Sera mengernyit dalam tidurnya. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu merasakan beban berat disekitar pinggangnya. Ada apa ini? Apa ada barang-barang di kamarnya yang tiba-tiba jatuh dan menimpanya? Makin lama, Sera merasakan benda itu makin membelit tubuhnya. Sudah pasti ini bukan barang-barang di kamarnya. Sera lantas segera membuka matanya. Takut jika yang membelit tubuhnya saat ini ada ular.
Namun ketika gadis itu membuka mata, hal pertama yang dia dapati adalah wajah seorang laki-laki. Otomatis Sera berteriak dan menendang laki-laki itu hingga jatuh dari kasurnya.
"Aw!" Ringis laki-laki itu seraya mengusap kepalanya. Sera menarik cepat selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Si... siapa kamu?" Tanya Sera bergetar dan takut. Siapa yang tidak takut jika tengah malam begini mendapati orang asing sedang tidur di kasur yang sama kita? Mana orang asing itu terlihat aneh!
"Kamu yang siapa? Kenapa kamu berada di..." Ucapan laki-laki itu terhenti. Matanya menjelajahi kamar Sera dengan liar. Lalu tiba-tiba wajah laki-laki itu terlihat pucat dan kaget.
"Astaga! Aku lupa," kata laki-laki itu seraya menepuk dahinya. Sera yang sedari tadi diam, mulai keluar dari selimut dan menuju saklar lampu. Gadis itu menekan saklar lampu dan membuat kamar seluas 9 meter kuadrat itu terang seketika. Sera dapat melihat jelas laki-laki yang terduduk di lantai kamarnya. Matanya menatap setiap jengkal orang asing yang menyusup ke kamarnya itu.
Mata Sera melebar ketika menyadari keanehan pada penyusup itu. Laki- laki itu berpakaian aneh. Pakaiannya seperti jumpsuit yang pas badan berwarna hitam. Ada sebuah benda kecil seperti lampu berwarna kuning di bagian dadanya. Bagian kepala laki-laki itu juga aneh. Laki-laki itu memiliki telinga yang panjang, gigi-gigi yang runcing, rambut berwarna kuning serta ada dua tanduk kecil di kepalanya. Sebenarnya makhluk apa yang menyusup ke kamar Sera? Silumankah?
"Makh... makhluk apa kamu? Kenapa bisa ada di kamarku?" Sera menjangkau sapu yang ada didekatnya, bersiap hendak menyerang makhluk aneh itu.
"Jangan pukul aku! Aku nggak ada maksud berbuat jahat sama kamu," cegah laki-laki itu panik. Laki-laki itu membuat gerakan menahan dengan tangannya. Perlahan Sera menurunkan sapunya, tapi tidak dengan tingkat kewaspadaannya.
"Kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di kamarku?"
"Aku Cyro. Aku berasal dari planet Hiuna, planet yang letaknya sangat jauh dari planetmu karena planet kita berada di galaksi yang berbeda. Aku dan kakakku sedang melarikan diri dari penjahat yang berniat membunuh kami dengan lubang hitam. Sebenarnya planet yang kami tuju bukan ini. Tapi dalam perjalanan, terjadi sesuatu di lubang hitam. Aku dan kakakku terpisah dan aku malah terdampar disini. Aku minta maaf karena sudah masuk sembarangan dan tidur di kasurmu," jelas laki-laki bernama Cyro itu. Sera terkejut mendengar penjelasannya. Jadi Cyro itu alien?
"Kamu alien?"
"Ck bukan! Kami menyebut diri kami sebagai gerda. Seperti manusia bagi kalian," kata Cyro.
"Hah?"
"Jangan memasang wajah bodoh seperti itu. Di planetku, kami mempelajari tentang makhluk-makhluk dari planet lain. Salah satunya kalian. Aku sedikit banyak tahu tentang kalian."
Sera ber-oh ria. Lalu gadis itu duduk di atas kasurnya. Perlahan ketakutannya pada Cyro menghilang setelah sedikit berbincang dengan laki-laki itu. Meskipun Sera masih belum bisa ada alien... maksudnya gerda di kamarnya, tapi kemunculan Cyro dengan tampilan anehnya membuat Sera mau tidak mau percaya jika saat ini ada makhluk asing di hadapannya.
"Ah ya, namaku Sera."
"Senang berkenalan denganmu, Sera," kata Cyro manis. Sera mengulum senyumnya.
"Lalu bagaimana caranya agar kamu bisa bertemu dengan kakakmu kembali?"
"Aku nggak tahu. Hanya kakakku yang bisa membuat portal untuk membuka lubang hitam. Aku tidak bisa. Sepertinya aku harus menunggu sampai kakakku menjemputku. Tapi aku sudah mengirim pesan telepati padanya. Semoga pesannya sampai," kata Cyro.
"Pesan telepati? Lewat ponsel?"
"Bukan. Kami bisa saling mengirimkan telepati untuk saling menghubungi. Tidak perlu menggunakan benda seperti kalian. Kami menggunakan ini untuk menangkap dan mengirimnya." Cyro menyentuh tanduk kecil yang ada di kepalanya. Sera makin kagum melihat makhluk asing yang ada dihadapannya saat ini.
"Berarti saat lubang hitam rusak, kamu langsung terlempar di kamarku?"
"Tidak. Di halaman lebih tepatnya. Aku takut ketahuan makanya aku memutuskan untuk masuk. Maaf sudah membuatmu ketakutan."
"Hah? Kamu masuk lewat mana? Jendela?"
Cyro menggeleng. Lalu laki-laki itu menunjuk dinding. "Lewat sana."
"Dinding?"
"Iya," angguk Cyro. "Aku menembusnya."
" WHAT?! Kamu bisa menembus dinding?" Tanya Sera heboh. Cyro segera membekap mulut gadis itu karena takut memancing kehebohan.
"Kecilkan suaramu," desis Cyro. Sera menganguk-anggukkan kepalanya. Cyro lalu melepaskan bekapan tangannya di mulut Sera.
"Jadi kamu menembus dinding?"
"Iya. Gerda bisa menembus benda padat dan membuat benda melayang. Mau lihat?"
Sera mengangguk mau. Dia penasaran seperti apa makhluk yang disebut gerda ini. Mereka mempunyai kemampuan yang berada diluar akal manusia.
Cyro lalu memusatkan perhatiannya pada sebuah buku yang tergeletak di lantai. Matanya menatap buku itu dengan serius. Lalu tak lama kemudian, perlahan, buku itu terangkat dan melayang di udara. Hal itu mengundang decakan dari Sera.
"Woah, hebat sekali," decak Sera kagum. Cyro tersenyum tipis lalu kembali meletakkan buku itu ke atas lantai.
"Bagaimana dengan menembus dinding? Aku juga mau lihat," pinta Sera. Cyro menggeleng, lalu ikut duduk di samping Sera di atas kasur.
"Akan ku perlihatkan besok pagi." Setelah itu Cyro merebahkan tubuhnya di kasur Sera dan segera terlelap. Sera menatap terkejut pada laki-laki itu. Cyro tidur dikasurnya? Mereka akan tidur di kasur yang sama? WHAT?!
***
Sera terbangun begitu mendengar suara gaduh dari luar kamarnya. Sera mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dua menit kemudian, begitu kesadarannya terkumpul penuh, Sera menuju dapur rumah kontrakannya. Tempat dimana suara gaduh itu berasal. Betapa kagetnya Sera begitu mendapati dapurnya dipenuhi dengan benda-benda melayang dan seorang laki-laki yang berdiri di tengahnya.
"Pagi Sera," sapa Cyro. Sera masih melongo sehingga tidak membalas sapaan Cyro.
"Kenapa semua benda-benda ini melayang?"
"Aku mau merapikannya tadi. Semua sudah ku cuci bersih tapi aku nggak tahu dimana harus meletakkannya. Jadi benda-benda ini masih melayang seraya aku berpikir dimana tempat untuk meletakkannya," kata Cyro polos. Sera berdecak lalu segera menunjukkan dimana saja alat-alat dapurnya. Cyro segera meletakkan alar-alat dapur itu sesuai instruksi Sera, dengan keadaan melayang pastinya.
"Terima kasih sudah membantuku, Cyro. Aku akhir-akhir ini sibuk sampai nggak ada waktu buat beres-beres," kata Sera tulus dan malu. Tentu saja dia malu. Peralatan di rumahnya dibersihkan oleh orang lain.
"Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Anggap saja sebagai permintaan maafku."
"Eh..."
Tiba-tiba saja tanduk kecil di kepala Cyro mengeluarkan cahaya dan berkedip beberapa kali. Senyum Cyro mengembang seketika. Pesannya dibalas oleh sang kakak! Segera Cyro memegang tanduknya dan menutup mata.
Cyro, aku terlempar ke planet Dura. Bumi dan Dura lumayan jauh karena berbeda galaksi. Tapi aku akan segera menyusulmu. Aku akan mencoba membuka lubang hitam dan menuju bumi. Kamu jaga diri. Tutup kepalamu, jangan sampai memancing perhatian. Aku takut para penjahat itu bisa mendeteksimu disana.
Setelah itu Cyro membuka matanya dan melepaskan tangannya dari tanduknya. Hal pertama yang Cyro lihat yaitu wajah kebingungan Sera.
"Kakakku sudah memberi pesan. Dia akan menyusulku kesini," jelas Cyro tanpa ditanya.
"Syukurlah. Semoga kakakmu segera datang."
"Um Sera."
"Ya?"
"Bolehkah aku tinggal disini sampai kakakku datang?" Tanya Cyro penuh harap. Sera langsung mengangguk setuju. Gadis itu hanya tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil ini. Jika ada tetangga yang bertanya, dia akan mengakui Cyro sebagai sepupunya.
Sera tidak tahu kenapa dia bisa secepat ini percaya pada makhluk asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya. Padahal bisa saja sebenarnya Cyro berniat. Tapi ntah kenapa, Sera yakin jika Cyro ada orang baik. Maka dari itu dia membolehlan Cyro tinggal untuk sementara waktu di rumahnya.
"Terima kasih, Sera." Cyro tiba-tiba saja memeluk Sera, membuat gadis itu tersentak kaget. Selama ini belum ada laki-laki yang pernah memeluknya selain anggota keluarganya. Mantannya terdahulu hanya pernah menggenggam tangannya saja. Sera termasuk orang yang kolot jika berpacaran.
"Sa...sama-sama." Perlahan Sera berusaha melepaskan Cyro dari tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang sekali. "Aku mau mandi dulu. Aku harus segera bekerja."
***
Semua pegawai yang mempunyai shift pagi ini di toko kopi terkejut melihat Sera datang bersama laki-laki yang menutupi kepalanya dengan hoodie . Ya, Cyro ikut Sera bekerja karena laki-laki itu tidak mau ditinggal sendiri. Dia bilang lebih baik dia ikut Sera bekerja daripada bosan hanya menunggu di rumah. Akhirnya Sera mengalah dan membolehkan Cyro untuk ikut dengannya, dengan catatan laki-laki itu tidak boleh membuat keributan.
"Bareng siapa, Ser? Pegawai baru?" Tanya salah satu teman Sera. Sera menggeleng.
"Sepupuku. Dia ikut karena nggak mau sendirian di rumah. Nggak papakan? Aku janji dia nggak akan macam-macam."
"Aku rasa sih nggak papa. Lagian bos hari ini nggak masuk. Aman aja sih keliatannya."
Sera mendesah lega mendengarnya. Gadis itu segera menarik Cyro untuk duduk di kursi paling pojok.
"Kamu tunggu aku disini. Kalau bosan, kamu boleh keluar. Tapi jangan sampai nyasar. Nih aku kasih kamu uang kalau butuh sesuatu." Sera meletakkan uang seratus ribu ke tangan Cyro.
"Kalau aku mau bantu, boleh nggak?"
"Jangan, Ro. Bisa heboh nanti. Kamu duduk disini aja atau keluar juga boleh. Aku mau kerja dulu."
Sera segera pergi meninggalkan Cyro untuk segera memulai pekerjaannya. Cyro yang ditinggal mendesah kecewa. Jika seperti ini, lebih baik dia menunggu di rumah saja.
***
Mata Cyro menatap Sera yang terlihat sangat sibuk. Gadis itu mondar-mandir mengantarkan pesanan, membersihkan meja, dan mencatat pesanan para pelanggan. Cyro kasihan melihat Sera yang sepertinya mulai lelah tapi pelanggan masih saja ramai. Cyro rasanya ingin menolong, tapi dia sudah diwanti-wanti oleh Sera untuk tidak melakukan apapun. Ah andaikan ini di Hiuna, semua pesanan itu pasti sudah melayang ke meja masing-masing pemesannya tapi perlu capek-capek untuk diantarkan.
"Kamu nggak kerja, Ta? Bantuin Sera." Sayup-sayup Cyro mendengar percakapan dua orang pegawai perempuan yang berdiri tidak jauh darinya.
"Nggak ah. Capek. Biarin aja Sera yang ngerjain. Tadi aku bilang ke dia kalau aku nggak enak badan. Padahal lagi males aja," kata salah satu dari mereka lalu tertawa. Cyro menggeram kesal. Bisa-bisanya mereka memanfaatkan Sera demi kepentingan mereka sendiri. Lihat saja, akan Cyro beri pelajaran.
"Mbak!" Cyro mengangkat tangannya, memanggil dua pegawai yang sedang mengobrol tadi. Salah satu dari mereka menoleh lalu menuju meja Cyro malas-malasan. Untungnya yang mendatangi Cyro adalah orang yang jahat pada Sera.
"Kenapa, Mas?" Tanya pelayan perempuan itu jutek.
"Saya mau mesan minuman yang baru. Es kopi susu. Ah ya, tolong minuman saya ini dibuang aja. Saya nggak minat lagi." Cyro mengangsurkan gelas berisi coklat dingin pada gadis itu. Mau tidak mau pelayan perempuan itu menerimanya dan mengatakan akan segera mengantarkan pesanan Cyro.
Senyum Cyro mengembang ketika pelayan perempuan itu menjauhinya. Cyro segera memfokuskan matanya pada gelas berisi coklat dingin itu dan tidak lama kemudian... byur!!! Gelas berisi coklat dingin itu sedikit terangkat dan isinya membasahi pakaian pelayanan perempuan itu dan sedikit wajahnya. Semua orang di toko kopi itu terkejut melihatnya, berbeda dengan Cyro. Laki-laki itu malah terkekeh kecil dan berseru senang dalam hati.
Rasakan itu!!!
***
Jam kerja Sera berakhir pada pukul lima sore. Gadis itu segera mengganti pakaiannya dan mengajak Cyro yang setia duduk di kursi pojok untuk pulang. Sera yakin, Cyro pasti bosan meskipun tadi dia sempat meminjamkan ponselnya pada Cyro.
"Kamu bosan ya? Besok mendingan tunggu di rumah aja," kata Sera di tengah perjalanan pulang.
"Nggak kok. Kalau bosan, aku udah keluar dari tadi. Aku besok ikut kamu lagi. Seru liat kamu kerja."
"Seru liat aku atau seru isengin temanku?" Sera tahu jika insiden salah satu temannya mandi coklat dingin tadi siang itu adalah kerjaan Cyro. Sera sempat melihat Cyro menatap ke arah temannya itu sebelum temannya tersiram coklat dingin.
"Aku cuma ngasih pelajaran ke dia. Dia licik. Dia biarin kamu kerja sendirian sedangkan dia pura-pura sakit."
"Tapi kamu harusnya ingat perkataan kakak kamu. Jangan bikin keributan. Kamu mau ketahuan?"
"Tapi aku nggak ketahuankan? Orang-orang mikirnya dia nggak sengaja nyiramin coklat dingin itu ke badannya. Aku lakuin itu semua demi kamu, Sera."
Sera mendesah pelan. Tidak bisa melawan Cyro karena laki-laki itu selalu saja bisa menjawabnya.
"Terserah kamulah."
***
Sudah dua minggu lebih Cyro tinggal bersama Sera. Sera mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki bertanduk itu. Sejak kehadiran Cyro, hidup Sera yang datar terasa lebih berwarna. Semua yang dilakukan Cyro memberi perubahan dihidupnya.
"Ser."
Sera tersentak ketika Cyro tiba-tiba muncul dari balik dinding. Laki-laki itu memang hobi sekali menembus dinding daripada membuka pintu dan melewatinya seperti manusia normal. Ah Sera lupa. Cyro bukan manusia. Dia gerda.
"Jangan suka ngagetin gitu, Ro," tegur Sera kesal. Cyro menampilkan cengirannya lalu tiba-tiba memeluk Sera.
"Tadi aku dapat pesan dari kakakku. Dia udah bisa buka lubang hitam yang menuju bumi. Dia bakal jemput aku," kata Cyro bahagia.
Deg! Sera merasakan hal yang berbeda di hatinya. Ntah kenapa dia merasa tidak rela mendengar bahwa Cyro akan segera pergi.
"Be... benarkah? Kapan kakakmu akan sampai?"
"Nggak tahu. Tapi katanya nggak akan lama. Ah, akhirnya aku bisa ketemu kakakku lagi. Aku senang banget," kata Cyro berseri-seri. Cyro melepaskan pelukannya. Tapi laki-laki itu mengernyit bingung melihat wajah Sera yang murung.
"Kenapa? Kok kamu murung?"
"Nggak. Aku cuma sedih bakal nggak bisa ketemu kamu lagi," jawab Sera jujur. Tidak ada gunanya berbohong. Toh, sebentar lagi Cyro akan meninggalkannya.
"Aku juga sedih nggak bisa ketemu kamu lagi." Cyro merangkum wajah Sera dengan tangannya. "Aku janji bakal belajar supaya bisa buka lubang hitam dan mengunjungi kamu. Tunggu aku ya."
Sera tersenyum mendengar janji Cyro. Meskipun dia tidak tahu apakah Cyro akan menepati janjinya atau tidak, tapi setidaknya laki-laki itu berniat menemuinya kembali suatu saat.
"Sebelum aku pergi, ayo kita habiskan waktu bersama."
Cyro menggandeng tangan Sera lalu berjalan lurus ke arah dinding. Langkah Cyro terhenti karena teriakan Sera saat setengah tubuhnya sudah menembus dinding.
"Aku nggak bisa nembus dinding, Cyro!"