Aku sungguh mencintai pria itu, Yovan. Mati-matian aku menahan hatiku setelah mempertemukan mereka.
Aku ingat sekali saat dimana aku dan sahabat terbaikku, Kalila janji bertemu di cafe melakukan rutinitas yang kami lakukan sebulan sekali sekaligus memperkenalkan calon suamiku kepadanya, benar kami memang dijodohkan tapi aku jatuh cinta sejak pertemuan pertama kami.
Aku mengamati ekspresi Kalila dengan Yovan ada kilatan terkejut di dalam manik mata mereka, aku pikir itu hanya perasaanku saja. Hingga kejadian puncaknya adalah fakta bahwa mereka memang berkencan di belakangku.
Aku membenci mereka tapi malam itu aku mendengar percakapan antara Yovan dan ibuku, satu sisi aku tidak terima namun sisi lain hatiku berkata cinta tidak bisa dipaksa bukan?
Aku sangat menyayangi Kalila tapi aku juga begitu sangat mencintai Yovan. Tapi ternyata aku lebih menyayangi Kalila daripada Yovan sehingga memilih untuk membatalkan perjodohan dan merelakannya untuk Kalila.
Aku juga tahu, Kalila sangat menyayangiku terlihat ketika dia frustasi saat aku tak berniat untuk menemuinya. Jujur aku memang tidak sanggup untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat, jadi setelah aku mengatakan pada ibuku, aku menulis surat untuknya.
Tadinya aku ingin sekali menghukum Kalila dengan perasaan bersalahnya hingga rasanya ia akan mati dengan rasa bersalah itu. Aku takkan membunuhnya karena aku masih memiliki rasa kasih kepadanya.
Melihatnya menangis dan tampak kacau dibandara dengan pelukan hangat dari Yovan adalah pilihan yang tepat saat itu, aku senang melihatnya lega ketika ia membaca surat dariku, aku tak bebohong aku sungguh menyayanginya.
Benar, aku melihatnya di bandara. Kata pamit ke London tak benar-benar ku lakukan, aku hanya berangkat pergi ke negara tetangga yang dekat yaitu Malaysia. Tidak buruk, karena memang aku butuh menenangkan hatiku yang tak baik-baik saja saat itu. Aku terlalu takut untuk pergi terlalu jauh.
Jika ditanya bagaimana perasaanku saat ini maka jawabannya adalah aku baik-baik saja, sangat.
Kata orang, obat terampuh dalam menyembuhkan luka hati adalah jatuh hati. Sebenarnya bahkan perasaanku sudah tak ada pada Yovan.
Tapi kepada siapa hatiku harus berlabuh?
Aku menghela nafas, memandangi pemandangan malam kota malaysia dari atap cafe. Tak ada yang istimewa, kecuali coklat panas ini.
Mengingat beberapa kenangan masa lalu sembari memainkan jari diujung cangkir.
"Boleh bergabung?" tanya suara berat disampingku, aku menoleh pada pria itu lalu mengedarkan pandangan sekelilingku
"Masih banyak tempat yang kosong" jawabku acuh.
Pria itu tersenyum, mendudukkan tubuhnya di sampingku. Kenapa dia bertanya jika begitu.
Aku hanya diam, kemudian menyesap coklat panasku perlahan. Ini sudah bulan ke 11 aku di negara ini, kira-kira Kalila apa kabar ya? Aku sungguh rindu padanya.
Sekarang aku benar-benar menyadari hanya dia teman yang ku punya. Bahkan dengan keluargaku, aku lebih dekat dengannya.
"Apa kabar Cindy?" ucap suara pria itu, aku menoleh menaikkan alisku, bukan masalah tahu dari mana ia namaku, bukan.. Bukan karena aku tidak tahu siapa pria ini tapi kami sudah beberapa kali bertemu bahkan jalan bersama akhir-akhir ini tapi ada apa ia malam ini. Kemana sikap manisnya padaku beberapa minggu ini.
Seakan mengerti pria itu tersenyum kepadaku lalu berucap "Teo. Aku pernah menghadiri acaramu bersama Kalila" jelasnya, aku memutar bola mataku dengan jengah.
Ya, akhir-akhir ini aku memang dekat dengan pria ini, tapi beberapa hari tak bertemu dengannya membuat ia berubah malam ini.
Aku berfikir sejenak berupaya mengimbanginya, dengan ekspresi, ya ampun dunia sesempit ini ya "Ah kau ternyata" balasku seadanya karena sikapnya seperti baru bertemu.
"Sebulan yang lalu mereka menikah, kau tahu?" tanyanya yang ku balas anggukan, nah apa karena hal ini dia begitu
Aku tahu mereka menikah dan Kalila berharap aku datang namun aku masih enggan. Bukan karena aku belum memaafkan hanya saja aku masih belum ingin menemui mereka.
"Kau tidak hadir?"
"Kau sedang apa disini?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya aku malas membahas itu.
Untuk kesekian kalinya, Teo tersenyum. Sungguh ia pria yang tampan aku akui itu.
"Tidak ada, hanya ada sedikit urusan"
Setelah itupun hening, tak ada percakapan antara kami hingga suara Teo kembali terdengar "Besok malam ada acara?"
"Tidak ada"
"Kalau boleh, bisa temanin aku ke suatu acara?" ajaknya, nah kan ia selalu menemuiku kalau ada maunya setidaknya hanya itu kami bertemu. Aku tampak berpikir tapi kurasa boleh juga lagipula aku bosan sendiri melulu, dan aku juga mengenalnya. Setidaknya Teo pria yang baik, itu yang dikatakan Kalila saat itu.
Aku mengangguk "Boleh. Pukul berapa?" jawabku
Ia mengambil ponselku yang tergeletak di samping cangkir lalu mengambil jariku untuk membukanya, mengetikkan sesuatu dan tak lama ponsel di sakunya berdering kemudian dia berucap "Nanti aku hubungi, tapi besok harus berpenampilan cantik" ucapnya lalu tertawa, seakan tertular akupun tertawa mendengarnya.
Ya aku baru ingat meskipun kami pernah beberapa jalan bersama di negara ini tapi faktanya kami saling tak menyimpan nomor ponsel. Lucu sekali.
Kami juga bertemu tak sengaja lalu inisiatif pergi bersama seperti yang di lakukan Teo malam ini, bedanya ia ingat meminta nomor ponsel.
Seperti ucapannya kemarin malam, malam ini aku sudah berada di suatu acara yang ternyata adalah suatu perayaan rekan kerjanya. Mungkin karena ini ia berada di sini.
Sebenarnya aku tidak betah disini, bagaimana tidak pria diseberang sana terus saja memerhatikanku dengan tatapannya yang tak senonoh, aku tidak suka dilihat dengan pandangan demikian.
Teo memegang tanganku sedikit merapatkan tubuhku padanya, aku melirik sedikit ke wajahnya yang sepertinya Teo mengerti keadaanku yang dipandang oleh orang itu.
" Are you okay? " tanyanya yang ku angguki.
Tak lama ada seorang perempuan cantik, sungguh cantik sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa minder, wajahnya bukan asli indonesia.
"Hai, Teo" sapanya sambil mencium pipi kanan kiri Teo yang ku lihat Teo sedikit risih.
"Hai, Jessi" balas Teo singkat
Namun entah bagimana, tatapan wanita bernama Jessi itu padaku tidak terlihat menyenangkan. Ah mungkin hanya perasaanku. Lalu Teo mengenalkanku padanya.
"Mm.. Teo aku ke toilet sebentar ya"
"Mau aku antar?" tawarnya dan aku menggeleng setelah mengucapkapkan itu aku berjalan ke toilet.
Ini sebenarnya hanya pelarian saja, aku membenahi riasan sedikit.
"Kamu pacarnya?" ucap wanita bernama Jessi yang datang langsung menanyaiku disini.
"Tidak" balasku singkat
"Kalau begitu pulanglah. Teo akan pulang bersamaku" ucapnya sambil menajamkan tatapannya.
Huh! Dikira aku takut. Aku ingat moment seperti ini, jika Kalila pasti sudah takut tapi aku tidak. Tidak sampai dia mengucapkan kata-kata sadisnya.
"Dibayar berapa dengan Teo?"
"Kau perempuan Psiko" balasku
Dia mengangkat bahunya tanpa ingin mendengar kelanjutan ucapannya aku pergi meninggalkannya, malas meladeninya.
Aku berhenti mengambil minuman yang di bawa pelayan itu dan menyesapnya perlahan, aku mengalihkan pandanganku menatap Teo di sana tangannya dilingkari mesra oleh Jessi. Ah kenapa mendadak rasanya di sini gerah sekali.
Ini bagaimana ya? Aku pulang langsung begitu. Ah bodolah. Aku pergi saja.
Aku mulai melangkahkan kakiku menuju keluar gedung ini, ini bukan negaraku mana aku tahu jalanan ini karena aku memang belum pernah menjajaki tempat ini.
Mengikuti naluri aku berjalan perlahan baruku sadari ternyata tempat ini jauh dari keramaian.
Tak lama aku berjalan ada dua orang lelaki yang sedang bercakap-cakap namun tak jelas, ragu aku melangkah.
Namun ternyata pria ini mabuk, aku takut. Tidak hanya di Indonesia disini juga ada yang suka mabuk aku bergidik ngeri.
Semakin mendekat, tatapan pria itu seperti menelanjangi tubuhku. Mama aku takut.
Seketika aku tersentak kala sebuah tangan merangkulku "Diamlah.. Ini bukan negara kita" bisiknya aku menatap wajah itu.
Ah Teo ternyata.
Eh? Kok dia bisa tahu ya
"Bagai.."
"Diamlah" ucapnya lalu ia mengajakku berlangkah cepat menuju ke mobil yang terparkir di gedung itu.
"Kenapa pergi tidak bilang?" ucapnya, aku hanya diam, rasanya lidahku kelu untuk berucap.
"Cindy, harusnya kamu bilang. Tidak meninggalkanku begitu saja. Coba saja aku tidak datang tadi."
Baiklah.. Kenapa sekarang aku merasa seperti dimarahin pacarku ya. Tapi mendengar ia memarahiku sedikit dari sudut hatiku menghangat. Sedikit ini loh yaa.. Aku tidak berani mendeskripsikan lebih.
"Aku hanya.."
"Jessi?" potongnya dengan cepat, tanpa kata aku mengangguk.
Menghela nafas, Ia mendekatkan tubuhnya padaku, sejenak tatapan mata kami bertemu. Mendadak jantungku berdetak lebih cepat dan hatiku berdesir kala melihat tatapan matanya.
Klik
Bunyi selt belt terdengar membuatku menghela nafas yang tanpa sadar tadi aku sedang menahan nafas.
Terdengar kekehan kecil dari bibir Teo, ia mengusap lembut puncak kepalaku yang menambah hatiku semakin berdesir. Lalu tangannya menyalakan mobil dan mulai melajukannya.
Ah lama sekali aku tidak diperlakukan begini dengan pria. Apa karena alasan ini hatiku seketika berdesir?
Kulay begitu ya, alias kurang belay.
Rasa-rasanya terakhir kali aku diperlakukan begini sekitar empat atau lima tahun yang lalu bersama mantanku, itu juga aku tidak terlalu mencintainya.
Yovan? Bahkan ia tidak pernah begitu, hubungan kami layak disebut teman mengingat hanya aku yang jatuh cinta saat itu.
Beberapa minggu menghabiskan waktu bersama Teo tanpa diduga tidak terlalu buruk untukku. Aku bahkan sudah melupakan Yovan. Seperti imitasi ternyata perasaanku terhadap Yovan. Dan mungkin saja itu hanya obsesi semataku.
Entahlah..
"Besok aku kembali ke Indonesia. Ingin ikut?" tanya Teo sambil memegang kemudinya.
Aku menimbang "Mungkin... Ah aku belum tau"
"Apakah kau akan menghubungiku nantinya?" tambahku dengan pertanyaan aneh ini
Teo mengangguk sebelum menjawab "Tentu. Dan aku akan menunggumu di Indonesia" balas Teo sambil menghentikan mobilnya yang ternyata sudah sampai di hotelku.
"Terima kasih" ucapku mulai melepaskan selt belt dan keluar tapi tangan Teo menghentikan pergerakanku.
Ia menarikku ke dalam pelukannya tanpa sepatah katapun ia mengusap rambutku dengan lembut.
Hatiku semakin berdesir, tidak aku tidak boleh membawa perasaan begitu saja.
"Terima kasih sudah menemaniku disini" suaranya sedikit serak dipendengaranku, aku hanya mengangguk dengan irama jantung yang terus berdetak.
"Aku sungguh bahagia menghabiskan waktu denganmu" lalu melepaskan pelukannya padaku setelah mengecup puncak kepalaku.
Aku terdiam dan ia tersenyum "Masuklah. Selamat malam, Cindy."
Aku yang masih bingung hanya mengangguk dan bergegas turun melangkah menuju kamarku.
Sudah seminggu semenjak kembalinya Teo ke Indonesia, ah kenapa aku menjadi tidak betah disini.
Teo mengatakan akan menghubungiku tapi sudah seminggu kepulangannya kenapa ia tak juga kunjung menghubungiku?
Rasanya aku merindukannya.. Atau karena aku terbiasa bersamanya.
Aku kembali membaringkan tubuhku, biasanya aku juga sendiri tapi biasa saja kenapa sejak malam ini aku jadi terus ingin bertemu dengan Teo.
Ku lihat jam yang terletak di atas nakas, sudah pukul 7 malam waktu setempat.
Kacau.. Ini sungguh kacau.
Aku mengambil ponsel, memesan tiket pada suatu aplikasi online untuk keberangkatan pulang ke Indonesia besok. Aku bangkit membereskan pakaian serta perlengkapanku.
----
Akhirnya aku sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Dari sini, aku tidak ingin langsung pulang ke rumah melainkan aku akan ke cafe sebentar.
Hingga sampai di cafe, aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang amat kurindukan.
Tangan seseorang di ujung sana melambai membuat aku tersenyum lebar. Benar, waktu dapat memperbaiki segalanya. Itulah yang terjadi padaku.
"Kalila..." ucapku sambil memeluknya erat. Ya tadi pagi aku menghubunginya dan meminta pertemuan ini.
"Maafin aku, Cindy"
"Kau bicara apa sih? Aku tidak ingat" melepaskan pelukan, dan balasanku pura-pura lupa apa yang terjadi. Well aku memang sudah melupakan kejadian yang lalu.
"Hai.." sapaan kaku pria itu, mantan calon suamiku, Yovan.
Aku tersenyum lalu memeluknya singkat terdengar pria itu protes tapi ku abaikan, biarin saja Kalila marah.
Kamipun akhirnya duduk, memesan makanan dan berbincang sesekali tertawa. Aku memandang mereka, keputusan yang ku ambil sangatlah tepat.
Ah aku jadi ingin segera menemui Teo nantinya, tadi malam setelah merenung aku menemukan satu jawaban, bahwa aku mencintainya.
"Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya selidik Kalila padaku.
"Benarkah? Apa terlalu terlihat ya" balasku malu
"Anak kecil juga tahu jika kau sedang jatuh cinta" balas Yovan ketus padaku yang langsung lengannya di senggol Kalila. Ah sepertinya dia agak kesal karena aku memeluknya tadi. Tapi memang begitu sih dia dari dulu padaku.
Aku meletakkan pisau dan garpuku lalu menangkupkan kedua tangan di pipiku dan berucap "Sepertinya aku jatuh cinta sama Teo"
Pisau dan garpu Kalila dan Yovan sama terhenti memotong steak. Bahkan terdengar Yovan mengumpat tertahan sedangkan Kalila terdiam dengan ekspresinya.
Ada apa ini?
"Kenapa?" tanyaku tapi mereka hanya diam, oh ayolah jangan begini.
"Ada apa? Ayo ceritakan" tuntutku pada Kalila "Kitakan sahabatan ayo ceritakan padaku" tambahku lagi
Kalilah menghela nafas, tampak ragu "Saat di Malaysia.. Kau bertemu dengannya, benar?" tanya Kalila ragu dan aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.
Perasaanku mendadak melilit tidak enak "Aku tidak berhak menceritakannya tapi yang pasti, Teo akan menikah dua minggu lagi" jelas Kalila.
Tanganku terkulai lemas mendengar penjelasan itu, bahkan lidahku rasanya kelu ingin menjawab apa. Aku baru saja jatuh cinta tetapi kenapa sudah begini lagi.
Apa aku tidak pantas bahagia?
Apa arti kata ia menungguku kembali dan apa juga artinya ia begitu manis padaku. Ahh aku ingat saat malam sebelum ke pesta, sikapnya memang berubah saat itu.
"Cindy.." panggil Kalila menyadarkanku, aku menyeka air mataku yang tak terasa turun.
"Kalila, bisa beritahuku alamat Teo" Kalila awalnya ragu tapi mengangguk dan memberikan alamat itu padaku, yang ternyata kami tinggal di apartemen yang sama dengan lantai yang berbeda.
----
Keesokan malam tiba, dengan ragu aku berdiri di depan apartemennya. Setelah ku pikir memang ada baiknya kami berbicara. Aku akan mengungkapkan bahwa aku mencintainya setidaknya aku berusaha, apapun keputusannya.
Menekan bel beberapa saat, dan pintu terbuka menampilkan Teo dengan eskpresi sebal dan kalimat "Ada apa lagi sih Cla.." kalimatnya terhenti, ia menatapku dengan lekat-lekat lalu berkata "Eh.. Maaf Cindy"
"Hai.. Teo" balasku tersenyum dan ia juga tersenyum, mempersilahkanku masuk ke dalam apartemennya.
Aku memperhatikan sekelilingku, apartemen dengan interior modern dilengkapi furniture yang membuat apartemen ini terlihat menawan dan nyaman, aku suka itu.
Teo kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh "Kapan sampai?" tanyanya
"Kemarin" balasku seadanya sambil menyesap teh itu mendadak tenggorokanku kering, aku ingin sekali mengungkapkannya tapi kenapa tiba-tiba perasaan aneh ini menyergapku, aku menautkan jari-jariku. Menimbang apa yang ingin ku katakan padanya.
"Aku baru tahu ternyata kita tinggal di apartemen yang sama"
Aku mengangguk "hanya beda satu lantai" akuku padanya "Tapi saat ini aku tinggal di rumah mama" tambahku dan mulai memikirkan apa yang hendak ku katakan padanya. Aku bingung mengungkapkannya.
"Katakan saja, Cindy" ungkapnya seakan mengerti keinginanku.
Aku sudah mulai mengatakannya tapi seketika aku menatap miniatur kincir angin di atas tv.
Ya aku ingat kincir angin itu yang kami beli di Malaysia, saat itu ia membelikan aku yang kicirnya berwarna putih dan ia berwarna hitam. Menghiburku seraya berkata "Hidup itu seperti kincir angin ini, meskipun banyak terpaan angin tapi ia tetap berputar. Karena memang beginilah kehidupan kita, akan terus berputar" saat itu ekspresiku hanya memutar bola mata jengah karena kata picisannya.
Tapi saat ini aku tersenyum menatap miniatur itu. Kurasakan tangan Teo menyentuh bahuku "Cindy, ada apa?"
Mungkin ini saatnya, apapun yang terjadi seperti kincir itu kehidupanku akan terus melaju.
"Teo, aku mencintaimu" ucapku sambil menatap matanya, tapi pria itu hanya diam menatapku.
Beberapa saat hening ia tersenyum dan mengusap puncak kepalaku tanpa jawaban, apa ini artinya dia tidak mencintaiku juga. Aku menggigit bibirku dengan gugup, mataku mulai memanas.
"Hei.. Jangan menangis" tuturnya dengan lembut.
"Maaf.. Seharusnya aku tak mengatakan ini padamu, aku tahu kau akan menikah bukan?" air mataku turun tanpa dicegah, "Aku pamit" baiklah aku mulai bangkit dan keluar dari apartemennya. Meninggalkannya tanpa kata, menghiraukan panggilan darinya.
Saat ini memang tinggal di rumah mamaku lebih menyenangkan, setidaknya aku bisa memeluk mama nanti.
Aku terus merutuki kebodohanku kenapa bisa aku mengatakan itu padanya, aku takut. Bagaimana ini.
Sudah seminggu ini juga aku di rumah mamaku, sedikit menyesal mengatakan itu pada Teo. Satu minggu lagi pria itu akan menjadi milik orang lain. Aku menghela nafas.
Pintuku diketuk, mamaku masuk ke dalam kamarku. Sambil membawa gaun berwarna biru donker.
"Nanti malam pakai ini ya. Dandan yang cantik. Ingat! Awas kalau tidak cantik" ucap ibuku
Aku merasa dejavu, ini seperti saat aku dijodohkan pada Yovan dulu. Aduh.. Bagaimana ini? Aku tuh maunya Teo.
"Maa... Jangan bilang ini perjodohan sialan lagi" rengekku
Mamaku tersenyum "Ini hanya makan malam bersama keluarga rekan kerja papamu. Sekalian sih, jika kau tak suka pria itu jadi suamimu ya tidak masalah, mungkin tidak jodoh" jelas mamaku dan keluar dari kamarku.
Oh baiklah ini terjadi lagi, masalah hati dengan Teo saja tak urung selesai dari hatiku, aku tidur beberapa saat sebelum bertemu dengan siapapun nantinya.
Malampun tiba, akupun siap dan segera turun menemui mereka yang katanya sudah tiba.
Terdengar suara mereka berbincang "Nah.. Ini anak saya, Cindy" kenal Papaku terhadap mereka
"Wah.. Cantik sekali" jawab ibu itu dan aku tersenyum sambil menyaliminya tapi sungguh aku tak melihat pria muda atau anak mereka.
"Anak tante sebentar lagi sampai katanya" jelas tante Ningsih menjelaskanku
"Assalamualaikum" suara bariton memasuki indera pendengaranku dan aku membelalak kaget melihatnya, ia tersenyum jenaka padaku
"Teo" lirihku, aku bingung ada apa ini sebenarnya.
Tanpa menghiraukan sekelilingku, aku menarik Teo menuju ke taman belakang.
"Coba bisa jelaskan padaku maksud semuanya" ucapku dengan tegas saat tiba di taman sambil menghentak tangannya dan aku duduk di bangku taman.
Ia mengikutiku "Yang pertama, benar aku akan menikah...." ucapnya melihatku, ah ini aku sudah tahu "Tapi denganmu" aku menoleh dengan cepat
"Maksudmu apa Teo? Kalila mengatakan kau akan menikah..."
"Dengarkan dulu.. Benar saat itu orang tuaku memang menyuruhku menikah dengan Clara, dan aku ke Malaysia juga sebenarnya mencari Clara yang kabur karena ia tak mau di jodohkan denganku. Lalu bertemu denganmu tanpa sengaja, menghabiskan waktu bersamamu sungguh membuatku bahagia. Aku akui, Awalnya aku menerima saja menikah dengannya sebelum aku tahu fakta kamu juga mencintaiku"
"Aku tidak mengerti" balasku
Ia menghela nafas sebal "Intinya malam ini aku ingin melamarmu"
Aku terkikik geli "Jadi Clara itu?" tanyaku
"Aku sudah mengatakan padanya bahkan ia sangat senang untuk keputusanku" jelasnya lagi
"Aku mencintaimu, Cindy. Minggu depan kita menikah"
"Huh? Kau baru saja melamarku atau membeli kerupuk enak banget ngomongnya" sungutku
Ia tertawa lalu memelukku "Aku heran kenapa Yovan menyia-nyiakanmu tapi Kalila juga perempuan yang luar biasa sih"
Aku mendengkus melepaskan pelukannya dan memukul lengannya "Kau baru saja memujiku atau menghinaku?" ucapku dengan sebal yang dibalas tawanya
"Maaf.. Maaf.. Kamu perempuan yang hebat. Sampai aku kalah start mengungkapkan cinta" ucapnya sambil tertawa lagi yang membuatku malu dan ia menarikku ke dalam pelukannya
"Teoo" rengekku
"Iya.. Iya minggu depan kita menikah" godanya lagi padaku.
Sesaat kemudian, ia melepaskan pelukannya padaku. Menatapku lamat-lamat, wajahnya perlahan mendekat ke arahku bahkan aroma mint sudah menguar yang membuatku refleks memejamkan mataku, nyaris saja bersentuhan sampai terdengar deheman dan ucapan ayah Teo berkata "Iya.. Iya minggu depan menikah" lalu mereka tertawa dan menghilang di balik pintu meninggalkanku dengan rasa malu dan Teo yang menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.
End