Teror
Teen
10 Feb 2026

Teror

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-10T224031.024.jfif

download - 2026-02-10T224031.024.jfif

10 Feb 2026, 15:41

download - 2026-02-10T224029.671.jfif

download - 2026-02-10T224029.671.jfif

10 Feb 2026, 15:41

"Iya, Ma. Kami tahu," Crystal berbicara di teleponnya di pinggir jalan sebuah mall bersama Cristy, adik kembarnya, menjelang malam.

"Hei, kami hanya berbelanja lima kantong saja, kok–iya, Ma. Mama bisa menjemput kami sekarang, kok," Crystal sibuk menerima telepon Mama, sedangkan Cristy menatap sebuah toko pakaian di seberang jalan.

"Crystal, kau lihat itu!" pekiknya setelah Crystal menutup teleponnya.

"Tidak lagi Cristy, Mama melarang kita membawa lebih dari lima kantong belanjaan. Lagian Mama akan menjemput kita dalam waktu 30 menit," Crystal tahu apa maksud Cristy. Ia sudah hafal betul sifat adiknya itu.

"Ayolah, kau lihat dulu dress itu. Kita hanya perlu menyeberang dan itu tidak membutuhkan waktu lebih dari 30 menit ," Cristy memelas kepada Crystal sambil menunjuk sebuah toko pakaian.

Crystal akhirnya melihat ke arah yang ditunjuk Cristy. Dress mini itu memang sangat cantik, apalagi dress itu berwarna pink, warna kesukaan mereka. "Oke, ingat, hanya sepotong, dan tidak lebih," Crystal akhirnya mengiyakannya dan wajah Cristy berubah ceria seketika.

Crystal tidak tahu kalau keputusannya salah besar. Karena baru saja mereka menyeberangi jalan raya, sebuah taksi kuning meluncur dengan cepat ke arah mereka, dan sebelum mereka sempat menyadarinya, taksi itu menabrak mereka.

Segalanya terjadi begitu cepat sebelum Crystal menyadarinya. Ia mengingat-ingat apa yang telah terjadi barusan. Ia akhirnya mengingat bayangan sebuah taksi yang menabrak mereka, suara klakson yang begitu memekakkan telinga, dan tubuh Cristy terlempar dan menimpa Crystal. Seluruh badannya sakit sekali. Ia langsung teringat dengan Cristy dan merasa takut akan keadaannya. Dengan susah payah ia bangun, dan ia melihat sesuatu yang paling mengerikan dalam hidupnya.

Cristy tergeletak tidak jauh darinya, dengan sekujur tubuh penuh darah. Hal yang paling menakutkan bagi Crystal adalah darah, dan sekarang ia menemukan Cristy dalam keadaan berlumuran darah, terlebih lagi ia tidak tahu dan tidak berani tahu apakah Cristy masih hidup atau sudah mati. Hal itu membuat hatinya serasa ditusuk oleh ribuan paku. Ia shock sekali. Rasanya Crystal ingin menangis sekeras-kerasnya. Tapi ia terlalu lemah sekarang. Kepalanya pusing sekali. Orang-orang mulai menghampiri mereka dan menanyakan keadaannya. Tetapi Crystal tidak bisa mendengarkan mereka, dan perlahan-lahan segalanya mulai gelap, dan ia tidak ingat apa-apa lagi.

Tiba-tiba saja Crystal sudah mendapatinya di sebuah ruangan ketika ia terbangun. Ia sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Ia kembali mengingat kecelakaan tadi. Crystal langsung teringat kepada adikknya. Memikirkannya sudah membuatnya ketakutan. Hatinya hancur. Ia menangis sekeras-kerasnya. Seketika itu Mama datang menghampirinya dengan cemas dan memeluknya.

"Keadaan Cristy agak parah dan dia belum sadar sekarang," kata Mama lemah. Crystal menangis semakin keras dan terus menyalahkan diri, sementara Mama terus menghiburnya. Mama memang jauh lebih teguh daripada Crystal, dan sifat ini tidak diturunkan kepada Crystal, melainkan kepada Cristy.

Sebenarnya Crystal sudah dibolehkan untuk pulang, tetapi masih harus rutin menjalani pemeriksaan ke rumah sakit. Tetapi Crystal tidak ingin meninggalkan Cristy. Akhirnya Crystal pulang dengan bujukan Mama dan paksaan Papa.

Biarpun begitu, Crystal tidak bisa tenang sepanjang hari. Ia selalu teringat akan kecelakaan itu. Ia selalu teringat dengan taksi kuning yang melaju cepat ke arahnya dan tubuh Cristy yang berlumuran darah. Ia selalu membayangkannya dimanapun dan kapanpun.

Keesokan harinya, Crystal pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Ia berjalan di sepanjang pinggir jalan, menunggu taksi yang lewat. Tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang. Mobil itu adalah sebuah taksi. Taksi itu menuju ke arah Crystal, semakin lama semakin cepat. Crystal merasa ketakutan, dan tanpa sadar ia menarik salah seorang di dekatnya dan mendorongnya ke arah taksi itu.

Pada saat itu, orang tersebut langsung ditabrak oleh taksi itu dan terlempar. Kejadiannya sama persis dengan kecelakaan kemarin. Orang itu tergeletak di dekat Crystal dan berlumuran darah, persis dengan Cristy. Sedangkan taksinya hilang entah ke mana. Kemudian Crystal berteriak.

Semua orang di sekitarnya langsung melihat Crystal dengan kaget bercampur ngeri. Ada beberapa yang menjauhi Crystal seolah takut Crystal akan melemparkan mereka ke jalan raya. Bahkan Crystal melihat ada seorang yang menelepon polisi.

Crystal ketakutan, "Aku tidak sengaja!" Kemudian Crystal berlari sekuat-kuatnya, meninggalkan tempat itu.

Crystal tidak tahu seberapa jauh dan seberapa lamanya ia berlari. Pikirannya kacau. Ia tidak habis pikir kenapa taksi kuning itu bernafsu sekali untuk menabraknya. Ia telah membunuh dua orang. Tidak, tetapi hampir membunuh dua orang. Ia bahkan tidak tahu apakah orang tadi masih hidup atau sudah mati. Rasanya ia ingin mati.

Setelah kecapekan berlari, ia berhenti dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah taman yang biasa sering dikunjungi. Crystal langsung memasuki taman itu, dan duduk di sebuah bangku taman yang biasa Crystal dan Cristy duduki. Seketika itu juga, ponselnya berdering. Ternyata itu adalah Felix, sahabatnya.

"Crystal, ibumu mengatakan kalau kau kecelakaan. Kenapa kau tidak bilang padaku, hah? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau di mana sekarang?" Felix langsung menanyakan segudang pertanyaan ketika Crystal mengangkat teleponnya.

"Dengar, begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, dan aku hampir gila sekarang. Maafkan aku kalau aku tidak sempat memberitahukannya padamu, Felix," Crystal begitu senang Felix meneleponnya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, "Felix, aku–"

"Crystal, kau di mana? Agar aku bisa menjemputmu sekarang. Ibumu mencarimu," kata Felix tak sabar.

Crystal ingin sekali bertemu dengan Felix dan menceritakan semuanya, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut untuk menceritakannya. "Aku tidak tahu. Maaf, Felix, aku benar-benar kacau sekarang," Crystal langsung menutup teleponnya dan menangis.

Setelah cukup lama menangis, ia beranjak dari bangku taman dan berjalan di sepanjang pinggir jalan. Ia tidak tahu ingin pergi ke mana. Ia terus berjalan, dan ia baru sadar kalau di depannya ada sebuah taksi kuning. Taksi yang persis dengan taksi yang menerornya. Perasaan takut langsung menjalari sekujur tubuhnya.

Taksi itu tidak bergerak sama sekali. Crystal mendekati taksi itu dengan ketakutan. Ia ingin sekali memarahi dan memukul pengemudinya habis-habisan. Ia mengintip jendela depan taksi, dan ia langsung berteriak ketakutan.

Ia melihat tubuh Cristy duduk di samping pengemudi, dengan tubuh terkulai, dan berlumuran darah.

Crystal berlari menjauhi taksi tersebut dan berusaha melupakan bayangan tadi. Ia sudah muak dengan darah. Ia tidak habis pikir bagaimana Cristy bisa ada di dalam taksi itu. Ia merasa ia sudah gila sekarang. Crystal terus berlari hingga ia hampir bertabrakan dengan Felix.

"Crystal, rupanya kau di sini, aku mencarimu ke mana-mana," seru Felix lega, kemudian berubah menjadi cemas, "kau tampak kacau."

Crystal memang tampak sangat kacau saat itu. Pakaiannya basah oleh keringat karena berlari seharian, dan rambutnya sangat berantakan. Kemudian, Crystal tidak tahan lagi dan langsung menceritakan segalanya kepada Felix. Tetapi Felix tampak tidak begitu mendengarkannya.

"Crystal, bagaimana kalau kita makan siang dulu sambil membicarakan ini. Kurasa kau belum makan apa-apa sejak pagi,"

Maka akhirnya mereka makan siang di sebuah restoran terdekat. Crystal sekalian mencuci muka di toilet. Betapa kagetnya ia saat melihat penampilannya di cermin. Ia seperti dikejar orang gila. Oke, pada kenyataannya ia memang diteror.

"Betul, Pak. Ia sedang bersamaku di Restoran Vista. Bapak bisa ke sini sekarang," Crystal tidak sengaja mendengar percakapan Felix di telepon.

"Kau menelepon polisi?" tanya Crystal marah bercampur sakit hati ketika Felix menutup teleponnya.

"Aku–tidak, Crys, kau salah paham–"

"Teganya kau! Kau anggap aku ini apa? Kriminal?" teriak Crystal sakit hati dan kemudian pergi meninggalkan Felix.

"Crystal, kau salah paham! Ibumu mencarimu!" teriak Felix.

Crystal tidak mempercayai Felix. Ia berlari meninggalkan restoran sementara Felix mengejarnya. Ia terus berlari sekencang-kencangnya. Ia tidak percaya bisa-bisanya Felix melaporkannya pada polisi.

Setelah ia merasa aman dari kejaran Felix, ia berhenti. Lagi-lagi ia menangis. Ia merasa hari ini ia sangat cengeng. Badannya sakit semua akibat lari seharian.

Tiba-tiba ia merasa menyesal tidak mendengarkan Felix. Tidak mungkin Felix melaporkannya pada polisi. Barangkali Crystal terlalu paranoid. Maka ia berjalan menuju ke rumah Felix dengan tertatih-tatih. Ia belum makan sejak pagi, dan tadi ia hanya sempat meminum sedikit air di restoran.

Dengan susah payah, akhirnya ia sampai di depan rumah Felix. Ia mengetuk pintu rumahnya, tetapi tidak mendapat respon apapun. Mngkin Felix tidak ada di rumahnya, padahal hari sudah menjelang sore.

Ia mencoba membuka pintu, dan pintunya tidak terkunci. Felix memang terkadang lupa mengunci pintu rumahnya, dan sekarang hal itu menguntungkan Crystal. Ia bisa mengambil sedikit makanan dari rumah Felix. Oke, kedengarannya memang seperti pencuri, tetapi toh ia sudah sangat lapar sekarang.

Baru saja ia memasuki rumah Felix, dan ia tidak kuat untuk berteriak lagi. Sekujur tubuhnya bergetar ketakutan.

Felix terkapar di ruang tamunya, dengan tubuh tersayat-sayat dan berlumuran darah. Crystal berlari keluar rumah dan menemukan beberapa orang polisi yang hendak menuju ke rumah Felix. Tanpa berpikir panjang, Crystal mendobrak mereka dan berlari menjauhi rumah Felix sekaligus para polisi tersebut.

"Hei! Berhenti!" para polisi mengejar Crystal.

Crystal tidak habis pikir bagaimana semua ini bisa terjadi. Para polisi mengira ia adalah pembunuh sekarang. Crystal berpikir, jangan-jangan semua kecelakaan ini disengaja. Ada orang yang menerornya. Tetapi siapa yang melakukan semua ini? Padahal selama ini ia tidak pernah memiliki musuh atau semacamnya. Crystal benar-benar takut. Masa depannya hancur sekarang.

Setelah ia lama berlari, akhirnya para polisi itu tidak mengejarnya lagi. Crystal terlalu lapar. Ia melihat seorang anak kecil yang membawa sekantong roti. Ia langsung merebutnya dan berlari meninggalkan anak kecil yang menangis.

Setelah memakan dua buah roti, Crystal merasa lebih bertenaga. Hari menjelang malam dan ia tidak tahu harus kemana. Rasanya ia ingin bangun dan mendapati semua ini hanya mimpi. Semua kejadian ini berlangsung begitu mendadak. Begitu mengerikan.

Ia berjalan sepanjang jalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Hari semakin malam, dan tiba-tiba ada sebuah taksi kuning melaju dari kejauhan.

Segera saja Crystal berlari dengan ketakutan, sementara taksi itu terus mengejarnya. Ia akhirnya memasuki sebuah gang sempit dimana taksi itu tidak dapat melewatinya. Ia merasa lega. Ia hampir kehabisan nafas.

Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya. Betapa kagetnya ia karena orang itu adalah Felix! Crystal mundur beberapa langkah sambil ketakutan, sementara Felix mendekati Crystal sambil tersenyum sinis.

"Kau–kau kan sudah..." kata Crystal kaget.

Crystal terus melangkah mundur dan ia benar-benar lemas ketika melihat taksi kuning itu berada di belakangnya, di ujung gang, seolah sedang menunggu kedatangannya. Sekarang Crystal benar-benar terpojok.

Crystal benar-benar tidak mengerti. Jangan-jangan Felixlah yang berada di balik semua kecelakaan ini. Tapi, bagaimana mungkin....?

"Jadi selama ini kau yang... Tapi bagaimana–" Crystal tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

elix tertawa. Lama-lama ia tertawa semakin keras. Suara tawanya membuat Crystal merinding. Crystal ketakutan dan langsung mendorong Felix kemudian kabur.

Setelah keluar dai gang, ia melihat taksi kuning itu melaju ke arahnya. Ia berteriak ketakutan dan tidak sanggup menggerakkan kakinya. Seketika itu ada yang menarik bahunya. Crystal berteriak semakin keras.

"Crystal!" teriak seseorang yang menarik bahunya. Betapa leganya Crystal karena orang itu adalah Mama.

Crystal langsung memeluk Mama sambil menangis. Ia menoleh dan taksi kuning itu telah menghilang entah kemana. Kemudian Papa menghampirinya dan memeluknya. Crystal menyadari betapa rindunya ia terhadap orangtuanya.

Ia akhirnya melihat beberapa polisi dan mobil polisi mereka ada di situ. Mama dan Papa membawa Crystal pulang dengan mobil polisi. Awalnya Crystal tidak mau, tetapi Mama membujuknya, dan Crystal langsung mengiyakannya. Selama di mobil, Crystal menceritakan semuanya kepada Mama.

Sesampai di rumahnya, Crystal makan banyak sekali makanan. Rasanya ia sudah tidak makan selama berbulan-bulan. Setelah makan, ia menemui orangtuanya dan mendapati Papa sedang berbicara dengan seorang polisi. Crystal kemudian mendekati Mama.

"Ma, aku tidak ingin masuk penjara..." Crystal memeluk Mama sambil ketakutan.

"Crystal, Mama ingin membicarakan sesuatu denganmu," kemudian Mama membawa Crystal ke tempat yang lebih sepi.

"Ma, aku tidak bersalah... aku tidak mengerti, Ma... tapi Felix masih hidup–"

"Crystal, dengarkan Mama," potong Mama, "kau memang tidak bersalah, Crystal, sebenarnya semua yang kau lihat dan kau alami hari ini itu... tidak nyata."

Crystal memasang tampang terbingung yang pernah ia ekspresikan.

"Begini Crystal, kau mungkin terlalu stress, dan kau mengalami halusinasi. Tadi pagi dokter yang memeriksamu memberitahukan Mama kalau kau trauma akibat kecelakaan kemarin. Dan kau mungkin saja mengalami halusinasi,"

Crystal lebih memilih tidak makan seharian ketimbang mengetahui informasi ini. Ternyata ia telah gila.

"Crystal, kau tidak gila, mungkin dengan terapi kau akan sembuh," kata Mama seolah mengetahui pikiran Crystal.

Rasanya Crystal seperti ditinju keras-keras. Ternyata semua yang dia alami hari ini, mulai dari taksi kuning hingga Felix yang gila, semuanya tidak nyata. Semuanya hanyalah halusinasinya.

Crystal akhirnya menurut semua perkataan Mamadan menjalani terapi. Setidaknya ini sudah lebih baik. Ia tidak akan diterorlagi, selama Mama terus bersamanya. Segala mimpi buruknya telah berakhir. Danbeberapa bulan kemudian, Crystal benar-benar sembuh, terlebih lagi, Cristysudah sadar, walaupun Cristy mengalami amnesia.

----------

Kembali ke Beranda