Gambar dalam Cerita
Pagi ini adalah pagi yang tersuram dalam hidupku. Kamarku begitu dingin, hujan deras di luar sana. Tubuhku menggigil kedinginan. Aku pun memakai jaket.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, padahal aku sudah berjanjian dengannya. Aku pun termenung sejenak. Kemudian aku teringat kalau aku masih mempunyai jas hujan. Aku bergegas mengambilnya, memakainya tanpa melepaskan jaketku dan langsung berlari ke luar rumah. Aku berjalan ke belakang sebuah café tempat kami janjian, yang tidak jauh dari rumahku.
Dari jauh aku bisa melihat muka masamnya. Aku segera menghampirinya, dan ia langsung menampar pipiku.
"Ouch!" aku mengelus pipiku yang ditampar Sheril. Sheril memang memiliki hobi menampar atau memukul orang ketika ia sedang kesal.
"Dari mana saja kau?! Aku sudah menunggu lama sekali! Sekarang sudah jam 5!" kata Sheril kesal sambil melirik jam raksasa yang sangat tinggi dan besar, yang dibangun di tengah kotaku. Cahaya remang-remang berpendar dari tubuh Sheril, menandakan bahwa ia adalah hantu.
Setahun yang lalu, sejak aku pindah ke rumahku yang sekarang, aku mendapati Sheril sebagai hantu yang bergentayangan di rumahku. Sejak itu kami bersahabat, dan sampai sebulan yang lalu, orangtuaku mengundang seorang pastor untuk menyucikan rumahku, sehingga Sheril tidak bisa bergentayangan di kamarku lagi. Kemudian Sheril pindah bergentayangan di sekolahku, agar kami tetap bisa bertemu, walaupun hanya pada siang hari di sekolah. Dan, kemarin malam, Sheril datang ke rumahku (atau lebih tepatnya di depan rumahku), berteriak di bawah jendela kamarku yang menghadap depan rumakhu, mengajakku bertemu jam 4 pagi di belakang sebuah café yang buka pada malam hari, tepatnya di sebuah gang sempit, tempat dimana tidak akan ada orang yang memergokiku sedang berbicara sendirian.
Yah, karena aku adalah bagian dari yang sedikit dari sebagian besar orang yang bisa melihat hantu, berkomunikasi dengan mereka, dan memiliki kontak dengan mereka.
"Tadi aku tidak tahu apa yang harus kupakai untuk melindungiku dari hujan. Aku baru ingat payungku dipinjam Carly seminggu yang lalu. Lalu, akhirnya aku sadar sepupuku pernah meninggalkan jas hujannya di rumahku ketika ia mengunjungiku. Lagi pula, aku kan tidak bisa menghubungimu kalau aku berhalangan atau semacamnya," hantu mana yang memiliki ponsel , tambahku di dalam hati.
"Kita langsung ke inti masalah. Kau tahu tidak, dua hari yang lalu ada kecelakaan mobil. Kurasa ada masuk Koran," kata Sheril.
"Tidak. Aku tidak pernah baca koran. Masa kau mengajakku bertemu hanya untuk membahas kecelakaan mobil?"
" Masalahnya adalah, orang yang mengalami kecelakaan mobil itu adalah murid sekolahmu! Dan yang lebih bermasalah lagi, orang itu ingin membalas dendam!"
"Siapa dia? Dan bagaimana ceritanya?" tanyaku, hampir tidak percaya.
"Ya ampun, masa kau tidak tahu! Memangnya kau tidak bergosip atau apa, ya!" Sheril memutar bola matanya.
"Sekarang kan lagi libur Paskah, aku mana tahu ada kecelakaan atau apa. Kan seharian aku di rumah!"
"Ah, sudah. Jadi begini, dua hari yang lalu, ada seorang murid cewek, namanya Jenny, kelas X-C mengendarai mobil menuju ke pesta ulang tahun saudaranya di kota seberang. Saat ia melaju di jembatan dengan kecepatan yang sangat tinggi, tiba-tiba ada mobil lain yang melaju di depannya, kemudian Jenny berusaha menghindar, ia membelokkan setirnya, tapi karena kecepatan mobilnya sangat tinggi, sedangkan ia melakukan pembelokan secara mendadak, akhirnya ia kehilangan kendali dan mobilnya menabrak pagar jembatan, dan ia dan mobilnya terjatuh ke laut. Jenny marah dengan pengemudi mobil yang menyebabkan ia jatuh, dan ia yakin sekali kalau pengemudi mobil tersebut adalah Carly, teman sekelasmu," ceritanya panjang lebar.
"Apa?! Jadi maksudmu Jenny ingin membalas dendam kepada Carly?"
"Yeah. Itu yang kuketahui darinya. Kemarin ia ke sekolah dan menceritakan semuanya padaku. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi kelihatannya ia marah sekali,"
"Ini sulit dipercaya," kataku, agak shock .
"Sudah hampir jam 5.30, sebaiknya kau cepat pulang sebelum ibumu bangun dan mendapatimu pulang pagi-pagi dengan basah kuyub.
"Baiklah, sampai ketemu besok pagi di sekolah," aku meningggalkan Sheril, masih bertanya-tanya, apakah ini sekadar lelucon yang dibuatnya?
***
Ternyata Sheril tidak bercanda, karena keesokan paginya, gosip tentang kecelakaan Jenny tersebar, dan tidak perlu dibuktikan dengan gosip yang tersebar, aku melihatnya berkeliling sepanjang koridor kelas (aku langsung tahu itu Jenny karena ia berpakaian pesta, dan cahaya remang-remang yang berpendar dari tubuhnya). Tapi karena pada saat itu banyak orang, aku menghiraukannya dan pura-pura tidak melihatnya. Dan, ternyata memang Carly pengemudi mobil itu, karena aku sudah menanyakan semuanya padanya.
"Jadi, pada saat ia terjatuh, kau langsung menghubungi polisi?" tanyaku pada Carly sebelum masuk pelajaran.
"Yeah. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Menurutmu, apa ini salahku?"
"Kurasa tidak sepenuhnya," jawabku asal. Walaupun Carly hanya sebatas teman kerja kelompokku biasa, aku merasa kasihan padanya.
***
Saat pelajaran Biologi, saat kami melakukan praktek tentang osmosis pada kentang di laboratorium biologi, akhirnya aku sadar kalau Jenny tidak main-main.
Ketika Carly sedang membelah sebuah kentang dengan pisau, aku melihat Jenny menahan pisau tersebut dan membalikkannya ke arah perut Carly. Carly berteriak kaget dan berusaha menahan pisau tersebut sementara Jenny masih berusaha mendorongnya, sementara semua anak menatap Carly ngeri–beberapa berteriak. Kemudian aku menghampiri Jenny dan menahan lengannya.
Reaksi kaget Jenny membuat pegangannya terhadap pisau menjadi kendur, dan di kesempatan itu Carly berhasil menjauhkan pisau tersebut darinya dan melemparkan pisau tersebut dengan ngeri.
Semua orang akan mengira bahwa aku berusaha menarik pisau tersebut, mungkin hanya Carly yang akan menyadari tindakanku yang sebenarnya. Sebelum Carly sadar sepenuhnya, Bu Riana, guru biologi kami masuk ke lab dan bertanya, "Ada keributan apa tadi?"
"Carly ingin bunuh diri, Bu!" seru Chelsea, cewek paling mentel di kelas, sambil bergidik.
"Dia kerasukan!" seru Amy, sahabat Chelsea, sambil menatap Carly ngeri.
"Apa yang terjadi, Carly?" tanya Bu Riana.
"Saya tidak tahu, Bu. Tapi, kurasa sekarang semuanya baik-baik saja," Carly meyakinkan.
"Bagus kalau begitu. Kalian bisa melanjutkan eksperimen kalian. 30 menit lagi saya akan memeriksa hasil kerja kalian," kata Bu Riana cuek dan keluar.
"Tadi apa yang kau lakukan? Kau seperti menahan sesuatu," kata Carly akhirnya.
"Er..." aku masih bisa melihat Jenny berdiri di dekatku, menatapku kebingungan.
"Jadi, tadi memang ulah hantu," Carly menyimpulkan.
"Hah?" kataku, kaget ia bisa mengetahuinya.
" Feeling -ku kuat. Aku punya firasat, Jenny akan membalas dendamnya padaku, dan kau... bisa melihatnya ?"
"Er..." aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Jadi benar? Ia benar-benar ingin membalas dendam?" Carly menatapku penasaran.
"Oh, aku selalu menduganya. Aku dari dulu sudah curiga memergokimu berbicara sendirian. Firasatku benar, kan? Kau bisa melihat hantu,"
Aku tidak bisa menyangkalnya, "Yeah, benar. Kau benar sekali,"
Carly terperangah, "kau benar-benar keren!"
Bisa-bisanya ia masih bisa memikirkan kalau aku keren, sementara ia sedang diteror hantu yang ingin membalas dendam.
"Kau tidak takut?" tanyaku, takjub.
"Tidak. Aku tidak perlu takut, selama ada kau,"
"Aku tidak bisa menjamin kau bisa selamat," kataku pendek.
"Kita akan berjuang bersama, menyingkirkan hantu itu. Oh, ini bakal seru banget!" katanya antusias.
Ya ampun. Ada juga orang yang senang keselamatannya terancam.
***
"Tolong jelaskan!" Jenny menghampiriku ketika aku baru keluar dari bilik toilet.
"Tenang saja, aku sudah mengunci toilet ini," katanya ketika aku melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain.
"Aku bisa melihat hantu," jawabku pendek. "Dan aku tidak bisa membiarkanmu membunuh orang," tambahku.
Tiba-tiba Sheril muncul, "kau!" teriaknya pada Jenny.
"Oh. Jadi kalian berteman," Jenny menyimpulkan.
"Hai, Sher," sapaku. "Tadi pagi ia hampir membunuh Carly," aku mengumumkan.
Sheril terbelalak, "sudah kubilang! Kalau kau mencoba untuk membunuh orang, aku akan mengantarkanmu ke tempat seharusnya!"
"Apa? Kau bisa?" tanyaku pada Sheril, tertarik.
"Tentu saja. Jenny seharusnya sudah tiba di sana, tetapi ia ngotot untuk tetap di sini," jawab Sheril.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanyaku penasaran.
"Yang pasti, aku bisa melakukannya–"
"Dan, ketika ia mengantarku ke tempat yang seharusnya, otomatis ia juga akan ke sana, dan tidak bisa kembali lagi," potong Jenny enteng.
"Apa? Kau tidak bisa melakukannya!" teriakku kepada Sheril.
Kemudian ada suara ketukan pintu di luar, "Baik-baik saja di dalam?"
Aku segera membuka pintu. "Maaf, tadi aku sedang berlatih drama dan lupa membuka kunci pintu," kataku kemudian beranjak pergi.
***
"Kau tau bagaimana caranya melenyapkan hantu?" tanya Carly saat pulang sekolah.
"Tidak," jawabku pendek.
"Ya, kau tidak tahu, tapi pasti kau tahu kalau ada yang tahu,"
"Maksudmu?"
"Kau pasti punya teman hantu kan?"
"Terus?"
"Masa dia tidak tahu," katanya sambil menatapku curiga.
Sial. Firasatnya kuat sekali. Atau, jangan-jangan ia bisa membaca pikiranku?
"Tidak bisa! Kalau ia melakukannya, ia juga akan pergi dan.. tidak akan kembali lagi,"
"Oh, jadi begitu," Carly menggumam. "Jadi, menurutmu, hidupku tidak lebih berharga dari kehadiran seseorang yang sudah mati,"
"Kau tidak mengerti!" teriakku.
"Oke, memangnya kau punya cara lain untuk melenyapkannya?"
"Aku akan mencari cara lain.. asal tidak mengorbankan sahabatku," kataku sambil meninggalkannya.
***
"Pokoknya dia harus mati!" aku bisa mendengar Jenny terisak di depan gerbang sekolah, ditemani oleh Sheril.
"Kalau dia mati, tetap tidak bisa mengubah keadaan, kan?" protes Sheril. "Kalau kau berbuat macam-macam, aku akan bertindak.." tambahnya.
Aku mendekati mereka, "jangan lakukan itu, Sher," bisikku.
"Hanya itu yang bisa dilakukan, Han," kata Sheril.
"Aku akan mencari cara lain. Awasi dia, Sher, kau tahan emosimu, jangan sampai marah dan membuatnya tidak senang," bisikku sambil memandang lantai agar tidak ada yang memergokiku sedang berbicara sendiri lagi.
Aku segera pergi sebelum Sheril membantah. Semoga saja ada kejaiban.
***
Keesokan paginya, Jenny tampaknya sudah tidak seagresif kemarin. Ia malah termenung sepanjang hari.
"Apa yang kau lakukan dengannya? Apa kau memukulnya sampai ia tidak berdaya?" aku mengajak Sheril ke ruang ganti yang kosong saat istirahat.
"Ngomong apa sih kau! Semalam aku menceramahinya. Ternyata ia Katolik, sama denganku," katanya sambil tersenyum.
"Kau benar-benar hebat!" kataku terpana.
"Sebenarnya ia anak baik-baik. Mungkin karena ia baru meninggal, sehingga emosinya tidak terkontrol. Apalagi terjadinya mendadak," kata Sheril.
"Jadi, dulu kau juga begitu?" tanyaku.
"Hm," jawab Sheril pendek. Sepertinya ia tidak mau membahasnya.
"Carly akan kecewa," kataku
"Apa?" tanya Sheril bingung.
"Ia sangat mengharapkan sesuatu yang seru dan menegangkan," aku tertawa.
"Sheril," Jenny muncul tiba-tiba sambil tersenyum riang.
"Pacarku dari sekolah lain, ternyata ia juga bisa melihat hantu!" teriak Jenny.
"Bagus sekali," Sheril ikut senang.
Aku tidak bisa berkata apa-apa saking senangnya. Well , kurasa masalah ini sudah berakhir bahagia.