sagara. Apalagi penampilan beliau sangat berbeda dengan saat di kampus, saat ini beliau hanya mengenakan kaos santai dan celana selutut dipadukan dengan sneaker hitam dan tatanan rambut messy yang membuatnya terlihat bak anak kuliahan.

"Pak Sagara..."

"Baby, sedang apa kamu disini?"

"Makan-makan pak, ada temen yang ulang tahun."

"Oh.. Sama siapa kesini?"

"Sama Rena pak, saya duluan ya Pak."

"Baby...."

Aku yang sudah berjalan beberapa langkah berbalik menatap pada Pak Sagara yang memandang lurus kearahku tanpa mengatakan apa-apa.

"Enggak apa-apa..." lalu dia tersenyum, dan sumpah senyumannya membuat dadaku berdebar kencang, dengan buru-buru aku pamit segera menuju Rena.

"Beb... Gue lihat Pak Sagara lo tadi, ke arah toilet hampir bareng sama lo, lo papasan gak sama dia?"

Aku hanya menggeleng sebagai jawaban berbohong pada Rena.

"Itu Pak Sagara, " tunjuk Rena padanya yang baru saja muncul dari lorong, "Gila ganteng banget," aku yang ikut melihat arah pandang Rena tak melihat jiga ada waitress yang berjalan di depanku sehingga minuman yang di bawanya tumpah diatas bajuku.

"Aduh mbak maaf, saya kurang hati-hati." Ucapnya.

Terlihat Rena mau memarahi waitress itu aku langsung menghalaunya karena ini memang salahku yang gak lihat jalan.

"Baju lo basah Beb, gimana dong nih."

Saat kami masih berdiskusi perihal bajuku yang basah dari arah belakang seseorang menyodorkan kemeja flanel berbau cologne yang sangat wangi, dan itu adalah Pak Sagara. Aku dan Rena terbengong sesaat.

"Beby lebih baik kamu ganti baju kamh dengan kemeja ini, kamu bisa masuk angin nanti." Ia menawarkan.

"Gak usah pak, saya mau pulang kok." Namun pak Sagara diam saja tanpa menurunkan kemeja yang ia tawarkan padaku.

"Iya Beb, kamu ganti aja gih di kamar mandi." Rena memberi dukungan.

Akhirnya aku mengambil baju itu dan pergi ke kamar mandi, pak Sagara bahkan sampai memberikanku paperbag untuk bajuku yang basah. Kemeja pak Sagara begitu besar di tubuhku yang ramping dan aroma parfumnya serasa membuatku dipeluk Pak Gara, wanginya membuat nyaman.

Saat aku kembali Rena ternyata sudah pergi, membuatku kebingungan mencarinya.

"Ayo..."

"Kemana Pak?"

"Saya antar kamu pulang."

"Tapi pak..."

Tanpa mengatakan apa-apa, Pak Gara menarik tanganku menuju mobilnya, seperti ada sengatan listrik saat kulit kami bersentuhan, dan membuat jantungku berdebar.

Hujan yang mengguyur Jakarta sejak siang membuat banjir di beberapa titik, sehingga kami terjebak macet parah. Membuatku mengantuk dan menguap beberapa kali dan tertangkap mata Pak Gara.

"Kalau kamu mengantuk tidur saja, turunkan kursinya, tuasnya ada di sebelah kirimu."

"Gak apa-apa Pak kalau saya tidur?" Aku merasa gak enak, tapi aku ngantuk banget.

"Tidur aja, macet juga."

Akupun mencari tuas namun sangat sulit menurunkan sandaran kursi, sehingga aku sangat terkejut saat pak Gara yang mengambil alih membuat posisi kami begitu dekat. Bahkan jika pak Gara berbalik sedikit saja maka bibir kami akan bersentuhan. Tepat setelah aku memikirkan itu pak Gara berbalik dan jarak kami hanya terpaut satu cm, tatapan matanya yang tajam perlahan turun pada bibirku membuat jantungku berdetak tak karuan.

Lalu dia bergerak semakin dekat. "Can i?"

Aku hanya diam, otakku blank, hingga aku merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirky dengan lembut, pelan, intens lalu saat bibir itu menjauh aku merasa kehilangan.

"Baby, saya minta maaf tapi saya tidak akan menyesal telah melakukan ini."

Lalu dia menciumku lagi lebih dalam, lebih intense dan lebih menggairahkan, sehingga tanpa sadar akupun membalas ciumannya, membuat ciuman kami semakin panas, Pak Gara segera menurunkan sandaran kursi dengan mudahnya dan tangnnya yang lain sudah masuk kedalam kemejaku membuat kuliat tangnnya berada dipingganku, mengelus perut rataku, hingga saat nafas kami habis baru kami berhenti, kami mulai mengatur nafas, namun wajah pak Gara masih sedekat tadi dengan wajahku, membuat pipiku memanas, dan ingat bahwa aku baru saja ciuman dengan dosenku.

"Saya menyukaimu sejak pertama kali melihatmu bersandar di mobil saya, tapi kamu begitu sulit untuk saya dekati Beby..."

Kembali ke Beranda