Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
The Clock’s Game
“Salah satu alasan kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah karena kita tidak akan pernah siap saat menghadapi kejadian buruk yang akan datang. Kita akan menjadi sangat merasa buruk sebelum hal buruk itu tiba.”“Apa kalian tidak lapar?” Rena memandang jendela yang berembun. Di luar, hujan sangat deras sekali, belum lagi kabut yang menutupi pemandangan luar sehingga keadaan lebih gelap dari waktu yang seharusnya. Udara dingin serta keadaan sekolah yang sudah sepi membuat Rena ingin sekalian uji nyali saja. “Ha, apakah kita sedang simulasi kehidupan di hutan tanpa makanan dan ancaman hantu?” Sarkasnya lagi sambil menghentakkan kaki. Sedangkan yang diajak bicara menghiraukannya, malah, asik sendiri.Intan, Mia, Nisa dan Aura—yang setengah mengantuk—diam di bangku berhadap-hadapan. Ini adalah ritual hari ke tujuh setelah pulang sekolah, mereka berlima akan berdiam diri di kelas sampai pukul lima sore. Jika kalian bertanya untuk apa, maka yang kalian dapatkan hanyalah seperti Rena. Diabaikan. Tapi jika kalian antusias, kalian akan bergabung dalam tim dengan dukungan penuh.Jadi, ada sebuah ‘dongeng’ turun temurun mengenai sekolah ini. Jam yang dimiliki kelas dimana tempat mereka diam adalah jam kuno yang bisa berbunyi untuk memberikan sinyal dan kode jika ditanyai mengenai hal yang belum diketahui. Syaratnya adalah diam di kelas dari pukul tiga sampai lima sore selama enam hari berturut-turut (meski hari libur) tanpa makan dan minum. Juga, hanya diizinkan membicarakan hal yang baik-baik. Singkatnya, jam ajaib tersebut bisa berkomunikasi dengan cara tertentu tepat di hari ke tujuh.Maka dari itulah mengapa mereka—kecuali Rena sangat antusias untuk coba melakukan dongeng ini dengan alibi pembuktian. Padahal, mereka memang kurang kerjaan saja. Dari awal, Rena tidak setuju karena pantatnya sangat pegal jika hanya duduk dan berbicara yang manis-manis, jadi kemungkinan jika dongeng itu nyata, perempuan itu tidak akan mendapatkan jawaban yang menyenangkan dari jam kuno tersebut.Dalam kategori mematahkan mitos, Rena memang tergolong sompral, tapi masih saja dipaksa untuk ikut karena syarat lainnya adalah anggota harus ganjil. Jadi, jika perempuan itu berkata aneh-aneh maka tidak akan dijawab. Bahkan, terkesan dimusuhi sesaat.“Kalian itu hanya manusia-manusia gabut yang banyak tanya. Memangnya, apa yang mau ditanya? Pekerjaan? Jodoh? Anak? Kita kan baru kelas dua belas. Lagipula, kenapa percaya dengan benda mati seperti itu.” Rena menghampiri keempat temannya dan berbicara seolah sedang demo di kantor balai desa. Rusuh. “Diamlah, aku yakin kau juga penasaran.” Nisa menjawab dengan nada dingin. “Wow, aku jadi merinding, sob. Kalian biasanya cerewet seperti kaleng rom—”Suara gedebuk dan gemuruh petir secara bersamaan membuat semuanya terkejut. Tepat pukul 16.30, di hari ke tujuh, inilah hal yang ditunggu-tunggu. Aura yang tadinya setengah mengantuk pun langsung merasa segar sambil mencoba bersembunyi di balik punggung Nisa.“Apa dongeng ini nyata?” Aura mendadak gemetar. Pandangan Intan berpendar saat lampu kelas tiba-tiba saja menyala. Ia langsung tersenyum dan memegang jam kuno tersebut. Rena yang memandang Intan hanya merutuk kata sinting karena di saat yang lain merasa takut dan gemetar, hanya Intan yang antusias sambil tersenyum.“Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan pertama. Jam kuno, apakah aku akan mendapatkan nilai bagus setelah lulus?”Jam tersebut berbunyi. Ada kepuasaan dalam hatinya karena dapat memenuhi syarat serta keuntungan melakukan hal menantang seperti ini. Mia yang terkejut langsung meraih jam tersebut, mengecek apakah ini hasil kejahilan temannya atau memang betulan ajaib.“Secara logika, kau memang selalu mendapatkan nilai bagus, kenapa harus memberi pertanyaan basic seperti itu? Kita saja bisa menjawab kalau soal itu.” Tutur Nisa yang membuat Mia merasa mendapatkan ide brilian.“Begini saja. Jam kuno, aku tahu kamu ajaib, bisakah kamu memperlihatkan jodoh masa depan Intan. Tolong buat seolah-olah ia sedang lewat di depan kelas.”Keempatnya tentu terkejut dengan pertanyaan Mia. Ah, perempuan yang suka berpikir absurd itu melakukan aksinya ditengah situasi seperti ini. Namun, bagaimanapun, ini pertanyaan yang menguntungkan bagi Intan.Sepoi angin perlahan menerbangkan gorden jendela, walaupun keadaan luar yang sedikit gelap karena kabut, tapi kemunculan sosok laki-laki bertubuh tinggi melintasi kelas masih dapat terlihat. Laki-laki tersebut sangat tampan dengan buku di tangannya. Mungkin usianya tiga tahun lebih tua. Intan yang mengetahui hal itu langsung berteriak kegirangan.Aura yang melihatnya langsung mengambil jam tersebut. “Jam kuno, apakah aku akan berkesempatan untuk memiliki Jimin BTS?”Sesaat hening, tidak ada tanda-tanda apapun. Bahkan jarum jam ajaib itu berhenti sepenuhnya.“Apakah itu tandanya ya?” Tanyanya tetap optimis. “Sepertinya tidak. Bangunlah, buat pertanyaan yang lebih memungkinkan,” jawab Nisa seraya mengambil jam tersebut. “Jam kuno, aku sudah lama mencintai laki-laki, tapi laki-laki itu punya pacar. Apakah bisa saja mungkin dia menyukaiku kembali?”Papan tulis di depan berbunyi sebentar, spidol yang ada di sampingnya perlahan bergerak untuk menuliskan sesuatu. Ini adalah pemandangan luar biasa, rasanya seperti sebuah sihir melihat benda bergerak sendiri. Jam kuno tersebut juga tampak hidup lagi.“Selalu ada kemungkinan. Namun, kemungkinan itu tidak selalu jadi pembenaran.”“Dunia juga menyuruhmu untuk bahagia, Nis.” Aura menepuk pundak Nisa. Meski tulisan itu tidak menyangkal maupun membenarkan, sepertinya itu cukup sebagai jawaban.“Kalau begitu, jam kuno, apakah aku akan bahagia?” Tanya Nisa lagi. Jam tersebut berbunyi. Tentu saja, kenapa harus terus merasa buruk jika ada kesempatan hari esok yang lebih baik?“Apa kau mau bertanya juga, Rena? Sebelum aku memberikan pertanyaan lebih aneh lagi. Aku tidak mau bertanya soal cinta, berhubung aku sudah memiliki pasangan.” Mia mengangkat jam tersebut seperti sedang promo diskon. Yang ditanya hanya menggeleng malas, “Aku tahu jawaban yang aku dapatkan tidak akan baik.” “Hei, aku juga dapat jawaban yang tidak menyenangkan. Tapi dengan sensasi seperti ini rasanya sangat menyenangkan,” ucap Aura dengan percaya diri. Mia langsung menyahut, “Bukan tidak menyenangkan. Tapi sebetulnya kau bertanya sesuatu yang sudah kau ketahui apa jawabannya. Bertanyalah seperti pertanyaanku, pasti ada jawabannya. Nis, mau bertanya juga seperti Intan tadi?” Nisa menggeleng, “Soal itu, biar waktu saja yang menjawab, aku suka kejutan daripada spoiler detail seperti ini.”Intan mengambil jam tersebut dengan semangat. “Sudahlah, kita hanya bersenang-senang. Tidak ada resiko atau efek samping, kok. Justru dengan ritual yang sudah kita penuhi, kita dapat bertanya pada jam ini kapan saja asal sedang berlima dan sore hari.” Ia sedikit mengangkat jam itu, “Bolehkah kami melihat jodoh Rena seperti apa? Dia tidak pernah bercerita. Juga, dia yang paling tua, kami tidak mau melihatnya terus sendirian.”Aura, Nisa dan Mia sedikit tertawa ketika mendengar itu. Baiklah, pada akhirnya sifat iseng mereka keluar juga setelah menjadi seperti patung selama dua jam. Tidak lama, ada sosok yang kembali lewat di depan kelas, tapi herannya, sosok tersebut adalah seseorang yang sama saat tadi Mia memberikan pertanyaan untuk Intan.“Lho, kok, laki-laki itu lagi? Maksudnya, dia akan selingkuh? Poligami? Atau kesalahan teknis?” Heran Mia.Lampu kelas tiba-tiba padam, diiringi decitan pintu terbuka lebar. Laki-laki itu mendadak menghilang. Sebuah angin yang lebih dingin masuk. Spidol tersebut kembali bergerak untuk menuliskan sesuatu.“Tidak, dia akan bersama temanmu yang paling tua untuk beberapa tahun sebelum beralih pada temanmu yang bertanya tadi, alasannya karena ia akan mati.”Suasana menjadi hening. Tidak ada percakapan apapun. Begitupun dengan Intan yang memandang terkejut ke arah temannya yang kini hanya diam memandangi tulisan itu. Jadi, mungkin, sebenarnya ada efek buruk dalam dongeng ini. Jam kuno tidak akan memanipulasi atau menyembunyikan hal buruk yang seharusnya terjadi. Tentu, selalu ada kemungkinan hal buruk bersama hal baik, itu akan selalu beriringan. Tidak bisa disingkirkan salah satunya.“Jika kita mau membuka hal baik, hal buruk juga tidak akan menutup. Itulah konsekuensinya.” Perkataan Aura membuat Intan semakin merasa bersalah, apakah ini dampak sifat sompral Rena selama enam hari atau kenyataan pahitnya memang seperti itu? Semoga ini hanyalah sebuah hukuman.“Salah satu alasan kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah karena kita tidak akan pernah siap saat menghadapi kejadian buruk yang akan datang. Kita akan menjadi sangat merasa buruk sebelum hal buruk itu tiba,” tambah Nisa. Intan gelagapan sembari mencoba semangat, “Ah tidak, ini hanya permainan ‘kan? Anggap saja itu sebagai hukuman karena kau bicara sembarangan selama enam hari ini. Lebih baik kita tanya ulang saja, bukan begitu?”Rena yang masih menatap papan tulis mengembuskan napasnya. “Tidak usah. Ini memang konsekuensi mendahului takdir. Seharusnya kau merasa senang karena memiliki masa depan yang cerah.” Intan mencoba menghampiri Rena dan merangkul bahunya, “Tidak, tidak. Jam kuno itu berbohong. Bagaimana kau begitu yakin, bukankah kau juga tidak percaya? Aku juga berjanji tidak akan percaya.” Rena menoleh, ekspresinya sangat datar. “Sejak pertanyaan Mia yang aneh itu, aku percaya.” “Tapi, bagaimana? Itu semua belum terbukti.” “Tidak. Laki-laki yang tadi melintas lewat kelas kita adalah kekasihku satu tahun terakhir.”
Sungai Bidadari
Sebentar lagi liburan akhir semester tiba. Aku, adikku dan saudara-saudaraku akan pergi ke sebuah sungai. Ya, sungai Bidadari namanya. Letaknya berada di daerah Sentul Bogor. Konon katanya, sungai tersebut menyimpan misteri yang cukup menggelitik untuk ditelusuri. Pasalnya, di tempat tersebut ada cara yang unik untuk memancing ikan. Kasak-kusuk dari penduduk, jika kita tepuk tangan di dasar air sebanyak tiga kali, maka ikan-ikan akan datang menghampiri.Hmms, jadi penasaran. Benar ngga ya kira-kira. Maka dari itu. Aku, adik serta saudaraku juga sudah tidak sabar ingin mengunjunginya.Tadinya sih aku ingin mengajak temanku juga, namun di tahun ini mereka memilih berlibur bersama keluarganya. So, aku putuskan untuk liburan tahun ini aku mengajak adikku dan saudaraku untuk pergi kesana. Kebetulan di sana juga ada vila milik paman yang bisa dijadikan tempat untuk singgah.Hari yang dinantikan telah datang. Sebelum berangkat kami pun berpamitan pada orang rumah. Perjalanan yang ditempuh sangatlah panjang tepat pukul 10.00 kami tiba di kawasan Bogor. Namun itu belum ke tempat tujuan. Karena untuk mencapai ke tempat tujuan kami masih harus menempuh perjalanan dua jam lagi. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju sungai. Kami putuskan untuk singgah di vila milik paman yang lokasinya bisa sampai dalam waktu lima menit saja, dari tempat yang kita lalui saat ini.Beberapa jam kemudian. Akhirnya kita sudah sampai di tempat ke tempat tujuan. Saat pertama kali mengijakkan kaki, kami sudah disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Keindahan alam dan jernihanya sungai mampu membuat kami terpesona. Hingga kami ingin mengabadikannya dalam sebuah foto. Namun, saat kami sedang asyik berfoto. Tiba-tiba Cindy adikku menunjukkan raut wajah ketakutan. Aku pun bertanya padanya. “Cin. Kamu kenapa?” Tiba dia berkata “Barusan aku melihat. Sosok perempuan menyerupai duyung, kak.”Konon menurut orang yang sudah berkunjung ke sungai ini, terdapat rumor yang beredar. Selain kita bertepuk tangan di dasari air, akan ada ikan menghampiri ada juga yang mengatakan jika di dasar sungai ini ada penghuninya. Tak heran kami semakin ingin mencari tahu. “Waahhh, di mana Cin?” dia pun menunjuk ke dasar air sebelah kanan. Hingga saat aku mengikuti arahan tangan Cindy aku pun melihat sosok perempuan duyung yang Cindy maksud. Hingga akhirnya aku dan Cindy sama-sama menutup mata, sambil berjalan beriringan menyusul rombongan.Dan saat kami sedang berjalan tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh punggungku dan Cindy. Dan ahhh… hal itu membuat kami berteriak. Namun saat kami membuka mata, ternyata sosok Tristan yang memegang pundak kami. “Hmms, gila kamu ya. Udah tau kita lagi takut, malah makin nakutin”. Namun Tristan malah menertawakan kami dan bertanya “kalian takut apa sih? orang di sini ngga ada siapa-siapa”. Seketika kami pun melihat ke sekitar sungai, yang ternyata di sana tak ada siapa-siapa.Keesokan harinya Hari ini kami akan berkunjung ke sungai itu. Tak lupa kami membawa makanan, minuman, tikar serta kamera untuk mengabadikan momen.Puk! Puk! Puk! Saat kami sudah sampai di sungai. Aku melihat seorang anak kecil, duduk di dasar sungai seperti sedang memanggil ikan. Hingga saat aku ingin menghampiri anak itu. Elsa menarik tangan kananku, hingga tiba ia berkata “kak. coba liat deh”. Aku pun mengikuti arahan tangan Elsa yang menunjuk pada ikan yang sangat besar yang sedang digenggam oleh anak itu. Hingga aku diikuti yang lainnya langsung menghampiri anak itu. Saat aku sudah berhadapan dengan anak itu. Tanpa berasa-basi lagi aku pun bertanya. “De, kok bisa sih kamu melakukan hal itu, memangnya kamu tidak takut?” di sini kan serem. Dengan wajah polosnya dia berkata. “aku ngga takut kok, kak. Lagiankan di sini ngga ada apa-apa”Saat aku mengamati wajah polosnya, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi terlebih anak kecil itu sudah mengambil ikannya dan diberikan padaku. Akhirnya aku pun menerima pemberian anak itu. Namun saat ikan itu berada di tanganku. Wuss! Aku merasakan hembusan angin kencang melewati punggungku. Namun saat ku menoleh ke belakang di sana tak siapa-siapa. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan menghampiri rombonganku.Saat aku sedang asyik berjalan, aku kembali melihat sosok yang pernah kulihat, bahkan saat ini dia hendak mengejarku dengan kedua tangan yang terulur seperti ingin mencekik leherku. Hingga aku pun mempercepat langkahku. Hingga saat aku berlari Vino datang menghampiri dan menarik tangan kananku agar berlari lebih cepat lagi.Saat aku dan Vino sampai di dasar sungai, terlihat adikku Lily dan Agnes sedang membakar ikan, hingga akupun memberikan ikan itu pada Lily dan Agnes agar segera dibakar, aku pun mengatakan pada Lily ikan itu adalah pemberian dari anak kecil yang ada di dasar sungai.Tepat jam 12.00 kami menikmati makanan dan minuman yang sudah terhidang. Namun saat aku akan memakan ikan sudah ada di tanganku, aku melihat mata ikan itu seakan menatapku tajam. Prang! spontan kujauhkan piring itu aku pun berlari dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada di salah satu sudut sungai.Setelah kami selesai makan, Vino yang penasaran akan sikapku yang aneh saat memakan ikan mencoba mendekatiku untuk memastikan apa yang sudah terjadi. Pasalnya yang melihat keanehan pada ikan itu hanya aku saja, sementara yang lainnya terlihat begitu lahap memakan ikan pemberianku.Aku pun menceritakan apa yang sudah terjadi pada mereka, hingga Vino yang semakin penasaran dengan ceritaku. Mencoba memancing ikan di sungai dengan cara yang sudah kukatakan.Prok! Prok! Prok! Namun pada saat tepukan ke dua ikan yang diharapkan tak juga muncul. Hingga hal itu membuat Vino kesal dan ingin beranjak pergi, lalu aku yang masih diselimuti rasa takut mencoba menahan Vino untuk pergi dan menyuruh Vino untuk melakukan tepukan sekali lagi. Prok! Prok! Prok! akhirnya pada tepukan ketiga, aku melihat ada sesuatu yang bergerak dari dalam sungai itu. Hingga tak lama kemudian datang seekor ikan besar. Akhirnya Vino pun mengambil ikan itu, lalu segera berlari untuk mencari tempat agar ikan itu dapat dibawa ke vila.Sesampainya di vila, vino menyimpan ikan itu pada bak kamar mandi. Namun sejak ikan itu ada di vila tempat kami menginap, aku semakin merasa ada yang janggal. Setiap malam aku selalu merasa ada sosok yang menghampiriku dan mengawasiku, namun saat ku menoleh, lagi-lagi sosok itu menghilang. Aku yang makin takut akan sosok itu akhirnya memutuskan untuk membuang ikan itu. Namun, Vino serta yang lainnya tidak setuju dengan keinginanku, pasalnya saat ini hanya aku saja yang diikuti oleh sosok itu. Hingga aku pun memutuskan untuk membuang ikan itu tanpa sepengetahuan mereka.Saat menjelang tengah malam, ku berjalan mengendap-ngendap sambil membawa ember yang berisikan ikan itu, namun baru saja aku mengijakkan kakiku di ruang tamu. Tiba-tiba mata ikan itu menatapku tajam dan seolah ingin lompat menghampiriku, spontan kujatuhkan ember yang masih berisikan ikan itu, hingga airnya membasahi lantai dan ikan pun terkapar di lantai, seperti akan kehabisan napas. Namun aku tak mempedulikannya, hingga aku memilih untuk kembali ke kamarku dan menutupi wajahku dengan selimut tebal, bergegas untuk tidur berharap esok akan segera tiba.Saat menjelang pagi. Hal yang mengejutkan kembali terjadi, pasalnya ikan yang ingin kubuang tengah malam, kembali utuh dan genangan air pun sudah tak ada, karena saat aku bangun adiku serta saudaraku masih tertidur pulas. Aku pun memutuskan untuk menghubungi dokter pribadiku agar beliau datang kemari dan memeriksa keadaanku.Satu jam kemudian Dokter Mischel datang lalu memeriksa keadaanku, namun saat beliau memeriksa keadaanku. Beliau mengatakan jika aku baik-baik saja, akhirnya aku pun menceritakan apa yang kualami pada dokter Mischel. Namun saat aku sedang menceritakan semuanya tiba-tiba anak yang pernah memberiku ikan itu datang bersama seorang wanita cantik, seorang bapak dan seorang nenek. Kemudian wanita itu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Jika sebenarnya mereka bekerja sama dengan adik serta saudaraku untuk menakutiku, dimulai dari anak kecil yang memanggil ikan dengan tepukan tangan, sebenarnya ikan itu ditarik dari dalam oleh beliau agar dapat menghampiri anak tersebut pada tepukan ketiga, sosok duyung yang menampakkan diri sebenarnya adalah dirinya yang menggunakan kostum duyung hingga mata ikan yang melotot itu sebenarnya di badan itu sudah dipasangkan batre hingga saat ada orang yang ingin menyentuhnya, ikan itu otomatis menajamkan matanya.Vino pun akhirnya angkat bicara dialah yang membersihkan lantai, memang batre hingga memberikan kostum pada Mayang. Bahkan Cindy pun mengatakan jika sebenarnya dia hanya berpura-pura takut akan kehadiran Mayang yang saat itu memakai kostum duyung.Tristan pun ikut menjelaskan mengapa mereka merencanakan semuanya, tiba Tristan berkata. Mereka melakukannya agar aku tidak terlalu terobsesi pada hal-hal yang berbau mistis. Karna sebenarnya di sungai ini tak ada kaitannya dengan hal-hal gaib atau hal-hal berbau mistis.
Unknown Number
Dering ponsel mengganggu kegiatan membacaku. Aku melirik sekilas dan terdapat notif chat dari beberapa kontak. Aku mengambil benda pipih itu dan mulai memasukkan sandi guna membuka aplikasi berwarna hijau. Kugeser layarnya dan melihat beberapa chat yang belum sempat kubalas. Dirasa tidak ada yang penting, aku menaruh kembali benda itu di meja samping. Tetapi, bunyi dering kembali terdengar dan mengganggu konsentrasiku.“Hhh siapa sih?!” geramku dengan kesal.Aku membuka aplikasi chatting lagi dan mulai menggulir, dan terlihat satu chat dari nomor tak dikenal berada diatas sendiri. Nomor siapa ini? Saat aku diam melamun, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal tadi. Siapa dia? Untuk apa menghubungiku malam-malam begini?Aku malas mengangkatnya mungkin orang kurang kerjaan. Sangat membuang waktu untuk meladeninya. Tapi, panggilan itu tidak kunjung usai. Dia terus meneleponku sampai 10 kali dan setelah itu berhenti. Tidak ada lagi panggilan masuk. Tetapi berganti dengan suara notif chat yang beruntun. Argh, aku berasa diteror!Aku segera membuka room chat dan kulihat pesan yang dikirimnya.‘Semua orang tidak mengetahuinya’ ‘Termasuk kau!’ ‘Hahaha’ ‘Hai’ ‘Dan’ ‘Sampai jumpa’ ‘Denganku lagi…’Aku mulai bingung dengan nomor ini dan menerka-nerka apa maksud dari chatnya. Apa maksudnya? Apa yang tidak diketahui? Sungguh! Aku merasa bahwa sekarang menjadi detektif yang sedang mencoba memecahkan misteri.Keesokan harinya aku bertanya pada temanku di kampus, apakah mereka mengenal nomor kemarin. Ternyata tidak ada yang tahu. Ya sudah, aku tidak akan memaksa otak dan ragaku untuk memikirkan hal konyol seperti ini.Tiga hari sudah berlalu semenjak aku dihubungi oleh nomor togel. Ia sudah tidak mengirim apa-apa lagi padaku. Tetapi, rasa penasaranku masih ada dan tentunya tidak seperti hari sebelumnya. Dengan segera ku membuka aplikasi chatting dan mengirim pesan pada sahabatku, apakah menonton bioskop malam ini jadi? Mereka menjawab ‘jadi’.Aku melirik jam dinding sedang menunjukkan angka enam petang, yang berarti masih ada waktu satu jam untuk bersiap-siap karena kami berencana untuk pergi jam tujuh.Sesampainya di bioskop, dengan segera kuhampiri teman-temanku yang sedang berdiri mengobrol di lobby, “Haiiii guyssss!” ucapku dengan semangat. “Akhirnya dateng juga, kangen huhuuu” ujar Tia sembari memelukku. “Iya nih, kangen. Lama kita ga pergi bareng kek gini, gara-gara tugas bejibun” timpal Zeyla. “Hahaha iya, yuk kita masuk. By the way, udah dateng semua kan?” tanyaku yang dibalas anggukan oleh mereka.Film pun usai, penonton segera berhamburan untuk keluar dari ruangan gelap ini. Kami saling berpamitan untuk pulang dan menaiki kendaraan masing-masing. Aku dan Mira searah jalan pulang jadi kami mengendarai motor berdampingan.Setelah sampai di rumah aku langsung menuju kamar mandi untuk membasahi diri karena merasa lengket. Sebelum tidur, aku mengecek ponsel terlebih dahulu dan melihat rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal itu. Aku tidak tahu bahwa dia mencoba menghubungi karena aku mengheningkan ponsel saat di dalam bioskop tadi. Dia mengirim chat lagi,‘3’ ‘Bertanya’ ‘Tidak tahu, lalu’ ‘Pergi’ ‘Menculik’ ‘Membekap’ ‘Dan semua orang tahu’ ‘Bagaimana akhirnya’Apa lagi ini!? Aku sudah muak dengan nomor ini. Darimana sih dia dapat nomorku? Apa jangan-jangan dia seorang hacker? Aarghh aku pusing memikirkannya. Siapapun dia, aku bersumpah untuk mengutuknya karena sudah meneror dengan hal tidak jelas, “siapapun kamu, akan kubalas!” ujarku dengan nada kesal, marah, dan jengkel.Hari berikutnya aku datang ke kampus dengan keadaan setengah mengantuk dan acak-acakan dan terburu-buru. Ini semua karena semalam begadang karena tidak bisa tidur memikirkan nomor aneh, “Udahlah lupain. Orang gaje malah diurusin. Noh, tugas masih antri” ucapku menegur diri sendiri.Ketika masuk kelas kulihat beberapa temanku sedang berbincang dengan heboh. Aku menghampiri mereka dan bertanya, “ada apa kok heboh begini?” “Ini lo harus liat,” jawab temanku. Mataku membelalak melihat isi artikel dari ponsel temanku, “ya ampun, kasian banget. Tega bener yang nyulik, ” Mereka mengangguk setuju, “he’em, katanya sih itu mahasiswi kampus sini dan ada rumor juga kalau dia udah dibunuh.”Aku menghela nafas dan menatap sendu artikel di ponsel. Dengan berjalan lesu aku duduk di tempat biasanya sembari menunggu dosen tiba. Karena merasa bosan menunggu, kuputuskan untuk membuka aplikasi online di ponsel yang sekiranya tidak membuat jenuh.“Apa nih?” gumamku seraya membaca artikel terbaru tentang pembunuhan. “Sebentar, sebentar… ini kan berita yang tadi ya? Telah ditemukan mayat seorang wanita diduga karena pembunuhan. Menurut warga setempat, pembunuhan terjadi pada malam hari saat warga sedang mengadakan ronda malam dan tercium bau tidak sedap dari gang sempit di daerah tersebut. Mereka pun menghampiri asal bau tersebut dan terkejut karena menemukan seorang mayat wanita. Dan warga mengatakan tidak ada barang-barang korban yang dicuri ataupun rusak. Kasus ini masih diselidiki lebih lanjut oleh polisi untuk mengetahui motif dari pembunuhan yang terjadi.” Aku membaca dengan teliti sampai suara teriak dari temanku membuat ku menoleh dengan cepat,“Eh woyy!!! Gue dapet info dari temen gue yang polisi, kata dia korbannya mahasiswi disini, pas di cek KTP nya namanya…. bentar dia masih ngetik, ” “Kampret lo Ben, cepetan” Hatiku mulai gelisah tidak karuan, entah kenapa firasatku tidak enak dan malah teringat pada nomor tak dikenal itu.“OHHHHH NAMANYA ALMIRA SAHEZYA!”Seketika mataku melotot dengan mulut menganga. Itu… itu nama temanku, Mira!Aku hampir tidak percaya pada berita ini sebelum notif chat beruntun dari nomor togel yang membuatku mengumpat kesal ingin membunuh orang itu.‘Pergi’ ‘Menculik’ ‘Membekap’ ‘Dan semua orang tahu’ ‘Bagaimana akhirnya’ ‘Sampai jumpa denganku,’ ‘Lagi…’TAMAT
Perjamuan Terakhir
Tulisan “Dijual” di tembok pagar rumah itu telah hilang, menandakan penghuni baru akan segera datang. Satu bulan yang lalu aku masih duduk di bangku taman rumah bertembok batu bata merah itu sambil menikmati secangkir teh bunga rosela dan beberapa keping biskuit lemon. Oma Irene sang pemilik rumah kerap mengajakku berbincang sambil duduk di bawah rindangnya pohon pinus. Namun sayang tiga minggu yang lalu Oma Irene pergi menyusul Opa Jan dalam keabadian.Aku menatap rumah bercerobong asap itu. Sepi, belum ada satu pun batang hidung pemilik baru yang nampak. Rumah itu memiliki desain yang sangat aku sukai. Halamannya yang luas banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Aku betah berlama-lama disana dan sama sekali tak berkeberatan menyirami semua tanaman bila Oma Irene pergi menengok anak cucunya. Kini aku merasa khawatir akan kehilangan suasana indah rumah itu seiring dengan kedatangan penghuni baru.Aroma segar pagi langsung menyeruak ke dalam kamarku ketika aku membuka jendela. Biasanya aku akan kembali melemparkan tubuhku ke atas ranjang dan menarik kembali selimut yang tersingkap. Hari minggu adalah waktunya bersantai sampai siang. Namun tidak hari ini karena pemandangan di bawah lebih menarik dibanding dengan empuknya ranjang dan hangatnya selimut patchwork buatan Mama.Dari ketinggian balkon kamarku, aku melihat seorang lelaki sibuk hilir mudik mengangkut barang-barang dari sebuah mobil box. Raut wajahnya dingin, kedua lengannya dipenuhi dengan tatto. Sesekali ia menatap ke jalanan yang lengang dan rumah-rumah lain termasuk rumahku. Aku menyembunyikan kepalaku di balik pagar balkon ketika secara tiba-tiba ia mendongak ke atas. Mendadak aku merasa tidak nyaman dengan keberadaan tetangga baruku itu.“Permisi.” Aku berhenti sebentar dari kegiatanku lalu menjelau ke luar pagar, tak ada siapa-siapa. Kupotongi kembali ranting-ranting mawar yang menyembul di antara pagar kayu.“Permisi.” Suara itu kembali terdengar dan kini sangat jelas. Aku terlonjak begitu melihat siapa yang menyapaku. Jantungku seakan mau copot. “Maaf, rumah Pak RT dimana ya?” Lelaki bertatto itu kini telah ada dihadapanku, terhalang rumpun mawar yang bergerombol melapisi pagar. “Eeeee… disana … nomor 20.” Aku menjawab dengan gugup sementara dia menatapku dengan tajam. Lalu ia pun membungkuk sambil mengucap terima kasih dan melangkah pergi. Sopan namun dingin.Kini setiap hari aku memiliki kegiatan baru yaitu memperhatikan polah tetanggaku yang telihat misterius. Ia tinggal di rumah itu sendiri. Papa pernah mengajaknya mengobrol ketika lelaki itu tengah membersihkan pekarangan rumah. “Namanya Ken, bujangan, blasteran Jepang.” Papa melirikku, senyum tipis menghiasi bibirnya. Aku mendelik. “Ken Watanabe? Kento Momota? Kentos kelapa?” Bibirku keriting, Papa tergelak. “Ken Hamada!” Seru Papa. “Kerjanya apa?” Mama bertanya tanpa menghentikan kegiatan merajutnya. “Punya usaha.” Jawab Papa pendek. “Ya, usaha apa?” Mama meletakkan rajutannya lalu memberi cangkir tehnya dengan pemanis rendah kalori. “Katanya sih bisnis yang berkaitan dengan menyenangkan orang.” Jawab Papa serius. Dahiku berkerut.Aku terbelalak ketika melihat lelaki yang mengaku bernama Ken itu tengah sibuk dengan dua bilah pisau berukuran besar yang ia gesekan satu sama lain sambil bertelanjang dada. Mata pisau itu nampak sangat tajam, berkilat di bawah sinar mentari yang garang. Terlihat deretan tatto berdesakan di hampir setiap inchi tubuhnya. Kuraih binokularku dengan segera, naga … ular … dan burung Phoenix, ah tak salah lagi.Kemarin aku melihatnya tengah membuat lubang di antara rumpun mawar dan sore ini aku melihat cairan merah kental tercecer di sepanjang jalan menuju rumahnya. Bau amis menguar ketika aku mendekati kendaraannya yang terparkir di jalan. Kuduga cairan itu adalah darah. Aku pun segera menyingkir dari sana ketika telingaku mendengar langkah kaki mendekat.Malam ini tetangga baruku itu telah membuatku memeras otak. Aku sangat penasaran dengan semua hal ganjil tentangnya Gumpalan rasa ingin tahuku pun meledak-ledak tanpa jeda.Lelaki bernama Ken itu memiliki bisnis dalam hal menyenangkan orang. Ayahnya berasal dari Jepang dan tubuhnya dipenuhi tatto yang spesifik. Tatapan matanya tajam, raut wajahnya dingin. Pisau, lubang, dan cairan kental berwarna merah itu ….“Ya Tuhan.” Jantungku berdegub kencang. “Ken pasti ada hubungannya dengan Yakuza yang menjalankan salah satu bisnisnya di sini. Bisa jadi ia adalah seorang pembunuh bayaran.” Aku berbicara pada diriku sendiri.Suara deru kendaraan membuyarkan semua hal yang ada dalam benakku. Dari balik tirai aku melihat kendaraan four wheel drive milik Ken keluar. Aku berpikir inilah kesempatanku untuk menebus semua rasa penasaran, kebetulan Mama dan Papa tengah menginap di rumah Kak Vera.Dalam keremangan lampu taman aku berjingkat menghampiri gundukan tanah yang berada diantara rumpun mawar. Bisa jadi enam kaki di bawah sana ada raga yang menanti untuk diungkap. Aku bergidik lalu meneruskan langkahku menuju teras.Tirai jendela berkaca besar itu tidak ditutup. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas apa yang ada di dalam sana. Mataku terbeliak ketika melihat banyak sekali jenis pisau yang tergeletak di meja. Dua buah katana menempel bersilangan di dinding, Sebuah busur lengkap beserta anak panahnya berdiri tegak di sudut ruangan berbatu-bata merah itu.Perlahan aku berjalan ke arah garasi yang terbuka, berharap ada sesuatu yang bisa menguatkan dugaanku. Di lantai terlihat masih ada noda-noda merah yang telah mengering sedangkan yang di jalan telah ia bersihkan sesaat setelah kegiatan angkut-mengangkutnya selesai.Rasa penasaranku kian memuncak ketika melihat tumpukan box kontainer di sudut ruangan, perlahan kubuka tutupnya. Belum sempat aku melihat isinya, sinar lampu halogen lebih dulu menangkap basah wajah terkejutku.Ken keluar dari kendaraannya dan menatapku heran. Sejenak aku terpaku namun segera menyadari situasi yang tengah terjadi. “Pus … pus … Bonnie … dimana kamu …” Aku merasa suaraku sedikit bergetar, aku tak bisa menutupi rasa takutku. “Vanya?” Ken menghampiriku. “Mmhhh … maaf, aku tidak permisi dulu masuk kemari. Aku mencari Bonnie.” Aku mencoba berkata dengan setenang mungkin. “Bonnie? Bukannya kemarin dia baru saja dikuburkan?” Ken menatapku penuh selidik. Deg. Mengapa aku bisa lupa hal itu. Aku mengumpat pada diriku sendiri. “Eh … ak …” Ken memandangi kakiku, aku baru sadar bila sandal yang aku gunakan terkena lumpur yang berada di dekat rumpun mawar tadi. Ken menatap mataku tajam.“Mmmhh … maaf atas gangguan ini, aku pulang, Papa dan Mama pasti mencariku.” “Tidak ada yang mencari kamu. Orangtua kamu pergi, ya kan?” Ken menghalangi jalanku. Aku tak mengerti mengapa dia mengetahui itu semua. Jangan-jangan dia tahu kalau selama ini aku memata-matainya. “Tapi ini sebuah kebetulan yang menyenangkan karena aku tidak perlu memaksa kamu untuk datang kemari.” Glek.“Yuk.” Ken meraih pergelangan tanganku lalu memaksaku berjalan. Aku berusaha melepaskan diri namun genggaman tangannya tak dapat dilawan. Perutku mendadak mual, aku ingin berteriak namun mulutku seakan terkunci rapat. Ya Tuhan, apakah aku akan menjadi korban berikutnya?Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, rasa takutku telah memburamkan akal sehatku. Kini aku ada dalam ambang kepasrahan. Aku hanya bisa berdoa bahwa hari ini bukanlah hari terakhirku berada di dunia. Bukankah keajaiban itu selalu ada?Aku melirik ke arah meja yang dipenuhi oleh berbagai macam pisau dan Ken mengambil salah satunya. Ia tersenyum kecil, meraih sebuah kacamata bergaya militer yang tergeletak di sofa. Ken kembali membawaku, melewati ruang keluarga, lorong lalu dapur, tempat di mana aku dulu sering membantu Oma Irene untuk membuat Ontbijtkoek, kue kegemaran putra sulungnya.“Kamu mau bawa aku kemana?” Aku memberanikan diri untuk bertanya dalam selubung ketakutan yang meraja. “Bukan kejutan kalau kamu tahu lebih dulu, ya kan?” Ken membuka pintu menuju ruang bawah tanah, ruang yang dulu digunakan oleh Opa Jan sebagai tempat penyimpanan botol-botol anggurnya yang bersejarah. “Aku tidak mau kesana! Dengar ya Tuan Hamada, aku akan berteriak sekeras-kerasnya.” “Teriak? Wah wah aku tidak menyangka tamu pertamaku ini sangat ekspresif.” Ken berkata dingin. “Ayo jalan, hati-hati dengan tangganya.” Ken membimbingku menuruni anak tangga.Kini aku terperangkap dalam kegelapan, Ken mendudukanku di kursi. “Tetap disini, jangan bergerak.” Begitu Ken menjauh, tanpa pikir panjang aku pun bergegas bangkit untuk melarikan diri. Namun sial, kegelapan bukanlah teman yang baik bagiku, aku terjatuh dan bibirku terantuk ujung kursi. Rasa perih menjalar dengan cepat.Tiba-tiba ruangan bermandikan sinar temaram. “Kamu mau kemana?” Ken menghampiriku yang terduduk di lantai. “Bibir kamu berdarah, tunggu sebentar.” Ken beranjak. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melesat ke arah pintu. Namun langkah lebar Ken mengalahkan usahaku untuk melarikan diri.Kini lelaki itu telah ada di hadapanku lalu membalikkan tubuhku menghadap meja. “Aku hanya akan mengajakmu makan malam, kenapa kamu malah blingsatan seperti ini?” Ken menunjuk meja makan.Oh tidak, apakah hidangan itu adalah perjamuan terakhirku sebelum dia … Aku menatap nanar meja besar dengan penataan yang sangat elegan itu. Tubuhku menggigil, aku menangis dalam keputusasaan.“Sudah jangan menangis, ini luka kecil kok.” Ken menyeka darah yang ada di bibirku dengan selembar serbet. “Tolong lepaskan aku, aku tidak bermaksud memata-matai kamu. Aku berjanji rahasiamu akan aman di tanganku.” Tiba-tiba keberanianku keluar dari persembunyiannya. “Rahasia apa?” Ken menatapku dengan bingung namun ia pun segera mafhum. “Ooh ini? Tidak, ini semua bukan rahasia, nanti juga akan banyak yang tahu terutama para pelangganku.” Lanjutnya santai.“Ken sebaik apapun kamu menyembunyikan semua perbuatan busukmu pada waktunya pasti akan terbongkar juga.” “Asal kamu tahu ya setelah kamu menguburku di ruangan bawah tanah ini, aku akan selalu menghantuimu, camkan itu Tuan.” Aku merepet, Ken melongo. “Kamu tidak bisa menutupi semuanya, bisnis menyenangkan orang, gundukan tanah di halaman, ceceran cairan merah, pisau serta senjata tajam di ruang tamu, dan semua tattomu itu adalah bukti.” “Satu lagi, kamu pernah bertanya di mana rumah Pak RT kan? Itu karena kamu harus mengukur jarak aman untuk semua tindak kejahatan yang akan kamu lakukan, apa aku salah?” Aku menggertak namun bergidik ketika menatap sang naga yang tengah menjulurkan lidahnya di lengan lelaki itu.Ken mengerutkan dahinya, raut wajahnya yang dingin berubah seketika, tawanya pun meledak. “Ya ampun, Vanya .. kamu terlalu banyak membaca novel thriller. Kamu kira aku akan menghabisimu karena aku tahu kalau kamu sering mematai-mataiku, begitu?” “Sini biar aku jelaskan.” “Aku tak butuh penjelasan, aku sudah punya bukti.” Mendadak keberanianku meledak-ledak. “Hmm ternyata perkataan Papa kamu benar bila kamu itu keras kepala. Tapi bagaimanapun juga, aku akan menjelaskan semuanya agar tidak ada salah faham diantara kita.” Ken tersenyum dan mempersilakanku duduk.“Vanya, aku adalah chef untuk restoranku sendiri. Bukankah restoran adalah salah satu bisnis yang dapat menyenangkan orang?” “Dan seorang chef memerlukan banyak pisau untuk mengolah makanan, iya kan?” “Gundukan tanah dekat rumpun mawar itu adalah tempatku mengubur beberapa buah semangka hasil panen seorang teman agar tahan lama.” “Beberapa senjata di ruang tamu adalah peninggalan moyangku yang kami dapat secara turun-temurun.” Ken menatapku, namun kini tidak sedingin biasanya. “Dan tentang rumah Pak RT. Vanya, aku ini penduduk baru di sini, aku wajib melaporkan keberadaanku.” “Apalagi, oh ya tatto, setiap orang memiliki hak untuk menggambari tubuhnya. Ular, naga, serta burung phoenix memang identik dengan Yakuza namun tak berarti aku ini salah satu dari mereka kan? Jangan mengada-ada.” Ken tersenyum simpul.“Semua analisaku tidak mengada-ada, aku punya bukti. Bagaimana dengan cairan merah itu? Kamu tidak bisa mengelak dari bukti yang satu itu.” Aku berkata galak, rasa takut ku mendadak lenyap. “Ah ya, darah? Itu memang darah tepatnya darah rusa, kebetulan saat itu plastik pembungkusnya sobek.” “Dan rusa itulah yang menjadi hidangan utama malam ini.” Ken tersenyum. Aku terhenyak mendengar semua penjelasan Ken, tubuhku kaku pikiranku buntu.“Vanya, sudah lama aku ingin mewujudkan hal ini.” Cleguk. Aku menelan ludah. “Sebuah konsep jamuan makan malam dalam kegelapan. Para tamu akan menikmati hidangannya tanpa melihat rupa dari makanan yang akan mereka santap.” “Dan malam ini aku ingin menguji cobakan konsep baruku ini.”“Sebenarnya aku mengundang orangtuamu juga.” Aku menelan ludah kembali, rasa malu menjalar di seluruh aliran darahku.“Jadi kamu bersedia kan menjadi tamu pertamaku dalam perjamuan malam kali ini?” Tanpa menunggu jawabanku, Ken langsung memadamkan lilin dengan sekali kibas.
Jiwa Yang Kosong
Namaku Reyna aku lahir dari keluarga sederhana. aku memiki saudara kembar namanya Reyhan kami selalu kompak dalam hal apapun. Hingga ayah dan ibu bangga pada kami. bahkan mereka berpesan pada kami agar kami bisa saling menjaga dan menyayangi satu sama lain.Pada suatu hari kami berencana untuk berlibur ke vila milik paman, di Bogor. Aku yang mengemudikan mobil. Reyhan duduk disampingku, sedangkan ayah dan ibu duduk di belakang kami. Saat kami sedang asyik menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu dan bernyanyi riang. Duar!…. Cekittttttttt! Tiba-tiba aku merasa menabrak sesuatu. Dan saat aku menoleh kebelakang. Ternyata aku menabrak seekor kucing hitam.Spontan aku langsung turun dari mobil untuk melihat keadaan kucing itu. Saat aku melihat keadaan kucing itu. Aku syok karena kucing itu mati mengenaskan dengan leher yang hampir putus dan kaki yang sudah putus.Ketika aku berniat untuk menguburnya. Reyhan malah melarangku dan mengajakku untuk segera pergi. Karena aku takut akhirnya aku mengikuti saran Reyhan untuk segera pergi. Saat aku bertanya mengapa Reyhan mengajakku untuk segera meninggalkan lokasi. Dia berkata “aku ngga mau dilaporkan oleh warga ke polisi dan akupun terlibat”. Bahan diapun menyuruhku untuk merahasiakan kejadian tadi pada kedua orangtua kami. Yang untungnya mereka sedang tertidur lelap. Hingga tak lama setelah kejadian. Reyhan memberiku botol minum yang dia keluarkan dari tas mini yang dibawanya.Namun dua hari setelah kejadian. Keadaan keluargaku jadi berubah. Kehangatan keindahan berlibur yang dibayangkan. Seolah sirna karena ayah kami sering bersikap aneh terlebih saat malam hari. Seperti pada malam ini. Tepatnya pukul 01.00 dini hari.Tiba-tiba ayah kami kejang-kejang, matanya melihat ke atas, bahkan kejadiannya berlangsung cukup lama dan membuat kami semua panik. ditengah kepanikan akupun segera memanggil seorang dokter untuk mengobati ayah. Namun sejak kejadian itu semakin hari sifat ayah makin aneh. Ayah jadi sering berbicara sendiri, marah tanpa sebab bahkan tiba-tiba menangis tanpa sebab. Tak heran jika Reyhan semakin marah dan memusuhiku.Bahkan kini bukan hanya Reyhan saja yang marah serta memusuhiku. Ibu hingga keluarga besar ayah juga ikut marah dan memusuhiku.
Tabir Surga Kelabu
Di keheningan waktu ini, tak kutahu engkau ada di mana. Kenangan fatamorgana yang pernah terbang di ufuk langit senja, masih kuingat. Aku masih saja terperangkap dalam putaran waktu. Alunan detik yang menjelma bak angin malam, begitu cepat berembus dan berlalu. Tumpukan buku tebal, lembaran-lembaran kertas, dan bolpoin yang berhamburan di mana-mana.Sebelum rangkaian aksara ini memanjang, kuingin memberitahu kalian. Kisah ini sebenarnya adalah sebuah curahan hati seorang anak IPA sekaligus santri tahfiz Qur’an. Satu hal penting lain yang perlu kalian ingat adalah bahwa tidak ada yang bisa melarikan diri dari takdir Tuhan.Aku mempunyai seorang teman, biasa dipanggil Zain. Jangan berfikir dia itu seperti Zayn Malik. Nama Zain sebenarnya adalah Jaenuri Ahmad. Dia sedikit aneh, sialnya lagi dia adalah teman satu kelas sekaligus teman sekamarku di pesantren. Yang kutahu, Zain itu pandai fisika, tapi tak bisa hitung-hitungan. Suka sejarah, tapi tak pandai menghafal. Beruntungnya, dia selalu menjadi juara Olimpiade bahasa Arab.Selain Zain, aku punya satu sahabat perempuan bernama Aisya. Dia suka pisang, tapi bukan monyet. Dia suka jadi vegetarian, tapi bukan kambing. Dia sangat suka jus wortel, tapi bukan kelinci. Dia suka aku, tapi… itu dulu. Sekarang? Ah, sudahlah. Diriku sendiri, hingga detik ini aku masih berpikir, siapa aku? Aku itu apa ya?Namaku Iqbal, tapi bukan Dilan. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku dibuang oleh ibuku ke sebuah pesantren tahfiz Qur’an di Jawa. Padahal, aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya pondok pesantren. Yang ada di pikiranku saat itu adalah tentang sebuah tempat kuno yang pastinya horor seperti penjara. Tapi sekali lagi, tak ada yang bisa lari dari takdir Tuhan.Jika kalian bertanya kemana ayahku? Ayah telah lama minggat dari rumah, setelah sebelumnya selalu bertengkar dengan ibu, mirip dengan adegan di sinetron-sinetron TV Indonesia, jika kalian pernah nonton, sih.Hari ini adalah malam Jumat, aku dan Zain mendapat giliran bertugas menjaga keamanan di pesantren. Ada banyak ruangan yang mengisi bangunan 7 lantai ini. Konon katanya, para santri dilarang untuk menghitung anak tangga ketika naik turun lantai 7 pesantren ini.Banyak rumor horor yang beredar dikalangan para santri. Dan yang terbaru adalah isu tentang nenek payung. Aku sebenarnya tak habis pikir, apakah kehadiran nenek payung itu untuk menyaingi popularitas nenek gayung? Atau malah kakek cangkul yang sudah go public?Malam ini, aku dan Zain akan berpencar. Zain mengamankan lantai 5 dan aku berada di lantai 7.“Bro, lu yakin mau keliling lantai 7 sendirian?” “Emang kenapa?” “Konon katanya nih, orang yang berjalan sambil menghitung tangga lantai 7, jika beruntung dia bakal dapetin apa yang diinginkan!” “Allahumma…. Yaampun Zain yang tamvan sejagad raya top markotop prikitiuww.. Ini tuh udah zaman nya hp android, kalo mau dapet apa-apa yang diinginkan tinggal pesen di go-jek, beres.” “Yaelah… kan gue cuma bilang, kali aja lu mau nyoba.” “Kalo emang bener, aku mau oppa-oppa Korea itu insaf jadi grub sholawatan aja!” “Sstttt… dasar halu!” “Udah ah, gue mau mangkat untuk menjadi abdi keamanan,” ucap Zain dengan gaya sok pahlawan. “Yaudah sono.”Aku mengikuti jejak Zain. Patroli malamku dimulai. Pukul 22.30, arloji yang kupakai berdetik kencang. Seiring dengan detakan jantungku. Aku berjalan menyusuri lorong lantai 7. Pintu-pintu kamar santri telah tertutup, menandakan semua sudah terlelap di alam mimpi masing-masing.Di penghujung lorong, aku menatap sebuah ruangan kecil rusuh tak terawat. Dari jendela luarnya yang penuh debu, kaca yang sedikit pecah, serta meja-meja usang di dalamnya. Sekitar 7 tahun yang lalu, ruangan ini sudah tak terpakai. Minimnya dana yang dimiliki pesantren membuat perbaikan ruang ini menjadi terbengkalai.Dulunya, ruang ini adalah ruang tunggu, tempat untuk orangtua santri yang ingin menjenguk anaknya. Ada ribuan kenangan manis disini. Mulai saat aku marah-marah pada ibu karena membuangku ke pesantren, momen haru saat ibu melepasku dan kembali pulang, hingga pada akhirnya ibu tak pernah kembali lagi ke sini. Aku mencoba mengingat, kala itu ibu duduk manis di ruangan ini. Tersenyum sumringah saat melihat aku berjalan dari kejauhan. Sore itu, ibu membawakan brownis coklat favoritku, sembari memberi petuah. “Nak, engkau sekarang tinggal di kota orang. Aku tidak mau menyebutmu anak rantau, sebab engkau tetap dekat dengan Ibu.” “Dekat darimananya? 780 km dari rumah itu jauh, Bu!” “Nak, kita itu dekat. Meskipun kita tak saling memandang, doalah yang menghapus jarak antara kita.”Aku menatap layar ponselku, berharap ada telepon masuk atau sekedar pesan singkat dari ibu. Di ponselku masih ada nomor hp ibu, walaupun sudah lama tak bisa dihubungi. Dalam aplikasi SMS ponselku tertera terakhir kali aku berkirim pesan dengan ibu. Kurang lebih 5 tahun yang lalu.27 April 2016 Baik-baik di sana Iqbal, jangan menangis karena rindu ibu 17.03 Haha, ibu meledekku ya :p Ibu, Iqbal akan segera pulang, tunggu di rumah ya! 17.09Beberapa minggu setelah itu, di penghujung bulan Mei aku memutuskan untuk pulang ke rumah. “Ibu… aku pulaanggg…,” teriakku di depan gerbang ketika baru saja tiba di rumah.Hening. Tidak ada jawaban, aku berjalan lurus ke dalam rumah dan menuju ke arah kamar. Sampai di depan pintu, aku mematung. Kulihat ibu sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Ibu pun tampaknya tak menyadari kehadiranku.“Ibu? Ibu mau pergi?” tanyaku cemas sembari berjalan mendekati ibu. “Ya Allah!! Iqbal.. kok tiba-tiba sudah sampai sini,” ucap ibu sambil menoleh dan memelukku. “Ibu mau kemana?” “Iqbal, ibu mau pergi sebentar, tidak jauh kok. Ada bisnis dengan teman SMA ibu dulu. Kamu di rumah sama nenek ya, jangan lupa jaga diri baik-baik, Nak!”Kurasa ingatanku berhenti sampai di sini. Aku tak lagi mengingat percakapanku kala itu, wajar saja, usiaku masih 12 tahun saat itu.Seminggu setelah keberangkatan ibu, aku kembali ke pesantren. Seringkali aku menelepon nenek, menanyakan apakah ada kabar dari ibu. Sebenarnya aku tahu, ibu tidak akan menelepon nenek, karena sebelum berangkat ibu telah berpesan bahwa di tempat ibu pergi tidak ada sinyal, dan mungkin ibu hanya bisa mengirim surat.Hampir setiap sore aku menghubungi nenek, memastikan apakah ada surat dari ibu untukku. Tapi hasilnya nihil. Pernah suatu ketika, saat aku bercakap-cakap dengan nenek lewat telepon, sering kali terdengar suara TV yang berisi berita korban tenggelamnya kapal. Aku tak berpikir panjang, memang sudah biasa nenek hobi menonton berita. Tapi hari itu, nenek berkata padaku bahwa ibu akan segera pulang, dan mungkin akan menjengukku di pesantren.Semenjak itu, setiap malam aku selalu berada di depan pintu pesantren. Bersiap menyambut kalau-kalau ibu datang menjengukku. Tiga minggu aku melakukan hal itu, namun nihil. Tidak ada tanda-tanda kedatangan ibu.“WOYY IQBALL!” teriakan Zain membuyarkan lamunanku. “Dasar kamu gentong! Ngagetin aja!” “Elu sih.. bukannya patroli malah ngelamun mulu. Tidur gih.” “Yaudah let’s go.” “Dasar kebo, giliran suruh tidur aja semangat 45.”Aku dan Zain berjalan menuruni tangga lantai 7. Menuju kamar tidur kami di lantai 6, belum ada 5 menit aku dan Zain tertidur pulas.“Iqbal.. Iqbal..” suara lembut seseorang sayup-sayup terdengar memanggilku “Hmm??” jawabku lirih tanpa membuka mata “Ada sesuatu yang tertinggal di lantai 7 Iqbal, bangunlah, ambillah benda itu di ruang tunggu.”Aku terperanjat, benarkah itu tadi ibu? Meskipun ibu telah lama meninggalkanku, aku masih ingat betul suara halusnya. Segera kupakai sarung dan kaos panjangku, berlari kencang menaiki tangga lantai 7, aku tak peduli dengan para santri yang menatapku berlari kencang di sepanjang lorong.Ruang tunggu yang rusuh dan terkesan angker tak membuat nyaliku ciut. Yang ada di fikiranku adalah ibu, aku ingin bertemu ibu. Aku yakin ibu telah menungguku disana.Beberapa detik saja, aku telah sampai di depan ruang tunggu. Cukup gelap, hanya ada lampu kecil warna kuning di dekat pintu. Terkunci, ruang tunggu ini sepi sekali, tidak ada siapapun disini. Tidak ada ibu. Apakah aku tadi hanya mimpi? Namun suara ibu begitu jelas. Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku yakin ibu ada disini, ibu pasti telah lama menungguku.Aku melihat ke dalam ruang tunggu, lewat jendela kaca yang pecah cukup lebar. Ada kertas coklat diatas meja. Tanganku meraba-raba meja itu, berusaha menggapai kertas coklat diatasnya. Benar saja, ini adalah amplop surat, seperti telah bertahun-tahun disini. Penuh debu dan sedikit terkena runtuhan material. Kertasnya pun tak lagi berwarna putih, sudah sedikit kuning, sangat usang. Perlahan kubaca satu demi satu rangkaian aksara surat ini. Mencoba menerka setiap makna yang tertera.Dariku yang merindukan dunia. Teruntuk engkau yang merindukan surga.Iqbal Fauzan, apa kabar putraku? Ibu tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Entah di usia berapa engkau akan membaca surat ini. Maaf, membuatmu menunggu kabar dari ibu. Ibu telah mengirimkan surat ini padamu sebelum ibu pergi.Namun saat itu, kata pengurus pesantren engkau masih ada pelajaran. Baiklah, ibu tak mau mengganggumu mencari ilmu. Ibu hanya berharap semoga pengurus pesantren tidak lupa memberikan surat ini padamu.Iqbal, ayah dan ibu pernah cemas saat engkau akan hadir. Tapi saat engkau benar-benar telah ada di dunia ini, ayah dan ibu sangat senang. Kami merasa memiliki harta yang tak ternilai harganya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ibu sadar. Bahwa semua yang ada di bumi ini milik Allah, dan semua akan kembali pada-Nya.Begitu pula ibu. Ibu pun milik Allah. Jika engkau merindukan ibu, ingatlah Allah. Mintalah surga pada Allah. Karena, ibu ada disana.Secarik rindu, dari aku, Ibumu.
Catatan Sejarah
“Alisa… bangun!” Aku tergelak, mencoba membuka mata. Di depanku sudah berdiri guru sejarah. “Dasar!” umpatku dalam hati.Aku tertidur lagi saat jam pelajaran sejarah. Pasti Bu Ayu akan menyuruhku berdiri di luar kelas yang sunyi dan menyeramkan.“Alisa! Sekarang juga kamu berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai!” seru Bu Ayu dengan wajah galaknya. “M-maaf, Bu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Berdirinya di depan saja, ya, Bu. Jangan di luar, seram,” kataku memelas. “Apanya yang seram? Ini masih siang, Alisa! Ayo berdiri sana! Jangan diulangi lagi!” ketus Bu Ayu.“Ahh… ini ketiga kalinya aku tertidur saat jam pelajaran Bu Ayu. Menurutku, sejarah itu sangat membosankan. Lagipula apa pentingnya mengungkit masa lalu,” gerutuku sembari berjalan menuju teras kelas.Detik demi detik berlalu, aku mulai bosan berdiri di sini. Keadaan memang siang, tapi suasananya selalu terlihat suram. Aku jadi merinding. Terlebih lokasi kelasku berada di belakang, jauh dari kelas-kelas lainnya.Aku memutuskan untuk mengirim sebuah chat kepada teman satu komunitasku, Meisya. Hari ini kelasnya sedang ada jadwal olahraga, barangkali ia mau menemaniku menghabiskan waktu pada menit-menit terburuk ini.Alisa: Mei, masih olahraga? Kantin kuy! 09.45Meisya: Sekarang? Oke, aku ke sana yaw! 09.48Sudah sekitar tiga puluh menit aku menunggu. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda kedatangan Meisya. Aku memutuskan untuk pergi ke lapangan belakang, mencoba mencari tahu keberadaan Meisya.Ketika aku akan melangkah, tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan. Tubuhku terasa membeku. Guguran salju berjatuhan mengenaiku. Aku melirik ke atas. Atap lorong kelasku berubah menjadi awan hitam yang kelam. Terdengar suara dentuman dari berbagai arah. Aku menggigil ketakutan.Belum sempat aku memahami keadaan ini, diriku terasa didorong dari ketinggian. Bruuukk! Lalu aku tersadar, berusaha bangun sekuat tenaga. Aku begitu kaget melihat diriku sendiri. Tubuhku dibalut oleh pakaian model kuno. Mataku menyaksikan pemandangan yang memilukan, tampak begitu nyata di hadapanku.Ini seperti keadaan kota yang mengalami perang dahsyat. Seluruh bangunannya porak-poranda. Juga terdapat beberapa tentara mengenakan baju zirah. Mereka berbisik-bisik tentang rencana penyerangan yang tidak kumengerti.Aku masih berdiri linglung saat tiba-tiba tanganku ditarik paksa. “Ara, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Pergilah! Ini berbahaya!” ucapnya setengah berteriak. “Siapa? Aku bukan Ara. Aku Alisa,” kataku. “Kamu ini bilang apa, sih? Ini bukan saatnya bercanda!” serunya.Aku teringat sesuatu. Keadaan yang aku lihat tadi, seperti gambar perang di buku sejarah. Bu Ayu sedang mejelaskan latar belakang mengapa perang itu terjadi, lalu aku tertidur. Apakah aku masuk dalam sejarah?Seseorang itu bernama Elisa. Dia adalah penulis terkenal di zamannya. Penulis yang memenangkan Nobel Perdamaian atas karyanya yang menggebu terhadap perdamaian dunia. Bagaimana tadi dia memanggilku? Ara? Seingatku, Ara merupakan asisten Elisa yang turut andil dalam setiap tulisan hebat Elisa. Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Jadi, aku sekarang memasuki tubuh Ara?Saat aku berusaha melengkapi potongan teka-teki ini, Elisa menghentikan langkahku. “Lihatlah! Sahabatku, Ara. Keadaan di kota kita semakin parah. Banyak penduduk tidak bersalah yang mati sia-sia karena perang saudara ini. Perang hanya akan membawa kesedihan, menurutku,” kata Elisa pilu.Hatiku terenyuh melihat keadaan para penduduk. Mereka benar-benar kasihan. Kejam sekali orang yang menyerukan perang itu. Elisa kemudian mengajakku ke sebuah rumah—menurutku itu rumahnya. Dari luar, rumah ini terlihat bergaya klasik dengan dua lantai lengkap bersama perabot antiknya.“Oke, Ara, perjalanan kita hari ini cukup sampai di sini. Silakan masuk dan istirahat yang cukup. Firasatku mengatakan besok akan ada petualangan yang lebih menantang!” ujarnya dengan tatapan penuh semangat. “Iya,” kataku. “Kenapa hari ini kamu banyak melamun? Hmm… ya… sudahlah. Mungkin kamu terlalu lelah. Selamat malam,” ujar Elisa diiringi senyum manisnya.Elisa pun menuju kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Ara. Sejauh ini, aku melihat bahwa Elisa memanglah seorang perempuan berjiwa mulia, baik dan ramah.Malam ini, aku tidak bisa tidur. Entah kenapa, bahkan kamar yang kutempati pun tidak buruk desainnya. Kuputuskan untuk menuju balkon saat ini juga. Menatap jutaan bintang beserta purnama yang indah. Seandainya pemandangan seperti ini juga muncul di permukaan bumi.Waktu menunjukkan pukul 23:30. Tiba-tiba perutku berbunyi, tanda bahwa aku mulai kelaparan. Sejak tadi aku belum makan atau minum apapun. Dengan langkah hati-hati, aku berjalan menyusuri rumah Elisa untuk mencari dapur. Saat kuyakin itu dapurnya, aku terkejut melihat Elisa.“Astaga! Aku kira tadi siapa, El,” kataku. “Maaf… maaf sudah membuatmu kaget. Kamu ngapain malam-malam ke dapur?” tanya Elisa. “Aku lapar, mau buat makanan. Kamu mau?” tanyaku sambil mulai mencari bahan untuk dimasak. “Tidak. Terimakasih,” kata Elisa sambil terus menatap bukunya. “Tapi, El, kamu ngapain masih baca buku? Nggak tidur?” tanyaku. “Jadi begini, Ra. Kamu mau nggak bantuin aku? Aku mau menulis sebuah buku tentang perdamaian. Supaya orang-orang sadar bahwa perang tidak ada gunanya. Perang hanya akan membawa kehancuran,” terangnya panjang lebar. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanyaku. “Tolong bantu aku cari referensi. Pasti akan butuh banyak,” jawab Elisa.Esok harinya, aku membantu Elisa mencari referensi untuk tulisannya. Kami pergi ke perpustakaan kota. Setidaknya, beberapa bangunan di kota sebelah barat—termasuk rumah Elisa—masih layak untuk digunakan.Selama berminggu-minggu aku membantu Elisa menyelesaikan bukunya. Tepat pada minggu ketiga, buku itu selesai. Namun, ternyata perjuangan kami belum usai. Masalah datang dari pihak penerbit. Berhari-hari aku dan Elisa mencoba menjelaskan tentang manfaat buku itu. Hingga pada detik-detik kami hampir menyerah, telepon rumah berbunyi. Salah satu penerbit mau menerima buku Elisa. Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Buku itu beserta penulisnya mendadak jadi perbincangan hangat.Tepat setahun setelah penerbitan, Elisa menerima Nobel Perdamaian. Tulisannya telah menyadarkan para pemimpin perang untuk memilih jalan damai.Sore ini, kami memutuskan untuk berbincang di balkon lantai dua. “Aku tidak menyangka bukunya akan sehebat ini,” kata Elisa sembari menoleh ke arahku. “Ini semua berkat bantuanmu, Ra,” imbuhnya. “Sebagai tanda terimakasih, aku mau memberimu sebuah cincin,” lanjut Elisa.Ketika Elisa mengenakan cincin itu padaku, aku merasakan tubuhku seperti ditarik ke dalam lubang yang sangat dalam dan gelap.Tiba-tiba, bruuukk! Aku terbangun. “Alisa! Bangun! Kamu ini, lagi-lagi tidur di kelas!” ucap Bu Ayu dengan nada tinggi. “Bu, bukannya saya tadi sedang di tempat kuno, terus ada perang-perangnya?” tanyaku setengah sadar. “Kamu ini mengigau ya? Cuci muka sana!” seru Bu Ayu.Saat di kamar mandi, aku merasa hal itu benar-benar terjadi. Tapi kenyataannya sekarang aku benar-benar ada di kelas, dunia nyata.Aku menyalakan kran dan mulai membasuh muka. Tanganku menengadah untuk mengambil air, dan ahhh…. aku hampir saja menjerit kencang. Cincin yang ada di jariku, persis dengan cincin yang diberikan Elisa.Aku bergegas kembali menuju kelas. Membuka buku paket sejarahku. Ada coretan bolpoin tinta merah tepat di halaman catatan perang.“Terimakasih telah membantu! Simpan baik-baik cincin perdamaian itu!” -ElisaJadi, apa maksud semua ini? Ataukah aku…
Jika Kau Hidup, Aku Rindu!
Hujan menemaniku dalam perjalanan pulang, tetesannya kejam dan pilu membuat semangatku meluntur, sesekali petir menyambar aku masih terjaga, menguatkan diriku, walau perjalanan mungkin masih jauh namun aku berusaha untuk tetap melanjutkan perjalanan.Handphoneku hampir meninggal dengan damai, lengkap dengan GPS ku, yang bisa dipastikan jika aku tersesat maka akan susah untuk kembali mengingat hari sudah hendak memasuki malam hari. Disekelilingku tidak ada rumah sama sekali, hanya aku, aspal, pembatas jalan dan pepohonan yang rimbun aku setengah was was, takut merinding dan sangat kelelahan.2 jam yang lalu undangan dari mantan kekasihku, dia menikah, aku pergi sendirian tanpa mengajak pacarku yang kebetulan masih menjadi rahasia Tuhan, dan sangat disayangkan pula otomatis aku pulang sendirian juga.Hujan masih belum reda, aku semakin memasuki kedalam hutan belantara di daerah Yogyakarta bagian timur, Gunungkidul, aku tak begitu mengingat jalan ketika aku berangkat, apalagi pulang, apalagi hari mulai gelap dan tentu diperparah dengan hujan yang mengguyur bumi tanpa henti, Dalam radius setengah kilo meter kulihat sekilas ada sebuah gapura besar, tinggi, tak begitu aku perhatikan nama gapura itu, aku memasukinya saja, namun tak kusangka, aspal hitam tanpa kusadari tiba tiba lenyap, berganti dengan tanah liat yang begitu licin, aku terperosok jatuh.Ssrtttt… Srt tt t.. Brukkk… Srut… Aku jatuh agak jauh, beberapa meter di depanku adalah jurang dan keberuntungan masih di pihakku.Tak ada yang menolong, tak ada yang membantu, hanya aku yang sangat kesusahan mengangkat motorku di tengah hujan, Di sekeliling hanya hutan pepohonan yang rimbun, aku bergidik, bulu kudukku merinding, kutengok ke kiri dan ke kanan tak kutemui satupun rumah ataupun cahaya, hanya saja ada satu cahaya yang agak gelap di arah lurus jalanku tadi, Aku bergegas menuju kesana. Kupacu sepeda motorku.Sesampai di cahaya yang aku maksud, Seorang wanita tua bersanggul mengenakan kebaya, membawa sebuah lampu petromak, lampu independen jaman dulu, tampak di depan rumahnya, Di tangan kanan wanita itu memegang petromak, tangan kirinya memegang tongkat, Dalam hujan deras aku memperhatikannya, agak samar memang, Wanita tua itu memperhatikanku, hingga waktu beberapa meter ketika aku melewatinya aku melirik wanita tua itu, Wajahnya melotot, nampak tak suka dengan kedatanganku, beberapa kali ia memukul tongkatnya ke tanah,Akhirnya aku hanya melewatinya saja, sembari berdoa aku selalu diberi keselamatan, Beberapa meter dari wanita itu aku melihat sebuah kampung, kampung itu nampak asri, sangat pedesaan dan aku tak menemukan lampu penerangan modern, mungkin mati lampu pikirku, aku menuju ke salah satu rumah di kampung itu, Motorku aku hentikan, aku melihat seorang bapak bapak, mengenakan sarung, dan dia tak mengenakan baju, padahal ini hujan deras tentu saja udara sangat dingin dan kontras dengan bapak yang tak mengenakan baju tersebut“Permisi pak” “Mari nak silakan” dengan menggunakan bahasa Jawa halus bapak itu menanggapiku “Mohon maaf, pak, nampang bertannya jalan untuk menuju ke Bantul* dimana ya pak?” Tanyaku (* Bantul adalah kotaku, salah satu kabupaten di daerah provinsi Jogjakarta) “Bantul?” Bapak itu mencoba menerawang “Iya pak” Bapak itu berusaha mengingat ingat sembari Komari Kamit berusaha menemukan daerah yang aku cari, aku mengerti dia tak paham “Atau mungkin Pantai Parangtritis* pak?” Pantai parang Tritis mungkin bapak itu lebih mengerti (* Parangtritis adalah salah satu pantai di daerah Bantul, pantai itu sangat terkenal) “Pantai parangtritis?” Bapak itu mulai berpikir kembali, mencoba mengingat ingat, tak mengatakan apapun kepadaku.Aku mulai putus asa untuk bertanya, dan mulai berpikiran tidak baik, kepada bapak itu, aku bergegas menyudahi mungkin nanti jika ada orang akan aku tanyakan lagi, aku bertanya pertanyaan terakhir “Atau mungkin arah Timur Utara Selatan?” “Oh, timur sana mas, selatan sana, Utara sana, dan barat sana” Dia berkata sambil menuding-nudingkan tangannya Aku berpikir ada yang tidak beres “Arah selatan sana ya pak?” Tanyaku “Iya mas” “Jika arah pantai selatan kesana ya pak berarti” Parangtritis adalah pantai selatan, otomatis jika aku menuju lurus ke selatan pasti aku akan menuju ke pantai Parangtritis mengingat secara geografis, Gunungkidul di utaranya Parangtritis “Benar mas, pantai selatan ke arah sana” Aku agak bingung, tapi berusaha untuk tetap ramah aku berpikir ada yang tidak beres. “Baiklah pak, terimakasih banyak, saya mohon ijin untuk pulang” “Baik mas, tidak mampir dahulu” “Tidak pak terimakasih” Bapak itu tiba tiba menjulurkan tangannya, aku agak kikuk, dia berusaha menjabat tanganku, dengan agak kikuk aku menjabat tangan bapak itu, namun ketika menggenggam tangan bapak itu, rasanya dingin, tangan bapak itu sangat dingin, bahkan aku yang kehujanan dan tentu tanganku lebih dingin dari biasanya, namun ketika menggenggam tangan bapak itu, tanganku terasa dingin, ada yang tidak beres, pikirku dalam hatiAku menyalakan sepeda motorku, bergegas menuju ke selatan yang diarahkan bapak itu, beberapa meter di depan ada sebuah warung dengan hanya berpenerangan Dian sentir* (Dian sentir adalah alat penerangan dengan kegunaan seperti lilin di tempatku) Aku berhenti di depan warung itu, banyak sekali makanannya, kutaruh mantel dan sepeda motorku lalu memasuki warung itu“Kulonuwun*” aku berusaha menyalami penjual warung itu (* Kulonuwun adalah kata permisi dalam bahasa Jawa halus) “Mari mas” Seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam rumah, nampak menjawabku “Buk mau pesan makan” “Silakan mas” perempuan setengah baya itu menyilakan aku untuk menyantap makananAda beberapa makanan, seperti lele, ikan, ayam, pisang, ubi rebus, dan beberapa makanan lainnya, namun tidak aku temui makanan berupa gorengan, ataupun kemasan semuanya di rebus, ataupun beberapa di bakar seperti ayam bakar, Aku mengambil nasi, mengingat aku perjalanan hampir 3 jam dan perutku sangat lapar aku mengambil nasi dan ayam bakar, Diluar dugaanku, ayam bakar itu sangat enak! Bahkan aku berpikir jika suatu saat aku hendak ke tempat ini lagi bersama temanku untuk mencoba warung ini. Seusai makan aku meminum air putih yang disediakan, dahagaku kembali pulih.“Buk, hujannya dari tadi ya buk?” Aku berusaha untuk berbasa-basi “Iya mas” jawab itu pendek, terasa sekali dia menjawab dengan tidak nyaman, kepalanya menunduk, hampir tak pernah melihatku, entah dia berusaha sopan atau karena tidak nyaman akan keberadaanku, mungkin juga tidak ada pelanggan dan hanya aku satu satunya“Maaf buk, ini namanya desa apa” “Desa KENDIL” dia masih menjawab singkat, wajahnya tetap menunduk “Desa Kendil?” Aku bertanya memastikan, namun ibu itu tak menjawab, kini aku yang tidak nyaman, mungkin lebih tepatnya tidak enak hati, karena mungkin karena kedatanganku ibu ini menjadi tidak nyaman. Aku membayar, “Buk berapa ini semua?” Ia berdiri, namun tak melihatku hanya melihat makanan yang ia sediakan “Aku tadi makan, nasi, ayam bakar, kacang dua, dan air putih” Ibu itu menghitung “Sembilan ratus mas” “Hah?” Aku shock, kaget, nyaris tak percaya lalu ngilu, mendadak lemas Makanan di tengah kampung seperti ini harganya fantastis sembilan ratus ribu!“Maaf berapa buk?” Ibu itu menghitung lagi “Maaf, sembilan ratus lima puluh” ibu itu menegaskan kesalahannya dalam menghitung “Hah?” aku tidak percaya “Maaf buk untuk ayam bakar berapa?” Lalu ibu itu menjelaskan, penjelasan ini terpanjang yang pernah ia ucapkan “Nasi tiga ratus, ayam bakar empat ratus, kacang dua ratus, air putih lima puluh” Ibu itu menjelaskan dengan hati hati,Aku mendorong tubuhku ke belakang, ini semua janggal! Ada yang tidak beres, aku agak lemas, mencubit tanganku namun sakit, ah benar aku tidak bermimpi ini semua nyata, Aku tak tahu harus berbuat apa, Aku memberanikan diriku, lalu aku bertanya lagi, “Maaf sembilan ratus ribu atau sembilan ratus rupiah” Ibu itu tak menjawab, nampak kebingungan, mungkin bingung menjelaskan, raut wajahnya yang selalu disembunyikan nampak jelas ibu itu kebingungan, Aku tak tahu berbuat apa“Sembilan ratus” “Hah?” Spontan aku tak percaya, 2022 mana ada makanan harganya sembilan ratus perak? Mana ada? Aku berusaha menutupi ketidak percayaanku, kuambil uang dua ribu, aku memberikan kepada ibu itu,Ibu itu menerima, lalu, menatapku, baru kali ini aku ditatap ibu itu, wajahnya nampak pucat, mukanya kaku, nampak wajahnya bekas dibalut tanah atau apa aku tak mengerti, tulangnya agak terlihat, bibirnya pecah kaku, Kini aku yang gantian menunduk, tak berani menatapnya, perasaanku campur aduk tak karuan, aku tak pernah melihat wanita seperti ini, walaupun aku laki laki namun aku ingin menangis, ataupun meminta tolong kepada ibuku, wanita itu lebih tepatnya seperti mumi yang baru saja dibalsem!Aku tak menyadarinya dari tadi, wajah itu memang tak pernah diperlihatkan kepadaku, histeris dalam hati aku lemas, terduduk hendak pingsan, namun petir menyadarkanku bahwa aku pria, dan aku harus menyelesaikan semua ini. Aku berusaha baik baik saja, kuambil nafas, ibu itu kembali menunduk, Mengembalikan uang dua ribu kertas kepadaku, aku pegang uang itu aku masukkan ke dompet Aku berpikir keras, apakah aku langsung lari? Tak membayar? Lalu mengendarai sepeda motorku kencang kencang? Dan tak pernah melihat kebelakang, kan masih hujan? Ibu itu tak mungkin menangkapku, bagaimana aku memakai mantel? Mantel aku taruh dimana ya?Ah pikiranku kemana mana! Aku buka dompetku, ibu itu masih nampak memperhatikan tingkah lakuku, aku berusaha tetap waras dan realistis, tetap tenang dan menutupi kegagapanku, kekagetanku,Di dalam dompet ada uang 1000 an koin, uang itu uang tahun 80 an, yang 1000 an gambar foto Goro-Goro, yang biasa dipakai untuk kerokan, uang logam besar. Ibu itu menerima uangku mengangkatnya, lalu memperhatikanku, aku kembali menunduk, takut. Ibu itu menerimanya, “Simpan saja kembaliannya buk” dengan mengumpulkan keberanian aku berusaha beritikad baik dengan cara menyogok ibu itu agar semua baik baik saja. “Eh” ibu itu memperhatikanku, kuberanikan melihat wajah ibu itu, Kami nampak canggung, dalam hati memang ibu ini manusia, namun aku perhatikan lagi, Rambutnya putih, memutih, kuperhatikan lagi Astaga! Aku merinding, shock kaget, dan nyaliku jatuh, astaga di ujung kepala ibu itu nampak belatung belatung menggerogoti kepalanya, Aku terduduk kembali, kali ini lebih ketakutan, khawatir pilu dan kini ingin menangis lebih keras, Untuk kedua kalinya petir malam menyadarkanku. “Sebentar” ibu itu membuyarkanku, ingin rasanya aku pingsan saja.Tiba tiba, Ibu itu kembali, dibelakangnya seorang sosok dalam kegelapan, di remang lampu Dian sentir sosok itu keluar, Astaga! Aku yakin, seorang gadis sangat cantik, berusia 20 an bergaun putih, berkebaya dan tersenyum menatapku, Astaga! Sangat kontras dengan keadaan disekitarnya Ibu dan gadis cantik itu bercakap cakap, Dibawah air hujan dan petir aku tak mendengar, hanya memperhatikan mereka bercakap-cakapAku menunggu, sesekali dari tangan ibu itu memberikan kode dengan menunjukku yang menandakan sedang berkata tentang aku, Aku serba salah, ingin aku rasanya pergi, toh aku sudah membayar, toh aku juga tidak salah apa apa, Aku menguatkan tekadku, Kubusungkan dadaku, Kukuat kan kakiku, Aku berdiri Namun,“Mas?” Gadis itu menyapaku, wajahnya tersenyum malu malu, nampak dari gelagatnya “Eh” “Sebentar mas” gadis itu tahu aku hendak pergi, Gadis itu memasuki rumahnya Beberapa waktu keluar kembali, membawakan sebuah kopi hitam Aku menggaruk kepala, tak mengerti.Gadis itu duduk tepat di sampingku, ia berusaha tersenyum, senyumannya manis, sangat manis bahkan membuatku lupa akan hidupku, aku jatuh, terjatuh dalam terikat lubang, tak kan keluar lagi, CINTA, jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku, setelah remuk redam melihat mantanku menikahi lelaki idiot yang sok kaya itu.“Ini aku buatkan kopi” gadis itu tersenyum, malu, kadang menunduk, mukanya merah menyembunyikan sesuatu “Eh” jawabku, aku gelagapan dibuatnya, butuh waktu yang tepat untuk menanggapi kata-katanya “Ini kopinya diminum dulu, keburu dingin” dia tersenyum kembali menatapku, aku tak membalas pandangan itu, pandangannya menikam perasaanku, mencampuradukkan fakta, realita dan khayalan. “Eh iya” jawabku salah tingkahKopi hitam itu aku pegang, tanganku agak gemetar, aku tidak takut, hanya sedikit gusar, grogi dan entahlah aku tak mengerti apa ini.Kopi hitam itu aku pegang, Tiba tiba perasaan aneh melandaku, entah perasaan apa ini, Aku mencoba berpikir waras, Aku memegang kopi itu, namun aku yakin gelas itu tidak panas seperti yang dikatakan gadis itu, gelas itu dingin, bahkan sangat dingin bisa dikatakan tidak ada panas panasnya sedikitpun, Aku minum sedikit, Aku tersedak, hampir kusemburkan kopi itu, rasa kopi itu aneh, berbau menyan, kembang, dan rasanya sangat pahit, bukan pahit kopi, pahit sejenis tanaman, aku tak pernah meminum kopi seperti ini, ini bukan kopi!Aku perhatikan lagi, aku lihat kopi itu, dalam remang aku rasa ini bukan kopi, aku usah mulutku yang masih ada kopi itu Astaga! Teksturnya aku yakin ini bukan kopi, ini darah!
Janji Senja
Zoya Larasati gadis berusia 16 tahun yang duduk di bangku kelas dua SMA Negeri di Jakarta. Nama yang diberikan oleh sang ayah dalam Bahasa Persia yang berarti Senja. Sore itu Zoya mendapat panggilan dari guru piket bahwa ada hal penting yang terjadi dalam keluarganya sehingga mengharuskan Zoya untuk pulang lebih awal. Saat tiba di rumah, ibunya memberitahu bahwa ayahnya mengalami kecelakaan saat bekerja dan meninggal di tempat. Ayahnya bekerja di BUMN bagian pertambangan di luar pulau.“Nak, ayo kita siap-siap untuk melihat ayah. Kita akan berangkat besok pagi pada penerbangan pertama.” Kata sang ibu sambil menangis memeluk Zoya. “Iya bu, kita siapkan apa yang harus kita bawa.” Kata Zoya dalam tangisnya.Malam itu, Zoya dan sang ibu tidak dapat tidur dengan tenang hingga menjelang keberangkatan mereka. Dalam suasana duka yang mendalam, Zoya dan ibunya berangkat ke bandara dengan taxi online dan meneruskan dengan penerbangan menuju Kalimantan.Setibanya di Kalimantan dan bertemu staff kantor ayah zoya. Dengan mempertimbangkan beberapa hal antara pihak perusahaan dan keluarga, akhirnya diputuskan ayahnya dimakamkan disana. Duka begitu terasa ketika proses pemakamam berlangsung karena hanya Zoya dan sang ibu saja yang dapat hadir.“Ayo pulang nak, hari sudah menjelang senja.” Kata sang ibu sambil memeluk Zoya. “Biarkan Zoya menemani ayah disini sampai senja ini berlalu bu.” Kata Zoya sambil mengelus nisan sang ayah, dengan air mata yang belum mengering Zoya berbicara seolah-olah sang ayah bisa mendengar apa yang ia katakan.“Ayah kenapa pergi begitu cepat ninggalin Zoya, padahal ayah berjanji akan menonton konser piano Zoya di akhir bulan ini. Senja hampir pergi dan ayah pernah berkata bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagaian besar hanya bersifat sementara. Aku berjanji akan selalu menatap senja dan mengirimkan pesan rindu untukmu.” Kata Zoya sambil tersenyum miris. Setelah hari mulai gelap, akhirnya Zoya dan ibunya pergi meninggalkan area pemakaman.Waktu terus berjalan, kehidupan Zoya dan sang ibu masih diselimuti oleh rasa duka. Hari pertama Zoya kembali bersekolah, ia mendapatkan banyak ucapan belasungkawa. “Turut berduka cita ya Zo.” Kata Putri sambil memberikan pelukan hangat kepada Zoya.Dari sekian banyaknya orang yang mengucapkan belasungkawa, ada kakak kelas yang selama ini diam-diam memperhatikan Zoya. “Eh Zoya, turut berduka cita ya. Lo harus tabah dan kuat menghadapi cobaan ini, gua yakin lo bisa melalui semua ini.” Kata Marcell.Marcellino Irawan, siswa berprestasi dan ketua OSIS yang juga merupakan kakak kelas Zoya. Selama ini Marcell selalu memberikan perhatian lebih kepada Zoya. Setiap Zoya tampil di kegiatan-kegiatan sekolah, Marcell selalu memberikan support kepada Zoya, karena Zoya aktif sebagai sie kesenian di OSIS tetapi sejak ayah Zoya meninggal, Zoya menjadi anak yang pendiam dan dia menjadi tidak aktif di OSIS, hal itu berlangsung cukup lama. Sehingga suatu waktu, Marcell berinisiatif untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Zoya. Ketika pulang sekolah, Marcell datang ke apartemen Zoya dan bertemu dengan ibunya Zoya.“Selamat sore tante, saya Marcell kakak kelasnya Zoya. Apa kabar tante?” Sapa Marcell. “Baik nak, ada perlu apa ya?” Kata ibu Zoya sambil mengerutkan dahinya karena kaget dengan kedatangan kakak kelas Zoya. “Tidak ada apa-apa tante, saya hanya datang berkunjung dikarenakan beberapa minggu ini Zoya tidak aktif dalam kepengurusan OSIS.” Kata Marcell.Ibu Zoya mempersilahkan Marcell untuk masuk dan menjelaskan apa yang terjadi selama ini. “Jadi begini nak, Zoya itu masih terpukul dengan kepergian ayahnya yang begitu mendadak.” Kata ibu Zoya. “Apakah saya bisa bertemu dengan Zoya bu?” Tanya Marcell. “Kalau kamu ingin bertemu Zoya, dia ada di rooftop.” Jawab ibu Zoya.Marcell pun naik ke rooftop untuk menemui Zoya. Marcell melihat Zoya tengah berdiri di rooftop sambil menikmati senja. “Ekhem, lagi ngapain Zoy? Sendirian aja nih, gua temenin boleh ga?” Tanya Marcell. “Ehh ngagetin aja kak, gua lagi santai sambil menikmati senja yang sebentar lagi akan berlalu. Boleh kak, sini gabung.” Jawab Zoya“Kok akhir-akhir ini lo jadi pendiam sih? Terus lo juga jadi ga aktif dalam kepengurusan OSIS, kalau ada masalah cerita Zoy.” Kata Marcell sambil mencari posisi duduk yang enak. “Gua gapapa kok kak, cuman lagi ga semangat aja. Lagian kan sie kesenian OSIS bukan gua doang, ada anak lain yang bisa handle acara OSIS.” Kata Zoya sambil mencari alasan. “Kalau lo ada masalah cerita ke gua aja gapapa, siapa tau gua bisa bantu.” Kata Marcell sambil menatap ke arah Zoya. “Aduh gimana ya kak, sebenarnya ini ga mudah buat gua. Gua masih ga bisa terima kalau nyatanya ayah gua udah pergi selamanya. Ini juga jadi alasan kenapa gua selalu kesini setiap sore.” Kata Zoya dengan raut sedihnya.“Maaf, gua boleh tau ceritanya ga?” Tanya Marcell. “Ketika almarhum ayah gua masih ada, setiap kali dia pulang ke Jakarta ayah gua selalu ngajakin gua ke tempat ini untuk menikmati senja. Di tempat ini ayah selalu nanyain aktifitas gua sehari-hari. Seminggu sebelum ayah gua meninggal, kami pergi liburan ke pulau Dewata. Ada moment dimana ketika kami menikmati senja di pantai Kuta, ayah pernah berjanji bahwa dia akan selalu menemani gua sampai gua sukses. Janji itu diucapkan oleh ayah dan senja menjadi saksinya.” Kata Zoya dengan mata yang berkaca-kaca. “Maaf ya Zoy kalau ini bikin lo sedih, tapi apapun yang terjadi lo harus kuat dan perlu lo ketahui kalau lo ga sendiri dalam menghadapi ini semua. Ada ibu lo dan gua yang akan selalu berada di sisi lo.” Kata Marcell sambil memeluk Zoya. “Makasi ya kak atas supportnya.” Kata Zoya sambil tersenyum.“Eh ga berasa ya senja udah berakhir, gua harus pulang. Ayo temenin gua pamit ke ibu lo.” Kata Marcell sambil berdiri. Marcell pun pamit pulang kepada ibu Zoya. “Terima kasih bu atas waktunya, saya pamit pulang dulu.” Kata Marcell sambil beranjak pergi.Setelah seminggu berlalu, ibu Zoya sedang mempersiapkan ulang tahun putri semata wayangnya yang ke 17. Sebenarnya Zoya tidak ingin merayakan ulang tahunnya karena masih dalam suasana duka tetapi ibu, Kak Marcell dan Putri ingin memberikan surprise kepada Zoya.“Happy birthday Zoyaaa!!” Mereka mengucapkan selamat ulang tahun ketika Zoya naik ke rooftop. Zoya kaget karena tempat itu sudah di dekor seindah mungkin. “Makasi semuanyaa.” Kata Zoya sambil memeluk mereka satu persatu. “Ayo ditiup lilinnya, sebelum itu make a wish dulu dongg.” Kata Putri sambil membawa kue ulang tahun ke arah Zoya.Acara berlangsung dengan penuh canda dan tawa, hal itu membuat Zoya melupakan kesedihannya. Marcell memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara berdua dengan Zoya. “Zoy, ada yang perlu gua bicarain sama lo.” Kata Marcell sambil celingak celinguk memberikan kode kepada Putri dan ibu Zoya. “Ada apa kak?” Tanya Zoya dengan ekspresi bingungnya. Marcell menuntun Zoya ke bangku sambil menghadap ke arah senja yang sebentar lagi akan berlalu.“Gimana perasaan lo Zoy? Lo bahagia ga? Maaf udah bikin lo kaget dengan acara ini, gua udah rencanain ini semua sama ibu lo dan Putri. Hanya satu yang mau gua lihat dari lo, yaitu senyuman lo. Gua mau ngeliat lo tersenyum.” Kata Marcell. “Hampir semua anak gadis di dunia ini menginginkan kedua orangtuanya hadir ketika ia merayakan sweet seventeen, tetapi hal itu tidak terjadi pada gua. Ayah gua pergi menjelang usia gua 17 tahun, gua sedih tapi kalian ngerubah semuanya. Makasi sudah mengukir moment yang indah dalam hidup gua.” Kata Zoya dengan mata berbinar-binar.“Zoy, mungkin ini terlalu cepat buat lo tapi gua ga mau ngelewatin moment ini. Kalau lo berkenan, gua mau lo jadi pacar gua.” Kata Marcell sambil menggenggam tangan Zoya.Zoya kaget dan terdiam beberapa saat, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Marcell meyakinkan bahwa ia tidak akan membuat Zoya kecewa. Setelah berfikir, akhirnya Zoya memutuskan untuk menerima Marcell. “Iya gua mau kak, tapi lo janji kalau lo akan setia sama gua sampai kapanpun.” Kata Zoya sambil menatap Marcell. “Iya, disaksikan oleh senja gua berjanji akan selalu setia sama lo apapun yang terjadi. Eh btw, tadi pas make a wish lo minta apa? Jangan-jangan lo minta gua buat jadi pacar lo lagi.” Kata Marcell dengan nada menggoda. “Enak aja lo kak.” Kata Zoya dengan cemberut. “Terus apa dongg???” Kata Marcell dengan rasa penasaran. “Ah itu mah biar jadi rahasia gua sama Tuhan.” Kata Zoya sambil tertawa dan mengedipkan matanya.Hari ini merupakan hari kelulusan Zoya, tepat satu tahun setelah sang kekasih pergi ke luar negeri untuk kuliah. Sejak kelas dua SMA, Zoya giat belajar dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa di sebuah universitas Amerika. Dengan kerja keras Zoya, akhirnya apa yang di cita-citakannya dapat terkabulkan yaitu satu tiket beasiswa seperti yang di dapatkan oleh sang kekasih satu tahun lalu.Untuk pertama kalinya, Zoya menginjakan kaki di kampus. Sang kekasih yang melihat kehadirannya pada saat acara penyambutan mahasiswa baru pun terkejut. “HAH? ZOYA? Gua lagi mimpi ga sih.” Kata Marcell sambil mengucek matanya. Marcell menghampiri Zoya lalu mengajaknya untuk menepi dari keramaian itu. “Zoy, kok lo ga bilang ke gua sih kalau mau kuliah disini.” Kata Marcell sambil memeluk Zoya karena ia rindu dengan sang kekasih. “El, boleh lepasin pelukannya dulu ga? Biar gua jelasin.” Kata Zoya sambil sedikit mendorong tubuh Marcell. “Eh iya, yaudah jelasin.” Kata Marcell sambil melepaskan pelukannya. “Kan lo pernah bertanya apa janji gua pas ulang tahun ke 17, ya ini jawabannya.” Kata Zoya sambil tersenyum. “Makasi ya Zoy, love you.” Kata Marcell sambil mencium kening Zoya. “Love you too El, hadirmu di sisiku seperti senja yang datang sebentar namun sangat menenangkan.” Kata Zoya memeluk Marcell.Ayah, sudah banyak senja yang kulalui, namun belum pernah kulewati senja yang membawamu kembali. “Karena senja menghadirkan semangat kasih sayang ayah buatku, namun senja juga yang pernah mengambilnya kembali dan sekarang senja pula memberikan harapan itu bagiku.”TAMAT
Setelah Ibu Meninggal dalam Kecelakaan Mobil, Dia Kembali dan Mengaku Masih Hidup !
Setelah ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil, aku terus dalam keadaan linglung. Namun, pada hari ketujuh, ibuku kembali dan mengatakan bahwa dia tidak mati.Akan tetapi, perilakunya makin lama makin aneh dan sama sekali tidak terlihat seperti manusia yang hidup.Aku ingin menjalani kehidupan normal, jadi maafkan aku. Ibu, tolong matilah lagi ....1Upacara pemakaman akhirnay sudah selesai.Aku duduk di ambang pintu dan terpaku melihat kekacauan di halaman.Tidak ada lagi ibu yang membantuku dengan segala sesuatu. Ibu sudah tiada.Ibuku ....Bagaimana dia bisa meninggal?Oh ya, dia meninggal dalam kecelakaan mobil.Pada awal bulan dari bulan tujuh kalender lunar, yaitu tepatnya tujuh hari sebelum Hari Hantu, ibu menemaniku untuk mendaftar di SMA yang ada di kota.Tak disangka, kami mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju kota.Dalam sekejap, ketika mobil dari arah berlawanan menabrak kami, aku masih mengingat bahwa ibu berusaha memelukku, tetapi dia tidak bisa menarikku. Setelah itu, semuanya menjadi kabur. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tentu saja, aku juga tidak bisa mengingatnya.Ketika kembali ke rumah, aku sadar bahwa upacara pemakaman telah diadakan.Sudah pasti keluarga ibu yang mengatur semuanya.Aku hanya duduk di ambang pintu, lalu diam-diam melihat .... aku suka dan duka di dunia ini yang sepertinya tidak ada hubungannya denganku.Aku berjalan ke dekat karangan bunga di tanah dan terpaku melihat tulisan ucapan yang besar. Ketika hendak membereskannya, tiba-tiba aku mendengar panggilan dari arah belakang."Clara?"Aku mendadak menoleh dan melihat seseorang yang membawa tas liburan. Dia tampak berdiri di pintu gerbang halaman.Itu ibuku."Ibu, Ibu, bagaimana bisa ...."Suaraku terdengar gemetar. Aku menoleh dan melihat peti mati besar yang ada di dalam rumah."Ibu diselamatkan oleh ambulans. Ibu pingsan beberapa hari di rumah sakit kota, jadi tidak menelepon .... dasar anak bodoh, apa kamu juga berpikir bahwa Ibu telah meninggal?""Aku, aku ...."Betul sekali .... aku sama sekali tidak pernah memastikan kematian ibu dengan saksama, bahkan tidak pernah melihat jasadnya.Itu hanya peti kosong .... ibuku sama sekali belum meninggal!2Dalam pelukan yang hangat, aku segera terlelap dalam tidur yang nyenyak.Aku buru-buru bangun dan berjalan ke sana. Ternyatam ibu sedang membakar sesuatu di halaman.Dia menumpuk karangan bunga, kain putih, tulisan duka cita, meja persembahan, dan uang kertas yang belum terbakar di tengah halaman, lalu menyalakan api."Ibu!"Aku memandang ke tengah-tengah bara api. Di sana, ada satu tumpukan benda berwarna hitam yang terjepit oleh dua meja persembahan dan telah menjadi arang. Aku memicingkan mata dengan saksama. Ternyata, itu adalah tas liburan yang ibu bawa saat pulang malam tadi.Ibu seolah-olah memperhatikan pandanganku sehingga berinisiatif untuk memberi penjelasan."Di dalamnya, hanya ada pakaian lusuh, selimut lama, dan barang-barang lainnya. Biarkan terbakar saja."Ibu menggali lubang besar dan membuang abu yang telah terbakar ke kebun sayuran di belakang rumah. Kemudian, ibu menutupinya dengan tanah dengan tergesa-gesa.Saat melewati ruang tamu, tiba-tiba aku menyadari bahwa foto dan papan yang seharusnya berada di belakang peti mati telah menghilang.Sesaat kemudian, seseorang mengetuk pintu halaman. Aku bangkit dan memeriksanya. Ternyata, itu bibiku. Dia membawa keranjang dengan telur, roti, dan barang-barang lainnya.Ibu juga berlari keluar dari kamarnya dan mencoba menarikku yang hendak melarikan diri ke pintu halaman. Namun, dia tidak berhasil melakukannya."Clara, jangan pergi!""Bibi, ibuku tidak mati!"Bibi tampak mundur dua langkah, kemudian duduk di tanah."Tidak mati? Jadi, kita salah paham."Dia berbicara dengan suara rendah dan nada dingin.Bibi bangkit, lalu berlari sembari terhuyung. Aku memandang punggungnya yang terhuyung setiap tiga langkah. Hatiku pun dipenuhi keraguan.3Sejak kecil, aku hidup bersama ibu.Ayahku sudah meninggal tak lama setelah aku lahir. Aku sama sekali tidak memiliki kenangan tentangnya.Ibu tidak menikah lagi. Entah mengapa, desas-desus tentang dia yang membunuh suaminya dan berhubungan dengan ilmu hitam beredar di desa kami sehingga tak ada yang berani menikahinya.Aku tidak tahu apakah senyumnya sekarang berbeda dengan senyumnya yang dahulu. Secara kasat mata, senyuman ibu terlihat sama persis.Namun, aku selalu merasa kekurangan sesuatu yang penting.Sesudah matahari terbit, aku memakai sepatu dan ingin keluar. Ibuku melihatnya dan ingin menghentikanku lagi."Clara, kamu mau ke mana?""Aku ... aku ingin memberi tahu orang-orang di desa bahwa Ibu baik-baik saja.""Lebih baik nanti saja. Pergilah ketika matahari sudah terbenam."Apakah ada perbedaan antara pergi nanti dan pergi sekarang ... rasa bingung kembali menghantuiku.Malam harinya, aku pergi bersama ibu. Kami mendapati bahwa semua orang telah mengunci pintu rumah mereka dengan rapat, bahkan menutup gorden mereka.Biasanya, ini adalah saat yang paling ramai dalam sehari. Orang-orang cenderung memasak, saling berkunjung, dan bertengkar.Aku terpaku menatap bayangan di bawah kakiku. Setelah sekian lama, aku baru berangsur paham.Ini pasti karena bibi.Aku melemparkan diriku ke pelukan ibu dengan erat. Air mataku seketika membasahi kerah baju ibu."Ibu ... huhu ... mereka ... mereka tidak percaya bahwa Ibu tidak meninggal! Mereka ... Mereka menindas kita lagi!""Clara, kali ini kita berdua selamat dari bahaya besar. Kita harus hidup dengan baik dari sekarang dan tidak akan berpisah lagi, ya?""Ya ...."Ibu menghiburku beberapa kali. Sambil berjalan, aku menundukkan kepala dan menghapus air mata di wajahku, lalu aku melihat tanah di bawah kakiku tanpa sengaja.Aku menyadari bahwa permukaan tanah di bawah kakiku, yaitu tempat ibu berdiri barusan, terdapat dua jejak sepatu yang jelas terpisah dengan permukaan tanah sekitarnya.Apakah dia benar-benar berdiri di sini selama berjam-jam tanpa bergerak sedikit pun?4Saat tengah malam, aku terbangun karena ingin membuang air kecil. Kemudian, aku bangun dan pergi ke kamar mandi.Kamar mandi terletak di belakang rumah, jadi aku pertama-tama melewati ruang tamu, menyalakan lampu, lalu membuka pintu belakang menuju kamar mandi.Saat melewati kamar ibu, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang samar-samar berasal dari jendela yang tertutup rapat.Suara itu terdengar rendah, suram, dan melambat, seolah-olah sedang membaca mantra ataupun puisi.Saat melewati lemari pakaian, aku tiba-tiba berhenti dan perlahan-lahan berbalik. Kemudian, aku melihat ke arah cermin pakaian yang terpasang di atas lemari tua.Tidak ada bayanganku di cermin.Di cermin itu, ada sosok hitam yang berantakan. Tubuhnya tegap, tetapi berubah-ubah.Ketika aku menyalakan lampu, orang di balik cermin kembali menjadi diriku sendiri. Begitu aku mematikan lampu, bayangan hitam itu muncul lagi. Aku menyalakan lampu lagi dan masih ada tampak bayangan diriku sendiri di cermin.Aku pun merasa lega dan hendak menyalakan lampu dengan ujung tongkat. Namun, begitu aku berbalik, aku melihat sosok hitam berantakan itu berdiri tepat di belakangku."Aaaaahhhhhh!!"Dia merebut tongkat bambuku dan menyalakan lampu.
Menangkap Penjahat dari Masa Depan!
Aku sedang menjalin hubungan online dengan seorang pria yang telah membantuku menghasilkan satu juta rupiah."Apa yang membuatnya begitu hebat?" Aku bertanya, tapi dia enggan untuk menjawab, mengatakan bahwa itu adalah rahasia."Kapan kamu menyadari bahwa dia adalah orang dari masa depan?" Karena aku telah melihatnya.1Malam itu kami melakukan panggilan video.Akhirnya aku melihat wajahnya, seorang pria yang mengenakan masker di sebuah apartemen sederhana.Di dinding belakangnya, ada poster film "Inception".Tentu saja, pada tahun 2006, aku hanya penasaran dengan orang yang ada di poster itu, mengapa dia mirip dengan Leonardo yang gemuk?Tahun-tahun berlalu, ketika aku menonton film "Inception", aku merasa ngeri.Dia adalah orang yang hidup setelah tahun 2010."Tunggu sebentar, apa tujuannya? Dia menjalin hubungan denganmu melintasi waktu, hanya untuk membuatmu kaya?" Tidak, itu karena dia membenciku, dia ingin membunuhku."Hah? Bagaimana bisa?" Pertama-tama, namanya adalah "James". Itu adalah nama aslinya.Dia adalah seorang anak magang, bekerja di bidang pintu dan jendela. Dia cukup cerdas, hanya saja dia tidak bisa mendapatkan banyak uang dan dia pendiam, tidak memiliki teman.Pada tahun 2012, dia membeli sebuah laptop murah secara online.Tapi dia menemukan bahwa dengan mengubah pengaturan waktu sistem, dia bisa terhubung ke jaringan tahun-tahun lain.Katakanlah seperti ini - ada sebuah laptop, aku mengubah kalendernya menjadi 8 Agustus 2008, lalu mengakses sebuah situs portal, yang menampilkan persiapan menyambut Olimpiade.Orang-orang yang hidup pada tahun 2008 bisa melihat komentar yang aku tinggalkan di situs tersebut; aku pun bisa menambahkan mereka sebagai teman dan berbicara dengannya.Laptop tersebut terhubung dengan dunia internet pada tahun 2008.Inilah asal-usul dari hubungan online yang melintasi waktu.2Aku dan James sebenarnya berasal dari kampung yang sama.Waktunya berada pada tahun 2006.Pada saat itu, kami berdua masih sekolah, hanya saja aku berada di tingkat SMA, dan dia di tingkat SMP.Kami berdua mengalami intimidasi.Dengan demikian, mungkin karena kami memiliki pengalaman yang sama, James mulai memiliki perasaan aneh terhadapku.Namun, perasaan ini perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat.Waktu berjalan hingga tahun 2012.Dia mencari tahu dengan tidak sedikit usaha, akhirnya mengetahui di mana apartemen tempat aku tinggal, dan dia menyewa apartemen di sebelahku.Berkali-kali kami bertemu di dalam lift, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan cinta kepadaku.Tetapi, tidak lama kemudian, James marah.Karena pada tahun 2012, aku berhasil terbebas dari intimidasi.James merasa aku telah mengkhianatinya.Hal yang lebih buruk pun terjadi, suatu hari James membuka pintu dan melihatku pulang dengan pacar.Khianat, itu adalah pengkhianatan.Dia merasa ingin membunuhku.James memutuskan untuk membalas dendam.Dia merancang sebuah rencana yang akan menyebabkan gadis itu mati dengan sangat tragis.Inilah harga yang harus dibayar karena "pengkhianatan" kepada dia.3Pada musim dingin, aku pergi mewawancarai Jojo, dan terjadi percakapan seperti di atas.Kami berdua bertemu di Jakarta. Dia adalah seorang agen properti, pada saat itu dia mengendarai sepeda motor membawaku untuk melihat rumah, di perjalanan dia mendengar bahwa aku adalah seorang penulis skenario, lalu dia bertanya kepadaku, apakah ceritanya bisa diangkat ke layar lebar?Tidak pernah terpikir sebelumnya, cerita yang dia ceritakan membuatku terkejut.Aku, ya, aku menghabiskan tahun 2006 dengan penuh kesedihan.Orang tuaku meninggal di waktu aku masih kecil, teman sekelas mengucilkanku, dan kakak perempuanku juga selalu bersikap keras terhadapku.James muncul.Dia tahu saat itu adalah saat-saat yang paling tak berdaya bagiku, itulah sebabnya dia memilih tahun itu.Dia bahkan menunjukkan fotonya kepadaku.Tentu saja, bukan dirinya sendiri, sebenarnya itu adalah foto kehidupan seorang selebriti pada masa muda, hanya wajahnya saja yang agak mirip.Aku pun terjebak.Tidak lama kemudian, kami melakukan video call, dan dia masih menggunakan masker itu.Dia mengatakan, dia ingin melihat tubuhku, ingin aku melepas pakaianku.Aku melakukan seperti yang dia minta.Namun, ini hanya memperburuk keadaan.Beberapa hari kemudian, dia meminta agar aku menuliskan namanya di tubuhku, menulis beberapa kata kotor; dia meminta agar aku bertutut padanya di dalam video, serta meminta aku untuk menggores pergelangan tanganku dan menunjukkan kepadanya, sebagai bukti bahwa aku mencintainya.Aku tidak pernah mengira bahwa dia merekam video tersebut dan akan menggunakannya untuk melakukan pemerasan padaku!"Jojo, jika kamu tidak mendengar kata-kataku, maka bukan aku saja yang akan melihat video itu."Aku melaporkannya kepada polisi.Polisi bertanya padaku, "Nak, ada apa denganmu?"Mereka mengatakan bahwa orang di foto tersebut sedang mengajar di desa, dan tidak memiliki jaringan internet, jadi mana mungkin mengenalmu?. Sedangkan nomor LINE yang kau berikan, pemiliknya adalah seorang remaja SMP. Dia mengatakan dia mendaftar akun LINE saat mengikuti pelajaran komputer. Masalahnya, bukankah kamu mengatakan dia adalah orang dewasa?Pada akhirnya, tidak ada yang mempercayaiku.Akhirnya, James pun semakin merajalela."Aku mau kamu melakukan tiga hal untukku."Aku melakukan tiga hal sesuai petunjuknya.Aku mentransfer semua uangku ke sebuah rekening bank."Harus menggunakan kartu pita magnetik, dan kata sandi harus tanggal lahirmu. Jika aku menemukan kata sandinya salah, kau akan tahu konsekuensinya," kata James."Di kota kalian, ada sebuah taman hiburan terbengkalai. Pergilah ke sana dan kuburkan kartu itu di tempat yang kuminta."Sesuai permintaannya, beberapa barang pribadiku juga aku masukkan ke dalamnya."Terakhir, di dermaga kota, peti kemas nomor 187, kau tunggu aku di sana pukul 00:55, aku akan muncul tepat waktu pada pukul 01:00 dini hari dan akan memberikan mp4 ini langsung padamu. Sejak saat itu, urusan finansial kita berdua akan berakhir, tanpa utang-mengutang lagi di antara kita.""Ingat, kau harus bersama kakakmu," kata James, ketika dia memaksaku melakukan tugas untuknya. Tanpa diketahui oleh James, Bapak Polisi Jack bersembunyi di sekitar sana dan memberi tahu rekan-rekannya.Aku tiba di lokasi kontainer, Bapak Polisi Jack dan rekan-rekannya bersembunyi di sekitarnya.Asalkan James muncul, dia akan segera ditangkap.Namun, kami sudah kalah sejak awal.Cahaya merah muncul di depan mataku.Tubuh kontainer mulai membesar.Kakakku dengan cepat mendorongku menjauh.Pada saat yang sama, udara bergetar karena ledakan, mengguncang laut di dekat dermaga.5Di kedai kopi, Jojo membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah berita padaku."Pada tanggal 12 Juli 2006, pukul 01.00 pagi.""Di atas Pelabuhan Tanjung Priok, sebuah kontainer yang tidak tersegel dengan benar menyebabkan ledakan hebat."...Dia berkata, "Kontainer itu adalah nomor 187."Dia berkata, "Aku berada di tengah-tengah ledakan itu."Dia berkata, "Itulah rencana sebenarnya dari James."6Malam itu sangat mengerikan.Petugas kepolisian sama sekali tidak melihat adanya orang yang muncul.Kakakku tidak bisa diselamatkan dan meninggal di meja operasi.Seluruh tubuhku terbakar parah, beberapa kali mendekati ambang kematian, dan jatuh dalam keadaan komaKami semua dikalahkan oleh pria tahun 2012 ini.James, pada tahun 2012, mencari tahu banyak hal tentang kota kami.Dia mengetahui bahwa pada malam itu, akan ada sebuah ledakan di kontainer.Maka, gadis itu terkubur dalam ledakan di tepi laut.Membayar harga untuk pengkhianatannya.Sementara dia menggali tanah yang telah tersegel.Mencuri segala miliknya.Pada tahun 2012, James datang ke kota tempat tinggalku dengan marah.Di tanah yang digali berulang kali, tidak ada apa-apa.Ya, polisi mengambil kartu tersebut.Uang itu akhirnya menjadi biaya pengobatan yang menyelamatkan nyawaku.Dia tersenyum.Si gadis yang dimaksud sudah mendapat balasannya.7"Tunggu sebentar, ada sesuatu yang tidak beres." Aku harus menghentikan Jojo. "Mengapa dia meminta uang, mengapa tidak memilih cara yang lebih aman? Misalnya, menghubungi diri sendiri yang kemarin, membeli lotere, dan dia bisa menjadi kaya mendadak sambil tiduran, bukankah cara seperti itu lebih aman?"Dia berkata, "Dia tidak hanya mebalas dendam kepadaku, tetapi juga melakukan sebuah eksperimen."Aku bertanya, "Apa maksudmu?"Setelah ledakan terjadi.Pada tahun 2012, gadis tetangga James menghilang.Dia harusnya memiliki masa depan yang cerah, tetapi malah menjadi seorang pasien vegetatif di tempat tidur.Pada catatan yang ditempelkan oleh James, ada tambahan kalimat:"Selama waktu yang tepat, aku bisa mengendalikan siapa saja."8"—Setelah aku, dia mengerti bahwa setiap orang memiliki saat-saat terlemah dan rentan, cukup dengan menemukan titik waktu itu, dengan sedikit usaha, dia bisa menjadi pengendali kehidupan orang itu."Aku mengerti, dan merasa sedikit mengerikan.Jojo teringat sesuatu, dia menambahkan, "Berbicara tentang hal itu, dia benar-benar mendapatkan banyak uang dengan cara seperti yang kamu katakan, dia melihat berita masa depan, mengetahui kenaikan dan penurunan saham, serta guncangan pasar. Dia dengan seenaknya menumpuk hutang, karena dia tidak akan pernah kalah. Dia dengan cepat mengumpulkan uang yang setara dengan sepuluh generasi orang biasa.""Namun dia juga membuat suatu aturan bagi dirinya sendiri — yaitu tidak akan pernah menghubungi dirinya sendiri," kata Jojo."Coba kamu pikir, kamu bisa mengizinkan dirimu yang kemarin berlari ke sana kemari, dan kamu yang di masa depan, apakah tidak akan membiarkan dirimu yang saat ini melakukan hal-hal tersebut? Celah ini tidak boleh terbuka, karena jika terbuka, kamu akan kehilangan kendali atas hidupmu - yang sangat penting bagi James, hanya dia yang bisa mengendalikan orang lain, tidak ada orang lain yang bisa mengendalikannya, bahkan versi dirinya yang lain.""Dia tidak bisa melupakan sensasi itu, mencuri kenikmatan dari wanita, dia kecanduan, lebih kuat dari semua obat terlarang di dunia ini," Jojo berhenti sejenak, lalu berkata, "dia tidak bisa berhenti."Jojo berkata, "Hanya dengan menghancurkan mereka, dia baru bisa mendapatkan arti hidup."Aku mengangguk, ini adalah persetujuanku terhadap ucapannya."Setelah aku, dia mulai melakukan tindakan dengan gila.""Pada saat itu, dia tidak lagi perlu menggunakan uang untuk menggoda mereka.""Dia hanya perlu memberikan kebohongan dan cinta palsu, maka dia bisa mendapatkan penderitaan dan kematian mereka."9Pada tahun 2007, seorang gadis remaja bernama Kelly menjalin hubungan cinta daring dengan seorang pria misterius. Seminggu kemudian, dia meninggal dalam kebakaran yang tidak disengaja.Enam tahun kemudian, dia seharusnya menjadi seorang mahasiswi yang menonjol di universitas terkemuka.Pada tahun 2006, seorang gadis remaja bernama Merry menjalin hubungan cinta daring dengan seorang pria misterius, dua minggu kemudian, dia meninggal dalam kecelakaan kapal tenggelam.Tujuh tahun kemudian, dia seharusnya menjadi seorang artis idola yang populer.Pada tahun 2008, seorang gadis remaja bernama Devina menjalin hubungan cinta daring dengan seorang pria misterius, pada tahun yang sama, dia pergi sendirian dan mengalami tanah longsor, dan tidak dapat terhindar dari musibah.Lima tahun kemudian, dia seharusnya menjadi seorang istri yang bahagia setelah menikah.....Dia telah melakukan 327 kejahatan sepanjang hidupnya.Dia tidak selalu berhasil setiap kali.Namun, orang-orang itu telah mati dengan menderita.Gadis-gadis yang selamat juga harus menderita dari penderitaan mental yang mendalam.Bahkan orang yang selamat sangat jarang.James selalu merasa bangga dengan kesempurnaan kejahatan yang dilakukannya.Karena tak ada yang dapat menangkap seorang penjahat yang bersembunyi di masa depan.
Putri yang Tidur di Sampingku ... Bukanlah Dirinya!
Pada tengah malam, ponselku menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, "Ibu, selamatkan aku! Cepat, selamatkan aku!"Aku melihat ke ranjang di sebelah. Di situ, terbaring putriku yang sedang tidur dengan napasnya yang tenang.Siapa yang mengirim lelucon seperti ini?Aku tak bisa menahan tawa dan langsung memblokir nomor tersebut.1Betty suka menggambar. Beberapa hari yang lalu, aku mengajaknya berwisata ke pedesaan. Namun, di tengah perjalanan, kami terjebak dalam hujan deras. Akibatnya, Betty pun masuk angin dan demam tinggi. Aku benar-benar terkejut.Namun, ketika aku hendak keluar, aku secara kebetulanmelirik ke arah cermin.Di sana, terdapat jejak darah yang terus mengalir."Ibu, bunuh dia! Dia bukan aku. Dia datang untuk membunuhmu!"Aku terkejut.Dalam keadaan gemetar, napasku menjadi terengah-engah. Ketika hendak menutup pintu, tiba-tiba terdengar suara pelan dari belakangku."Ibu."Entah sejak kapan Betty bangun. Dia memandangiku dengan kepala sedikit miring tanpa bergerak sedikit pun.2Entah mengapa, saat itu aku merasa putriku berbeda dari biasanya.Pupil hitam matanya sangat besar dan menakutkan, seolah-olah tidak berfokus. Dia menatapku dengan tajam, entah itu karena cahaya atau bukan. Ekspresinya juga sangat pucat dengan benda kecil yang samar-samar berwarna hitam."Ibu, kenapa Ibu memandangiku seperti itu?" Betty duduk perlahan, lalu menginjakkan kakinya ke lantai. "Ibu, tadi Ibu melihat ke cermin, lalu menutup mulutmu. Kenapa Ibu begitu?""Ibu, apa yang kamu maksud adalah cermin ini?" Betty berkata, "Di dalamnya, seakan-akan ada seorang gadis kecil yang persis seperti diriku."Kalimat itu benar-benar membuatku terkejut.Aku mengira mungkin Betty sedang linglung karena demam sehingga buru-buru keluar untuk mengambil termometer.Namun, suara Betty terus terdengar di belakangku."Ibu, sepertinya dia menangis."3Kejadian aneh ini masih berlanjut.Aku mencari-cari termometer di laci ruang tamu. Aneh sekali, sebelumnya aku selalu meletakkannya di sana. Baru saja beberapa hari yang lalu, aku sempat menggunakannya. Namun, mengapa hari ini tidak bisa kutemukan.Hingga bola karet kecil jatuh di lantai.Itulah mainan kesukaan Betty. Bola itu melompat-lompat di lantai. Aku membungkuk untuk mengambilnya, tetapi pada saat aku menyentuhnya, bola itu tiba-tiba berubah bentuk.Seperti air yang menyebar, bola itu pun meleleh di lantai.Air tersebut berubah menjadi merah darah, seperti mengeluarkan tangan, lalu bergerak-gerak dan berjuang di lantai. Rasa ketakutan melanda hatiku. Aku memandangi tulisan yang menari-nari di lantai dengan huruf yang sangat berantakan dengan ngeri."Ibu! Jangan kembali ke kamarmu! Dia akan membunuhmu langsung malam ini!"Tulisan yang sangat mengejutkan itu bergerak liar seakan-akan penulis di baliknya menderita rasa sakit yang parah dan berusaha keras untuk memberi tahu aku sesuatu ....Tiba-tiba, tangan yang dingin menyentuh bahuku."Ibu, apa yang sedang Ibu lihat?"3Bisa-bisanya Betty berjalan tanpa suara!Secara naluri, aku kembali melihat ke bawah. Namun, aku hanya melihat bola karet melompat dan tulisan berdarah tadi menghilang begitu saja."Betty, kapan kamu datang?" Jantungku berdetak kencang. Ketika melihat kaki telanjangnya, hatiku hampir berhenti. "Kenapa kamu tidak mengenakan sepatu saat berjalan di lantai? Jangan sampai kedinginan.""Ibu, aku merasa takut sendirian di kamar. Temani aku tidur di kamar, ya?" Wajah Betty menempel di leherku, lalu kedua tangannya terpaut erat dalam pangkuanku.Tiba-tiba, aku teringat dengan perumpamaan. Seolah-olah ada laba-laba besar yang melekat di tubuhku.Aku tertawa sendiri dengan pemikiran itu."Baiklah, ibu akan tidur bersamamu." Aku mengelus punggung putriku, lalu menggendongnya menuju kamar tidur.Namun, saat aku sampai di depan pintu kamarnya, langkahku terhenti.Aku melihat dengan jelas ada sepotong lengan putih di bawah ranjang. Di tengah lengan itu, ada tahi lalat hitam yang familier.Itu adalah Betty!Jika orang di bawah ranjang adalah Betty, orang di pelukanku ini ....Napasku pun menjadi berat.Sementara itu, orang di pelukanku merasakan ketakutan yang kurasakan. Dia berbalik, lalu membelalakkan matanya dan menatapku. Mata hitamnya sangat menakutkan."Ibu, kenapa Ibu diam saja?" Suaranya bahkan membuatku ketakutan."Ibu tampak sangat takut. Apa yang Ibu lihat?"4Kali ini, aku yakin bahwa ini bukanlah sugesti. Orang yang kugendong benar-benar terasa asing bagiku. Dia bukan putriku!Gawat, kenapa aku sepertinya aku tidak bisa melepaskannya?Dia seakan-akan melekat pada diriku!"Ibu, apa yang Ibu takutkan?" Gadis di pangkuanku makin membelalakkan matanya. Ketika hidungnya hampir menyentuhku, dia tiba-tiba tersenyum dengan lebar."Aku tahu. Kamu sedang takut padaku, 'kan?"Kemudian, gadis itu langsung menggigit leherku. Dia mengisap darahku dengan gila-gilaan. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa lengan tanganku berubah menjadi selembar kulit yang tipis."Aahhhh!"Aku terbangun dengan keringat bercucuran di atas sofa.Sebuah pesan masuk dari nomor asing, "Ibu, tolong selamatkan aku! Tolong selamatkan aku segera!"5Mimpi nyata yang mengerikan tadi tiba-tiba muncul dalam pikiranku.Mungkinkah yang berbaring di ranjang sekarang bukanlah putriku, melainkan penggantinya yang tampak persis seperti dia?Lalu, di mana putriku berada?Kepalaku menegang. Aku hampir saja patah semangat. Aku segera membuka pesan tersebut dan membalas, "Siapa kamu dan di mana kamu sekarang?"Namun, setelah pesan dikirim, aku tak mendapat respons apa pun.Tiba-tiba, aku sadar bahwa suara mendengkur dari dalam kamar sepertinya sudah berhenti sejak tadi.Aku menyadari sesuatu, lalu perlahan mendongak.Aku melihat sebuah wajah menempel pada kaca pintu dan menatapku tanpa berkedip!Suara putriku terdengar melalui kaca ke telingaku."Ibu, tadi kamu sedang mengirim pesan kepada siapa?"6Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca dan berkata, "Ibu, kamu sudah tidak mau Betty hanya karena satu pesan, ya?"Aku memeluknya erat-erat. "Ibu salah, Betty. Maafkan Ibu. Bagaimana mungkin Ibu tidak mengiginkan Betty? Ibu bukanlah kucing kecil ....""Apa itu kucing kecil?"Satu kalimat yang dilontarkan oleh sosok yang kupeluk membuat hatiku terasa berat.Kucing kecil adalah lagu anak-anak yang kami ciptakan bersama."Kucing kecil jahat. Ibu tidak menginginkanku, tapi mau si kucing kecil ...."Betty sempat menolak tidur selama beberapa saat, kecuali jika kami menyanyikan lagu itu bersama-sama sebelum tidur. Namun, "putri" yang kupeluk sekarang justru bertanya padaku apa itu kucing kecil?Aku mencoba bertanya dengan penuh keraguan, "Betty, apakah kamu lupa? Ini adalah lagu anak-anak yang diajarkan gurumu di taman kanak-kanak."Suasana pun hening beberapa detik.Dia berkata, "Aku ingat, dulu aku bisa mempelajarinya dengan cepat. Guru juga memuji aku."Rasa takut yang intens merayap ke hatiku.Layaknya memeluk monster yang mengerikan, dia berpenampilan seperti anak perempuan dan memiliki suara anak perempuan. Namun, entah mengapa dia tidak tahu rahasia apa pun antara aku dan Betty.Dia bukanlah putriku!Tiba-tiba, gadis itu merangkak dan meraih leherku. Dia memelukku erat-erat, lalu tawa aneh pun terngiang di telingaku. Hal itu dilanjutkan oleh sensasi menusuk yang tajam. Suara seperti meneguk minuman terdengar dari tubuhku.Aku pun mulai kehilangan kesadaran.
Pembunuh Terkurung di Rumahku, tetapi Pembunuh Aslinya Ternyata ....
Di rumahku, ada sebuah rahasia.Di ruang bawah tanah, ada orang gila yang seluruh tubuhnya terbakar.Dia adalah pembunuh.Suatu hari, dia berhasil melarikan diri dari ruang bawah tanah.1"Besok adalah hari peringatan kematian orang tua kita."Saat makan malam, kakakkutiba-tiba berbicara sambil menepuk bahuku dengan lembut dan ekspresi sedih. "Seperti biasa, aku akan minta Bi Wanda untuk mengantarkanmu ke sekolah. Biarkan Kakak yang menangani urusan peringatan kematian. Kamu sangat ketakutan saat orang tua kita dibunuh, jadi lebih baik kamu tidak pergi lagi agar tidak terkena dampaknya."Namaku Lana Kenzo, sedangkan kakakku bernama Randi Kenzo. Setelah orang tua kami tewas dengan tragis, kami berdua hidup bersama dan bergantung satu sama lain.Aku mengalami cedera otak berat saat kecil dan kehilangan ingatan. Aku tidak bisa mengingat apa pun sebelum usiaku enam tahun. Selama ini, kakakku dengan sabar menemaniku dan membantuku mengingat sedikit demi sedikit tentang masa lalu. Namun, sayangnya aku tetap tidak bisa mengingatnya.Wanita gila di ruang bawah tanah bernama Melisa. Di masa lalu, ayahku melihatnya sedang berkelahi dengan anjing liar di depan pintu perusahaan sendirian sehingga membawanya itu pulang.Dia tinggal dan makan bersama kami. Kami memperlakukan wanita itu seperti keluarga. Namun, siapa yang tahu, ini akan menjadi sebuah kisah tragis.2Melisa memiliki kecenderungan kekerasan yang parah dan kepribadian antisosial. Dia membenci segala sesuatu yang dia lihat. Dia iri dan membenci bahwa aku yang seumur dengannya mendapat perhatian dan cinta dari orang tua dan kakakku.Pada suatu malam, dia diam-diam masuk ke dalam kamar dan berniat membunuhku untuk menggantikanku. Namun, tak disangka kakakku melewati kamar itu dan melihatnya.Mereka berkelahi, tetapi Melisa kalah dan melarikan diri dengan luka. Orang tua kami sayang padanya dan memberinya kesempatan kedua, jadi mereka tidak melaporkannya ke polisi.Namun, malam berikutnya, dia datang lagi secara diam-diam dan menyalakan api. Dia berniat untuk membakar kami semua sampai mati!Orang tua kami meninggal dalam kebakaran itu.Kakakku yang berani menyelamatkanku dan mengorbankan dirinya sendiri. Punggungnya bahkan terbakar parah.Lantaran menghirup banyak asap yang merusak saraf otak, aku tidak bisa lagi mengingat masa lalu.Ada beberapa bekas luka jahat di wajahku. Ini adalah sesuatu yang sangat menghancurkan hati seorang gadis.Kakakku sangat membenci Melisa. Setelah dia kabur usai membakar rumah, kakakku tidak melapor polisi, tetapi memberi hadiah uang besar sebagai imbalan untuk mencari keberadaan Melisa.Akhirnya, kakakku sendiri menangkapnya dan memenjarakannya di ruang bawah tanah untuk menyiksanya.Tiba-tiba, ada seseorang yang muncul dari bawah meja. Tubuhnya membusuk dan dia berusaha mengeluarkan suara. Namun, dia hanya bisa mengeluarkan desisan yang menyeramkan. Dia gemetar dan mengeluarkan sehelai kertas yang ditulisi dengan darah."Jangan berbicara! Dia bukan kakakmu! Dia adalah anak yang diadopsi oleh ayahmu! Aku adalah kakakmu yang sebenarnya!"3Tiba-tiba, kakakku yang ada di ruang bawah tanah menyadari Melisa telah menghilang dan mulai berteriak dengan keras."Lana, Melisa hilang!"Beberapa saat yang lalu, kakakku pergi ke ruang bawah tanah dan menemukan sisa-sisa rantai yang terlepas dan perabotan yang hancur. Yang paling menakutkan adalah ada tulisan besar dengan darah di dinding."Aku akan mencari kamu.""Lana, berhati-hatilah. Kalau Melisa berhasil melarikan diri, dia tidak akan melepaskan kita. Dia pasti akan mencari kita dan membalas dendam. Dia selalu berkeinginan untuk membunuh kita." Suara kakakku terdengar gemetar. Dia memberiku beberapa petunjuk sebelum pergi dengan orang lain untuk mencari di rumah-rumah lain.Dia yakin bahwa Melisa pasti bersembunyi di suatu tempat dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk membunuh kami.Langkah kakakku makin menjauh. Melisa yang bersembunyi di bawah meja masih gemetar tanpa dapat menahan diri."Kamu bilang kamu adalah kakak kandungku dan dia bukan kakakku. Apa buktimu?""Aku punya! Tentu saja aku punya!"Bibir Melisa berbusa putih saking gemetarnya. Dia mengeluarkan foto yang basah oleh darah dari sakunya dengan hati-hati.Itu adalah foto keluarga, ada ayah dan ibu. Mereka duduk di kursi dengan seorang gadis kecil duduk di pangkuan masing-masing.Dari tampang kedua gadis, itu adalah aku dan Melisa!Di foto itu, memang tidak ada kakakku.4Pada saat ini, tiba-tiba kakakku terlihat sangat asing dan dingin.Seekor anjing besar bernama Mike yang sangat dekat pada kakakku tiba-tiba mengangkat kepala dan menggonggong sebanyak dua kali. Kemudian, ia melepaskan diri dari genggaman kakakku dan berlari masuk ke dalam, lalu langsung menuju meja depanku!"Kak, aku takut!" ucapku tanpa sadar dan memohon bantuan pada kakakku."Lana, beri tahu Kakak, apa yang ada di bawah meja itu?"Momen berikutnya, dia langsung menyingkirkan meja."Aah!"Aku berteriak keras dan kakakku pun terkejut. Dia segera berlari mendekat dan memegang tanganku dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Adik, kenapa lenganmu berdarah seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Kenapa tidak memberi tahu kakak?"Aku segera digendong kakakku masuk ke kamar tidur. Dokter keluarga merawat lukaku dengan cermat.Setelah semua orang pergi, aku pun berkata dengan lemah, "Kamu bisa keluar sekarang."Aku melihat keadaannya dan merasa iba, lalu menghela napas sambil berkata, "Apakah kamu memiliki bukti lain?""Ada! Seingatku, Ayah memiliki kebiasaan mencatat dalam buku harian. Saat itu, aku pernah melarikan diri setelah dikurung oleh pembunuh ini. Aku melihat dia membuang semua peninggalan orang tua kita ke loteng! Coba kamu cari di sana!"Aku melihat matanya yang gelisah dan terperangkap dalam pemikiran."Baiklah, kamu bersembunyilah di sini. Jangan sampai ketahuan oleh orang lain. Aku akan mencari buku harian Ayah di loteng."5Semua kamar di rumah itu terbuka, kecuali pintu loteng yang terkunci. Ini agak aneh.Aku menghidupkan senter dan dengan takut-takut, lalu menyinari ruangan yang gelap gulita ini.Aku mengelilingi sudut dinding, lalu tanpa sengaja menginjak sesuatu yang membuat suara berguling di lantai. Segera, aku mengarahkan senter ke arahnya dan ternyata itu adalah cincin pernikahan ayah dan ibu!Hubungan ayah dan ibuku sangat baik. Ibuku selalu memakai cincin itu.Sepertinya, Melisa tidak berbohong padaku. Kakakku benar-benar meletakkan barang-barang warisan mereka di sini.Aku duduk di lantai dalam sedih yang tak terucapkan. Ketika ingin bangkit, aku tiba-tiba melihat sebuah buku catatan yang kusam di depan dengan dua kata yang jelas, tetapi tertulis dengan jelas, "Buku Harian."Apakah itu buku harian ayah yang Melisa sebutkan?Aku sangat senang dan dengan segera meraihnya. Namun, saat aku mengangkat kepala, aku tak sengaja melihat ekspresi datar kakakku!"Lana, kenapa kamu bisa di sini? Aku melihat ada cahaya di loteng, jadi mengira ada pencuri di rumah."Dia memicingkan mata saat melihatku. Melalui sudut mataku, aku melihat dia memegang pisau yang tajam di tangannya.Saat ini, satu-satunya pikiran yang ada dalam benak aku hanyalah "semuanya telah berakhir."Kini, aku sepenuhnya percaya pada kata-kata Melisa. Aku kehilangan semua akal sehat. Ketakutan yang luar biasa memberiku keberanian ekstrem. Dengan tekad pemberani yang mendekati kematian, aku berkata padanya, "Berhenti berpura-pura! Kamu bukan kakakku, Randi Kenzo. Kamu adalah anak yang ayahku bawa pulang dulu. Kamu adalah sang pembunuh!"Saat dia memandangiku dengan kebingungan, emosiku pun makin memuncak. "Melisa telah memberitahukusegalanya. Sesungguhnya, dia bukan pembunuh seperti yang kamu katakan. Dia adalah kakak perempuanku. Dia adalah kakak kandungku! Segalanya sudah terungkap, yang aku pegang sekarang adalah buku harian ayah dulu. Di dalamnya pasti mencatat segalanya!"6Sambil menahan air mata, aku membuka buku harian ini. Setidaknya sebelum mati, aku harus membuatnya mengakui bahwa yang ayah bawa pulang bukanlah seorang gadis, tapi laki-laki ....Aku terperanjat.Pada halaman ketiga buku harian, jelas tertulis, "Melisa benar-benar malang. Dia hanya tahu namanya sendiri dan tidak tahu apa-apa yang lainnya. Aku tidak tega melihatnya bertarung dengan anjing liar demi makanan, jadi aku membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh kasih. Hanya saja, aku menyadari perlahan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anak ini. Dia sering muncul di samping tempat tidur kami di tengah malam dan beberapa kali dia bahkan membawa pisau ...."Lenganku lemas. Buku harian itu terjatuh dari tanganku ke lantai.Kakakku mengambil buku harian yang aku lemparkan ke lantai dan tidak marah padaku. Dia hanya menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. "Kakak sudah melihat semuanya. Tadi, ada jejak kaki berdarah menuju meja. Hanya saja, Kakak tidak ingin memaksamu mengatakannya. Kalau kamu tidak mengatakan, Kakak tidak akan bertanya. Kamu terluka, Kakak akan membawamu untuk diobati ...."Aku menangis dengan sepenuh hati sambil memeluk kakak. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu dan berteriak, "Kak! Saat ini, Melisa bersembunyi di lemari kamar tidurku. Cepat tangkap dan bunuh dia! Dia telah menipuku. Aku membencinya!"
Sempurna
Malam ini, angin terasa menusuk di permukaan kulit. Namun seorang gadis menggosok kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Ternyata gadis itu dibantu oleh kekasihnya agar semakin merasa hangat.“Dingin banget ya?” ucap Ayden. “Bangett, tapi ada kamu, nggak jadi dingin,” Sahara terkekeh. “Peluk aja aku, biar kamu semakin merasa hangat,” dengan senang hati, Sahara memeluk kekasihnya dengan erat. “Walau tanpa kamu peluk, aku udah ngerasa hangat, dari hati menjalar ke seluruh tubuh,” sekali lagi, Sahara berucap.Begitu bersyukur Sahara mempunyai kekasih seperti Ayden. Hubungan mereka setenang air. Sesekali pernah memanas seperti api namun kembali lagi setenang air. Mengalahkan ego masing masing agar tidak menyakiti satu sama lain.“Aku bersyukur punya kamu, Sahara,” Ayden semakin mengeratkan pelukannya pada Sahara. “Aku juga, enggak pernah terpikir buat ninggalin kamu, Ayden,” Sahara memejamkan mata, menikmati pelukan Ayden yang semakin erat. “Aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku, kamu adalah duniaku, bulanku, matahariku,” ucap Ayden begitu tulus.“Bisa kamu jelaskan, apa yang kamu ucapin?” ucap Sahara. “Kamu duniaku, seluruh hidupku aku serahin ke kamu, Sahara. Ketika duniaku merasa sedih, aku juga bakal merasa sedih dan ketika duniaku merasa senang, aku juga bakal ngerasa senang,” ucap Ayden. “Dan kamu adalah bulanku, yang menerangiku disetiap kegelapan yang mendatang. Ketika bayangan pun pergi meninggalkanku, kamu tetap ada disampingku memberi penerangan disetiap langkah”. “Dan kamu juga matahariku, yang selalu memberi kehangatan lembut disetiap pagi yang dingin. Ada yang bilang kehangatan matahari memancarkan kesetiaan, semua itu ada pada diri kamu, Sahara,”.“I love you in every universe, Sahara,” kata kata yang diucapkan Ayden selalu membuat Sahara terpukau.Rasa cintanya pada Ayden tidak pernah berkurang, selalu bertambah dan terus bertambah. Begitupun Ayden yang selalu mencintai Sahara sampai kapanpun. Kisah cinta yang begitu sempurna.Mereka menikmati segala suasana yang mereka rasakan. Melihat bulan yang menjadi tokoh utama di cerita langit yang gelap dan dibantu oleh miliaran bintang. Membuat langit menjadi indah untuk dipandang, sempurna.“Kamu tau, Ayden,” Sahara tiba tiba bertanya. “Apa?” jawab Ayden. “Ibaratnya aku ini Api dan kamu adalah Air,” Sahara menatap Ayden. “Api selalu takluk dengan Air,”. “Api selalu luluh dengan Air,”. “Dan Api selalu tenang ketika bersama dengan Air,”. “Hanya Air yang mampu membuat Api tenang dari segala emosi yang muncul, itulah sebabnya mengapa Air ditakdirkan untuk memadamkan Api,” ucap Sahara.“Aku semakin jatuh sama kamu, Sahara,” mata Ayden menjadi teduh. “Izinin aku untuk menjadi teman hidup kamu dan izinin aku untuk menjadi Air abadi untuk Api,” Ayden berkata dengan bersungguh sungguh.“So, will you be my wife?” Sahara terkejut, tidak menyangka jika Ayden akan melamarnya.“Aku…,” Sahara berkata dengan ragu. “Mantepin hati kamu dulu, aku enggak mau kamu nyesel dalam menjalani hubungan kita nantinya” ucap Ayden. “Aku mau, aku enggak akan nyesel,” pernyataan Sahara membuat Ayden merasa bahagia.Bulan semakin memancarkan sinarnya dan semakin berbentuk sempurna untuk dipandang. Mungkin bulan turut merasakan bahagia atas kedua insan itu.Ayden mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin. Berwarna silver yang dihiasi oleh berlian, membuat cincin itu terlihat elegan.“Kamu udah nyiapin ini?” Sahara merasa terkejut sekali lagi. “Udah lama dan aku nunggu waktu buat ngelamar kamu, aku takut kalau jawaban kamu enggak sesuai ekspektasi aku,” ucap Ayden.Ayden mengambil tangan Sahara dan memasangkan cincin itu dijari manis Sahara. Tangan Sahara terlihat semakin cantik akan cincin itu.“I love you, Ayden,” ucap Sahara begitu tulus. “I love you more, my moon, sun and world,” jawab Ayden.
Ketika Hujan Menimbulkan Cinta
Waktu itu menunjukkan sebentar lagi sudah mulai menjelang magrib. Tetapi aku dan Iqbal tetap saja duduk santai di taman kota. Setelah berbincang lama sambil menikmati suasana taman yang indah, petang pun tiba.Masjid-masjid di sekitar taman satu persatu mulai mengumandangkan adzan. Aku dan Iqbal bergegas menuju masjid dan segera mengambil wudhu. Hingga akhirnya saat selesai sholat, tiba-tiba hujan yang deras mengguyur kota. Aku dan Iqbal duduk di depan masjid menunggu hujan reda.Setelah lama menunggu, hujan pun sedikit reda. Hingga akhirnya aku dan Iqbal menuju tempat parkir untuk mengambil sepedah yang tadi dititipkan. Ketika berjalan menuju parkiran aku dan Iqbal masih berbincang sambil tertawa.Tidak lama kemudian hujan tiba-tiba mengguyur kota lagi. Karena hampir sampai di tempat parkir, akhirnya kita berdua memutuskan untuk lanjut berjalan menuju tempat parkir itu. Hujan itu membuat badanku terasa sedikit dingin dan menggigil.“kamu kenapa?” tanya Iqbal sedikit panik karena wajahku pucat. “badanku sedikit kedinginan” jawabku sedikit menggigil. Iqbal dengan cepat kilat melepas jaket dan dipakaikan ke tubuhku.Dan akhirnya tibalah kami di tempat parkir. Aku duduk di bangku pojok parkiran tersebut, Iqbal yang mengambil jaket kering di jok kendaraannya, dan langsung diberikan kepadaku untuk menggantikan jaket yang habis terkena hujan. Sembari mengibas-ngibaskan jaket yang habis kehujanan, Iqbal menyusul duduk di bangku depanku sambil menatapku.“Apakah kamu masih kedinginan?” tanya Iqbal sambil memakaikan jaket yang kering karena belum kupakai. “sudah sidikit mendingan daripada tadi” jawabku sambil malu karena lagi-lagi Iqbal memakaikan jaket untukku.Kami sedikit berbincang sambil menunggu hujan reda. Setelah hujan reda kita berdua langsung menuju masjid karena waktu menunjukkan sholat isya. Kami berdua mengambil wudhu dan segera sholat karena sudah sedikit terlambat. Setelah selesai sholat kita berdua mengambil sepeda dan akan segera pulang.Pelan-pelan sambil menikmati jalan kota yang habis diguyur hujan, kita berdua berbincang-bincang dengan lucunya. Waktu di sepanjang jalan aku masih sedikit merasakan kedinginan. “Tiba-tiba tangan Iqbal memegang tanganku” kagetku tapi aku diam saja karena disitu aku merasa diberi sedikit kehangatan.Karena masih ada waktu kita berdua memutuskan pergi ke cafe untuk rileks dan meminum kopi. Sesampainya di cafe, kita berdua turun dari sepeda.Kita masuk ke cafe dan lanjut memesan kopi. Selanjutnya kita berdua menikmati kopi yang telah dibuat. Setelah lama rileks di cafe, tidak terasa waktu sudah larut malam. Kita berdua memutuskan untuk pulang. Di perjalanan lagi-lagi Iqbal memegang tanganku. Aku hanya bisa tersenyum malu.Sesampainya aku di rumah, Iqbal berpamitan kepada ibuku untuk segera pulang karena sudah malam. Aku segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju yang basah tadi. Sehabis itu aku pun segera masuk ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur aku tiba-tiba memikirkan hal yang terjadi tadi sore. “apa sih yang sedang kupikirkan ini” ucapku sambil tersenyum. Aku pun segera tidur.Seminggu kemudian, hari yang ditunggu pun tiba. Waktu menunjukkan telah pagi dan aku pun bangun kerena alarm sudah berbunyi. Aku bergegas menuju kamar mandi.“mau kemana pagi-pagi gini?” kata ibuku sambil heran karena aku tergesa-gesa. “mau pergi keluar sama temanku yang kemarin hehe” jawabku.Aku bersiap-siap dan tinggal memakai kerudung. Tiba-tiba terdengar sepeda motor dia. Aku semakin tergesa-gesa. Akhirnya aku pun selesai dan segera keluar kamar. Ternyata Iqbal sudah di ruang tamu bersama ibuku. Iqbal pun berpamitan akan mengajakku keluar. Aku dan Iqbal akhirnya keluar. Iqbal membawaku ke suatu tempat yang aku pun tidak tahu itu dimana.Sesampainya di parkir tempat itu, mataku tiba-tiba ditutup dengan tangannya. Aku hanya kaget dan malu hampir tidak mau. Aku dibawa masuk ke tempat tersebut dan didudukkan di kursi dengan keadaan mata masih ditutup. Aku masih kebingungan kenapa mataku harus ditutup seperti ini.Akhirnya mataku dibuka pelan-pelan dan aku dikejutkan dengan sekitarku yang banyak sekali bunga berwarna pink. Tiba-tiba Iqbal berdiri di depanku membawa setangkai bunga pink itu.“ini maksudnya apa?” kataku semakin terheran-heran. Akhirnya Iqbal berbicara mengungkapkan semuanya. “sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak awal aku bertemu denganmu” kata Iqbal sedikit malu. Aku pun menjawab “apa yang kamu suka dari aku?”. “Karena kamu baik, itu yang aku suka darimu” jawab Iqbal sekali lagi. “lantas apa maksud dari semua ini?” tanyaku. “Aku ingin kamu menjadi kekasihku” kata Iqbal dengan wajah merah. Aku pun menjawab “iya aku mau”.Setelah lama melanjutkan perbincangan di tempat itu, akhirnya Iqbal mengajakku pulang. Di jalan Iqbal berkata “minggu depan aku datang ke rumahmu untuk melamar dirimu”. “Sebenarnya aku tadi sudah merencanakan ini semua sama ibumu. Ibu bicara kepadaku kalau kamu sering bicara tentang diriku, karena itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan itu semua kepadamu” ucap Iqbal lagi. Aku hanya bisa tersenyum malu.Setelah sampai di rumahku kita bertiga berbicara tentang acara minggu depan. Aku hanya bisa iya-iya saja karena aku sudah siap menunggu acara itu. Setelah itu Iqbal pamit pulang karena ingin membicarakan semua ini dengan keluarganya.Beberapa jam kemudian Iqbal mengirim pesan melalui whatsapp. “Aku tadi sudah membicarakannya dengan keluargaku, dan mereka setuju”. Isi pesan itu. Aku pun merasa senang dan bahagia.Beberapa hari sebelum hari H aku dan Iqbal pergi mencari baju couple untuk seluruh keluarga. Tak terasa kurang satu hari lagi, besok sudah hari H. Aku tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk besok. Aku hanya bisa menghubungi Iqbal melalui whatsapp saja.Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ternyata di rumah sudah banyak tetangga-tetangga yang membantu menyiapkan makanan untuk acara tersebut. Selesai mandi aku langsung melanjutkan untuk make-up. Tak terasa waktu sudah kurang setengah jam lagi.Setelah menunggu, akhirnya Iqbal beserta keluarga dan beberapa orang pun datang. Acara dimulai dan berlangsung dengan lancar. Aku merasa mendapat suatu kebahagiaan tambahan. Akhirnya setelah acara itu, hubungan kita berdua semakin bahagia. Semoga hubungan kami munuju ke jenjang yang lebih serius aminn…Ingat SIAPAPUN bisa menjadi APAPUN Kalau memang itu TAKDIR
Patung Kayu Ukiran Bersama
6 bulan lalu dia pergi, meninggalkan patung kayu ini yang dulu sering kita ukir bersama. Hingga ahirnya ada yang mengadopsimu, agar menjadi anak angkatnya.Aku Diana, dan orang yang sedang aku pikirkan adalah roby, dia teman aku dari kecil, aku dan dia sama sama dibuang oleh orangtua kita, aku anak panti asuhan, berumur 22 tahun, yang sedang ingin-inginnya merasakan apa itu cinta. “aku akan selalu ngabarin kamu, tenang saja!” janjimu yang kamu ucapkan 6 bulan lalu sebelum orang itu mengadopsi kamu masih menggema di pikiranku.Aku menunggu, tak ada kabar darimu. hingga suatu saat aku beranikan diri, menemui orangtua angkatmu. “Misi…” sapaku di depan pintu rumah ortu angkat kamu. “iya bentat!!!” terdengar suara seorang laki laki. Setelah keluar, ternyata itu roby. otomatis aku langsung memeluknya. “hey hey, apa apaan ini” bentak roby sambil melepaskan pelukku. “Roby kenapa kamu begitu? ini aku bawa patung kayu yang sering kita ukir bersama dulu!” ucapku. “apa ini, lebay amat sih” bentak roby sambil melemparkan patung itu lalu belah. Kemudian dia masuk lagi ke rumah dengan perasaan kesal. Diana hanya bisa menangis sambil berjalan pulang.Satu minggu setelah kejadian itu, Diana mendapatkan kontak roby dari teman roby, diana berusaha mengajak roby ketemuan, tapi selalu ditolak. hingga paksaan demi paksaan keluar dari mulut Diana, dengan setengah hati roby mengiyakan kemauan Diana.Malam tiba, waktu ketemuan Roby dan Diana. “roby, maaf membuatmu menunggu, macet soalnya” ucapku. “alasan” gerutu Roby. “kamu ke mana saja, janjimu gak ditepati, aku menunggu kamu” rengek Diana “kamu gak usah tau” ucap Roby “Rob aku sayang sama kamu!” ungkap Diana “terus?” tanya roby “kamu tau! kamu punya penyakit ginjal!?” ucap Diana “itu dulu, sekarang sudah sembuh!” jawab roby “iya, aku tau, itu ginjal aku yang satunya, karena aku donor ginjalku padamu!” ucap Diana, sambil pikirannya berkunang kunang lalu pingsan. “Diana…!” teriak RobyLalu roby menelepon ibu panti asuhan, dan mereka mengantar Diana ke Rumah Sakit terdekat. di perjalanan ibu panti asuhan menceritakan semuanya termasuk ginjalnya Diana yang didonorkan ke Roby. Roby menyesal, dia tidak mengetahui semua ini, hingga ahirnya nyawa Diana tidak tertolong di perjalanan.
Rasa Yang Hadir Pada Pertemuan Pertama
Patrycia adalah gadis cantik yang sangat baik hati. Dia adalah seorang mahasiswa yang kuliah di kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Gadis yang berumur berkisaran 19 tahun itu tampaknya memiliki keunikan tersendiri yang dapat merasa candu bagi yang menatapnya. Hal itu yang membuat aku merasa penasaran untuk bertemu dengannya. Walaupun aku sadar bahwa tidak mungkin dia bisa menerima saya, akan tetapi rasa penasaranku dengannya tidak bisa dihalangi.Rasa penasaranku sudah menjadi-jadi, ketika aku pertama kali melihatnya pada saat kegiatan di Golo Lusang. Kala itu, Patrycia datang dengan sepeda motor dengan menggunakan helm berwarna putih. Aku pun memandangnya dengan penuh penasaran, tanpa berkedip selama beberapa menit. Dalam hati berkata “ah… ternyata Patrycia sangat cantik”.Setelah dia turun dari sepeda motornya, dia berjalan menuju gerombolan anggota kegiatan. Aku memandang wajahnya nan cantik itu. Dan begitupun sebaliknya, dia pun menatap dan melempar senyuman yang manis dari bibirnya. Aku merasa sedikit malu dan grogi untuk menegurnya, sehingga kami berdua hanya bisa beradu pandang.Selang beberapa menit kemudian, aku pun menegurnya “halo Patrycia”, sambil berjabat tangan dengannya. Lalu, ia menjawab “Iya halo kaka”.Setelah berjabat tangan, aku pun kembali ke tempat panita untuk mempersiapkan agenda kegiatan. Seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan itu berkumpul untuk mempersiapkan, karena waktu kegiatannya akan segera dimulai. Peserta tampaknya sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Patrycia. Selama menjalani kegiatan, pusat perhatian saya selalu tertuju pada Patrycia. Hal ini yang membuat saya selalu gagal fokus dengan jalannya kegiatan. Kehadiran patrycia membawa perubahan baru bagi saya. Rasa penasaran akan gadis yang berparas cantik itu belum hilang dan selalu bertanya dalam hati, “kapan aku menjemputnya”?Tak puas dengan itu, saya coba mendekati temanya yang bernama Lani. “Patrycia itu, kamu punya teman?” “Iya kaka, dia saya punya teman, memangnya kenapa kaka?” Tanya Lani kepadaku. Lalu saya jawab, “tidak apa-apa adek, hanya sekedar tanya”.Sekitar 3 jam lamanya kami melaksanakan kegiatan tersebut, ketua panitia pelaksana kegiatan mengumumkan kepada peserta bahwa kegiatan tersebut telah selesai.Semua peserta bubar dari barisan dan mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa pulang. Lagi-lagi aku melihat Patrycia yang keluar dari barisannya. Aku pun tersenyum melihat sosok gadis yang berwajah dingin itu, tampaknya dia sangat rajin dan semangat.Setelah perlengkapan mereka dibereskan, tibalah saatnya kami pulang. Semua peserta berhamburan masuk kedalam bemo yang telah disiapkan. Sementara itu, Patrycia masih duduk disalah satu kayu yang rindang sembari memegang helmnya dengan ekspresi yang penuh kebingungan. Melihat itu, aku coba memberanikan diri untuk mendekatinya.“Halo… Patrycia, kamu lagi buat apa?” Kok, kelihatannya seperti orang yang dalam keadaan kebingungan? Mendengar itu, Patrycia kaget dan berkata “tidak kakak, saya lagi menunggu teman yang antar saya tadi”. “Hm… kamu tidak usah pusing, biar aku saja yang mengantarkanmu pulang”. Kata saya. “Apa tidak merepotkan ya kak?” Kembali dia bertanya kepadaku. “Tidak apa- pa, kebetulan aku pulang sendiri”.Patrycia pun memutuskan untuk pulang bersamaku. Aku sangat senang dan bahagia, gadis yang aku kagumi ini bisa pulang bersamaku. Untuk diketahui, gadis yang aku kagumi ini belum berstatus berpacaran, karena masih sedang “PDKT”.
Amanda
Keadaan masih belum berubah, meski delapan tahun sudah berlalu. Kau masih bertahan diam, menolak bicara dengan siapapun. Sebagian dari dirimu telah membatu, aku tahu itu, tapi aku merasa perlu membawamu keluar dari rasa bersalah yang kau pendam dalam-dalam. Rasa bersalah yang bertahun-tahun memenjarakanmu dalam ruang yang sama sekali tidak aku pahami.Sabtu sore, sebagaiamana telah menjadi kebiasaanmu, aku kembali mengantarmu ke pemakaman yang terletak di tepi sebuah danau. Dan seperti yang sudah aku duga, kau datang untuk sekedar menatap kosong sebuah makam, berdiri mematung, dan sesekali mendongak ke langit. Di belakangmu aku hanya bisa menerka-nerka, barangkali kau sedang bercerita, tentang hari-hari berat yang harus kau tempuh dalam delapan tahun terakhir. Atau mungkin kau sedang menyampaikan bahwa selama delapan tahun berlalu, kau tidak pernah benar-benar sendirian. Sebab ada seorang lelaki yang keras kepala menemanimu, memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya. Ah tidak, tidak mungkin. Aku terlalu jauh menerawang. Atau lebih tepatnya: menghayal, sorry.Aku melirik arloji di pergelangan tangan kiri. Dari sana aku kemudian menyimpulkan, sekira lima belas menit lagi azan magrib akan berkumandang. Itulah saat dimana kau akan memutuskan untuk beranjak dari tempatmu berdiri, pulang.Belum juga lima menit berjalan, rintik hujan turun perlahan. Beruntung aku sudah mempersiapkan kemungkinan tersebut. Maka kudekati kau yang masih bergeming, lantas kukembangkan payung persis di atas kepalamu. “Kali ini kau tidak harus menunggu magrib. Mari pulang. Percaya padaku, dia juga pasti akan mengerti.” Meski aku tahu kau tak akan menjawabnya, tapi toh kalimat itu keluar juga. Iya, bagiku sudah tidak penting lagi kau bakal menjawabnya atau tidak. Sebab urusanku denganmu, sudah bukan lagi perihal kata-kata.Kau berbalik tanpa merasa perlu melihatku—melintas begitu saja—seolah aku tidak sedang berada di sana. Tidak mengapa, aku toh sudah delapan tahun hanya menjadi bayanganmu, ada tapi tidak terlihat dalam pandangan matamu.Setiba di rumahmu, aku menitip pesan kepada adikmu, Ara, untuk mempersipakan makan malam. Sementara aku harus bergegas ke salah satu coffee shop di tengah kota. Ada janji yang harus kupenuhi. “Hujan lebat begini Kak, apa nggak sebaiknya Kakak nunggu reda.”, tawar Ara kepadaku. Aku tersenyum, lalu mengacak-acak rambutnya. “Aku sudah ditunggu Ra. Nggak enak kalau membuat temen-temen nunggu lebih lama lagi”, jawabku sekenanya. “Kalau begitu kakak pakai mobil rumah saja”, dia kembali memberi tawaran. Setelah kutimbang, ah rasanya tidak perlu juga. Mobil rumah hanya khusus untuk mengantarmu dan Ara. Untuk urusanku pribadi, ya tetap harus menggunakan milikku sendiri.“Ra, nggak apa-apa, aku pakai motor saja”, aku mencoba meyakinkan Ara. “Tapi kak”, tanggapannya memprotes keputusanku. Kudekati dia dan kuyakinkan sekali lagi, “Udah, amaaannn”. Ara pun luluh. Setelah mengenakan mantel dan menstarter motor bututku, aku perlahan menancap gas sambil melambai ke arah Ara. Setelahnya motor kupacu menyibak kerumunan hujan.—Setelah mempersiapkan makan malam, Ara kemudian mengantar satu nampan berisi nasi goreng dan segelas susu hangat untuk kakaknya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ara langsung masuk ke kamar kakaknya yang jendelanya berhadapan dengan taman belakang. Dan di hadapan jendela itulah sang kakak menghabiskan hari demi hari tanpa bicara. “Kak Gigih baru saja pergi, kak. Katanya sih ada urusan kerjaan”, meski kalimat itu hanya akan memenuhi kebebelan, namun Ara merasa hal tersebut tetap perlu disampaikan.Tanpa banyak bicara lagi, Ara beranjak meninggalkan kamar sang kakak. Namun tiba-tiba saja dia berhenti di muka pintu. Dia berbalik dan menatap nanar kondisi kakaknya. Sudah sekian psikiater, namun semuanya tidak ada yang berhasil mengembalikan kehidupan sang kakak. Sang kakak sudah lama hilang dari dunianya. Dunia yang berisi romantisme dan keceriaan.Di kepala Ara kini berpilin peristiwa demi peristiwa di masa lalu. Delapan tahun lalu, kecelakaan maut terjadi di ruas jalan tol yang melibatkan antara sebuah mobil pribadi dengan truk pengangkut muatan. Pengemudi truk mengalami cidera di bagian kepala dan lengan kanan, sementara dua penumpang mobil pribadi dalam keadaan kritis.Segera setelah dilarikan ke rumah sakit, tim dokter mewartakan bahwa korban lelaki berikut janin dalam kandungan korban perempuan tidak bisa diselamatkan. Korban perempuan yang baru siuman dua hari berselang menangis histeris menerima kenyataan yang harus ia terima. Hari-hari selanjutnya, si korban perempuan berubah menjadi pribadi yang pendiam, gampang depresi, dan sangat sensitif. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah hampir melakukan percobaan bunuh diri. Pasalnya dia merasa sangat bersalah atas tragedi yang merenggut suami dan bakal anaknya itu. Sebab seandainya dia tidak memaksakan diri untuk ke suatu tempat, tregadi itu tidak semestinya terjadi.Untunglah ada Gigih, seorang laki-laki yang berkat kehadirannya, perempuan itu perlahan-lahan mulai bangkit dari keterpurukannya. Ya meski tak pernah bicara kepada siapapun, paling tidak dia sudah mau melakukan beberapa aktivitas semisal rutinitas ke makam setiap Sabtu sore. Paling tidak dia tidak terlalu mengurung diri, dan yang paling penting tidak lagi melakukan percobaan bunuh diri.Siapakah Gigih? Sesuai namanya, dia adalah sosok laki-laki yang gigih dalam segala hal, termasuk dalam menghadapi perempuan yang tidak lain adalah kakak Ara tersebut. Gigih sebenarnya sudah menaruh rasa pada kakak Ara sudah sejak masa kuliah, namun dia tidak pernah berani mengatakannya sampai kemudian kakak Ara dinikahi oleh lelaki lain.Gigihlah yang kemudian menemani Ara dan kakaknya selama delapan tahun terakhir.Suara siaran televisi kemudian membuyarkan Ara dari lamunan. Laporan dari salah satu kanal berita menyebutkan telah terjadi kecalakan di jalan X, jalan menuju kota. Segera Ara mengambil telepon genggamnya, mengurutkan abjad, dan kemudian menyentuh salah satu kontak yang bertuliskan “Kak Gigih”. Hanya terdengar bunyi “nut.. nut.. nut..” sedari tadi, nomor Gigih sedang tidak bisa dihubungi. Ara semakin panik, pikirannya semakin tak karuan, hatinya kian gusar.Dalam ketidakpastian itu, Ara melihat kakaknya berdiri di muka pintu kamarnya dengan menggunakan sweater. “Kita ke lokasi, cari Gigih.” Begitu kalimat pendek yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut kakaknya. Ara terkejut, antara bahagia dan bingung. Bahagia karena kakaknya sudah mau berbicara lagi, bingung karena sisi lain Gigih masih belum jelas keadaannya.Keduanya bergegas menaiki mobil dan mobilpun dipegang kendali oleh Ara menyibak hujan yang masih tak kunjung reda.—Amanda, aku juga tidak tahu bakal berapa lama bertahan menunggu kau keluar dari penjara yang kau ciptakan sendiri untuk pikiranmu. Tapi betapapun, aku tidak bisa berhenti begitu saja menunggumu, sebab aku percaya, tidak ada yang sia-sia dari sebuah penantian. Iya, aku terlalu keras kepala untuk terus mencintaimu.Di tengah hujan yang luar biasa lebat, seorang perempuan dari seberang jalan berlari menghampiriku yang duduk di sebuah tempat tambal ban, menunggu roda motoku ditambal karena bocor di tengah perjalanan. Samar-samar tak kukenali perempuan itu, tapi semakin dekat dia berlari menuju arahku. Semula kupikir dia sama halnya denganku, ingin memastikan bahwa ban mobilnya bisa ditambal. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba saja perempuan itu menyongsongku, memelukku dengan tangis sesenggukan.“Maafin aku”. Dari suaranya sepertinya aku kenal. Perlahan kukendurkan pelukannya, dan benar saja, perempuan itu adalah Amanda.“Kak Gigih nggak kenapa-kenapa kan?”, seorang perempuan di belakangnya turut bersuara. “Ara?”.“Ada berita kecelakaan motor di jalan X, ku pikir Kak Gigih”. Mendengar itu tawaku meledak begitu saja. “Iya Ra, aku kecelakaan. Nih liat, ban motor kakak bocor. Kakak telat kumpul juga akhirnya..”. Kali ini kualihkan pandangan ke Amanda, matanya yang redup hari ini kembali menyala. Aku mengusap air hujan yang membasahi wajahnya dengan kedua telapak tanganku. Dia kemudian menggenggam tanganku sambil berkata lirih, “Kamu nggak boleh kenapa-kenapa. Kamu masih harus menemaniku tiap Sabtu sore”.
Cinta 130 Km
“pagi sayangku,” sapa Adit pacarku di seberang telpon. “ih.. kamu mah pagi-pagi udah telepon aja, ada apa si?” cicitku baru bangun tidur dan masih memeluk guling. “wih si cantik baru bangun,” gombalan maut pacarku mulai keluar. “ih.. kamu mah pagi-pagi udah bikin orang salting,” sahutku dengan pipi memerah dan menahan senyum malu. “hahaha lucunya pacarku.. oh ya, hari ini kamu sibuk ngga?” tanya Adit. “engga terlalu si, mau ketemu?” tanyaku. “iya dongg, udah lama ngga ketemu kita.” Jawab Adit pacarku. “ih.. mager banget aku,” sahutku dengan nada malas. “kebiasaan pacarku mulai nih, ayolaaa sayang.. dikurangi rasa malasnyaa! Nanti kubelikan es cream yang banyak deh.” Bujuk Adit kepadaku. “ih serius? Oke deh, ketemu di Malioboro ya! See you sayangku, dadahh..” sahutku dengan nada yang sangat senang sekali, hehe. “giliran dibelikan es cream aja langsung mau, dasar malasan. Oke deh, see you sayangku..” ucap Adit dengan nada kesal dan senang sembari menutup telpon.Percakapan kita berakhir, aku segera bebersih dan mempersiapkan diri. Menunggu Adit pacarku datang, ia ke Malioboro naik kereta api, karena ngga ada macetnya jadi mungkin sampai ditujuan dengan cepat.Aku dan Adit sudah berpacaran sejak SMP hingga saat ini, kita menjalani kuliah dengan kota yang berbeda. Dia di kota Semarang dan aku di kota Yogyakarta. Sebulan sekali kita menghabiskan waktu bersama, kalau kata Adit mengobati rasa rindu, hahaha. Jika libur kuliah kadang kita pulang ke Mojokerto bersama, menemui orangtuaku dan orangtua Adit pacarku. Orangtua kitapun sudah saling mengenal akrab, jadi tak heran jika kita juga sangat akrab.Setelah semua pekerjaan selesai dan akupun sudah siap segera menuju Malioboro, Adit juga baru saja menelepon katanya dia sudah sampai di sana. Jarak kost anku ke Malioboro hanya 5 meter saja dan membutuhkan waktu 5 menit.Sesampainya di sana.. “DOR!! Hai sayangku,” kejutan disembari dengan sapaan yang membuat Adit terkaget. “astaghfirullahaladzim, kaget aku,” ucap Adit sambil mengelus dada karena terkejut. “HAHAHAHAHA,” aku tertawa puas.“oh ya, ini es creammu, kubelikan banyak biar kamu gemuk haha..” kata Adit yang sengaja meledekku sambil menyodorkan es cream dan mengelus kepalaku. “wih… makasi ya sayang, hehe.” Ucapku sangat senang. “jadi.. mau kemana kita hari ini?” tanya Adit dengan raut wajah yang sangat senang. “jalan-jalan aja dulu keliling Malioboro, sama cari makan di lesehan pinggir jalan.” Sahutku sambil memakan es cream. “okedeh, ayoo!” ajak Adit pacarku sambil menggandeng tanganku.Kita berdua berjalan bersama mengelilingi Malioboro sambil bercerita tentang pengalaman sehari-hari dan bersendau gurau bersama, makan di lesehan pinggir jalan, jajan di angkringan sambil menikmati senja, dan berfoto-foto. Momen itu seperti memecahkan celengan rindu yang sudah kita tabung sekian lamanya.Tak terasa malam sudah tiba, rasanya waktu begitu cepat. Kini saatnya Adit pacarku kembali ke kota Semarang dan kita kembali menabung rasa rindu.Sudah dua minggu Adit tidak menghubungiku, biasanya tiap malam ia selalu minta telepon. Awalnya aku kira ia sibuk dengan kuliahnya, jadi aku biarkan saja. Kini kucoba menghubungi orang tuanya, katanya mereka juga berusaha menghubunginya tetapi nihil. Aku mencoba menenangkan diri dan tidak panik. Aku mencari kesibukan dengan mengerjakan tugas kuliahku.Kini 1 bulan telah berlalu, setelah pekerjaan kampus kelar dan saatnya berlibur. Berlibur adalah momen yang di tunggu-tunggu mahasiswa untuk pulang ke kampung atau ke kota menemui orangtuanya. Itu sangat berbeda denganku saat ini, aku yang disemuliti kesedihan dan panik akan menghilangnya kabar pacarku membuatku tidak bersemangat lagi. Akhirnya aku menelpon orangtuaku guna mengabari aku akan pulang ke kampung besok, tetapi aku kecewa karena aku sendirian tidak dengan Adit pacarku.Aku berangkat menuju kota Mojokerto naik kereta api, di sepanjang perjalanan aku hanya merenung dan memikirkan kabar dari Adit pacarku. Setelah sampai di stasiun kota Mojokerto aku menelepon ayahku agar dijemput. Tak lama kemudian datang sebuah mobil yang dikendarai oleh ayahku dan dua penumpang yaitu adikku, seketika itu aku menyembunyikan raut wajah sedihku dengan senyuman yang manis.“kak, ayo cepat naik mobil! Di rumah ada orang yang nunggu kakak.” Ucap adekku mengajakku pulang. “siapa dek?” tanyaku. “nanti juga kakak tau sendiri,” ucap adekku yang semakin membuatku penasaran.Sesampainya di rumah, hendak masuk ke dalam aku terkejut. Selama ini orang yang kutunggu kabarnya pun berada di ruang tamu rumah dengan kedua orangtuanya dan sedang berhadapan dengan Ayah dan Bundaku. “ADITT??” “RICHAA??” Aku langsung menghampirinya dan dia langsung memelukku, dia adalah Adit pacarku. Aku menangis sendu dalam pelukannya.“ada apa kamu kesini? Kenapa ngga bilang?” tanyaku kepada Adit sambil sesegukan yang masih berada di pelukannya. “Adit telah menceritakan semuanya kepada kami tentangmu, Nak. Dari kepribadianmu, akhlakmu, dan cara berpikirmu sehingga kau patut dipinang. Sekarang dia ingin meminta restu dari kami dan orangtuamu untuk melamarmu.” Jawab seorang laki-laki paruh baya, yaitu Ayahnya Adit.Entah aku harus sedih ataupun senang, aku langsung ke pelukan Bunda. “loh kenapa nangis, Cha? Bukannya harus senang yaa..” kata Bunda membujukku. Seketika tangisanku berhenti dan aku duduk di sebelah Bunda. Dan pada akhirnya keluargaku dan keluarga Adit merestui kami berdua. Menentukan hari yang tepat untuk pemasangan cincin pengikatan.“meskipun kamu sudah ada calonnya, kamu jangan lupa akan kuliahmu ya, Nak. Habis ini lulus to?” kata bundanya Adit menasehatiku. “iya, bunda. Siapp, hehe..” ucapku dengan tersenyum.
Diam Diam Menatapmu di Sisi Tirai Jendela Kantin Kampus
Pagi yang begitu cerah dan mentari terlihat begitu indah. Ketika tatapan mataku tertuju pada tirai jendela kantin Kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Rupanya tirai jendela kantin kampus itu tak lagi mampu menyembunyikan terangnya sinar surya, hingga terlihat dan tampak jelas wajah yang ada di sisi ruangan itu. Dibalik tirai jendela bermotif merah marun itu, paras seorang puan cantik seperti bule yang berkulit putih, isung lempe nau (hidung pesek, kelihatnya elok), tinggi badannya persis seperti saya. Dari kejauhan kami dua saling melempar senyum yang manis, seolah-olah kode sudah mulai bekerja.Sekarang dibenakku selalu bertanya, kapan aku menjemputmu? Berharap suatu saat nanti, kami berdua menemukan waktu untuk saling sapa dan ngobrol, pasti aku merasa bangga, senang dan bahagia. Mengaguminya adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku, entah mengapa rasa ini muncul dengan tiba-tiba. Tapi tak mengapa, karena tidak ada yang mengajarkan rasa suka, tumbuh tanpa sepengetahuan diri.Kantin Kampus merupakan tempat pertama kali aku menemukan sosok puan cantik serupa bule itu. Setelah saya mencari tahu tentang keberadaannya, ternyata dia anak keperawatan. Ehhh… salah, maksudnya dia Prodi Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNIKA Santu Paulus Ruteng. Anehnya, setiap kali aku mengunjungi tempat itu, dia juga pasti ada disitu. Saya berpikir dalam hati, mungkin ini yang dikatakan tak ada yang dapat menghalangi kemana jalannya hati, karena hati tahu dimana pemiliknya yang sesungguhnya.Diketahui, kantin kampus menyediakan berbagai jenis jual-jualan, seperti gorengan, kopi, teh, mie, dan sebagainya. Kantin ini, tak salahnya selalu mempertemukan mahasiswa dari berbagai jurusan yang ada di Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng. Jangan heran, kalau ada mahasiswa menemukan rasa yang sama di tempat ini.Lalu, bagaiaman dengan puan yang serupa bule tadi. Jujur, saya sangat mengaguminya. Mencintainya dalam diam, memberi asa setiap rasa. Salahkah aku mencintaimu dalam diam? Kurasa tidak, waktu selalu memperindahkan setiap rencana dan niat baik kita. Berharap selain aku dan Tuhan, kamu juga harus tahu bahwa aku sedang menunggumu.Sampai dengan saat ini, namanya saja saya belum tahu, apalagi akun media sosialnya, seperti facebook dan instagram. Kalau nomor Whatsappnya, mohon maaf saya belum memberanikan diri untuk memualinya… hehehe.Oh… iya. Saya juga pernah melihatnya di Aula Gedung Utama Kampus Lantai 5. Persis waktu itu, kami sama-sama mengikuti seminar karir yang diadakan oleh Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng. Kebetulan waktu itu, salah satu pemateri dari media Tabeite.Com yang membawakan materi terkait dengan literasi di era digital. Disela-sela itu, saya membagikan pengalaman saya kepada pemateri, “bahwa saya selama ini pegiat literasi menulis dan membaca di media Savirari.Com seperti puisi, cerpen, opini, esai dan tulisan-tulisan sederhana semampu kita. Media ini merupakan sebuah portal menulis yang dikelola oleh praktis pendidikan dan mahasiswa di Kabupaten Manggarai. Bukan hanya di media Savirari.Com saja yang saya tulis selama ini, tetapi ada berbagai banyak media yang saya tidak bisa sebut satu-persatu”. Ungkapku kepada forum.Berharap waktu itu, puan berwajah dingin dari Prodi Bahasa Inggris, mendengarkan dan menatap saya pada saat itu, agar nantinya kalau ketemu bisa saling sapa dan akrab seperti teman. Dan waktu itu aku berharap juga, dia bisa mengirimkan tulisannya di media yang aku kerja sekarang, yaitu Savirari.Com. Andai dia mengirikan tulisan di mediaku, tentu saja saya senang. Mungkin itu kesempatan emas buat saya untuk bisa memulai komunikasi bersamanya. Mohon maaf, anganku terlalu berlebihan, semoga menjadi kenyataan… ohok.. ohok.Ceritanya sampai disini, entah saja bagaimana endingnya nanti. Saya tetap kasih tahu kalian, walaupun aku menunggu waktu tentang jawaban yang pasti, entah saling menjaga hati ataupun aku iklas untuk tetap sendiri.
Sakit Hati Di Selingkuhi Pacar, Akhirnya Ku Tidur Dengan Adik Sahabat !
Chelsea yang diselingkuhi pacarnya galau dan mabuk-mabukkan, besoknya dia mendadak bangun dari kasur, melihat ke sekitar yang cukup asing baginya, dia menyadari dia sedang di hotel!Dengan pelan dia menolah ke sampingnya, seketika nafasnya berhenti, dia telah meniduri adik sahabatnya sendiri !1"Chelsea, buka pintunya cepat !" Sunna menendang pintu dan meneriak keras buat Chelsea merinding.Kalau tetap biarkan dia menendang pintu mungkin dia akan dilapor tetangganya ke polisi, dari pada dinasehati polisi Chelsea akhirnya memilih buka pintu.Awalnya Chelsea hanya membuka celah kecil, Sunna cukup cepat bereaksi dan langsung masuk."Bagus ya kamu, sebagai dokter muda profesional sudah berbuat tapi tidak mau tanggung jawab ya !"Chelsea tidak berdaya dan memejamkan matanya, dugaanya benar, Sunna datang utnuk menanyainya masalah malam itu, tapi masalah itu terjadi dengan sangat mendadak, dia sendiri juga belum pulih dari keterkejutan.Sunna baring di sofa, menyilangkan kaki, dengan ekspresi seperti sedang menonton pertunjukkan seru "Jadi, bagaimana rencanamu? Ini semua sudah terjadi.""Aku......"Chelsea memikirkan tiga kali sebelum berkata sambil melirik Sunna berkali-kali baru berani berbicara,"Hmm, ini sudah abad 21, semua ini hanyalah ketidaksengajaan, gimana kalau...... ""Bagus ya kamu, sudah berbuat tapi tidak mau tanggung jawab ya ! Kamu hanya mau nikmatnya saja......"Chelsea menutup mulutnya, jika membiarkannya terus berbicara entah apa saja yang akan dikatakannya, bagaimanapun juga Sunna adalah dokter paling berani dirumah sakit mereka !"Aku bukan tidak mau tanggung jawab, hanya saja semua masalah ini terlalu mendadak dan juga ini hal yang normal bukan?......""Jangan banyak bacot !" Sunna mengeluarkan dokumen "Cepat keluarkan KTP dan KK kamu nikah sana!""Sama siapa ?""Siapa lagi ? Kamu tidur sama siapa ya nikah sama dia sana."Sunna tertawa jahat "Akhirnya nikah juga si kaku itu."2Chelsea akhir-akhir ini sedang dalam masalah besar, karena lelaki brengsek dan dua botol minuman.Awalnya Chelsea adalah dokter wanita ahli beda ortopedi, dia tidak pernah mengalami masalah dalam pekerjaan, di rumah sakit Chelsea memiliki reputasi yang cukup baik, masa depannya bisa bilang sangat cerah.Ditambah lagi pacarnya adalah wakil manager dari sebauh perusahaan publik, orang luar memandang Chelsea sebagai wanita wanita abad baru yang memiliki karier dan hubungan cinta yang sukses.Semua baik-baik saja hingga Chelsea melihat mobil yang familiar itu, di sisi penumpang yang sering dia duduki muncul sebuah lipstik yang asing, Chelsea dengan tenang melihat pacarnya Carlos, setelah itu mengantongi lipstik itu.Chelsea yang sejak kecil lebih cerdas dibanding orang sekitarnya, tentu dia tidak akan dengan bodoh menangis dan langsung menanyakan masalah ini pada pacarnya, jangan lupa dia adalah dokter cantik yang sangat hebat mengontrol emosional.Dengan tenang Chelsea diam-diam mengumpulkan buksti dan Chelsea menyaksikan dengan mata sendiri, pacarnya ciuman dengan selingkuhan itu, Chelsea merasa inilah saatnya dan segera maju melemparkan lipstik itu ke muka lelaki brengsek.Wanita cantik itu kaget dan teriak keras, segera berlindung dibelakang lelaki brengsek itu, Chelsea tertawa dingin "Saya awal mengira anda adalah wanita cantik yang lemah lembut ternyata paru-paru anda sangat sehat sampai bisa teriak sekeras dan selama ini, harusnya tadi saya melemparkan lipstik itu ke muka anda, namanya juga membalikkan barang ke pemiliknya."Chelsea pergi tanpa ada penyesalan, walaupun lelaki itu adalah pria berkualitas yang sudah dia jalani hubungan selama setahun, bagi Chelsea dia tidak pernah bisa menrolerir perselingkuhan.Chelsea mengambil cuti untuk istirahat sejenak, dia memasuki sebuah bar di dekat rumah untuk mabuk-mabukan.Di zaman sekarang ini sudah sangat umum jika bertemu dengan lelaki brengsek, Chelsea membujuk diri ini semua akan berlewat.Chelsea tidak terlalu sedih, dia hanya merasa kesal dirinya di selingkuhi ! Setelah minum dua gelas, Chelsea semakin merasa jengkel, karena setengah bulan yang lalu dia baru saja memberikan jam cukup mahal kepada lelaki brengsek itu.Chelsea mengeluarkan handphone telepon ke Sunna, Chelsea terus curhat masalah lelaki brengsek itu, orang yang angkap telepon menanyakan alamay, setelah itu berkata "Tunggu disana, aku pergi jemput."Chelsea bukan peminum yang baik, setelah dua botol dia habisi, matanya mulai melayang.Dalam keadaan linglung, dia melihat seorang pria muncul di hadapannya, tampangnya tampan, postur tubuhnya bagus, nampak umurnya tidak terlalu tua.Huh, hanya lelaki saja, asal dia mau lelaki mana yang tidak bisa dia dapatkan.Setelah muncul pemikiran ini, Chelsea segera mempraktekkannya, dia mengambil segelas minuman dan mulai menggoda pria didepannya "Hei cowok ganteng, mau lewati malam ini denganku ?""......"3Chelsea mengerutkan keningnya saat sinar matahari pertama menyinarinya, dia perlahan membua mata.Konsekuensi mabuk dirasakan Chelsea sekarang, kepalanya sakit, bahunya sakit, pingganya sakit dan......
Peristiwa Semalam
Malam ini tak seperti biasanya, setelah makan malam majikan tuaku minta diajak keluar jalan jalan ke taman. Kuturuti permintaannya begitu saja tanpa banyak protes, kupikir mungkin ada yang sedang dirisaukannya sehingga dia ingin keluar untuk sekedar menjernihkan pikiran. Sudah dua hari ini kudapati dia lebih pendiam dan suka termenung.Sepanjang jalan kami sama sama membisu, padahal biasanya majikan tuaku banyak omong, menceritakan cerita yang sama yang entah sudah berapa puluh kali kudengar dari mulutnya. Kubiarkan dia sibuk dengan lamunannya sementara aku menikmati alunan lagu yang tersimpan dalam memory hpku melalui earphone. Lagu lagu itu mampu membuat langkahku terasa lebih ringan.Hampir sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk menyusuri jalanan sambil mendorong majikan tua yang duduk di kursi roda. Bobo begitu aku biasa nemanggilnya. Bobo memang suka jalan jalan, dalam sehari bisa 3 sampai 4 kali kami keluar rumah.Aku merasa suasana malam ini begitu ganjil, kuamati lebih seksama keadaan disekitarku, baru kusadari sejak tadi tak kujumpai seorangpun berpapasan jalan denganku, tak ada satu kendaraanpun melaju membelah malam, kulihat jam di layar hp ku padahal waktu baru menunjukkan jam 20.30 masih terlalu sore untuk naik ke peraduan. Lagipula northpoin termasuk daerah padat penduduk, selalu ramai, tengah malam sekalipun tak akan sesepi malam ini.Belum juga hilang rasa heranku tiba-tiba saja kursi roda yang diduduki si mbah seperti melaju diatas jalan berbatu padahal jalanan didepanku rata. Aku berhenti ketika kudengar si mbah mulai berteriak teriak, wajahnya pucat pasi, tatapan matanya kosong, mulutnya terus meracau berkata kata dengan bahasa hokian, yang sama sekali tak kupahami maknanya, dan suara itu bukan suara mbah. Aku syok hal hal yang selama ini paling kutakuti yang hanya kusaksikan dilayar kaca, kini terpampang di depan mataku, menimpa orang terdekatku, si mbah kerasukan roh halus, dengan panik kutepuk tepuk wajahnya, kugoyang goyangkan tubuhnya berusaha mengembalikan kesadarannya, sambil mulutku tak henti membaca doa apa saja yang kubisa, aku ketakutan setengah mati, tak ada seorangpun yang bisa kumintai pertolongan, dan aku hanya bisa memeluknya erat ketika si mbah mulai meronta.Kuedarkan pandanganku berharap ada orang yang lewat, tiba tiba kulihat ada bayangan orang di gedung apartemen seberang jalan, dia berdiri dibalik tirai, di jendela lantai 7, sedang menatap kearahku, lalu dia menghilang dan lampu yang tadi menyala redup pun padam, gelap.Tiba-tiba tubuhku tersentak oleh kekuatan hebat, aku seperti baru terlepas dari sepasang lengan raksasa yang memeluku erat. Aku tersadar, ketika membuka mata sekelebat bayangan berlalu meninggalkanku, kudapati aku terbaring di ranjang kamarku. Kupaksa diriku untuk mengingat apa yang telah terjadi, kulihat jam dilayar hp ‘jam 03.00’ dini hari, ah rupanya aku mimpi buruk.Segera kuhampiri kamar si mbah, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi si mbah sedang tertidur lelap. YA ALLAH mimpiku serasa begitu nyata, badanku masih pegal akibat kekuatan yang tak kasat mata yang memelukku erat, dan sekelebat bayangan itu aku benar benar melihatnya.Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya, selesai sarapan kuantar si mbah ke taman untuk olah raga. Kuperlambat langkahku ketika kulihat kerumunan orang di depan apartemen yang muncul dalam mimpiku semalam, ada mobil ambulan, mobil pemadam kebakaran pun berjejer disana. Juga mobil mobil dari stasiun tv, para aparat keamanan sibuk menertibkan orang-orang yang menonton. Para wartawan pencari berita sibuk mengatur kamera, mencari posisi yang tepat untuk mengambil gambar. Dan dari bisik bisik yang kudengar dari orang-orang itu aku tau bahwa semalam ada seorang nenek yang gantung diri di lantai 7, dan yang gantung diri itu ternyata teman si mbah yang akhir akhir ini tak pernah lagi kujumpai di taman. Dia memang sering mengeluh kepada teman-temannya sesama lanjut usia kalau menantunya memperlakukan dia seperti pembantu, bahkan jatah bulanan dari pemerintah yang setiap bulan diterima pun dirampas oleh menantunya. Dia sering bilang lebih baik mati daripada hidup tak ada artinya. Aku yakin sekali itu dia, karena aku sempat melihat wajahnya menyembul dibalik selimut biru yang sempat tersingkap ketika petugas ambulance mengusung mayatnya.Segera saja kutinggalkan tempat itu dengan tergesa, aku hanya menjawab ‘tak tahu’ ketika si mbah bertanya siapa yang bunuh diri. Aku tak ingin membuatnya bersedih, jiwanya pasti terguncang.
Sosok yang Sedang Balas Dendam
Berita tentang pembunuhan di jalan yang menghubungkan antara desa Jetis dan desa Wringin semakin menyebar luas ke seluruh penghuni desa sekitar. Jalan itu memang sepi dan tidak pernah dilalui seorangpun jika malam tiba. Jika ada yang melewati jalan itu saat hari sudah gelap, pasti keesokan harinya jasadnya sudah tergeletak di ujung jalan dengan kondisi tidak sewajarnya. Kejadian seperti ini memang sudah sering terjadi.Kali ini korban pembunuhannya mati begitu mengenaskan, dengan kepala terpisah dari tubuhnya, biasanya hanya ada beberapa tusukan benda tajam atau bekas sayatan di seluruh tubuhnya. Mengerikan memang, hingga warga di sini pun jika malam tiba tidak akan ada yang melewati jalan itu.“Ben, kau tau? Pelaku pembunuhan itu bukanlah manusia, melainkan penunggu jalan itu yang dulu pernah menjadi korban perampokan, dan sampai saat ini si hantu itu terus saja membunuh siapapun yang melewati jalan itu kalau sudah malam, mungkin dia sedang membalas dendam.” Ikal sahabatku bercerita sambil sesekali memegang lehernya yang terasa merinding. Ya, kabar tentang siapa pelaku pembunuhannya memang sudah tersebar luas dan hampir semua warga mempercayainya. Sekitar 2 tahun yang lalu memang pernah ada tragedi perampokan di jalan itu, korbannya seorang perempuan, dia dirampok dan dibunuh dengan banyak luka tusukan di sekujur tubuhnya, dan bahkan tangan kanannya sampai terpisah dari tubuhnya.“Sudahlah Kal, aku penasaran siapa yang sudah menyebarkan rumor begitu, aku bahkan tidak percaya jika aku belum melihatnya sendiri, barangkali itu memang perbuatan manusia.” Aku bahkan rasanya tidak percaya dengan berita itu. “Jelas-jelas itu perbuatan makhluk ghoib Ben, Mbah Parja yang merupakan orang pintar di desa ini pun bilang kalau itu perbuatan penunggu jalan itu, makanya warga di sini percaya dan tidak ada yang berani melewati jalan itu jika malam tiba.” Jelas Ikal dengan nada suaranya agak meninggi, mungkin dia agak kesal kepadaku karena dari dulu hanya aku yang tidak percaya dengan mitos itu. Jika siang aku sering melewati jalan itu, tapi memang aku tidak pernah melewati ketika malam tiba. Sebagian orang pasti akan memilih memutari desa lain jika ingin ke desa seberang daripada harus melewati jalan itu, dan hingga kini walau siangpun jalan itu menjadi sepi.“Kal, aku mau pulang dulu, ini sudah jam 4 sore.” Rumah Ikal memang berada di desa Jetis, sedangkan rumahku berada di desa Wringin. Sebenarnya jarak rumah kami dekat, hanya terpaut jarak kurang lebih 500 meter saja jika melewati jalan mistis itu. Tapi jika harus memutar lewat desa lain menghindari jalan itu, jaraknya menjadi kurang lebih 1.5 km. “Ya, ini sudah sore Ben, tapi ingat jangan lewat jalan itu.” Ikal mengingatkanku, tapi aku memang berniat akan melewati jalan itu, toh ini masih sore, masih ada beberapa jam lagi hingga malam tiba, dan aku perkirakan tidak akan sampai 30 menit untuk sampai rumah. “Masih jam 4 Kal, kau tenang saja.” Jawabku “Beni, kubilang jangan.” Ucapnya lagi, kemudian aku hanya tersenyum menanggapinya sambil berjalan pulang.Suasana di jalan ini masih sama seperti hari biasanya jika aku melewatinya, Sepi. Baru jam 4 lebih 10 menit tapi suasananya sudah hampir seperti malam. Mendung, dan pohon pohon di sekitar jalan ini terlalu rimbun jadi nampak gelap. Aku merasakan ada air menetes di mukaku. “Ah, gerimis. Aku harus lebih cepat sampai di rumah sebelum hujan.” Begitu pikirku.Panjang jalan itu hanya sekitar 100 meter saja. Sampai di tengah jalan aku merasa ada seseorang yang memanggil namaku. Aku mengabaikannya. Tapi berulangkali memang seperti ada yang memanggil namaku. Ah, itu hanya perasaanku saja, pikirku.Beberapa langkah berjalan aku melihat sekelebat bayangan hitam melintas di depanku. Aku kaget. Kali ini aku merasa jantungku sudah berdebar tak karuan. Aku kemudian mempercepat laju langkahku, namun yang kudapati aku melihat sosok perempuan berdiri di depanku. Wajahnya hancur, noda darah terlihat jelas di pakaiannya. Disamping perempuan itu berdiri, tergeletak tangan yang berlumuran darah, dan aku lihat tangan kirinya memegang pisau yang ukurannya seperti pisau daging. Sosok itu mendekat kepadaku sambil mengacungkan pisaunya. Aku melotot, tubuhku kaku, dan bibirku bergetar hebat, untung melangkah mundur pun serasa ada yang memegangi kakiku.“Si..Siapa kau?” dengan sisa keberanianku aku melontarkan kalimat tak bermutu. Mulutku sudah mulai berkomat kamit membaca doa yang sekiranya aku bisa. Sosok di depanku kemudian menghilang, aku kemudian berlari agar lebih cepat sampai rumah.Beberapa meter lagi aku berhasil melewati jalan itu, tapi aku merasakan ada sesuatu menyentuh punggungku, saat kuraba ternyata ada pisau yang menancap di punggungku. Lama-lama aku merasa pandanganku mulai gelap, aku melihat sosok itu lagi di depanku membawa pisaunya lagi dan ia tancapkan di dadaku. Dan kini aku merasakan duniaku benar-benar gelap. Aku sudah mati.
Bintang Kejora
Sore hari itu terasa sangat hampa bagi seorang perempuan bernama Kejora Anastasya. Sore itu ia baru saja ditinggalkan sang pujaan hati selama lamanya, semua yang telah melayat satu persatu sudah pulang ke rumah masing masing, yang tersisa disana hanyalah Kejora dan sahabatnya, Lyora.“Kejora, ayo dong pulang, mau sampai kapan lo disini Jora, bentar lagi mau hujan nih, udah hampir 2 jam lo disini, ga keram tuh kaki jongkok mulu, udah gerimis kayak gini masih gak mau pulang?” Kata Lyora sambil memayungi sahabat nya itu. “Pulang duluan aja ly, gua masih mau disini” Kata Kejora sambil menatap Lyora dengan mata sendu nya itu. “Lo mah kayak gitu, aduh yaudah deh, gua tunggu aja tuh di dalam mobil ya, nanti biar gua aja yang setir mobilnya ya Ra, inget kalau udah mau Maghrib udahan ya, besok besok lagi kesini, gua tau berat Ra ngelepasin langit, nih payung, gerimis tuh, bisa sakit” Kata Lyora sambil memberi sebuah payung dan lanjut berjalan kearah mobil.Langit Ajendra—adalah kekasih dari Kejora Anastasya yang mengidap penyakit kanker hati stadium akhir, Perawatan dapat membantu, namun penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Hal ini membuat Langit harus menjalani kemoterapinya, kemoterapi itu sudah ia lakukan sejak 3 tahun yang lalu, namun karena merasa kemoterapinya itu tidak membuat perubahan bagi dirinya, ia mengakhiri kemoterapinya semenjak 2 bulan yang lalu tanpa sepengetahuan dari siapapun karena ia tau tidak ada yang akan menyetujui perbuatannya itu. Setelah ia tiada, dokter yang menangani Langit pun akhirnya memberi tau kepada keluarganya dan Kejora.Kejora bangkit dari duduknya sambil memegang payung dan dengan berat hati ia berjalan kearah mobil, ia menutup payungnya dan langsung mengetuk jendela mobil itu. tuk.. tuk.. tuk“AAAAAAAAA SETANNNNNNNNN” Jerit Lyora yang terkejut. “Ini gua, gak usah lebay, cepetan buka pintunya” Kata Kejora. “Sumpah ngagetin aja lo Ra, untung sahabat lo ini ga kena serangan jantung” Kata Lyora sambil membuka pintu itu.Kejora tak membalas dan langsung masuk kedalam mobil, Lyora pun langsung menjalankan mobil itu. malam ini Lyora memutuskan untuk menginap di rumah Kejora, karena ia berjaga jaga agar Kejora tidak melakukan perbuatan yang tidak baik walaupun ia tau Kejora tidak sebodoh itu sampai harus melakukan sesuatu seperti mengakhiri hidupnya.Sebulan pun berlalu, Kejora sudah terlihat lebih baik, mungkin ia belum bisa ikhlas sepenuhnya tetapi senyum Kejora sudah muncul, walaupun hanya karena Lyora yang dengan cerobohnya tersandung dan menumpahkan jus buah naga ke dosennya itu, setelah itu Kejora hanya tersenyum tipis. Saat ini mereka sedang menyantap makan siangnya di kantin.“Ly, nanti sore temenin gua yuk ke pantai, kangen pantai, kangen Langit” Kata Kejora. “Yahhh Ra maaf gua ga bisa, hari ini tuh gua mau jalan sama pacar gua, besok aja mau ga?” Kata Lyora. “Ohh yaudah Ly ga usah, gua sendiri aja gapapa, gua bisa sendiri kok santai” Kata Kejora sambil tersenyum. “Beneran gapapa Ra?” Tanya Lyora. “Gapapa Ly, sahabat lo ini kan udah gede” Kata Kejora. “Yaudah hati hati lo nanti” Kata Lyora. “Siap boss” Kata Kejora.Sore hari pun tiba, saat ini Kejora sudah berada di pantai, saat ia sedang ingin keluar dari mobil, ia melihat sosok laki laki yang tak asing baginya. Perlahan ia berjalan mendekati laki laki itu.“Langit?” Kata Kejora dengan sangat pelan. “Eh saya bukan Langit” Kata laki laki itu yang sedikit terkejut. “Oh maaf mas, mas nya mirip banget sama almarhum pacar saya, mulai dari postur tubuh, wajah dan suara” Kata Kejora yang sedikit tak enak hati. “Saya turut berdukacita ya mba, ah iya nama saya Bintang” Kata laki laki itu. “Saya Kejora, jangan pake mba, kalau mau juga pake lo gua gapapa hehe, jangan terlalu formal” Kata Kejora. “Eh hahaha oke deh Kejora” Kata Bintang sambil tersenyumSore itu mereka habiskan untuk berbincang-bincang dan bertukar nomor ditemani dengan indahnya matahari terbenam yang artinya ini sudah mulai sore.“Gua pulang dulu ya, kapan kapan ketemu lagi okey Bintang” Kata Kejora sambil melambaikan tangan kearah Bintang dan langsung masuk kedalam mobil.Sampainya di rumah ia langsung mengabari Lyora dan memberi tahu kabar bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan almarhum kekasihnya itu, Lyora bingung harus percaya atau tidak karena ia tahu sahabatnya itu belum bisa ikhlas sepenuhnya, akhirnya Kejora pun mengirimkan foto yang sempat ia ambil diam diam tanpa sepengetahuan Bintang, akhirnya Lyora pun percaya.Selama sebulan ini Kejora selalu ke pantai sebagai tempat janjian untuk Kejora dan Bintang saling bertemu, setelah beberapa Minggu ia tidak bertemu Bintang akibat dirinya sedang disibukan dengan tugas kuliahnya itu, akhirnya Kejora mengajak Bintang untuk bertemu di pantai itu, Bintang tak pernah membalas pesannya, hanya dibaca saja, hal ini sudah biasa, walaupun awalnya Kejora mengira ia seperti selalu mengganggu Bintang, tetapi saat mereka bertemu Bintang memberi alasan mengapa ia tidak memberi balasan pesan Kejora, Bintang akan membahas semua pesan yang Kejora beri ketika mereka saling bertemu. Seperti biasa mereka bercanda bersama menghabiskan waktu di pantai itu ditemani dengan matahari terbenam yang sangat indah.“Bintang, bagaimana kalau gua bilang gua jatuh cinta sama lo?” Tanya Kejora. “Kejora, lo jatuh cinta sama gua karena gua mirip almarhum pacar lo kan?” Kata Bintang “Engga Bintang, gua jatuh cinta bukan karena lo mirip Langit” Kata Kejora.Bintang hanya tersenyum kikuk kearah Kejora, setelah berbicara seperti itu Kejora memutuskan untuk pamit pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Kejora menelepon sahabatnya itu.“Ly, gua jatuh cinta sama Bintang” Kata Kejora. “Ra, kayaknya kita perlu ngomong besok deh, penting, demi lo” Kata Lyora dan langsung mematikan sambungan sepihak.Sesuai seperti yang Lyora bilang di teleponnya semalam, ia ingin berbicara sesuatu yang bisa dibilang sangat penting, Lyora, Kejora, dan kekasih Lyora—Tio, mereka sudah ada di kantin untuk membicarakan hal ini.“Ayang, kayaknya kamu harus kasih tau sekarang deh” Kata Tio. “Iya ay” Kata Kejora. “Ini mau ngomong atau ngebucin? cepetan, udah sore nih, gua mau ketemu Bintang lagi di pantai” Kata Kejora.“Ra, sadar, semua tentang Bintang itu hanya imajinasi lo Ra” Kata Lyora yang nampak mengkhawatirkan sahabatnya itu. “Maksudnya gimana Ly, bercanda mulu lo, semua kenyataan kok” Kata Kejora yang sedang kebingungan. “Ga Kejora, Bintang itu imajinasi lo yang masih ga bisa ikhlas sama kepergian Langit, foto yang lo kirim itu, gua sama Tio cuma liat ada pantai, sedangkan sosok Bintang yang lo maksud ga ada, gua awalnya mau nyadarin lo saat itu juga, tapi kata Tio jangan dulu, cuma sekarang gua harus kasih tau Ra, ikhlas emang susah, tapi jangan tenggelam sampai sampai imajinasi yang menguasai lo sekarang” Kata Lyora. “Apaan sih Ly, ga mungkin lah, ngaco lo, udah ah gua mau ketemu Bintang aja, lo semua ga jelas banget” Kata Kejora yang langsung lari meninggalkan mereka berdua.Melihat Lyora yang ingin mengejar Kejora, Tio dengan sigap menarik tangan Lyora. “Kasih dia waktu Ly, emang susah buat dia terima kalau mencakup hal seperti ini” Kata Tio.Lyora menurut dan langsung kembali duduk di sebelah Tio dengan raut wajah khawatir. Disisi lain Kejora menjalankan mobilnya ke pantai untuk bertemu Bintang, ia memikirkan apa yang barusan Lyora bicarakan, saat ia sudah sampai di pantai itu, Kejora langsung turun dan berjalan menuju kearah Bintang, Bintang memunggungi Kejora, jarak mereka sekitar 1 meter atau 100 cm. Bintang berbicara tanpa menghadap kearah Kejora.“Ra, udah tau ya? yang Lyora bilang bener kok, harus belajar ikhlas, biar imajinasi lo ga menguasai, gua ga bisa juga lama lama di imajinasi lo, setelah lo tau gua ini cuma imajinasi lo, gua harus pergi, semua tentang gua bakal lo lupain seiring berjalannya waktu” Kata Bintang. “Bintang..” lirih KejoraBintang berjalan pelan dan memeluk Kejora sampai sosok Bintang benar benar menghilang.Benar, semua ini hanya imajinasi Kejora, Bintang memang sebenarnya tidak ada, Kejora begitu merindukan sang kekasih sampai ia tidak sadar sedang membangkitkan imajinasinya, kontak chat Bintang pun hanya terlihat seperti nomor yang sudah lama tidak aktif, foto yang Kejora ambil diam diam itu masih terlihat wajah Bintang walaupun hanya kejora yang bisa melihat.Setelah seminggu berlalu Kejora pun memutuskan untuk ke tempat peristirahatan terakhir sang kekasih, jujur saja ia sangat merindukan Langit, saat sampai disana ia berbincang-bincang dengan Langit, ia tahu Langit bisa mendengarkannya.Tamat.