CEO dan Secret
Romance
09 Dec 2025 17 Dec 2025

CEO dan Secret

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (75).jpeg

download (75).jpeg

12 Dec 2025, 04:02

Aleta adalah seorang karyawan biasa di perusahaan penerbitan majalah ini. Lebih tepatnya mungkin ia seorang editor, genap setahun ia bekerja di kantor ini.

Ia duduk di kubikelnya dengan tangan menggenggam pena yang menari-nari di atas kertas.

"Ta, ayo kita rapat. Uda di tungguin pak bos" ucap Rani

"Oke" Aleta langsung berjalan menuju ruang rapat.

Dalam ruang rapat ini tak menyediakan meja besar nanpanjang seperti rapat biasanya melainkan sebuah kursi seperti di kampus dengan susunan melingkar.

Di depan sana, sang direktur mengoreksi ide-ide yang akan dicantumkan di majalah mereka.

Sedangkan CEO hanya memerhatikan aktivitas bawahannya karena ia belum ingin menanggapi apa yang dikemukakan mereka.

"Bagaimana kalau kita membuat konsep beauty and The beast?" kali ini Rani yang mengangkat tangan dan menyalurkan idenya

Sang direktur tampak berpikir atas ide barusan.

"Kamu yang diujung" ucap sang CEO yang sambil menunjuk ke arah Aleta, "Saya lihat kamu diam saja, coba sampaikan ide apa yang kamu punya?" tambahnya

Aleta terkesiap, ia tak memiliki ide apapun kali ini. Karena beberapa hari ini banyak mengoreksi artikel yang akan terbit dan itu menghabiskan waktunya.

"Iya, pak?" ucapnya

"Apa ide kamu?"

Aleta mengumpat dalam hati karena sikap semena-mena CEO yang sialnya tampan ini, namun kabarnya sudah memiliki istri.

Ia juga bingung harus menyumbangsih ide apa karena sedari minggu lalu pekerjaannya menumpuk, ia mulai memutar otaknya.

"Bagaimana kalau kita membuat konsep Bintang di kegelapan" tuturnya

CEO dan juga direktur mendengarkan ide Aleta dengan seksama.

"Coba jelaskan konsep kamu" ucap direktur, Pak Anta seperti tertarik

"Konsep saya itu menyorot orang-orang yang telah bekerja keras dibalik layar. Bukankah selama ini kita hanya mengulik kisah bintang besar serta kehidupannya? Yang padahal mereka bisa mendapatkan nama besar itu dari kerja keras kita juga" jelas Aleta

"Jadi maksud kamu, dengan kata lain kita akan membawa konsep bahwa tanpa kita mereka takkan menjadi apa-apa begitu?" tanya CEO itu.

"Iya, tepat sekali, Pak Arsen" jawab Aleta, ia bersyukur idenya muncul di saat yang tepat. Tadinya ia hanya asal ucap karena takut kena sembur Pak Arsen, CEO yang sialnya tampan.

Pak Arsen ini jarang sekali ke kantor penerbitan ini. Dia lebih sering ke kantor yang bergerak di Properti. Namun dalam waktu dekat ini ia selalu rajin menyempatkan diri ke kantor ini.

Holang kaya mah Bebas!

"Iya benar, selama ini bahkan kita tidak tidur demi menyelesaikan artikel" ucap Karin

Direktur mengangguk-anggukkan kepalanya "Saya setuju akan ide Aleta"

Semua menghela nafas lega disana, lega karena direktur yang super ribet ini menjengkelkan jika tidak sesuai dengan keinginannya.

"Oke. Itu artinya tabloid kita akan menggunakan konsep milik Aleta."

"Rapat ini selesai, 2 hari kita akan rapat kembali membahas apa yang sesuai" tambah Pak Anta mengakhiri sesi Rapat itu.

Semua karyawan keluar bahkan ini sudah jam makan siang beberapa dari mereka keluar mengisi perutnya, namun Aleta kembali ke kubikelnya pekerjaannya benar-benar menumpuk.

Saat Aleta masih terus fokus di cerita yang dikoreksinya, pak Anta datang memberikan sekotak nasi padanya.

"Makanlah" ucapnya

"Terima Kasih, pak. Dalam rangka apa?" ucap Aleta yang bingung karena Anta ini jarang sekali mau berbincang pada bawahannya.

Terlebih lagi, akhir-akhir ini Anta selalu mengajaknya berbincang bahkan beberapa kali mengajaknya makan siang. Namun Aleta tampaknya tak ingin mengerti atau bahkan memberinya kesempatan.

"Tidak ada. Kamu sudah bekerja keras. Jadi makanlah" lalu di angguki oleh Aleta

Setelah itu Anta pergi dari kubikel Aleta kembali menekuri pekerjaannya.

Lalu CEOnya datang mengambil kotak nasi yang diberikan oleh Anta, menggantinya dengan kotak nasi yang dibawanya.

"Huh?" Aleta menampilkan ekspresi bingung

"Kita bertukar makanan ya. Saya rasa makanan kamu lebih enak" ucapnya dengan tanpa dosa lalu pergi ke ruangannya.

Ia heran tahu dari mana Arsen kalau isinya lebih enak. Bahkan Aleta saja belum sempat melihat isinya.

Aleta manatap terdapat sticky note di atas kotak tersebut

Makan yang banyak, honey.

Aleta meremas sticky notenya, ia takut orang lain melihatnya.

"Dapat makanan dari pak bos lagi? Serius?" ucap Karin sang kepo di kantor ini, Aleta tahu benar bahwa Karin ini berbahaya seperti muka dua.

Karin selalu saja memperhatikan gerak-gerik Aleta, karena akhir-akhir ini memanglah Arsen sang CEO itu sedang gencar sekali mendekati Aleta. Dan ini bukan yang pertama kalinya, Karin melihat Arsen memberikan makan siang pada Aleta.

Aleta mengangkat bahunya tanda tidak tahu atas tanggapan Karin.

"Aku cuma mau memberi tahu saja, pak bos kita sudah beristri" ucapnya dengan ketus dan berlalu begitu saja.

Aleta hanya mengangguk dia juga bukan wanita murahan yang mau mengganggu rumah tangga orang lain.

Tak ingin ambil pusing, ia membuka kotak nasi itu dan mulai memakannya, lauknya sangat lezat. Ia tahu dimana lelaki itu membelinya karena ia sangat hafal dan menggemari makanan ini. Tak urung senyumannya terbit.

"Ck. Dasar pelakor" dengusan kecil terdengar dari mulut Karin.

Tak terasa siang berganti dengan malam, Aleta ingin segera pulang. Tubuhnya seperti remuk, ia sangat lelah hari ini.

Ia berjalan keluar dari perusahaan, memesan taksi online sepertinya pilihan yang baik, namun baru saja ia mengeluarkan ponselnya seseorang merebut ponselnya dengan paksa lalu merengkuhnya.

Aleta ingin marah juga berteriak pada lelaki ini namun rasanya sangat sia-sia.

"Ada apa, Pak Arsen? Bukankah jam kantor telah usai" hanya itu yang mampu ia ucapkan

Arsen mengangguk "Iya, karena itu kamu juga harus bersikap biasa saja"

"Ayo pulang bersamaku" tambahnya sambil menggiring Aleta ke dalam mobilnya.

"Saya gak enak sama karyawan lain"

"Oh ayolah, sayang" bujuknya

"Tapi?"

"Tidak akan ada yang tahu" tegasnya

Aleta mengalah dan mengikuti kemauan Arsen.

Namun mereka tidak tahu bahwa ada seorang yang melihat mereka dari balik pilar diujung sana. Dengan ekspresi menghina.

Pagi telah tiba, keadaan di kantor masih sama saja. Bahkan lebih sibuk dari biasanya. Hal ini bersebab deadline menumpuk, belum lagi koreksian Aleta juga bertambah.

Ia berjalan menuju meja pantry sepertinya membuat kopi merupakan pilihan yang baik, karena hari ini dia sangat mengantuk. Dan ia harus menyalahkan Arsen karena pria itu terus saja mengganggunya.

"Semalam pulang dengan nyaman, huh?" celetukan dari Karin saat gadis itu juga membuat kopi di pantry.

Aleta melihatnya hanya tersenyum tipis, ia tahu takkan ada pembelaan untuknya. Seperti sudah tertangkap basah.

"Wajar kok, aku juga menyukai Pak Arsen dulu. Namun ketika mendengar kabar sudah memiliki istri aku cukup tahu diri meskipun masih tersisa niat untuk merebutnya" ucap Karin pada Aleta

"Hei, Ta. Dicariin Pak Arsen suruh buat kopi katanya" Rani muncul di pantry menghampiri Aleta

"Sepertinya pak bos naksir, hati-hati ya dia dia sudah memiliki istri" bisik Rani dan berlalu ke kubikelnya

Aleta mendengus, apa maksud Arsen ini? Apakah agar terlihat jelas Aleta seperti pelakor begitu. Sepertinya Aleta harus memberi sedikit hukuman pada pria hidung belang itu.

Iya, harus!

Aleta berjalan pelan memasuki ruangan pak bosnya itu sambil membawa secangkir kopi, mendapati seorang pria muda disana yang diyakininya sebagai sekretaris Arsen, ia mengetuk pintu dan mendengar suara "Masuk" barulah ia melangkahkan kakinya ke dalam.

Sampai di dalam ruangan itu ia melihat Arsen yang sedang fokus pada komputernya, tampaknya ada berkas penting disana.

"Ini kopinya, pak" ucap Aleta sambil meletakkan kopinya di meja

Pria itu mendongak lalu tersenyum hangat pada Aleta "Hanya kita berdua disini, sayang"

Arsen menyesap kopinya "Aku selalu menyukai kopi buatanmu" tambahnya

"Tapi aku bekerja sebagai editor disini" rajuknya

Arsen tertawa "Iya, di kantor bukan di luar kantor"

Aleta duduk di salah satu sofa yang ada disana yang disusul oleh Arsen disebelahnya.

Arsen merangkulnya, kemudian mengecup pipinya "Jangan cemberut, okay? Katakan ingin membeli apa?"

Aleta menggeleng "Aku ingin berjalan-jalan" ucap Aleta

Arsen mengangkat Aleta mendudukkannya di atas pangkuannya, tangannya melingkari tubuh Aleta.

"Ini di kantor, pak Arsen" ucap Aleta

Arsen mengangkat bahunya acuh "Siapa yang peduli?"

"Lagi pula tak mungkin ada yang berani masuk ke dalam ruang ini bukan?"

Aleta menghembuskan nafasnya tangannya terulur melingkar di leher pria itu. Baru saja mereka saling mendekatkan wajah mereka, pintu di buka paksa

BRAKK

"Eh? Maaf, pak" ujar seorang gadis itu dengan seringaian yang menjengkelkan melihat posisi Aleta dan Arsen yang begitu intim

Aleta kelabakan segera turun dari pangkuan Arsen sedangkan Arsen tidak peduli.

"Apa kau tak bisa mengetuk pintu?" ucap Arsen dengan dingin

"Maaf, pak. Saya pikir terjadi sesuatu sehingga Aleta lama sekali keluarnya dan..."

"Benar terjadi sesuatu" lanjutnya menatap Aleta

Aleta tahu pasti ini akan terjadi, sejak awal Karin memang tidak menyukainya. Ia sadar itu.

"Tapi bukankah bapak tidak takut pada istri, bapak?"

Arsen mengangkat alisnya "Tahu apa kamu tentang istri saya?"

Aleta menyikut sikunya, bentuk tanda protes jika diberitakan akan berbahaya bukan?

"Baiklah, kamu butuh berapa? Asal tidak ada yang tahu maka kamu ingin berapa?" ucap Arsen lagi

Karin tertawa "Gaji tiga kali lipat boleh juga, pak".

Arsen menatap Aleta dengan tatapan meminta persetujuan, Aleta mengangguk tanda setuju saja.

"Baiklah. Keluar!" usirnya

Lalu Karin memandang remeh pada Aleta, dan iapun keluar dari ruangan itu.

"Bagaimana ini?" tanyanya pada Arsen dengan raut khawatir

"Tenanglah. Biarkan saja, aku tidak peduli lagi"

Selepas kejadian Karin memergoki Aleta di ruangan itu dengan Arsen dan sudah dua bulan lamanya berlalu. Karin selalu saja memandangnya dengan tatapan hina bahkan ia tak sungkan mengatakan bitch pada Aleta.

Aleta mendiamkannya saja selama semua orang tak ada yang tahu rahasia itu. Namun pagi ini Aleta terus saja menggerutu karena keras kepalanya Arsen. Bahkan ia memaksanya untuk pergi saja ke kantornya yang lain namun Arsen juga bersikeras tidak mau.

Sedari turun dari mobil berangkat bersama ke kantornya ia menggenggam erat tangan Aleta seakan-akan tak ingin hilang.

Seluruh karyawan melihatnya dengan tatapan aneh. Mereka tahu, Arsen sudah memiliki istri namun mengapa selingkuh dengan Aleta?

Apakah istrinya tak cantik sehingga membuat Arsen berselingkuh?

Anta menatap mereka dengan tatapan tak terbaca namun tetap menegur atasannya

"Selamat pagi, pak" ucapnya dan dibalas anggukan

"Selamat pagi, Leta" ucapnya lagi dengan tersenyum hangat dan di balas senyuman oleh Aleta

"Mm... Boleh bicara sebentar, Leta?" tambahnya

Belum Aleta membuka mulut namun Arsen sudah membuka suaranya

"Tidak bisa. Aleta sibuk" dan menariknya pergi ke ruangan Arsen meninggalkan segala bisik-bisik disana.

"Bukankah kita sudah sepakat?" tanyanya saat mereka sudah sampai di ruang Arsen

"Dan membiarkan Anta mendekatimu? Aku tidak bisa"

Aleta mendesah pasrah, "Lalu kamu mau bagaimana?"

"Segera akhiri semuanya" ucapnya tegas

"Tapi.."

"Tidak ada tapi-tapian, sekarang keluarlah!" usirnya

"Kamu mengusirku?" Aleta menatap Arsen dengan tatapan tak percaya

Arsen langsung memeluk Aleta "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu, sayang"

Aleta mengangguk dalam dekapan pria ini, pria yang mengisi hatinya selama beberapa tahun.

Karin masuk ke dalam ruangan itu dengan sesukanya, mengangganggu aktivitas mereka. Ya semenjak ia tahu Arsen bermain dengan Aleta ia bersikap sesuka dan Arsen membiarkannya karena Aleta. Demi keinginan Aleta.

"Wah.. Lihatlah siapa ini?"

"Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun?" sarkas Arsen pada Karin

Karin tertawa "Sopan pada lelaki sepertimu. Bagaimana nasib istrimu ya? Ah apa aku adukan saja"

Arsen tertawa "Dengan senang hati" tantangnya "Dan jangan lupa aku bisa memecatmu kapan saja"

Karin mendengus "Aku hanya ingin menyerahkan dokumen ini" lalu ia keluar dari sana.

Arsen dan Aleta saling bertatapan, mereka tertawa bersama "Apa kau tidak takut istrimu, Pak?"

Arsen mendengus "Tentu, takut tidak diberi olahraga malam" candanya

"Wah.. Kau sungguh serakah. Ingin padaku juga istrimu"

Arsen tak menjawab ia hanya mengecup kening Aleta dan berujar "Apapun yang terjadi, berjanjilah takkan meninggalkanku"

Aleta tersenyum lalu mengangguk, dan ia pamit keluar dari ruang itu menuju kubikelnya. Mulai mengerjakan pekerjaannya.

Namun ia tak bisa berkonsentrasi akibat tatapan seluruh karyawan kantor ini. Ia menghela nafasnya dalam-dalam ketika untuk kesekian kalinya Karin berujar

"Dasar perempuan tidak tahu malu"

"Pantas saja pak Arsen tidak pernah membawa istrinya keluar karena ia memiliki wanita lain" nah kalau ini bisik-bisik karyawan lain karena ulah Karin.

Jam kantor telah usai ia bersiap membereskan perlengkapannya untuk pulang, namun lagi dan lagi Karin terus saja menghujatnya dengan kata sarkasnya.

Hingga puncaknya sore ini Karin mengerjainya dengan tepung dan telur "Pelakor harus malu" itulah ucapannya

Aleta menangis tergugu dengan ini semua, Anta datang membantunya berdiri berniat memapahnya namun Arsen langsung datang dan menepis tangan Anta yang bertengger di bahu Aleta.

"Siapa yang melakukan ini?" rahangnya sudah mengeras

"Mencoba bermain-main dengan saya, huh?"

Seluruh karyawan menatap Karin, Karin menunduk takut

"Kamu. Saya pecat!" ucap Arsen

"Dan kalian..." nafas Arsen memburu ia benar-benar marah dan tak terima

Aleta menatap Arsen dan mengusap lengannya "Mass" ucapnya lalu menggeleng

Arsen memijat pelipisnya, "Ayo pulang" ajaknya dengan merangkul Aleta meninggalkan Karin yang terdiam dan para karyawan yang berbisik.

-

Sudah Satu bulan setelah aksi Aleta dipermalukan di lobi saat itu. Dan semenjak saat itu, baik Aleta maupun Arsen tak ada yang menampakkan diri lagi di kantor penerbitan itu.

Arsen larut dalam kantornya yang lain dan Aleta juga larut dalam mengikuti Arsen, itu karena Arsen yang memaksanya.

Pagi ini mobil hitam Arsen tidak berhenti di kantornya yang bergerak properti melainkan di kantor penerbitan itu.

Aleta menaikkan alisnya tanda tak mengerti, bukankan pria ini yang tidak mengizinkannya untuk kembali ke Kantor ini? Apakah dia berubah pikiran dan membiarkannya kembali dihujat.

"Apa kamu lupa hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan serta syukuran karena mendapat penghargaan?" tanya Arsen mengerti kebingungan Aleta

Aleta menepuk jidatnya "Bagaimana bisa aku melupakannya?" Arsen tertawa

"Ayo" ajaknya

Mereka turun dalam diam, menaiki lift menuju lantai teratas tempat diadakannya acara itu.

Ketika mereka memasuki aula banyak yang berbisik namun mereka abaikan.

Hingga Arsen menaiki podium untuk menyampaikan prakatanya

"Saya Arsen Axcelio berdiri disini ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan karena telah bekerja keras. Seorang pemimpin takkan bisa menjadi pemimpin tanpa ada orang yang dipimpin. Dan saya bukanlah apa-apa tanpa kalian.

Juga istri saya yang hadir, terima kasih sudah menemani dan mendukung saya beberapa tahun ini meskipun keberadaannya tidak pernah diketahui orang" tuturnya, ia mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruang menemukan perempuan yang tersenyum teduh menatapnya.

Arsen turun lalu menarik Aleta ke atas panggung tersebut.

Seraya merangkulnya ia berucap "Aleta Faylin Axcelio, adalah istri saya. Sedikit klarifikasi, keberadaannya sebagai istri saya jarang diketahui orang lain dan bahkan ia menolak keras untuk dipublikasi. Kami menikah sudah 2 tahun dan memiliki putra kecil berusia setahun. Namun ia sedang di rumah." Arsen menjeda ucapannya menarik nafasnya "Namun kejadian beberapa waktu lalu membuat saya marah dan harus segera mengakhiri drama yang diciptakan sendiri oleh istri saya"

Banyak tatapan aneh disana, tatapan lebih terkejut bahwa Aleta Faylin adalah istri dari Arsen.

Arsen melihat tatapan Anta pada mereka dengan kecewa?

Arsen tertawa sinis, lalu mendekap Aleta dan mencium kening Aleta disana lalu turun meninggalkan kerumunan itu.

"Sudah puas dengan rahasiamu yang terbongkar, tuan?" tanya Aleta

"Ya, rahasia terbesar istriku sendiri yang menjadi selingkuhanku" jawabnya

"Ayo pulang temui Axel. Aku merindukannya"

"Me too" balas Arsen

Merekapun tertawa bersama





End


Kembali ke Beranda