Wanita Kedua
Romance
11 Dec 2025 17 Dec 2025

Wanita Kedua

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (80).jpeg

download (80).jpeg

12 Dec 2025, 04:47

Aku kembali menghela nafas, menatap rinai yang masih turun membasuh permukaan bumi.

Saat ini aku duduk di dalam mobil bersama seseorang yang saat inipun ia masih enggan membuka suara, karena terhitung satu jam lamanya kami berdiam.

Menghadap arah jendela, ku mainkan jari-jariku di kaca membentuk kata akibat embun dari hujan.

Setelah tadi ia menarikku ke dalam mobil ini dan jawabanku yang masih sama seperti sebelumnya, sehingga ia menepikan mobilnya di tepi jalanan dengan hujan dan kilatan petir sebagai bentuk protes dari pernyataanku.

Pria yang membuatku jatuh cinta sejak awal pertemuan kami, setahun yang lalu. Pertemuan untuk pertama kalinya, Bali. Aku ingat saat moment itu, kami menaiki pesawat dan duduk bersebelahan.

Saat itu aku ke bali untuk menenangkan pikiran akibat aku baru saja putus dari kekasihku, lalu bertemu dengan pria ini. Pria yang awalnya menyebalkan namun kami menghabiskan waktu bersama di Bali selama satu minggu.

Dan sejak itu kami berhubungan, dan untuk pertama kalinya duniaku kembali hancur saat Cindy mengenalkan kekasihnya di cafe, yang ternyata adalah Yovan.

"Sayang.." panggil pria di balik kemudi itu, namun aku masih diam.

Ia memegang tanganku "Jangan tinggalkan aku"

"Yovan, sadarlah kita tidak mungkin bersama."

"Apa yang tidak mungkin?" Balasnya menatap tajam mataku, tatapan yang sangat mengintimidasi.

Ku tarik tangannya lalu berkata "Lihat di jarimu. Kamu sudah bertunangan."

Ia ingin menjawabnya, jawaban yang lagi-lagi sama dan dengan cepat aku menyelanya "Demi Tuhan Yovan, Tunanganmu adalah temanku. Aku tidak bisa melakukan ini lagi" teriakku dengan frustasi.

Aku kembali menghela nafas "Sekarang ayo kita kembali kesana." ucapku, ia hanya diam tampak berpikir.

Tadi kami masih berkumpul di acara Cindy, tunangannya dan temanku. Saat aku hadir bersama Teo, yang tak lain adalah anak teman ayahku, ia langsung menarikku.

Ku lirik Yovan menghela nafasnya dan melajukan mobilnya, tapi bukan ke arah tujuan yang ku perintahkan.

"Kita mau kemana?" tanyaku yang tak dijawab olehnya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Dengan segera aku mengirim pesan pada Teo bahwa aku pulang duluan karena ada meeting mendadak, syukurlah Teo mengerti dan tak banyak bertanya.

Setelah menempuh kurang lebih satu jam kami sampai di sebuah pantai, aku tahu pantai ini.

Tak ingin berdebat aku langsung turun dari mobilnya, malam ini hujan turun namun sudah reda, ia malah mengajakku ke pantai disaat malam begini.

Aku melangkahkan kakiku sedikit mendekat menuju bibir pantai. Menggosok-gosokkan tanganku mencari kehangatan.

Kurasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang, nafasnya menghembus tengkukku menciptakan sensasi aneh di tubuhku. Aku memejamkan mataku menikmati pelukan dari orang yang ku cintai serta menerima hembusan angin yang turut membelai wajahku, biarlah untuk malam ini.

"Ku mohon, jangan menikah dengannya" ucapnya serak di telingaku.

Ya, aku akan segera menikah dengan Teo. Tapi belum di tentukan kapan tepatnya karena saat ini kami masih tahap pendekatan, syukurnya orang tua kami tak mempermasalahkan itu, mereka membebaskan pilihan kami.

Teo, Lelaki pilihan orang tuaku karena sampai saat ini aku belum membawa kekasihku sejak putusnya aku dengan mantanku setahun yang lalu.

Aku juga terpaksa menerimanya karena ingin mengakhiri kisah cinta yang tidak baik ini. Cindy adalah temanku sejak di bangku perkuliahan, dia sangat baik padaku rasanya sungguh tidak adil jika aku terus menerus bermain dengan kekasihnya yang sudah dua bulan ini menjadi tunangannya.

Cindy selalu menceritakan kekasihnya yang diluar negeri, bodohnya aku yang ternyata Yovan adalah lelaki yang diceritakannya sejak 2 tahun yang lalu. Dan dihari wisuda aku mendapati kekasihku tidak setia dan bertemu dengan Yovan saat pergi ke Bali.

Aku juga ingat momen yang membuat Cindy curiga pada kami, dan itu pula yang membuat aku menerima Teo dan mengatakan akan menikah dengannya agar Cindy tak berprasangka buruk padaku.

Oh pantaskah aku berbicara begini?

Saat itu, tepatnya tiga bulan yang lalu aku meminta Cindy menemaniku mencari beberapa novel, minimal sebulan sekali kami selalu rutin hangout bersama.

Aku menunggunya di cafe yang ada di mall tersebut, tak lama Yovan datang dan langsung mengecup dahiku. Tentu aku terkejut dan menegurnya namun dengan santainya ia berkata "Cindy akan menyusul karena menemani ibunya sebentar dan aku disuruh menemanimu"

Aku tidak mengerti kenapa ada wanita sebaik Cindy. Tanganku di genggamnya yang masih aku diamkan saja namun saat Cindy datang aku dengan cepat menarik tanganku dari genggamannya.

Cindy tersenyum dan memeluk singkat padaku yang membuat hatiku diremas perasaan bersalah.

"Makan dulu ya. Aku lapar ni tadi sama mama belum makan karena sudah janji mau ketemu Kalila." ucapnya

"Sayang, tidak buru-burukan? Temani aku dan Kalila dulu ya" tambahnya pada Yovan yang di balas anggukan.

Kami segera memesan dan tak lama pesanan kami datang, aku memesan beef steak namun entah itu salah di pisau atau bagaimana rasanya sulit untuk di potong. Dengan cekatan Yovan mengambilnya dan membantunya memotong kemudian menyerahkannya kembali padaku.

"Sayang, punyaku tidak? Aku juga mau" ucap Cindy pada Yovan, ku lihat ia sedikit mengerutkan dahinya menatap kami dan menatapku dengan tatapan berbeda.

Aku merutuki Yovan kali itu, bagaimana ia bisa lepas kontrol begitu di hadapan Cindy. Dan saat itu ia juga mengambil alih milik Cindy dan memotongkannya dengan cepat ia berkata "Aku serasa memiliki dua bayi"

Aku tahu, ungkapannya hanya untuk memoles kecurigaan kekasihnya dan aku bersyukur untuk itu.

"Sayang, sepertinya aku sudah siap untuk melepaskan Cindy" ucap Yovan menarikku dari lamunanku beberapa waktu lalu.

Aku memutar tubuhku ke arahnya "Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini lagi" lirihku

"Cindy gadis yang baik, aku tidak mungkin mengkhianatinya." tambahku dengan memelas padanya

"Lalu bagaimana perasaanku, Kalila?"

"Kamu sudah bersamanya selama dua tahun lebih tidak mungkin tak ada cinta, Yovan" balasku

Ia menggeleng dengan tegas "Hubunganku sedari awal dengannya hanya karena semata aku menyayangi orang tuaku dan terpaksa menerima permintaan mereka. Aku sungguh mencintaimu"

"Pikirkan aku, kita. Perasaan aku dan kamu, Kalila." tambahnya lagi

Aku mengangguk "Baik. Anggaplah begitu. Lalu bagaimana dengan orang tuamu. Apakah mereka menerimaku nantinya?"

"Dan apakah kau pernah berpikir bagaimana hubunganku dengan Cindy nanti? Aku tak ingin kehilangannya" tambahku lagi.

Yovan terdiam, matanya menatapku lekat dan ku balas tatapannya

"Apapun itu Kalila. Asal aku bersamamu" ucapnya setelah beberapa menit terdiam, tangannya menarik tubuhku.

"Apa kita harus kawin lari?" bisiknya padaku

"Aku tidak ingin seperti itu, tolong pikirkan keluargaku juga" suaraku teredam pelukanya

Aku menangis, membenamkan wajahku lebih dalam di dekapannya. Sungguh aku mencintai pria ini, sangat.

"Aku tidak bisa menjadi perempuan seperti itu, Yovan" isakku dan ia semakin mengeratkan pelukannya dan ku balas tak kalah erat.

Tuhan, bisakah aku memiliki pria ini? Dan mengapa aku bertemu dengannya jika pada akhirnya hubungan ini akan menyakiti banyak pihak nantinya.



---




Sinar mentari pagi menerpa wajahku, mengusik ketenangan tidurku. Aku bangkit bersandar pada kepala ranjang. Ku lihat pria yang kucintai masih tertidur dengan meringkuk di sofa itu.

Tadi malam kami memutuskan tidur di penginapan yang tak jauh dari pantai ini dan hanya tersisa satu kamar sehingga ia tidur di sofa.

Sebenarnya aku tidak tega karena itu pasti tidak nyaman dan akan membuat tubuhnya terasa sakit, aku juga sempat menyarankan untuk tidur bersama dengan arti tidur sebenar-benarnya tapi ia menolak takut khilat katanya. Dan sisi itu yang membuat aku jatuh cinta lagi terhadapnya.

Ia menggeliat "Morning, sayang" suara paraunya bangun tidur yang terdengar seksi di indera pendengaranku.

Aku tersenyum membalasnya "Morning"

"Kiss nya mana?" godanya padaku

"Pukul mau?" balasku cepat dan membuatnya terbahak.

Ku lihat ia bangkit memberikanku paper bag "Ganti pakai kaus ini ya. Cuma ini yang ada di toko bawah tadi malam"

Aku bahkan tidak tahu kapan ia keluar, karena tadi malam aku sangat lelah sekali jadi begitu sampai penginapan langsung tertidur.

Aku mengangguk "Terima kasih"

Lalu akupun bangkit untuk membersihkan diri.

Saat ini kami sedang berkeliling di tepi pantai baik aku maupun Yovan, kami enggan untuk pulang. Setelah sarapan tadi kami berkeliling disini bahkan Yovan mengajakku untuk ke puncak namun aku tolak.

Bagiku di pantai ini saja sudah lebih dari cukup.

"Yovan, ayo foto" ajakku yang langsung ia iyakan, dan memposisikan tubuhnya di sampingku untuk memudahkan potret selfie.

Beberapa pose kami lakukan, setelah lelah ia meminum sebotol air mineral yang sempat kami beli tadi. Dengan iseng aku mendorong botol itu saat ia menenggaknya menyebabkan bajunya basah dan ia memekik membuatku tertawa kencang dan segera berlari.

"Kalila!!" Teriaknya dan aku tertawa sambil berlari, ia yang tak mau kalah mengejarku dan menangkapku lalu menggelitiku perutku, ini kelemahanku.

"Aa... Sudah. Yovan.. Geli" rengekku

Dia masih terus menggelitikku "Rasakan.. Ampun tidak?" ucapnya

Aku masih terus tertawa dan mengucapkan kata ampun tapi dia berbohong karena masih terus menggelitikku hingga aksi kami terhenti kala mendengar suara yang kami kenali..

"Kalila..." ucapnya, kami sama-sama menoleh dan terdiam.

Aku menggigit bibirku, bingung harus menjawab apa. Kurasakan Yovan menggenggan tanganku menyalurkan rasa bahwa semua akan baik-baik saja.

"Bisa kita bicara?" ucap Yovan dan diangguki Teo, ya orang itu adalah Teo. Bagaimana bisa ia berada disini.

"Maafkan aku Teo." Ucapku padanya sambil menunduk saat kami sudah duduk di tempat makan dipinggir pantai ini dan setelah aku juga Yovan memberikan penjelasan.

Dia mengangguk "Aku sudah tahu semuanya, Kalila" jawaban yang membuatku terkejut dan langsung mendongakkan wajahku.

"Tapi sungguh Teo, aku sama sekali tak ada niatan untuk mempermainkanmu."

"Tidak apa, Kalila. Aku mengerti. Cinta tak bisa dipaksakan, bukan?"

Aku tersenyum lalu mengangguk, pria ini sungguh bijak tak heran jika ayahku membanggakannya untuk menjadi calon suamiku.

"Sejak kapan kau tahu?" tanya Yovan

"Dua minggu yang lalu aku melihat kalian bersama. Perasaan kalian itu terlihat jelas, bahkan tadi malam semakin membuatku yakin." jelasnya

"Lalu bagaimana keputusan perjodohan kita?" tanyaku hati-hati tak ingin menyakiti banyak pihak.

Ia tersenyum "Jangan pikirkan, nanti kita bicarakan"

"Kamu pria yang baik, Teo"

"Boleh aku memelukmu? Bisa dikatakan untuk salam perpisahan, mungkin" usulnya

Ku lihat Yovan melebarkan matanya menatapku tapi aku mengangguk padanya dan mengatakan "Boleh" pada Teo.

Ia bangkit dan memelukku dan membisikkan kata "Jika kau tak bahagia dengannya, datanglah padaku" lalu melepaskan pelukannya.

Aku tersenyum padanya lalu ia memegang pipiku dan beranjak dari hadapan kami.

"Terima kasih, Kalila" ucap suara di sebelahku. "Aku juga akan segera mengatakan pada Cindy nantinya"

Aku hanya menatapnya, karena jujur aku belum siap jika harus mengatakan apapun pada Cindy nantinya.


---




Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu, dan kami belum bertemu sama sekali. Yovan disibukkan pekerjaannya dan waktu luang dihabiskan bersama Cindy, aku tak keberatan karena itu haknya bahkan aku menyuruh Yovan untuk menuruti kemauan Cindy daripada bertemu denganku. Meskipun aku tahu Yovan kesal denganku.

Hari ini adalah weekend, hari minggu lebih tepatnya. Aku diliburkan aktivitas menatap monitor di kantorku. Dan hari ini aku ada janji bertemu dengan Cindy, ya aktivitas bulanan yang harus kami laksanakan

Sore ini kami akan bertemu di taman kota, sepertinya aku akan mengajaknya nonton saja karena ada film seru yang tayang.

Setelah bersiap aku segera memesan taksi online untuk bertemu dengannya, aku sedang malas mengemudi.

Setelah sampai di taman kota aku langsung berjalan ke arah tujuan titik temu kami. Aku melihat Cindy, tapi ia bersama seorang lelaki dan mereka berdiri saling menghadap dengan pria itu membelakangiku.

Dari punggung itu, sangat familiar. Yovan? Ah itu Yovan. Kenapa bersama Cindy, atau Cindy mengajaknya atau malah Yovan yang ingin ikut dengan kami seperti biasanya terkadang memang begitu.

Masih berjalan perlahan aku menghampiri Cindy, tapi tatapan Cindy berbeda kali ini. Ada kilatan sesuatu di matanya tapi aku tepis.

Berusaha tersenyum meskipun penasaran hingga beberapa langkah aku mendekatinya dan kulihat ia juga melangkah ke arahku

Tersenyum dan berucap "Hai Cind..."

Plakk

"Kamu pantas mendapatkan itu, Kalila!" teriaknya disertai geraman. Yovan melangkah mendekatiku.

Aku terdiam, memegang pipiku yang berdenyut nyeri. Ah apakah ini sudah saatnya? Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi tapi haruskah secepat ini?

Aku mendongak menatap Yovan sejenak dan pria itu menggeleng, apa itu artinya Yovan belum mengatakannya.

Aku menatap Cindy "Cindy, aku.."

"Apa? Terkejut huh? Aku tidak menyangka ini. Aku pikir kita adalah teman Kalila" potongnya dengan cepat

Setetes air mataku sudah berjatuhan, aku tahu dan aku sadar tidak akan ada kalimat pembelaan yang tepat untukku, aku sadar bahwa aku salah.

"Cindy, tenangkan dirimu dulu. Kita bicara" ucap Yovan

Cindy menatap dengan sorotan tajam ke arah kami.

"Kau tahu, Kalila? Kemarin Yovan berkunjung kerumahku, aku penasaran kenapa Yovan memainkan ponselnya terus. Dan terdapat notifikasi chat terakhir bernama 'Kalila' aku penasaran, saat Yovan izin ke toilet aku dengan cepat membukanya, kau tau apa yang ku temukan? Passcode ponselnya tanggal lahirmu" ia menangis dan menjeda ucapannya "Awalnya aku sudah curiga tapi aku menepisnya karena aku berpikir kau teman baikku tidak ada salahnya kau juga dekat dengan calon suamiku." ia menyeka air matanya "Selama ini aku juga percaya padamu, tak mungkin kamu begitu"

Ia masih terisak menahannya aku sudah tak sanggup berkata-kata "Aku yang tak berani membuka room chat beralih ke galeri menemukan foto kalian bermesraan. Aku bingung harus bagaimana, aku menahannya hingga hari ini" tambahnya

Aku menangis, aku menyesal dan tak ingin kehilangan Cindy tapi juga tak ingin kehilangan Yovan. Katakan aku egois memang.

"Cindy, kumohon maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya"

"Kenapa Kalila? Kenapa? Aku salah apa padamu sehingga kau tega melakukan ini padaku"

"Cindy, aku bisa jelaskan. Kau ingatkan pria yang ku ceritakan sewaktu di Bali it.."

"Stop it, Kalila. Aku pikir kau teman baikku, merangkul dan memelukku untuk menenangkan namun aku salah. Kau memeluk hanya untuk memastikan pisau yang kau tancapkan semakin dalam."

"Dan Aku membencimu!" teriaknya frustasi

"Dan kau Yovan, aku tidak akan membatalkan perjodohan kita" tambahnya lagi, mengusap air matanya dan ia pergi begitu saja meninggalkan aku dan rasa sakit yang kian bercokol di hatiku.

Tubuhku luruh ke bawah, Yovan berusaha membantuku namun ku tepis "Sudah cukup, Yovan." isakku

Dia memelukku yang masih terduduk di bawah, ia meletakkan dagunya di puncak kepalaku. "Bagaimana ini Yovan? Cindy membenciku" isakku berulang-ulang kali.

Setelah kejadian itu aku langsung beranjak menyusul Cindy ke apartemennya untuk memohon permintaan maaf darinya namun tidak ada.

Sudah seminggu ia sulit dihubungi bahkan nomorku di blokir olehnya. Ia benar-benar membenciku yang membuat seminggu ini aku gelisah.

Aku mengingat, hanya rumah orang tuanya yang belum aku kunjungi. Aku begegas kesana dengan cepat.

Dengan memesan ojek online agar lebih cepat sampai dan lebih baik untuk bertemu dengannya.

Tak membutuhkan waktu lama, aku sampai di rumahnya yang ternyata disana aku melihat Yovan yang baru saja turun dari mobilnya.

"Kalila.." ucapnya menghampiriku langsung memelukku dan ku dorong perlahan.

Semenjak kejadian di taman itu aku memang menghindarinya, aku cukup takut dan perasaan bersalah menggerogotiku yang kian hari semakin membesar.

Aku beranjak mendekati pintu yang diikuti oleh Yovan kemudian memencet bel, yang dibukakan oleh ibunda Cindy, tante Novi.

"Assalamualaikum, Tante" sapaku dan menyalim tangannya

"Eh Kalilah, loh ada Yovan juga" lalu diikuti Yovan menyalim tangan tante Novi.

"Masuk dulu ayo" ajaknya yang ku tolak halus

"Mm tante, Cindy nya ada?" tanyaku to the point. Tante Novi mengajakku duduk di teras.

"Ada apa Tante?" tanyaku lagi setelah duduk melihat rautnya yang muram.

"Cindy tak mengatakan apapun pada kalian?" aku menggelengkan kepala

Tante Novi menghela nafas "Sebelumnya tante minta maaf pada kalian yaa. Kalau saja tante tidak menjodohkan Cindy pasti tidak akan begini kejadiannya"

Aku yang mulai mengerti apa yang disampaikan tante Novi kini memegang tangannya. Mungkin Cindy sudah bercerita pada ibunya.

"Tante.. Aku minta maaf" Ujarku karena kekacauan ini

Tante Novi menggeleng "Yovan sudah menjelaskannya kemarin pada tante. Kalian tidak sepenuhnya salah"

"Tante pikir saat beberapa hari yang lalu Cindy ke rumah ini ia rindu atau apapun namun ia mengurung diri di kamarnya, beberapa hari kemudian ia keluar kamar tapi ternyata ia hanya berkata bahwa perjodohannya di batalkan dan tidak bisa dilanjutkan, tante ingin bertanya meskipun tante sudah mendengar dari Yovan, setelah malamnya mengatakan itu ia pamit pergi"

Aku yang panik sontak berdiri "Pergi.. Pergi kemana tante?"

"London. Ia berangkat sebentar lagi. Mungkin sudah sampai di bandara"

"Baiklah tante.. Kalila pamit mau menyusulnya" ucapku yang bergegas namun ditahan tante Novi

"Tunggu, nak. Cindy menitipkan surat untukmumu" lalu ia masuk ke dalam dan keluar menyodorkannya padaku.

Aku pamit pada tante Novi mulai berjalan keluar dan ditarik masuk ke dalam mobil oleh Yovan "Aku antar"

"Bagaimana ini Yovan. Cindy membenciku"

"Ayo cepat nanti ia sudah berangkat" tuturku lagi

Tak membutuhkan waktu lama kami telah tiba di bandara dan penerbangan ke London pun sudah berangkat beberapa waktu yang lalu.

"Yovan.. Cindy membenciku" racauku padanya, ia memelukku

Seakan teringat sesuatu aku mengambil titipan Cindy, membuka surat itu yang bertuliskan tinta berwarna hitam. Lelehan air mata menghiasi wajahku

Hallo, Kalila.

Maaf tidak pamit secara langsung. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau tidak sepenuhnya bersalah.

Sebenarnya aku tahu kau menjalin hubungan dengan Yovan, namun egoku menentang itu. Cintaku membutakan untuk tidak memperdulikan itu, hingga acara tempo hari lalu Yovan menarikmu pergi. Puncaknya aku melihat foto mesra kalian di ponsel.

Awalnya aku tetap ingin melangsungkan pernikahan itu tapi setelah mendengar percakapan Yovan dengan ibuku, aku sadar bahwa aku terlalu egois.

Jangan khawatirkan aku, waktu akan memperbaikinya.

Tetaplah bersamanya, aku menyayangimu, Kalila. Sampaikan salamku padanya.

Sampai bertemu lagi nanti.

Dari sahabat cantikmu, Cindy Antika.


Aku menangis tersedu-sedu, rasanya kakiku tidak bisa menapak dan tubuhku luruh ke lantai. Tak perduli orang berlalu lalang memandang aneh, rasanya aku ingin memeluk Cindy saat ini.

Kurasakan Yovan memelukku

"Cindy tidak membenciku"

"Cindy menyayangiku, Van" racauku lagi.

Kurasakan sebelah tangannya menarik surat dari genggamam tanganku. Beberapa saat kemudian kurasakan ia kembali memelukku dan mengecup puncak kepalaku..

"Iyaa.. Cindy amat menyayangimu" ucap Yovan lagi masih dengan memelukku.



THE END


Kembali ke Beranda