Aluna dan Wasiat
Romance
11 Dec 2025 17 Dec 2025

Aluna dan Wasiat

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (82).jpeg

download (82).jpeg

12 Dec 2025, 14:36

Seorang gadis cantik berambut gelombang, berkemeja putih dengan bawahan jins berwarna donker melekat di tubuhnya, bunyi suara ketukan stileto berbentur terdengar. Sesekali bibirnya bersenandung kecil menghasilkan nada Bang-Bang dengan penyanyi Ariana Grande beserta teman-temannya sedangkan tangan kanannya memutar-mutar kunci mobilnya.

Gadis cantik ini seperti biasa, baru saja pulang dari berkumpul bersama teman-temannya.

Aluna, gadis yang akrab di sapa Luna ini merupakan gadis yang gemar berfoya-foya.

Langkahnya terhenti kala menatap dokter pribadi keluarga mereka keluar dari kamar papanya.

"Loh? Kok dokter. Papa saya kenapa dok?"

Dokter itu menghela nafas "Sebaiknya kamu menemui Pak Satria, beliau sedari tadi menunggu kamu"

Melihat dari raut wajah dokter itu perasaan Luna itu mulai tidak enak menyergap di dadanya. Ada apa ini?

Segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar papanya.

"Pa?" sapanya sambil menggenggam tangan papanya, papanya tersenyum lemah.

"Ada yang ingin papa sampaikan. Papa selalu lupa menyampaikannya"

Alis Luna bertaut menunggu kelanjutan cerita papanya itu.

"Kamu ingatkan Kevin anak om Surya, sahabat papa. Menikahlah dengannya"

Mata Aluna mengerjab seakan memastikan bukan mimpi.

"Tapi Aluna masih.."

"Kecil? Kamu sudah 24 tahun" suara papanya makin melemah, ia terbatuk.

Belum sempat Aluna mengajukan protesnya tiba-tiba tubuh papanya mengejang. Luna panik segera memanggil dokter Gunawan, dokter itu memeriksa papanya lalu menolehkan wajahnya ke Luna dan menggeleng.

Nafas Luna seakan tercekat, ia tertawa pilu. Tidak mungkin racaunya.

"Pa.. Papa..." ia menangis sejadinya. "Pa, Luna bagaimana?" ia terduduk lemas di lantai.

Bahkan saat papanya dikebumikan pun ia masih terisak, seingatnya papanya itu sehat namun ternyata papanya memiliki penyakit yang disembunyikan dari Luna.

Ia sempat menyesal tidak memerhatikan papanya dengan baik.

Setibanya di rumah pengacara dan tantenya, adik papa Luna, Mira menunggunya di ruang tamu.

"Duduk, sayang" ucap tantenya lalu mengusap bahu Luna

"Baiklah, langsung saja karena semua sudah hadir. Jadi, pak Satria membuat wasiat bahwa seluruh kekayaan asetnya ini akan jatuh di tangan anak semata wayangnya yaitu Aluna."

"Alhamdulillah.." ucap tantenya.

"Yang kuat ya sayang. Tante pasti bantu kamu" ucap Tantenya menguatkan.

"Tapi Aluna akan mendapatkan seluruh aset ini hanya jika ia telah menikah, dan ia harus menikah dengan anak sahabat papanya itu, Kevin." ucap Pak Anto selaku pengacara pribadi mereka

"Dalam waktu satu bulan. Jika tidak, seluruh aset ini akan di sumbangkan ke panti asuhan" tambahnya

"Apa tidak salah, pak? Bagaimanapun Aluna masih kemalangan begini, pak?" Mira menanggapi, lalu menggenggan tangan keponakannya itu.

Aluna menggeram "Demi Tuhan, bahkan pemakaman papaku belum mengering"

"Saya paham, nona. Dan wasiat ini sudah diperbaharui sejak seminggu yang lalu"

Aluna menangis, bagaimana ia akan menghadapi ini semua? Papanya sudah merencanakan ini semua. Ia menyesal tak meluangkan waktunya sejenak untuk papanya.

"Baiklah, dimana alamat Kevin itu?" tanya Mira

Aluna langsung menoleh "Tantee" protesnya

Aluna menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan alasannya hingga ia bisa berada di apartemen ini. Kedua tangannya mengepal disisi tubuh, ragu menyelimutinya.

Ia menaikkan tangannya berusaha mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali lalu ia tertawa "Kenapa aku mengetuk? Kan ada bel." gumamnya

Lalu ia segera menekan bel tersebut juga sebanyak tiga kali, itu anjuran agama kan? Mengetuk atau memanggil sebanyak tiga kali jika tidak ada yang menjawab maka kita harus pulang.

Meskipun Luna gemar berfoya-foya setidaknya ia paham sedikit mengenai agama, huh ia bersyukur tidak pernah bolos di jam pelajaran agamanya.

Tangannya semakin terkepal disisi tubuhnya, ia takut. Bagaimana jika calon suaminya itu hitam, jelek dan dekil? Uh.. Belum lagi bagaimana jika calon suaminya itu perutnya buncit. Yang ia dengar dari pak Anto bahwa calon suaminya ini sangat baik. Haha baik saja tidak cukup, harus juga tampan.

Setidaknya jika tampan, akan memiliki gen yang baik untuk keturunannya.

Diam beberapa saat tak ada yang membuka pintu, Luna membalik badan mungkin besok saja akan ia temui. Badannya sedikit lemas.

Bunyi pintu terbuka, "Hei" suara itu menyapa telinga Luna,

Dari suara sih oke. Batin Luna, ia membalik badan ke arah pintu lagi. Lalu tangan kanan yang masih terkepal ia naikkan dan ia buka sambil tersenyum sangat manis dan berkata "Hallo"

Pria di hadapannya memerhatikan penampilan Luna, kemeja berwarna merah muda yang setengah dimasukkan kedalam celana hitam, sepatu heels berwarna coklat dengan mementeng tas jinjing kecilnya.

Ia mengingat seingatku aku tak kenal dengannya batinnya.

Tak jauh berbeda dengan pria di depan, Luna juga memerhatikannya pria ini tampan, dengan wajah aristokrat, mata indah, alis tebal hidung mancung dibingkai rahang tegas. Uh jangan lupakan badannya yang atletis.

Luna tersenyum dalam hati, pilihan papanya tidak buruk namun ia belum boleh senang dulu.

Tiba-tiba ia merasa sangat pusing menghantam di kepalanya, ia kehilangan pijakan sehingga tubuhnya limbung.

Mungkin ini efek selama dua minggu ini ia mengurung dirinya di kamar, memastikan ini bukan mimpi. Dan tantenya menyuruh menemui Kevin, ia tak ingin usaha kakaknya diserahkan ke orang lain.

Dengan sigap pria di hadapannya, Kevin menangkapnya "Eh, nona kenapa?"

Kevin membantunya masuk ke dalam apartemennya, mendudukkan Luna di sofanya lalu ke dapur membuatkan teh dan menyerahkannya.

Luna meminumnya perlahan, "Terima kasih, apa kau memiliki makanan?" ucap Luna, ia sungguh lapar.

Pria di hadapannya tertawa "Aku tidak mengenalmu. Tapi sebagai bentuk rasa sosial. Aku akan memberikannya. Ayo aku juga belum makan"

"Kau sungguh baik. Dan apartemenmu bagus, terlihat nyaman" jawab Luna sambil memerhatikan sekitar.

Kevin hanya menggelengkan kepalanya, mengajak gadis itu ke meja pantry dan mengambilkan nasi goreng yang tadi sempat ia buat sebelum bel berbunyi. Mereka memakannya bersama, ini sudah pukul 10 pagi sarapan yang cukup terlambat.

Luna langsung saja memakannya lahap "Enak sekali. Kau yang memasak?"

"Tentu"

"Pak Surya kemana?"

Kunyahan Kevin terhenti, ia merenung sebentar. Merasa tak ada jawaban Luna menatapnya

"Pak surya papa kamukan?" tambahnya

"Papaku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Tapi kamu mengenal papaku?"

Luna diam sejenak, ia tak perlu menjelaskan sekarang bukan? Bahkan mereka belum berkenalan "Maaf aku tidak tahu. Btw aku Aluna, kamu?" ucapnya sambil mengulurkan tangannya

Kevin menerima uluran itu "Kevin" jawabnya, Lalu mereka kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut mereka.

"Jadi ada apa kamu kesini?" tanya Kevin

Luna menutup sendoknya mengakhiri makannya, ia sudah kenyang. Calon suaminya ternyata pintar masak. Lalu bagaimana dengannya? Sedikit.

"Kevin, ayo kita menikah." ucap Luna

"Hah?"

"Aku serius. Ayo kita menikah. Aku mencintai kamu" Dari ucapan pak Anto, Kevin tidak akan menikah dengan orang hanya karena harta. Maka dengan ini Luna yakin pasti Kevin mau.

Lalu pria itu terbahak "Kamu perempuan gila ya. Kita bahkan tidak saling mengenal. Sudahlah sekarang kamu pulang" ucap pria itu sambil menggeret Luna keluar.

"Calon suami kok kasar sih, pake seret aku begini" protesnya

"Sudahlah. Kita baru kenal tak lebih dari 24 jam. Dan kamu ingin aku menikahimu?"

Luna berpegangan sofa karena Kevin terus menariknya, ia yakin tangannya pasti akan memerah.

Bagaimana ini? Dua minggu lagi.

"Kau harus menikahiku"

"Tidak akan" jawabnya lagi masih sambil aksi tarik menarik.

Hingga Kevin menyentak tangan Luna menyebabkan sofanya berjungkit dan tubuh Luna limbung, keningnya berbentur meja kecil di pinggiran sudut sofa.

"Aaaa" ringisnya lalu terduduk "Sakit"

"Maaf. Tapi itu takkan terjadi jika kau tak begitu"

Luna mendengkus "Ingat Kevin, aku akan pergi tapi nanti aku akan kembali. Dan kita akan menikah" ucap Luna pada Kevin dan beranjak memegangi keningnya yang membiru.

Selepas kepergian perempuan itu, Kevin duduk memijat pangkal hidungnya. Weekend yang menyebalkan, bagaimana tidak ia baru saja bertemu dengan perempuan gila itu.

Kevin membuka kaosnya, ia merasa gerah. Bahkan ruangan berserakan itu belum ia bereskan. Nanti saja, ia akan merebahkan tubuhnya beberapa jam saja hingga makan siang.

Kevin Artasesurya, seorang pria berusia 27 tahun bekerja sebagai Dosen agrobisnis. Kehilangan ibu di waktu kecil dan ayah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Sungguh malang hari liburnya diganggu dengan kehadiran gadis gila itu.

Selang beberapa saat bel berbunyi membangunkan Kevin, ia mendengus lalu bangkit. Ayolah siapa lagi yang mengganggu. Ia berjalan membuka pintu apartemennya, dan betapa terkejutnya ia melihat gadis bernama Aluna tadi menggunakan kemeja sobek-sobek, rambutnya acak-acakan menampilkan dahinya sedikit membiru, juga ada satpam dan beberapa orang lainnya.

"Benar dia nona?" tanya satpam, yang ku ketahui bernama Andi.

"Iya pak" isaknya

Tunggu ada apa ini? Tanyamya dalam hati.

"Hei. Kau harus bertanggung jawab. Kenapa kau melakukan gadis semanis ini" ucap salah satu ibu-ibu.

"Bertanggung jawab apa?" tanya Kevin

"Hei! Lihatlah kau sudah melecehkannya"

"Lihat bu. Dia bahkan belum menggunakan bajunya dan ruangannya masih tampak berserakan" ucap Luna yang membuat Kevin kebelakang dan cepat menoleh ke arahnya. Ah sial.

Luna mengerling nakal pada Kevin "Ini salah paham, pak, bu" ucap Kevin.

"Sudah ayo kalian segera menikah. Coba kau pikirkan masa depan gadis ini"

"Lalu apa kalian tidak memikirkan masa depanku?" ucapnya yang sama sekali tak dihiraukan orang-orang itu dan malah semakin menggiring ke salah satu rumah warga terdekat dan merekapun menikah.

Maafkan aku, papa. Ini demi papa juga batinnya.

Mimpi apa aku tadi malam batin Kevin.

-----

Kini mereka sudah sah menjadi suami dan istri, mereka sudah berada di apartemen Kevin. Dan ini sudah pukul 7 malam.

"Seingatku ada dua kamar disini. Ah yang itu kamarmu, bukan?" ucap Luna sambil menunjuk salah satu bilik yang ia yakini bukan kamar yang dihuni Kevin. "Nah pasti yang ini kamarku" tambahnya

Ia segera membuka pintu kamar itu tanpa memedulikan Kevin yang mulai berapi-api. Ah ia lega saat melihat kamarnya tertata rapi, ia membersihkan tubuhnya setelah sebelumnya membuka sebuah aplikasi.

Kevin di buat melongo dan terheran, perempuan itu sangat ingin dinikahi tapi setelah menikah bahkan perempuan itu minta tidur sendirian.

Sepertinya ia harus berbicara nanti dengan wanita ini. Entah kerasukan apa.

Dunia Kevin kehilangan keseimbangan dalam waktu kuran dari 24 jam. Ia masuk ke dalam kamarnya membersihkan tubuh dan pikirannya.

Setelah ia selesai dengan urusannya ternyata sudah ada gadis bernama Aluna yang menunggunya dengan makanan yang tertata di atas meja.

Baru saja Kevin hendak membuka mulut, Luna sudah mendahuluinya "Makan dulu"

Dan merekapun makan dalam diam, sesekali mereka saling menatap. Dengan tatapan berbeda-beda.

Ada sedikit kekaguman dalam hati Luna saat menatap pria itu, ia sangat yakin pria di hadapannya ini pasti akan mengamuk layaknya singa, oleh sebab itu ia menyuruhnya makan dahulu. Setidaknya perutnya akan kenyang jika pria itu marah.

Apa hubungannya? Entahlah.

Setelah mereka menghabiskan makanannya, Luna membuka suara "Kamu kerja apa?" tanyanya

"Apa itu penting buatmu? Bukankah tujuanmu sudah tercapai" balasnya

Luna berdecih "Memangnya ada yang salah jika istri menanyakan hal itu pada suaminya?"

"Tidak, aktingmu bagus tadi"

Luna tertawa, dan menampilkan ekspresi bangganya "Tentu saja, aku hanya perlu merobek beberapa bagian saja tadi."

Kevin berdecih, ia tidak boleh kalah. Terlintas ide konyol untuk mengerjai gadis di hadapannya ini. Selagi ini masih berlibur ia akan mengajak gadis ini ke suatu desa masa kecilnya di vilanya, dan ia hafal dari apa yang dilihatnya bahwa Luna adalah anak yang manja.

"Jadi kita sudah menjadi suami istri, bukan?" tanya Kevin dengan senyum culas, Luna bergidik melihatnya.

"Lalu?"

"Bukankah kita harus melakukan honeymoon, mungkin?" tanyanya

"Ah apakah itu perlu?" tanya Luna was was dan di balas anggukan dan senyumam penuh misteri dari Kevin.

"Kau pasti sangat menyukainya nanti" balas Kevin dengan seringaiannya

-----

"Aaa.. Mama, Papa" rengeknya untuk kesekian kalinya saat heelsnya masuk ke dalam kubangan lumpur.

"Kevin, tolong" ucapnya sambil menyerahkan tas ranselnya, berniat akan menggulung celananya yang sudah kena beberapa percikan lumpur

"Ayo cepat jalan. Jangan manja!" teriak Kevin beberapa meter di depan Luna.

Luna terus saja menggerutu, bagaimana tidak. Janjinya itu Kevin akan membahagiakannya untuk 3 hari ke depan mulai dari keluar pintu apartemennya tadi pagi.

Namun Kevin malah mengajaknya naik angkutan umum, Luna sudah menawarkan mobilnya namun Kevin menolak.

Dan mereka sudah menaiki angkutan umum sekali, mobil pick up mengangkut sayur sekali, kemudian melewati beberapa pepohonan rimbun dan kini melewati jalanan sawah.

Rasanya Luna ingin menangis, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kakinya seperti akan patah, jauh sekali perjalanannya ini. Sebenarnya kebahagiaan apa yang akan ditawarkan oleh Kevin padanya?

Sementara itu, Kevin terus tertawa kecil dan senang di depan sana.

Nikmati saja waktumu selama menjadi istriku batin Kevin sambil tertawa senang.

"Kevin..." rengeknya lagi.

Kevin menghela nafas "Baiklah. Sini" ucapnya sambil membawakan ransel Luna. Mereka kembali berjalan lagi. Kini langkah Luna sudah sejajar dengan Kevin.

"Hah? Buntu?" teriak Luna "Kita sudah jalan jauh dan malah buntu" tambahnya saat melihat tebing tinggi di hadapannya.

Kevin menoleh pada Luna "Lihat disana ada tali. Kita akan memanjatnya" ya Kevin sudah menyiapkan ini semua, ia menyuruh temannya memasangkan tali itu tadi pagi.

Dan perkataan itu sukses membuat Luna berteriak "Demi Tuhan, Kevin. Aku memakai heels dan kalau aku mati bagaimana? Kau akan menjadi duda." gerutunya lagi

Kevin melihat ke arah Luna, mengamati penampilannya. Syukurlah Luna menggunakan Kemeja donker dan jins putih meski berubah menjadi sedikit kecoklatan akibat perjalanan mereka.

Tapi ia tidak tega juga, baiklah ia akan memilih jalur alternatif "Kamu lihat tangga disana?" tanya Kevin sambil menunjuk sisi kanan tebing

Terlihat disana tapakan anak tangga dari tebing terdapat pijakan kayu disana agar memudahkan menaiki tebing itu sehingga takkan terpeleset.

Luna mengangguk "Kita naik dari sana" jawabnya dan berlalu dari hadapan Luna yang membuat Luna nyaris memotong leher pria itu.

Kalau ada jalan yang mudah kenapa harus memanjat dengan tali?

Dengan perlahan Luna menaikinya, sambil mencopot heelsnya tentu saja. Bajunya sudah kotor, apalagi jinsnya yang berwarna putih.

Kevin sudah sampai di atas menunggu Luna sambil berdiri dengan senyum sumringah, ketika Luna sampai di atas dengan senyuman khasnya pria itu berucap bahagia "Selamat datang di Villa kita, Aluna artasesurya.." sambil merentangkan tangan seolah mempersembahkan sesuatu.

Aluna melongo, ia terpanah akan keadaan yang ada. Tempat ini indah, ia akui itu. Sangat indah malahan. Terlalu indah sampai Ia terduduk di tanah.

Pemandangannya sungguh indah, dan disana ada jalanan raya. Lalu mengapa pria dihadapannya mengajaknya naik turun melewati gunung dan lewati lembah seperti ninja hatori?

Lemas melanda seluruh tubuhnya, melihat keadaan ia tak mampu berkata-kata dan berjanji akan membalas pria yang sedang tertawa senang itu nanti.

Pria itu mengerjainya, Luna tak bisa berkata apa-apa. Ia menangis menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya.

Kevin yang melihat itu kelimpungan, bagaimana ini? Ia tidak pernah membujuk wanita menangis. Ia bahkan belum pernah berpacaran.

Ia memberikan tas pada penjaga villanya dan kembali mendekati Luna.

"Sudah ya jangan menangis" ucapnya

"Kau jahat sekali" lirihnya "Kakiku sakit" tambahnya lagi dengan menangis

"Itu salahmu kenapa pakai heels"

"Disana ada jalan raya kenapa harus naik turun begitu!" omelnya menatap Kevin dengan mata sembab.

Kevin tertegun, ia melihat tumit Luna sedikit terluka. Ia bangkit ke dalam villa mengambil P3K. Dan menarik kaki Luna ke pangkuannya membersihkan lukanya dan menempelkan plaster disana.

"Sudah, ayo" ajaknya, namun Luna hanya diam menatapnya

"Apa lagi?" tanyanya jengah

"Gendong aku!"

"Kau merepotkan."

"Tapi aku istrimu" dengan menghela nafas Lalu ia menggendong Luna, dan Luna tersenyum digendongannya. Luna juga mengusap cairan hidungnya di kemeja yang digunakan Kevin yang membuat Kevin berteriak heboh dan Luna tertawa.

-----

Setelah makan malam berlangsung, tanpa mengucap sepatah katapun Luna memasuki kamarnya. Kakinya juga terasa sakit mungkin ini efek perjalanan tadi.

Ia menarik selimut hingga sebatas lehernya, disini cukup dingin.

Kevin yang memasuki kamar tersebut menatap Luna, ia berpikir apakah ia sudah keterlaluan.

Sebenarnya ia tidak tega, tapi ini juga salahnya karena perempuan itu yang menjebaknya sehingga mereka menjadi sepasang suami istri.

Kevin heran, kenapa bisa perempuan ini ingin menikah dengannya bahkan sampai menghalalkan segala cara.

Ia bahkan hanya tinggal di apartemen sederhana dan bekerja menjadi dosen itu yang selalu ia tampilkan di depan semua orang. Rasanya Kevin sudah ingin sekali bertanya alasan perempuan itu namun harus ia urungkan menjadi besok melihat Luna terlelap akibat ulahnya.

Keesokan paginya, ia menarik paksa selimut yang dipakai Luna sehingga mengusik tidur Luna.

Luna melenguh karena tidurnya terganggu sedangkan Kevin berdecak sebal ini sudah pukul 8 dan dia belum bagun.

"Ayo bangun. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"

Luna mengucek matanya "Kemana?"

"Rahasia. Aku menunggumu di depan" ucap Kevin dengan seringaiannya meninggalkan Luna yang masih membersihkan kotoran matanya.

Setelah 45 menit lamanya Luna belum ke depan, ia masuk ke dalam melihat Luna yang sudah rapi namun duduk di hadapan rak sepatu miliknya.

"Kau sudah sarapan?" tanya Kevin yang langsung di angguki oleh Luna

"Ya sudah. Ayo" ajaknya namun Luna masih diam "Ada apa?" tanya Kevin lagi karena bingung apa yang dilakukan Luna, kenapa ia tidak beranjak juga

"Aku bingung mau pakai sepatu yang mana" jawab Luna yang membuat Kevin menepuk jidatnya.

"Kau tidak memberitahuku akan kemana. Kakiku akan sakit jika kau mengajakku seperti semalam" tambahnya menatap Kevin dengan sendu membuat Kevin tidak tega.

"Aku heran, kenapa perempuan senang menyiksa dirinya sendiri" ia beranjak mengambil sepatu kets berwarna abu-abu memberinya di hadapan Luna.

Mereka mulai berjalan menelusuri pepohonan, refleks Luna melingkari lengan Kevin ia takut akan ditinggalkan oleh lelaki itu, ia juga tahu lelaki ini masih sebal akan tingkahnya tempo hari yang lalu.

Tapi biarkan saja, yang penting semua berjalan aman, ia juga sudah menghubungi Pak Anto.

Luna mengingat ucapan Kevin membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di tempat tujuan "Btw, kamu kerja apa sih?" tanya Luna memecah kediaman mereka untuk membunuh waktu

"Dosen. Aku hanya dosen di sebuah universitas"

"Aku tidak yakin mampu membiayai gaya hidupmu yang seperti ini" Kevin sengaja mengatakan itu namun diluar ekspektasinya, Luna malah tertawa

"Aku senang punya suami dosen"

"Kau tahu, sebenarnya aku sudah punya calon istri dan berniat melamarnya bulan depan" aku Kevin.

Luna memberhentikan langkahnya, benarkah Apa aku terlalu egoi . Batinnya. Ia menimbang dan memikirkan kedepannya.

"Ayo jalan lagi"

"Kev...." panggilnya sambil menatap Kevin menanyakan sesuatu

"Hmm"

Luna menghela nafasnya, menguhah topik yang ingin ditanyakan "Masih jauh?"

"Sedikit lagi,," jawab Kevin lalu berjalan kembali kali ini ia yang menarik dan menggenggam tangan Luna.

Hingga mereka sampai di sungai kecil yang cukup dangkal, terdapat beberapa pijakan batu disana. Mereka menyebrangi sungai itu, Kevin berjalan lebih dulu dan diikuti Luna yang sesekali dibantu Kevin. Mereka sedikit melupakan masalahnya.

Setelah itu barulah mereka sampai di sebuah air terjun. Mata Luna berbinar "Indah sekali" ucapnya dengan takjub "Kalau beginikan tidak sia-sia aku berjalan jauh" ia menjedanya dan melihat arlojinya "Bahkan kita berjalan selama satu jam" tambahnya.

Ia melihat Kevin duduk beralaskan batu di dekat sana lalu diikuti dengan Luna "mmm terima kasih mengajakku kesini"

"Kau lapar?" tanyanya saat mendengar bunyi perut Luna, ia meringis dan tertawa lalu sedetiknya mengangguk. Tadi pagi Luna memang tidak sarapan hanya meneguk segelas susu hangat.

Kevin mendengkus membuka isi tasnya mengeluarkan bekal mereka "Wah.. Kau tanggap sekali"

Kevin membuka bekal tersebut yang hanya terdiri dua kotak bekal, satu kotak bekak diberikan kepada Luna.

"Nasi goreng hongkong?" tanyanya "Tidak ada yang lain?"

"Sudahlah makan saja, aku tidak enak menyuruh bi Tuti tadi pagi"

Menghembuskan nafas Luna menerimanya, dengan perlahan ia memisahkan nasi dengan wortelnya.

"Kau tidak menyukai wortel?" tanya Kevin

"Tidak, seperti kelinci saja memakan wortel" balasnya acuh.

Kevin tertawa, meliha Luna mengingatkan seseorang.

"Kenapa tertawa?"

"Kau mengingatkanku pada seseorang, yang akan ku nikahi nanti" ucapnya sambil menatap ke arah bekalnya "Tapi tidak jadi" tambahnya sambil menatap Luna.

Luna menghentikan gerakan memisahkan nasi pada wortelnya. Ia terdiam beberapa saat. Menimbang ucapan yang mungkin akan menjadi solusi.

"Maaf. Baiklah mungkin kita bisa bercerai beberapa bulan atau minggu mungkin. Tapi kau sudah memberitahukan wanitamukan?"

"Kau tahu, Luna? Bahkan aku tidak tahu dimana wanita itu"

Alis Luna mengernyit, "Aku tidak mengerti"

"Sebenarnya, wanita itu teman masa kecilku. Aku tahu sejak kecil aku akan menikah dengannya, setidaknya itu kata ayahku. Tapi seiring berjalannya waktu kami tak pernah bertemu" Kevin tak mengerti mengapa ia menjelaskannya tapi ia hanya merasa ingin menjelaskan itu pada, mm istrinya. Ya istrinya.

"Lalu bagaimana?"

"Sejak dulu papaku mengingatkanku untuk segera bertemu dan menikah dengannya tapi aku tidak siap, aku berkilah untuk bekerja, menjadi orang yang lebih baik dan papaku mengizinkannya. Puncaknya 2 tahun yang lalu saat papaku meninggal, tapi aku merasa belum siap. Harusnya saat itu aku langsung menemuinya tapi aku tidak bisa. Hingga bulan depan harusnya aku datang melamarnya tapi kau datang terlebih dahulu" jelasnya panjang lebar.

"Perceraian bukan list dalam keinginanku" tambahnya lalu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.

Aluna menautkan jarinya, memegang sendok sedikit kuat. Ia takut, tapi harus bagaimana. Mengontrol emosi, ia akan mencari tahu terlebih dahulu.

"Siapa nama wanita itu?"

Kevin menggeleng, "Aku hanya mengingat nama ayahnya, bernama Satria"

"Na...na. Nana. Iya mungkin namanya Nana" tambahnya

Luna menatapnya lamat-lamat "Apakah nama lengkapnya Satria Pramuaji?" tanyanya memastikan

Kevin mendongak membalas tatapan Luna dengan kening bertaut "Bagaimana kau tahu?"

Luna menghela nafas, ia tertawa lalu memeluk Kevin "Syukurlah, aku tidak akan menjadi janda" ucapnya saat melepaskan pelukan itu.

"Huh?"

"Aku anaknya pak Satria. Nama ayahmu Pak Surya, kan? Aku lega"

Kevin masih bingung akan pernyataan Luna.

"Tapi namanya Nana, bukan Aluna"

"Saat kecil aku memang dipanggil Nana, Aluna, akhiran NA, nana." Tegasnya

Lalu tak lupa Aluna menceritakannya segalanya sampai akhirnya ia menikahi Kevin.

"Sepertinya papa kita sudah merencanakan ini semua" ucapnya setelah beberapa saat.

Ia menghela nafas, bangkit dari duduknya dan Luna memandangnya "Maaf mungkin caraku salah"

"Harusnya aku yang melamarmu" jawabnya lagi.

Luna bangkit "Sudahlah semuanya sudah berlalu. Setidaknya sudah terungkap" balasnya

Kevin mengulurkan tangannya layaknya mengajak dansa lalu berucap "Mau memulainya dari awal?"

Luna tersenyum dan mengangguk menerima uluran tangannya "Tentu"

"Okay. Ayo kita pulang. Kita makan di villa, meminta bi Tuti memasak enak"

"Tunggu, kita makan bekal dulu yaa. Aku lapar sekali. Akan membutuhkan waktu sejam sampai di Villa"

"Hanya sepuluh menit"

"Huh?"

Kevin menggaruk tengkuknya "Sebenarnya ini dibelakang Villa. Kita memutar rute sehingga menempuh satu jam"

"Huh?" mata Luna membulat lalu ia memukul Kevin,

"Kau jahat sekali!" makinya yang di balas Kevin dengan tertawa.





END


Kembali ke Beranda