Si Ketus Tampan
Romance
08 Dec 2025 17 Dec 2025

Si Ketus Tampan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (72).jpeg

download (72).jpeg

10 Dec 2025, 23:42

Aku baru saja berjalan memasuki kelasku menuju bangku yang akan hari ini aku tempati sebagai siswa kelas 3 SMA.

Bangkuku berada di pojok kanan paling belakang, bahkan lebih tepatnya bangku terakhir yang akan aku tempati setelah semua bangku sudah terisi penuh.

Aku menghela nafas, mengatur emosi kala si ketus yang sialnya tampan itu duduk di bangku itu. Tak ada pilihan lain selain duduk bersamanya, karena hanya itu bangku yang tersisa.

Tapi mau bagaimana lagi? Aku ini seorang gadis biasa, tak ada yang namanya teman dekat. Aku bukan antisosial hanya saja sulit untuk mendekatkan diri pada teman. Akan lebih baik mendekatkan diri pada sang pencipta, bukan?

Raihan Prambudi, pria ketus yang tampan. Ia most wanted, ketua tim basket disekolah dan pernah menjabat sebagai ketua osis. Aku heran, kenapa dia bisa terpilih jadi ketua osis ya?

"Lambat banget sih lo datang" ucap pria itu lalu bangkit

"Lo yang diujung" tambahnya

Aku hanya diam malas untuk menanggapinya, karena kata-katanya selalu sukses membuat hatiku tertusuk.

"Ck. Jadi perempuan yang rapi dikit dong, dasipun gak dipakai" ocehnya dengan sarkas.

Demi Tuhan, ini baru hari pertama aku duduk di bangku kelas 3 namun dia sudah memulai ucapan ketusnya itu.

Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya, mengambil dari tas dan membuka buku novel yang masih sebagianku baca, novel yang berjudulkan Surat Kecil Untuk Tuhan.

Menit awal ia masih diam, hinggal menit ke lima ia membuka suara

"Itu seru novelnya" aku hanya diam tak merespon.

"Nayla, Ada gak temen nyata yang begitu?" lanjutnya yang tak urungku balas

"Endingnya meninggal dia kena penyakit Ka..."

"Bisa diam gak?" jawabku yang kesal.

Jika dia memberi tahukan endingnya, untuk apa lagi aku membacanya? Dan ini bukan yang pertama kalinya. Sudah lebih dari 7 novel yang dia lakukan dengan memberitahukan endingnya ini.

"Niat gue baik kali" gerutunya lalu menelungkupkan wajahnya di meja.

Aku kembali diam tak ingin merusak hari pertama aku memasuki kelas 3 ini. Tak lama gurupun masuk menjelaskan materi yang singkat. Mungkin karena ini hari pertama jadi kami masih diberi kebebasan.

Keesokan harinya tak ada yang berubah, aku hanya gadis biasa yang bisa dikatakan rajin. Berangkat sekolah, hari ini aku berpenampilan rapi seperti memakai dasi. Kemarin dasiku memanglah tertinggal itu disebabkan aku kesiangan.

Aku turun dari sepeda motorku, membuka bagasi untuk mengambil beberapa buku paket pelajaran yang berat jika aku masukkan dalam tas.

Aku berjalan perlahan memasuki kelas tak lama langkahku hampir terhenti kala mendengar ocehan dibelakangku.

"Ck. Lambat bener sih jadi perempuan" decaknya yang sungguh menyebalkan.

Ia berjalan melewatiku sambil mengambil buku yang ku bawa

"Sudah kurus bawaannya berat" decaknya lagi sambil berlalu mendahuluiku, ingin ku tarik buku itu ditangannya tapi itu akan percuma. Jadiku biarkan saja ia membawakan bukuku ke kelas.

Tapi kali ini aku tersenyum entah karena apa, bilang saja ia ingin membantuku kenapa harus menggerutu begitu. Raihan selalu begitu, dari dulu ia selalu membantu tentu dengan kata ketus sebagai khasnya.

Itulah Raihan, aku tahu sebenarnya dia itu baik. Tapi ucapannya itu yang membuatku nyaris menangis sakit hati ketika berbicara.

Pelajaran hari ini selesai, aku ingin makan es krim di toko dekat komplek rumahku ini. Tentu saja masih seorang diri, aku tidak punya teman ingat?

Aku memesan satu cup ukuran besar untukku dengan rasa coklat dan strawberry. Lalu duduk di dekat pinggir agar mendapat pemandangan karena cafe ini di sebagian dindingnya adalah kaca.

Aku masih menyuapkan dua sendok es krim ke mulutku namun lelaki ini datang dan duduk di depanku.

Aku mendengkus "Ngapain? Pindah gih" ucapku

"Penuh" jawabnya

Aku mengedarkan pandanganku, itu tidaklah benar. Masih ada beberapa bangku yang kosong.

Masih aku ingin membuka mulut ingin protes, ia mengulurkan novel di depanku, meletakkan di hadapanku sambil berkata "Gue beli novel ini ternyata tidak menarik"

Aku mengernyitkan alis tanda tidak mengerti, lalu aku harus bilang wow gitu?

"Untuk lo aja"

"Ha?"

"Ternyata selain kurus dan jelek, lo juga budek ya" sarkasnya

Tukan aku bilang juga apa dia kalau ngomong itu nyelekit. Aku mengangkat bahuku tanda tak acuh.

"Lo harus membacanya, dan..."

Ia menggantungkan ucapannya yang membuatku bingung menunggu kelanjutannya

"Dan?" tanyaku

"Gue minta maaf" ucapnya

What? Dia bilang apa tadi. Dia ini kenapa?

"Eh, kenapa?"

"Ah es krimnya di sini enak"

"Lo kenapa sih?" tanyaku setelah diam beberapa menit

"Gak kenapa-napa"

"Mm.. Gue boleh nanya?"

"Lo uda nanya, Nay" jawabnya

Aku meringis menampilkan deretan gigiku "Lo sama Nia pacaran ya?" tanyaku yang kepo. Karena gosip ini selalu beredar namun anehnya Raihan tak pernah menanggapi hal ini.

Di sekolah aku jarang berbicara sama dia, kalaupun berbicara hanya seperlunya. Bisa habis dibully kalau aku lama-lama bersama Raihan. Dan ini pertama kalinya aku berbicara santai dengannya, meskipun masih ada kata-kata pedasnya. Setidaknya aku merasa nyaman. Eh? Tidak maksudku setidaknya aku memiliki teman.

Raihan menggeleng "Sebenernya gue bukan suka sama dia. Itu salah paham"

Iya bener juga sih. Bisa jadi Raihan sukanya sama adiknya Nia ya, adiknya itu lebih kalem dibanding Nia yang terkenal suka ngebully gitu.

"Bukannya dia selalu bilang bahwa kalian pacaran ya? Kalau lo gak suka, kenapa diam dan gak menyangkalnya" desakku.

Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, semakin dekat aku yang penasaran hanya diam pasti dia akan membisikkan rahasia.

Hingga wajahnya berada di depanku

"Kepo!" ucapnya lalu ia tertawa lebar.

Aku menghela nafasku, dia makan apa sih tadi dan yang benar saja, itu sama sekali tidak lucu.

Tapi untuk pertama kalinya melihat dia tertawa dengan lepas begitu, ada sesuatu yang menghangat di dalam diriku. Tak sadar aku tersenyum.

Dia berdehem menetralkan tawanya, lalu mengusap sudut bibirku

"Ck. Nay, umur lo berapa sih?" tanyanya

Aku mengernyitkan keningku karena tak mengerti maksud perkataannya.

Dan ia mengusap keningku "Ni kening jangan kebanyakan mikir deh. Lo itu uda besarkan? Kenapa makan kayak anak kecil, belepotan" ucapnya sambil mengelap sudut bibirku terkena es krim.

Aku menampilkan deretan gigiku dan mengambil tissu untuk membersihkan sisa es krim. Dia paling bisa menjatuhkanku ya.

Tapi Raihan kenapa aneh sekali. Selama awal masuk sekolah aku selalu duduk di bangku yang sama dengannya namun baru kali ini dia sedikit berbaik hati. Hari ini dia aneh.

Sudah 2 bulan semenjak kejadian itu, entah bagaimana Raihan sedikit berbaik hati meskipun ia takkan bisa menghilangkan perkataan ketusnya. Sepertinya itu sudah mendarah daging.

Seperti saat ini, aku dihukum membersihkan perpustakaan karena datang terlambat. Bahkan kini sudah jam istirahat aku lapar karena belum sarapan tapi hukuman ini tak urung selesai.

Aku duduk di bangku perpustakaan untuk istirahat sejenak dan mengusap peluhku.

Raihan masuk membawa bekal nasi, lalu melemparkan pelan kehadapanku.

"Gue tadi dibawakin bekal sama nyokap gue. Buat lo aja, gue gak suka lauknya"

Aku menatapnya dengan kesal, kenapa sih selalu jutek sama aku. Tentu hanya di hati saja.

"Nih. Gue tadi juga beli es tapi ternyata juga gak enak. Buat lo aja semua" sambil menyerahkan jus jeruk itu.

Aku yang biasanya akan balas memarahinya jika dia selalu seperti ini tapi tidak untuk kali ini. Aku membalasnya dengan senyuman manis.

"Rai, makasih ya. Lo baik deh" ucapku dengan tulus

"Apaan? Gue bilang gasuka makanya kasih ke lo"

"Gue tau kok. Lo itu emang baik banget"

"CK. Gausah GR!"

Aku memegang ujung lengan bajunya lalu menggoyang-goyangkannya "Makasih uda mau jadi temen gue" ucapku lagi

Dia mendengkus "Kita bukan teman!" ucapnya dengan sarkas tapi sesaat kemudian dia tersenyum, senyum yang meneduhkan.

"Guee...." ucapnya tertahan.

"Ck. Lo ngerepotin ya, Nay." lalu membuka bekal itu dan menyuapkannya padaku.

Aku membuka mulut menerima suapannya lalu ia berkata "Lo itu punya sakit maag jadi jangan telat makan" ucapnya dengan lembut.

Demi apa Raihan Prambudi bertutur lemah lembut begini?

Aku lagi-lagi tersenyum, kupu-kupu beterbangan memenuhi diperutku.

Ia mengusap kepalaku "Dihabiskan" lalu ia berlalu begitu saja.

Semenjak saat itu ia tak pernah dekat denganku lagi. Kami memanglah duduk berdampingan namun pembicaraan hanya seadanya.

Aku yang terbiasa dekat dengannya selama beberapa bulan ini sedikit merasa kehilangan.

Karena biar bagaimanapun, sepanjang sisa kehidupan ini aku tak banyak mendapatkan perhatian.

Oke, ini berlebihan.

Sudah berbulan-bulan lamanya, hari ini adalah hari kelulusanku. Seluruh siswa melihat nama-nama yang ada di papan bukti dari kelulusan.

Nayla Lesyata tercetak jelas namaku disana menandakan bahwa aku lulus.

Seluruh siswa kelas XII berkumpul dilapangan sekolah bukan untuk berbaris seperti kegiatan upacara atau lainnya melainkan untuk bercorat-coret, berfoto ria dan lain sebagainya menandakan kami resmi meninggalkan sekolah ini.

Raihan datang padaku, membalikkan badanku tanpa berkata ia membuat tanda tangannya di balik punggungku. Lalu ia menyerahkan spidol itu padaku, aku tersenyum tanda mengerti maksudnya langsung ku ambil dan ku tanda tangan di balik punggungnya.

Lalu ia mengarahkan ponselnya ke arahku bermaksud selfie, aku yang kaget tentu tak menampilkan senyum disana.

"Tidak buruk. Lo cantik" ucapnya lalu beralih ke kumpulan yang lain.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan memilih untuk pulang karena aku diterima di salah satu universitas terbaik yang ada di Yogyakarta.

Aku segera pulang dan mengemasi barang-barangku untuk dibawa kesana, disanapun aku akan tinggal dengan budeku, kakak dari ayahku.

Selama 4 tahunku habiskan waktuku di Yogyakarta, rasanya malas untuk ke Jakarta hanya sesekali ayah dan ibuku berkunjung kesini.

Lagipula disana tak ada kenangan menarik. Namun di Yogyakarta, aku lebih banyak kenangan seperti pertemanan. Hal yang aku tak pernah merasakannya.

Saat aku masih duduk bersantai dengan budeku saat ini, ponselku berdering dengan tak sabaran menanti sang empunya menggeser tombol hijau.

"Hallo, bu." ucapku kala mengangkat.

"Segeralah pulang, bukankah hanya menunggu wisuda saja?"

"Tapi..."

"Ibu 1tidak mau tahu, pokoknya besok siang kau harus sudah berada dirumah. Itu jika kau masih menganggap aku ibumu"

Tut tut tut

Aku melongo seketika, apa-apan ini. Mengapa ibu tiba-tiba menelepon dengan seperti itu.

Its oke! Aku memanglah tidak pernah kembali ke Jakarta. Tapi aku juga tidak melupakan ibu dan juga ayahku.

Alya, sepupuku berjalan ke arah kami dengan sebuket bunga yang sesekali ia hirup aromanya. Wah dia sangat terkenal, ia juga berparas cantik namun pada saat di depanku ia malah memberiku bunga itu.

Aku mengernyit tak mengerti "Ini untukmu. Tadi kata mas-mas di depan untuk Nayla" ucapnya

"Siapa?"

Alya mengendikan bahunya "Dia cuma bilang untuk Nayla"

Lalu ia melenggang pergi begitu saja dengan wajah murung. Ada apa sih? Aku melihat note yang tertulis di buket itu.

Bunga ini indah, seperti kamu. Semoga kita segera bertemu besok.

Aku tersenyum kecil, siapa yang iseng begini. Apa jangan-jangan Aksa ya diakan lagi dekat denganku, tapi tidak mungkin karena kemarin sudah ku tolak.

Aku teringat akan Alya yang mukanya murung setelah memberi buket padaku, karena sore tadi ia masih bersemangat. Merasa tak enak hati akupun berjalan ke kamarnya.

Tanpa mengetuk aku masuk langsung merebahkan diri di sampingnya.

"Al," panggilku yang hanya dibalas deheman olehnya. Usia kami ini sama hanya terpaut beberapa bulan saja.

"Kenapa? Ingin cerita?" tawarku

Ia bangkit terduduk dari kasurnya yang langsungku ikuti.

"Nay, lo taukan?"

"Enggak"

"Ck. Listen to me" dengan gayanya yang berlebihan itu, aku hanya memutar bola mata dengan jengah

"Yang ngirimin lo bunga orangnya ganteng pake banget. Nah gue uda berseri-seri tapi ternyata dia bilang buat lo"

Aku hanya diam tak ingin menimpali takut salah bicara yang ada dia makin marah.

"Terus gue bilang 'Buat saya aja ya mas, saya jomblo ni'. Dan lo tau dia bilang apa, Nay?" teriak dia dengan heboh di akhir kalimatnya. Aku menunggu jawaban Alya.

"Only, Nayla. Terima kasih" dengan menirukan gaya bicara orang tadi dan gaya angkuhnya

"Angkuh bangetkan dia? Gagal suka gue untung ganteng tu orang" lanjutnya

Aku hanya tertawa kecil menanggapinya karena ekspresi yang diperagakan Alya mengingatkanku pada sosok pria lain.

"Al, gue besok mau ke Jakarta. Ibu gue, tante lo itu ngancem gue harus uda ada dirumah besok. Lo mau ikut gak?" ajakku

Ia tampak berfikir "Boleh deh. Sekalian liburan"

Keesokan harinya, pukul tiga sore kami sudah sampai dirumah. Ibuku dan beberapa asisten rumah tangga ku lihat sibuk menyiapkan masakan.

"Ada acara apa, bu?" tanyaku.

Ibu memelukku lalu bergantian memeluk Alya "Sudah kalian tidur dulu sana. Nanti malam Nayla pakai baju yang bagus ya, kamu juga Alya dandan."

Aku dan Alya saling melempar pandang dan kami hanya mengangguk lalu naik ke atas.

Seperti ucapan ibuku kamipun berdandan entah untuk apa tujuannya.

Alya sudah turun duluan katanya ia ingin mencari cemilan namun ia masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa cup cake.

"OMG, Nayla. Demi apa gue uda jauh-jauh kesini. Tapi cowo itu ada disini" ucapnya dengan tersenggal-senggal

"Cowo siapa?" tanyaku sambil memoles sedikit pelembab bibir.

"Cowo yang ngasih lo bungalah"

"Ha?"

"Kumat deh lo kan. Ayo deh turun, mama gue juga ada di bawah. Heran gue ada apaan."

Kamipun turun bersama, karena aku juga bingung ada apa.

"Nah itu Nayla" ucap ayahku. Ku lihat wajah mereka berseri-seri. Aku juga melihat pria yang membelakangiku dengan tubuh tegap, sandarable banget. Aduh pikiran!

Pria itu menghadapku "Long time no see, Nayla" ucapnya tersenyum dengan lebar

Deg.

"Sebentar ini ada apa sih?" tanyaku yang bingung.

"Jadi nak Raihan katanya sudah lama mengenal kamu dan ia berniat melamar kamu malam ini" jelas ibuku

"Ha?" ucapku yang memang bingung

Rasanya aku tidak tahu ingin berbicara apa lagi

"Wahh.. Selamat, Nay" ucap Alya memelukku

"Tapi bagaimana bisa kalian tidak memberitahukan aku"

"Maaf, Nay. Mungkin ini mendadak tapi aku akan menjelaskan semuanya setelah kamu menjawabnya" ucap Raihan

Baiklah! Dia tidak berubah tetap saja semaunya

"Bahkan jika jawabanku tidak, kamu akan tetap menjelaskannya?" tanyaku dengan menyeringai

"Tentu. Tapi aku berharap kamu menerimanya. So?"

Aku mengulum senyum, tak bisa kupungkiri. Aku masih menyukainya. Pria ketus yang sialnya tampan ini, dan lihatlah setelah empat tahunpun tak bertemu ia semakin terlihat tampan.

"Nay" tegur ayahku aku terbangun dari khayalanku

Aku menghembuskan nafasku "Nayla terima lamaran Raihan"

Semua orang tampak tersenyum senang disana, dan Raihan langsung berdiri menarikku ke taman belakang. Masih terdengar suara Alya di belakangku

"Uww.. Agresif yaa. Awas jangan kesemak-semak" ucap Alya sambil tertawa lalu mengaduh akibat mamanya menjawilnya

Disinilah aku duduk bersama Raihan di taman belakang rumahku.

Dia tersenyum melihatku yang dahulu ia jarang tersenyum seperti ini.

"Terima kasih, Nay."

"Kamu hutang pejelasan" ucapku

Ia tertawa "Cie yang panggilannya berubah" ejeknya. Aku ingat dulu kami saling lo-gue dalam memanggil.

Aku mengulum senyum lalu ia merangkum tanganku

"Dari dulu aku suka sama kamu, Nay. Kamu gak sadar ya? Sedari dulu kita duduk bareng itu sengaja. Aku sudah mengaturnya. Lalu.."

"Wait. Tapi kamu dulu waktu kelulusan jauhin aku" sela aku tak terima

"Ah iya, lalu Nia?" tanyaku lagi yang ingat akan penasaranku

Ia kembali tersenyum "Mau dilanjutkan, tidak?"

"Oke" jawabku

"Jadi dulu waktu aku mau memantapkan hati mengutarakan padamu tentang perasaan ini, Ayahku melarangku untuk berpacaran. Beliau bilang aku harus langsung melamarmu namun aku belum memiliki keberanian itu. Dan maaf baru sekarang berani menemuimu"

Ia menghela nafas "Sebenarnya aku selalu memantaumu. Kamu tentu kenal dengan Aksa, ia aku suruh memantaumu namun sialnya ia malah menyukaimu. Aku beryukur kamu menolaknya"

"Dan mengenai Nia, dia aja yang terlalu baper waktu aku nolongin dia dari preman di jalan." jelasnya lagi.

Aku terkejut dengan fakta ini, aku teringat akan sesuatu "Lalu bunga itu?"

Untuk kesekian kalinya ia tersenyum "Dari aku"

"Eh tapi kalau misalnya aku dulu terima Aksa, gimana?" tanyaku dengan pongah

Raihan tertawa "Apa lagi selain memaksamu untuk menerimaku. Tidak ada penolakan" tegasnya

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa lalu ia memelukku sambil berkata "I Love You, Nayla Lesyata"

"Love you too, Raihan Prambudi"







End


Kembali ke Beranda