Jam sebelas malam Kara tiba-tiba terbangun dari tidurnya, melirik ke kiri ia melihat foto mesranya dengan Christian, pacarnya selama dua tahun ini yang sayangnya saat ini hubungan mereka sedang break entah sampai kapan.
Jujur Kara kangen Ian, biasanya di jam-jam seperti ini Ian akan datang setelah selesai melakukan syuting, Ian akan membangunkan Kara dengan sebuah ciuman atau hanya sekedar kecupan lalu Ian akan tidur memeluk Kara.
"Argghh... Gue kangen banget sama dia."
Kara mulai frustasi, hampir dua bulan mereka saling berjauhan tepatnya Kara yang menghindari Ian untuk mendinginkan kepala sebagai alasannya, nyatanya bukannya dingin pikiran dia malah semakin gak karuan berjauhan dari Ian, ingin minta segera diakhiri ia terlalu gengsi.
Kara hanya melenguh dan menjatuhkan diri kembali ke atas bantal. Dengan susah payah dia hampir terlelap tapi seketika terbangun ketika terdengar ketukan di pintu, ia melirik jam di nakas yang menunjukan pukul 00.17 dini hari.
"Siapa malem-malem ketok pintu."
Ian gak mungkin pikirnya, ia jadi takut sendiri, tapi ketukan di pintu tak mau berhenti, memberanikan diri ia membawa payung panjang untuk berjaga-jaga kalau ada pencuri ia akan langsung memukulnya.
"Siapa?"
Tak ada jawaban, Kara mendekati pintu, mengintip dari lubang kecil dan dia kaget saat membuka pintu bahwa itu adalah Ian, dengan senyum mengembang ia langsung memeluk Kara sampai terhunyung kebelakang sehingga payung yang di pegang Kara jatuh ke lantai.
" I Miss You Ra, I really do."
Kara membiarkan Ian masuk, lega dan juga bahagia ia bisa melihat Ian malam ini.
"Kamu bau alkohol?" Protes Kara sesaat setelah Ian melepaskan pelukannya.
"Ada pesta perayaan tadi, aku minum dikit."
"Kamu mau minum apa? No kopi ya, aku gak mau kamu gadang sampai subuh."
"Sini dulu jangan kemana-kemana, aku gak mau apa-apa, aku cuma mau kamu". Ian menarik tangan Kara yang akan melangkah kedapur hingga terjatuh di pangkuannya.
"Baikan ya, aku gak tahan jauh-jauh dari kamu". Ian membelai pipi dan rambut Kara hal yang ia sangat rindukan bahkan ia rasa akan gila jika sehari saja ia tak dapat kabar tentang Karanya.
"Aku gak mau cuma liat foto-foto kamu atau hanya dengar kabar kamu dari orang lain."
"Kamu nguntit aku Yan?"
"Ya kadang aku nyuruh Bobby buat ngikuti kamu, atau kalau aku udah gak kuat banget kangen sama kamu aku sendiri yang akan ngikutin kamu."
"Kamu segaada kerjaannya sampai ngikutin aku kemana-mana bapat Direksi yang terhormat"
"Buat kamu gak ada kata sibuk."
"Gombal."
"Berani ya bilang aku gombal." Jawab Ian sambil menggigit hidung mancung Kara gemas.
Suara perut Ian menghentikan acara romantis-romantisan mereka, dan akhirnya mereka tertawa bersama.
"Yah aku gak masak gimana dong?"
"Beli sate depan komplek yu" Ajak Ian.
"Jam segini? Ini udah hampir jam dua pagi Yan."
"Ada kok beneran, yu?!"
"Aku gak perlu ganti bajukan ya, cuma kedepan ini."
"Gak usah, nih pakai jaket aku." Ian menyerahkan jaket hitam kesayangannya yang hanya pada Kara ia relakan untuk memakainya.
"Kamu bawa motor? Kirain bawa mobil."
"Males Ra, malam minggu gini jalanan macet."
"Gak malam minggu juga Jakarta mah tetep macet."
"Udah ayo." Ian menarik tangan Kara menuju motor Harley yang terparkir di depan rumah Kara, merapatkan Jaket Kara dan membantunya naik, lucu sekali jika Ian melihat Jaket atau bajunya di pakai oleh Kara, sangat oversize tapi selalu cantik kalau di pakai Kara
Sesampainya di tempat jualan sate, Ian mengajak Kara duduk di kursi paling jauh dari tukang sate.
"Jauh banget duduknya."
"Biar bisa lakuin ini." Jawab Ian sambil mencium tangan Kara lama yang sejak tadi tak lepas dari genggamannnya.
Tak berselang lama pesanan mereka datang lalu mereka makan dalam diam sambil sesekali Ian melihat Kara yang sedang makan, saat ia melihat ada saus kacang yang menempel di ujung bibir Kara tanpa ia bisa cegah ia langsung mencium dan melumatnya hingga membuat Kara sewot.
"Iaaan... Kamu,! kalau ada yang lihat gimana?"
"Itu satu lagi alasanku kenapa ngambil meja ini".
"Kamu kaya ABG aja sih ngumpet-ngumpetan."
Ian menvubit pipi Kara gemas.
Setelah selesai mereka ngisi perut mereka kembali lagi ke rumah Kara.
"Yang peluk dong, kangen aku dipeluk sama kamu pas naik motor gini."
"Palingan pas aku gak sama kamu kemarin kamu ganti-gantikan bonceng cewek di motor ini."
"Enggak yang, sumpah ya, kamu jelek banget sih pikirannya, aku gak pernah bawa siapapun selain kamu, cuma tas isi kamera yang gantiin posisi kamu sengaja biar gak ada yang minta nebeng."
"Kalau kamu bawa mobil gimana?"
"Aku bawa baju ganti dari rumah dan aku taruh di kursi belakang, kursi samping aku taruh kamera biar gak ada yang minta nebeng juga."
Kara tersenyun senang di belakang, padahal ia hanya bercanda, tapi siapa yang tau kalau cowok ganteng, dengan tato yang memenuhi tangan, sebelah dada dan punggungnya juga penuh talenta ini bisa begitu setia itu padanya.
Kara meminta break karena merasa terlalu berat berada di sisi Ian apalagi setelah studionya makin rame dan Ian sendiri akhirnya merilis album.
Tapi ternyata jauh dari Ian ia merasa lebih berat dibanding menghalau wanita-wanita yang menginginkan Ian.
Kara mencubit pipi Ian dari belakang. "Ulu.. Ulu... bucin banget sih Christian super ganteng ini, pacarnya siapa sih?"
"Pacarnya Kara dong." Jawab Ian mantap.
***
"Mandi dulu gih kalo mau tidur, aku udah siapin." Kara menghampiri Ian yang sedang membalas pesan entah pada siapa di jam tiga dini hari seperti ini.
Ian menurut dan segera masuk ke kamar mandi, sementara Kara langsung menuju tempat tidur dan langsung merebahakn dirinya disana. Sepertinya malam in ia akan tidur nyenyak karena ada Ian disampingnya. Itu yang ada di pikiran Kara sampai Ian keluar kamar mandi hanya dengan boxernya dang langsung bergabung dengan Kara di tempat tidur.
Awalnya Ian hanya memeluk Kara dari belakang, lalu mulai menciumi tengkuk Kara, tangannya mulai masuk ke dalam kaos Kara melepas kaitan bra Kara dan meremas kesukaannya disana.
"I miss you so bad". Ucapnya di sela-sela cumbuannya di leher Kara hingga suara desahan Kara keluar dan tak mampu lagi membendung hasrat Ian yang sangat mendamba akan tubuh Kara.
Ian langsung mencumbu Kara penuh gairah, dari mulai bibirnya, turun ke leher, lalu lebih bawah lagi, Ia bermain main disana, menghisap menggigit dan memberi tanda sebanyak-banyaknya di dada Kara, membuat Kara menggelinjang mengharap lebih.
"Iaaann... ah..."
"Apa sayang..."
Ciuman Ian turun ke perut Kara, kembali memberi tanda disana, Ia ingin memiliki Kara untuk dirinya sendiri. Turun lagi ke bawah, ia membelai milik Kara juga menciuminya, hingga Kara sudah meracau tak karuan.
"Iaann pliiiissssh"...
Ian kembali memagut bibir Kara panas, lalu menempatkan Juniornya yang sudah menegang di depan milik Kara.
"Im home." Desah Ian saat miliknya sudah menyatu dengan milik Kara.
Desahan saling bershutan diantara mereka, melepaskan kerinduan dan cinta, penuh keringat dan basah, mereka saling memuaskan, saling mendamba, hingga desahan panjang mengakhiri kegiatan keduanya saat mereka medapatkan pelepasan. Lalu mereka jatuh tertidur.
Matahari sudah tinggi saat Kara bangun, ia menutupi matanya karena merasa silau, namun karena ada suara kekehan dari sebelahnya ia membuka matanya lagi.
Ian sedang menatap dalam Kara membuat wajah Kara memerah malu.
"Jangan diliatin, malu ih." Ucap Kara membenamkan wajahnya di bantal namun tak diabiarkan oleh Ian.
"Lihat sini, aku udah lama gak liat bidadari bangun tidur, cantik banget sih bidadarinya Ian."
Ucap Ian sambil menhadiahi wajah Kara dengan kecupan-kecupan kecil, Kara pun memberiakn ciuman singkat di bibir Ian. Akhirnya mereka hanya diam saling menatap.
"Kita udah baikan kan yang?" Kara mengangguk sebagai jawaban.
"Aku gak sanggup jauh lagi dari kamu, aku gak mau kehilangan kamu, so....." Ian mengelurkan cincin tanpa kotak dari saku boxernya, "Will you marry me?"
Kali ini wajahnya serius dan penuh harap, dan Kara tentu saja terdiam kaget.
Ian laki-laki korban broken home, takut untuk menikah karena takut menyakiti seperti papanya, hidup bebas, lepas tapi kini memnintanya untuk menikah, hidup bersama dengan Kara, tentu saja Kara sangat menginginkan itu.
"Are u sure?"
"Aku gak pernah seyakin ini, kehilangan kamu membuatku merasa lebih takut dari pada dengan bayangan kelam perlakuan papa ke mama, jauh darimu membuatku tak berdaya Kara.
"Pliss jangan tolak aku, Will you marry me?" Pintanya sekali lagi.
Tanpa berpikir lagi Kara langsung menjawab.
"Yes yes yes... Love you Ian."
"I love you more than anything."
Akhirnya pagi-pagi itu kembali disiisi dengan adegan ranjang panas antara Ian dan Kara.
"Btw, kamu gak romantis banget sih ngelamarnya cuma boxeran doang. bahkan aku masih naked Ian."
Nanti aku ulangin lagi dengan cara romantis, sekarang ayo lanjutkan adegan panas kita, goda Ian sambil menekan Kara.
"Iaaaannnnnn" 😘😘😘
END